"Kamu mau kemana?" Samesta terbangun mendengar derit lemari terbuka.
Raya mengambil pakaian untuk pergi dari dalam lemari. Tersenyum melihat Sameata tak sepucat kemarin. Artinya keadaannya membaik.
"Antar Sansan sekolah. Saluna udah berangkat duluan sama Langit. Kemarin Mbak Riana dan Mas Adnan pulang, Langit langsung ngungsi ke sini. Aku nggak tega melarang dia ajak Saluna berangkat pakai motor. Mood-nya lagi nggak bagus."
"Ya udahlah, lagian Langit janji nggak akan ngebut-ngebut membonceng Luna," ujar Samesta melepas kausnya yang basah oleh keringat. "Lengket banget."
"Terakhir mereka boncengan ke sekolah, ditilang polisi. Ingat?" Raya tak mau kalah. "Ujung-ujungnya aku lagi yang repot. Aku selalu mengurus kenakalan mereka sejak kecil."
"Karena kamu ibunya," Samesta menghela napas. "Katanya Septian bentar lagi sampai." Samesta melihat layar ponsel.
"Ngapain?" Raya terbelalak. Baju yang telah ia pilih lepas dari dalam genggaman. Raut wajahnya berubah marah. "Kamu tetep mau berangkat kerja lagi sakit gini? Sam ...."
Raya duduk di pinggiran tempat tidur. "Kerjaan bisa dikerjain nanti. Kita nggak akan jatuh miskin kalau kami nggak berangkat kerja seminggu."
"Seminggu kelamaan, Ray, tapi hari ini aku nggak akan berangkat kerja kok."
"Terus? Septian ke sini mau apa? Oh, apa mau nganterin kerjaan? Udahlah nggak usah. Sama aja kalau gitu kamu nggk bisa istirahat."
"Septian ke sini mau antar anak kita ke sekolah bukan anar kerjaan aku."
"Kamu yang nyuruh dia antar Sansan? Aku kan masih bisa. Antar Sansan sebentar kok. Nggak enak tau ngerepotin orang lain."
"Kamu tugasnya nemenin aku aja di sini biar cepat sembuh. Lagian kamu jadi menunda ngelanjutin tulisan gara-gara jagain aku, kan?"
Dalam hati Raya mengakuinya. Semenjak Samesta sakit Raya tidak bisa melanjutkan tulisan. Raya juga tidak bisa pergi ke kedai. "Aku kan ngelakuin tiga seorang istri. Mana tega aku egois ngerjain kerjaan di saat kamu lagi sakit?"
"Makanya, kamu di sini aja temenin aku sambil ngetik. Waktu yang dipakai kamu antar Sansan lumayan loh buat ngetik," ujar Samesta memberi gagasan cemerlang. "Aku udah agak enakan kok. Kamu bisa santai jadinya. Mungkin besok aku bisa berangkat ke kantor."
Raya menggelengkan kepala. Ia menatap wajah suaminya yang kuyu dan berkeringat. Bibir Samesta pecah-pecah. Mana ada keadaan Samesta membaik kalau kondisinya begini.
"Kamu masih butuh istirahat dua atau tiga hari lagi. Aku nggak akan biarin kamu kerja dalam kondisi belum fit. Kalau terpaksa banget, masalahnya urgent, boleh deh panggil Septian ke sini." Raya mengelap keringat di keninh Samesta. "Badan masih demam, muka juga pucat, gimana nanti kata orang-orang?"
"Jadi kamu lebih peduli kata orang-orang?" Samesta tersenyum jahil.
Raya menatap Samesta dengan lembut. Rasa sayang itu tubuh setiap harinya. Raya bertahan selama ini karena ada harapan. Samesta.
Samesta sempat kebingungan mendapat pelukan tiba-tiba dari Raya. Namun di detik berikutnya ia menempelkan dagu di pundak Raya dan mengusap punggungnya.
"Aku nggak suka kamu sakit," lirih Raya menyentuh perasaan Samesta. "Badan kamu lengket ya, bau lagi. Dari kemarin nggak mandi."
Di saat romantis begitu kebiasaan Raya menjatuhkan harga diri Samesta. Raya melepas pelukannya dan melihat bagaimana muka masam Samesta menyambutnya. Lantas Raya terkekeh sambil mengusap sebelah pipi Samesta. "Tapi kamu tetap ganteng di berbagai kondisi."
Tid .... Tid ....
"Tuh, pasti Septian."
Segera Raya beranjak ke jendela kamar. Diintipnya keadaan luar rumah dari jendela. Di depan gerbang ada sebuah mobil terparkir. "Iya, itu Septian."
Semesta memakain baju yang telah disediakan Raya. Wanita itu melarangnya mandi, padahal Samesta sudah tak tahan dengan lengket di badan.
"Benaran nggak apa-apa nih kita minta tolong Septian antar anak kita? Kemarin dia udah baik jemput Sansan dari sekolah tanpa diminta. Aku takut ngerepotin."
"Nggak ngerepotin, Ray .... Aku yang minta tolong kok."
"Ya udah deh, nanti pulangnya biar aku jemput Sansan. Jangan minta Septian lagi ya?"
"Jangan!" Tanpa sengaja Samesta mengeraskan suara.
Raya mengernyit di antara kekagetannya. "Kenapa?"
"A-aku kan udah minta Septian antar-jemput Sansan sekalian. Biar dia aja, kamu di sini nemenin aku."
"Serius? Seharian?" Raya tak menyangka, Samesta malah makin kekanakan kalau sakit.
Samesta mengangguk semangat. "Kita udah lama kan nggak berdua seharian?"
Terutama sejak Sansan lahir. Usianya masih kecil, sampai sekarang membutuhkan perhatian Raya dengan penuh. Waktu Raya kebanyakan dihabiskan dengan anak-anak dan pekerjaan. Selain itu memang Samestanya juga sibuk di luar. Jadinya mereka hanya bertemu saat malam dan sarapan di pagi hari saja.
Mendadak pipi Raya bersemu merah. Samesta melihat itu dengan jelas.
"Mau, kan? Nemenin aku sampai sembuh?" Samesta bicara dengan lembut sampai Raya menatapnya serius setelah menghela napas.
"Aku harus bukain gerbang dulu." Raya hendak pamit.
"Jawab pertanyaan aku dulu, Ray ...."
Raya memutar bola matanya. "Iya, Sam .... Jawabannya iya."
Maka benar kata orang kebahagiaan itu sederhana. Samesta tersenyum meski Raya hilang di balik pintu.
***
"Baik kan, gue?" seloroh Septian masuk ke kamar Samesta.
Pria itu menemukan Samesta tengah berbaring. Samesta kontan membuka mata. Kiranya yang datang adalah Raya.
"Lo datang juga."
"Iya, kalau lu bukan sahabat gue yang berjasa, ogah gue disuruh-suruh gini." Septian pura-pura kesal, tapi melihat kondisi Samesta dengan jelas dari dekat begini tampak sakit. "Lo benaran sakit ya?"
"Menurut Saudara Septian Nugroho bagaimana kelihatannya?" balas Samesta bercanda.
Kemarin Septian hanya menjemput Sansan pulang dari sekolah dan mengantarkannya ke rumah. Waktu Septian mampir, Samesta sedang tidur. Kata Raya baru tidur, jadi ya Septian nggak tega. Dia balik lagi ke kantor.
"Nyebelin lo masih kerasa tapi ya."
"Sialan, ngekek orang sakit bukannya doain ceper sembuh," kekeh Samesta sampai terbatuk-batuk.
"Gue jenguk ke sini aja udah dapat pahal kali," jawabnya kemudian melirik jam di pergelangan tangan. "Anak Lo udah siap belum sih?"
"Masih di bawah. Mungkin Raya lagi makein sepatu. By the way, Sep. Makasih lo mau bantuin gue. Nggak tahu gimana jadinya kalo Raya sampai--"
"Kayak sama siapa aja Lo pake bilang terima kasih segala. Pas Raya ngabarin lo nggak bisa berangkat kerja, pikiran gue langsung ke tempat sekolah Sansan. Raya pasti yang ngaterin dia ke sekolah. Makanya gue inisiatif jemput Sansan pulang di jam istirahat. Dan ketemu dia ...,"
Samesta tampak menunggu kelanjutan cerita Septian.
"dia nanyain lo kemana kok nggak nganter. Kok yang jemput gue? Gue bilang aja lo sakit. Terus gue nanya, apa dia ketemu Raya. Dia bilang nggak. Dia datang kesiangan."
Mendengarnya Samesta menghela napas lega. Sangat bersyukur mereka tidak dipertemukan.
"Gue juga bilang ke dia, kalau bisa hindari Raya. Jangan sampai Raya tahu dia kerja di sana dan ketemu lo. Habis Lo sembuh wajib bayarin gue dan Sela makan di tempat mahal."
Samesta patut mengacungi Septian jempol. Kerjanya bagus sebagai seorang sahabat dekat. Dia melakukan yang seharusnya Samesta bilang dari dulu, tapi tak pernah terlaksana karena rasa nggak enakan. Namun, Samesta tak begitu yakin Lintang akan melakukan perkataan Septian. Samesta telah mengenal Lintang waktu mereka dekat dulu. Dia punya sisi lain yang sulit.
"Ngobrolin apa sih, serius banget? Jangan bilang tentang kerjaan loh ya?" Raya datang tiba-tiba.
Mereka tersentak dengan kedatangan Raya. Terkejut dan takut Raya mendengar percakapan mereka.
"Halo Sansan!" sapa Septian.
Sansan menyeruak masuk ke dalam kamar orang tuanya. Ia berlari menerjang Samesta.
"Ceper sembuh, Ayah," ujar anak itu mengecup pipi ayahnya.
Samesta balas mengusap rambut Sansan. "Mama! Ayah acak-acakin rambut Sansan!" adu anak itu berusaha lepas dari pelukan Samesta.
"Ayo, sini Mama rapikan lagi. Tuh, udah ganteng lagi anak Mama. Om Septian udah nunggu tuh. Bilang apa ke Om Septian?" Raya merapikan rambut Sansan.
"Makasih, Om ...."
Setelahnya Sansan berlari keluar kamar. Imajinasi anak-anaknya begitu liar hingga terkadang Raya telah menghapi kelakukan Sansan. Raya mengejar anaknya keluar. "Sep aku tinggal duluan, ya?"
"Oke, Ray. Bentar lagi gue nyusul."
Barulah muka Septian berubah serius lagi. "Kemarin dan hari ini gue yang anterin-jemput Sansan. Besok mungkin masih bisa, tapi mau sampai kapan Lo menyembunyikan rahasia tentang Lintang?"
Sahutan sedikitpun tak didapatkan Septian. Samesta bungkam, dari raut mukanya terlihat sedang berpikir. Padahal kedatangan Septian ke sana bukan untuk menambah beban pikiran sahabatnya di kala sakit. Habisnya Samesta bikin masalah sih. Septian tidak pernah ada maksud menyakiti.
"Lo nggak curiga si Lintang masih ada rasa ke elu? Dalam sekali lihat aja gue bisa lihat dia masih berharap. Apa ini nggak akan memunculkan masalah nantinya?"
Justru masalah itu telah dimulai. Nantinya mungkin akan semakin besar. Samesta bingung. Ia harus menggugurkan masalah itu sebelum tumbuh, atau bersiap menghadapinya.
--Sweet Delusion--
Gimana sama part ini?
Makasii tap love dan dukungannya yaa
See you