22. Bersalah Campur Khawatir

1275 คำ
Samesta kembali terlelap. Alam bawah sadar membawanya kembali melihat masa lalu. Dimana Samesta berdiri di depan pintu sebuah rumah kontrakan. Terasnya masih basah menguarkan pewangi lantai. Yang dilakukan Sameata sejak kembali tak lain menatap ragu pintu itu. Tindakannya tadi pagi membuat canggung. Ia ragu masuk ke dalam rumah sendiri. Mengingat bagaimana ia pulang mendapati Raya tidur di ruang tengah dengan selimut tipis, padahal mereka mempunyai tempat tidur cukup nyaman, masih menjadi kekesalan tersendiri bagi Samesta. Mengapa Raya tidak menuruti perintahnya untuk tidak menunggunya pulang? Kenapa Raya tidak mempedulikan diri sendiri saat ada makhluk lain yang dia bawa kemana-mana dalam tubuhnya? Samesta tak habis pikir, apa yang dia dapatkan dari menunggu Samesta pulang? Samesta belum pernah memintanya karena ia bisa membuka pintu sendiri. Samesta punya kunci cadangan. Namun di balik itu semua, Samesta merasa bersalah telah mengagetkan Raya dengan marah-marah tak jelas. Samesta bahkan menyibak selimut Raya kasar padahal kentara sekali Raya kedinginan. Samesta mencengkeram tangan Raya mengabaikan ringisan sakitnya. Air mata Raya yang bercucuran menganggu Samesta. Ia benci rasa bersalah ini. Maka tak ada cara lain selain menghindar. Samesta hendak berbalik menuju sepeda motornya. Sebuah seruan menghentikan langkah Samesta. Di ambang pintu Raya tersenyum. Seolah itu adalah sambutan. Senyuman Raya menambah rasa bersalah Samesta. "Kak Sam udah pulang? Ayo, masuk. Aku udah bikin sarapan." Sialan, kamu Samesta! Hati Samesta menjerit. Raya begitu baik. Namun apa yang dilakukannya tak membuat Samesta senang. Samesta terlanjur menolak kehadiran Raya sejak awal. Namun semakin hari mereka bersama, entah mengapa penolakan itu perlahan pudar. Samesta merasa aneh pada perubahan itu. Ada rasa dalam dirinya yang tidak terima dan takut. Takut kalau ia jatuh cinta pada Raya. Sekaligus takut Raya hilang setiap menerima amarahnya. Karena Samesta diam saja, Raya mendekat. Raya meraih pergelangan tangan Samesta. Menariknya ke dalam rumah. Samesta yang linglung menurut begitu mudah. Dia mengikuti kemana Raya membawanya. Pagi itu Raya seperti biasa menyajikan sarapan. Masakan sederhana. Raya tak pandai memasak. Anehnya, Samesta tak bermasalah soal itu. Ia akan tetap makan masakan Samesta walau asin mendominasi lidah. Apalagi melihat wajah Raya, Samesta suka mendadak tidak tega. Sisi lain dalam dirinya ingin menghargai usaha Raya. Mungkin hanya kasihan. "Aku nggak tahu ini enak atau nggak ...,", ujar Raya ketika Samesta menatap sepiring nasi hangat diguyur sayup asem. Benak Samesta terganggu oleh tangisan Raya tadi. Wanita itu tidak mengungkitnya sama sekali. Seolah berusaha melupakan dan menghalangi rasa canggung hadir di tengah-tengah mereka. Samesta meraih sendok dan perlahan menguapkan nasi ke dalam mulut. Raya menanti reaksi Samesta. Suaminya terus mengunyah, mendadak ia gugup. Di masakan-masakan Raya sebelumnya, Samesta pura-pura menikmati. Walau pun sikap Samesta dingin, ia tidak pernah mengatakan hal buruk soal masakan Raya. Sedangkan ini .... Wajah Samesta sangat santai. Tidak ada kernyitan di dahinya. Bahkan dengan enteng Samesta menambahkan sayur asem ke atas piring. Tampaknya masakan Raya berhasil kali ini. Senyum Raya merekah. Senang ia melihat Samesta makan dengan lahap. Raya berhasil mengeksekusi resep ibu mertuanya. "Nggak makan?" Samesta mendongak. "Aku ...," Biasanya Samesta melarang Raya makan di hadapannya. Raya akan makan jika Samesta selesai. "nanti aja." "Kenapa?" Alis Samesta terangkat satu. Kemudian wajahnya berubah cepat. Samesta ingat, dirinya pernah meminta Raya menunggui makan tanpa membiarkannya makan juga. Raya bergeming, takut salah menjawab. Yang dilakukan hanya menggigit bibir bagian dalam. Ia mengantisipasi kemarahan kedua Samesta. "Makan sekarang!" titah Samesta yang sempat membuat Raya mengerjap bingung, tetapi langsung dituruti. Samesta sadar Raya takut padanya. Raya seperti robot yang mematuhi perintah pemilik. Pergerakan Raya mengambil piring, menyerong nasi, mengguyurkan sayur asem dan memgambil tahu, semua diperhatikan Samesta sampai Raya menyuap makan itu. Akhirnya mereka makan tanpa ada obrolan sedikit pun. Diam-diam Raya mencuri pandang pria di hadapannya. Samesta mencoba bertahan menghadapi kecanggungan. "Lain kali jangan diulangi lagi. Kalau kubilang jangan menungguku pulang, turuti saja," ujar Samesta. Raya mengunyah lambat, kepalanya mengangguk-angguk mengerti. "Minggu ini aku bakal sibuk di kampus. Jangan melakukan hal yang bikin aku kesal. Aku banyak masalah di luar, jangan kamu tambahi. Keselamatan kamu adalah tanggungjawab dirimu sendiri. Tapi karena kita tinggal bersama, itu akan jadi tanggungjawabku juga. Setidaknya sadarlah sekarang kamu nggak sendirian. Ngerti?" Samesta menatap Raya yang menunduk, seperti seorang anak yang sedang dinasehati orang tua. Mendapat anggukan, lantas Samesta berdiri meninggalkan meja makan. Samesta merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Kegiatan yang padat memaksanya terus terjaga semalaman. Ketika perut telah terisi, tak butuh lama bagi Samesta jatuh terlelap begitu dalam hingga tak menyadari kaus kaki yang lupa ia lepas sebelum tidur hilang dan tubuhnya telah ditutupi selimut. Ini kerjaan Raya. Samesta bangun mendengar percakapan di ruang tengah. Dari celah pintu ia melihat Raya duduk bersila di atas kursi menatap layar ponsel sambil senyum-senyum sendiri. Sesekali Raya mengusap perutnya yang masih rata. Satu permintaan Samesta yang sulit Raya lakukan hanya berhenti menonton drama Korea. Tanpa sadar bibirnya berkedut. Samesta menggelengkan kepala. *** "Kamu habis dari mana aku panggil-panggil nggak datang?" tanya Samesta lemah menyambut kedatangan Raya. Raya meraih tangan Samesta. Mencium permukaan hangat tangannya. "Aku habis mengantar anak-anak sekolah. Gimana udah mendingan?" Melihat Samesta masih sepucat sebelum keluar rumah sepertinya masih sama. Raya memijit tangan suaminya lembut. Selalu sedih jika Samesta sakit. Dari dulu penyebab Samesta drop karena kelelahan beraktivitas. Pijatan lembut itu dinikmati Samesta. "Kamu ... antar anak-anak sekolah?" Bola mata Samesta melebar. Raya mengernyit heran. "Kamu kenapa deh kok kaget gitu denger aku antar mereka ke sekolah? Biasanya kan juga gitu naik bus sambil berangkat ke kedai." "Oh ..., naik bus ...." Samesta mengembuskan napas lega. Ketakutannya kalau Raya bertemu Lintang di kindergarten Sansan tak terjadi. Mungkin kali ini Samesta hanya beruntung. Tuhan masih mengasihaninya karena sedang terbaring sakit. "Aku nggak fokus. Ngira kamu antar mereka pakai mobil padahal kamu belum lancar bawa mobilnya. Lega aku tuh kalian nggak kenapa-kenapa." "Aku nggak senekat itulah .... Lagian males aku bawa kendaraan sendiri. Kalau terjadi sesuatu di jalan kan susah. " "Aku seneng kamu perginya nggak lama." Raya terkekeh, "Manja banget sih. Katanya manggil aku. Ada apa? Udah laper? Kamu baru makan sedikit tadi." Samesta mengubah posisi tidur ke pangkuan Raya. Menyamankan diri di sana sambil memejam. Napasnya hangat. Raya memijit kepala Samesta. Rambutnya lepek oleh keringat dingin. "Nggak mau makan, nggak enak. Cuma mau kamu di sini, Ray ...." kata Samesta lemah. "Kepala aku sakit." Pijatan Raya membuat Samesta kembali tertidur. Raya berusaha tetap diam agar kenyamanan Samesta tak terusik. Diusapnya keringat yang muncul di kening Samesta. Sakit membuat tidur Samesta tak tenang. Sesekali keningnya mengernyit. Dalam keadaan lemah begini Samesta tidak akan melepaskan Raya sedikit pun. Beruntung kali ini Samesta tak melihat dirinya di masa lalu lagi. Ia terlelap hingga sore menjelang. Samesta terbangun oleh timpaan berat mengenai tubuh di susul seruan di balik pintu. "Sansan ..., jangan ganggu ayahnya dongbkan lagi sakit. Ayo, sini ganti baju dulu, terus makan." Sansan malah berguling di samping Samesta. "Kamu jemput Sansan?" Samesta duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Ditariknya Sansan yang nakal ke dalam pelukan. Anak itu berontak sambil tertawa-tawa geli. "Septian yang antar Sansan pulang. Katanya kasihan sama aku harus jemput Sansan ketika kamu lagi gini. 'Samesta kan nggak bisa ditinggal kalau sakit,' katanya. Ih, iri aku. Kamu punya teman sebaik Seotian," jawab Raya, kemudian bertolak pinggang saat kepala Sansan dan dagu Samesta beradu. "Tuh, kan? Sini mainnya sama Mama aja. Jangan ganggu ayah istirahat. Sansan kan anak baik." Sansan menurut. Dia berlari kepelukan ibunya. Raya balas menghidu pucuk kepalanya. "Bau acem. Aduh, aduh ..., Sansan udah besar. Berat banget bentar lagi Mama nggak bisa gendong lagi nih." Sansan naik ke atas punggung Raya. Tawa anak itu masih terdengar setelah pintu tertutup dan meninggalkan Samesta sendirian. Napas Samesta berembus lega. Syukurlah Septian menolong tanpa diminta. Entah sampai kapan ia bisa menyembunyikan kebenaran tentang Lintang. --Sweet Delusion-- Makasii udah tap love dan dukungannya Semoga terhibur ... See you~
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม