24

1103 คำ
Berjalan beriringan menjuju ruang rawat Wati. Saat mereka sampai di depan pintu kamar bertuliskan VIP02, ketiganya berhenti dan saling pandang. Kemudian Jasmine memutar handle pintu dan mendorongnya pelan. Bibirnya terangkat saat melihat ibunya sudah bangun dan tersenyum saat mata mereka bertemu. Namun, raut wajah Wati tampak berubah, saat melihat anak gadisnya tak sendiri. Tapi ada dua pria yang berdiri di belakangnya. Jasmine yang sadar akan keterkejutan ibunya, sedikit mengangguk dan mempersilahkan kedua pria di belakangnya untuk masuk ke dalam. “Silakan masuk, Pak.” Ucap Jasmine tersenyum menatap kedua pria itu bergantian. Daffa yang merasa dia sudah dekat dengan Wati pun mengangguk, kemudian beralih menatap Wati dan tersenyum manis. Berjalan mendahului Roy yang sedari tadi sudah memperlihatkan wajah datarnya. Roy paham apa yang ada di pikiran Daffa. Tapi, dia memilih untuk mengikutinya saja. “Selamat malam, Tante.” Sapa Daffa sopan. “Selamat malam, Nak Daffa.” Jawab Wati tersenyum menatap wajah tampan pria di depannya. “Bagaimana kabarnya, Tante? Maaf saya baru bisa menjenguk hari ini.” Ucap Daffa di sertai senyuman yang sangat manis. “Alhamdulillah baik, Nak. Kamu bagaimana kabarnya?” balas Wati. “Daffa baik, Tante.” Jawab Daffa. “Alhamdulillah...” sahut Wati. Kemudian, Wati menoleh ke belakang Daffa. Tepatnya ke arah laki-laki yang diam berdiri di belakang sana. “Nak Devin?!” panggil Wati membuat Roy mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis ke arah Wati. Roy berjalan mendekat, “Malam, Tante.” Sapa Roy sopan. “Malam, Nak.” Jawab Wati. “Tante bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Roy ramah dan sopan. Berbanding terbalik saat dia berhadapan dengan cliennya, tegas dan tak ada toleransi pada siapa pun yang mengusik kehidupannya. “Alhamdulillah, Tante merasa lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih untuk kebaikan kamu.” Balas Wati senang. “Sama-sama, Tante.” Jawab Roy. Daffa yang sedari tadi menyimak obrolan dan kedekatan keduanya tampak bingung. Kepalanya pun penuh tanda tanya. Roy adalah salah satu orang yang sangat tak peduli dengan lingkungannya. Roy tak akan mau membuang waktunya hanya untuk mengurusi orang yang tak ada hubungan dengan dirinya. Namun, sekarang? Roy seakan-seakan adalah orang yang sangat dekat dan berjasa untuk Jasmine dan ibunya. Bahkan, Wati tampak sangat menyukai sosok Roy yang sekarang. Roy yang sopan dan ramah. Bukan Roy yang angkuh, sombong dan tak berperasaan pada sesama. ‘Kenapa tante Wati bisa sedekat ini dengan Roy. Apa yang sudah Roy lakukan ke mereka?’ batin Daffa menatap Wati dan Jasmine bergantian. Mereka lanjut mengobrol banyak hal. Namun, sama sekali tak menyangkut tentang perjanjian antara Jasmine dan Roy. Hanya obrolan ringan penuh kehangatan. Hingga tanpa mereka sadari hari semakin malam. Roy dan Daffa pamit untuk pulang sedangkan Jasmine tetap di sana untuk menemani ibunya. "Ibu, sudah malam. Ibu istirahat ya." ucap Jasmine lembut membenarkan selimut ibunya. "Iya, Nak. kamu juga istirahat ya." jawab Wati tersenyum. "Iya, Bu. Setelah ini Jasmine akan tidur." sahut Jasmine. "Malam, Bu. I love you. muuach" sambung Jasmine mengecup pipi kanan ibunya. "Malam Sayang." * * Di kamar utama, “Pa, mama seneng banget. Akhirnya Zava mau menginap di rumah ini lagi.” Ucap wanita paruh baya yang tampak masih cantik dengan dres biru yang tampak pas di tubuh rampingnya. “Iya, Ma. Papa juga seneng. Sudah lama Zava tidak tidur di sini.” Sahut pria di sampingnya. Pria yang di ketahui papa dari artis serta model yang kini tengah naik daun karena segala prestasinya. Mereka berdua adalah Sinta Yolanda dan Irfan Pratama. Pemilik perusahaan besar kedua di negri ini yang bergerak di bidang properti. Mereka adalah kedua orang Zava Kirani Putri. Artis dengan prestasi terbaik. Perusahaan mereka tergolong perusahaan tersukses kedua setelah perusahan milik Roy. Namun, Sayang. Anak gadis mereka tak mau meneruskan perusahaan besar itu. Zava memang tak pernah mau untuk memegang perusahaan papanya, sebab sejak kecil dia ingin menjadi seorang artis, Bukan pengusaha dan ada alasan lain yang membuat dia tak mau masuk ke perusahaan sang papa dan itu hanya dia yang tahu. Sementara itu, Zava tengah berada di kamar kesayangannya. Menatap ke luar jendela yang tampak tengah hujan. Cuaca dingin yang sangat klop dengan panasnya kopi yang sedang dia nikmati itu. Malam ini dia memutuskan untuk menginap di rumah kedua orang tuanya. Awalnya Zava hanya ingin mampir sebentar, tapi kedua orang tuanya meminta dia untuk menginap malam ini. Karena sudah dua bulan ini Zava tak pernah menginap, hanya berkunjung di akhir pekan, itu pun hanya hitungan jam. Saat di tanya kenapa selalu ingin cepat kembali ke apartemen, alasannya selalu sama. Sibuk, sibuk, dan sibuk. Padahal bukan soal kesibukannya yang membuat Zava ingin segera pergi dari rumah ini. Tapi, dia tidak tahan dengan kilatan-kilatan masa lalu yang sampai sekarang semakin mengusiknya. Apalagi di musim hujan seperti ini. Musim dimana dia merasa kehilangan yang paling sakit. Rasa kehilangan yang sampai sekarang selalu membuat daddanya sesak dan tak mampu menahan air matanya saat mengingat hal itu. Zava duduk di tepi ranjangnya, meletakkan cangkir berisi kopi putih yang tinggal separo itu ke atas nakas samping ranjang. Detik kemudian tangan lentik dengan kuku yang dicat merah maroon itu kini beralih menarik pegangan laci di depannya. Membuka laci tersebut dan mengambil selembar foto yang tersimpan di dalamnya. Dalam foto tersebut, terdapat dua anak perempuan yang berusia sekitar 4 tahun dan 7 tahun. Di sana tampak keduanya tengah tersenyum lebar dengan rambut sama-sama di kepang dua. Pakaian yang mereka pakai pun sama. Membuat siapa pun yang melihat itu akan merasa gemas dengan kelucuan kedua gadis kecil itu. Zava tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-berkaca menatap foto di tangannya. Mengusap permukaan lembar foto tersebut dengan penuh hati-hati. Seakan takut jika sentuha nya akan merusaknya. ‘Andai kamu masih ada disini. Pasti setiap hari kita bisa menghabiskan waktu bersama.’ Batin Zava tanpa sadar air matanya kembali menetes. Membawa foto itu ke dalam dekapannya. Merem dalam seakan dia tengah menyalurkan isi hatinya. Menarik panjang dan menghembuskan kembali hingga beberapa kali. ‘Aku kangen.’ Teriak Zava dalam hatinya dengan air mata yang semakin deras membasahi kedua pipi putih mulus itu. Beberapa detik kemudian, Zava menjatuhkan tubuhnya hingga terlentang di ranjang. Masih dengan isakan kecil dan bahu yang sedikit bergetar, Zava mulai memejamkan matanya karena lelah menangis. Bukan hal baru lagi buat Zava, setiap dia pulang dan melihat foto itu, Zava pasti nangis hingga tertidur dengan posisi sejatuhnya dia. Dan malam ini, hal itu kembali terulang untuk ke sekian kalinya. Hal yang terjadi sejak dua puluh tahun yang lalu. Sejak dia kehilangan seseorang yang sangat dia sayangi. Di temani suara gemericik air hujan yang semakin deras, dan lampu kamar yang otomatis mati di saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Zava tertidur dengan selembar foto yang tetap berada dalam dekapannya. Berharap besok pagi semua sudah kembali membaik.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม