35. Menaruh Percaya

1422 คำ
"Kita harus bicara, Sam." Langkah Samesta terhenti. Deru kendaraan yang beriringan di jalan raya bersama embusan angin menuruni daun-daun pohon rindang Kindergarten Sun Flowers mengisi detik hampa. Hari itu datang juga. Ketika Lintang menahannya pergi. Samesta telah mempersiapkan hal ini. Perlahan Samesta membalikan badan menghadap Lintang. Pandangannya langsung tertuju pada lengkungan senyum. Lintang berdiri dengan gugup. Dia canggung membalas tatapan Samesta. Untuk pertama kalinya Samesta tak menyukai senyuman seseorang. "Bicara apa, Lin?" Samesta memasukan tangan kanan ke dalam saku celana. Ia menunggu reaksi wanita di hadapannya. "Aku merasa kamu kayaknya salah paham sama satu hal. Kalau ada waktu, boleh kita bicara sebentar?" "Tentang hal apa yang kamu maksud?" Bahu Lintang mengedik. "Hm, sepertinya lebih dari satu hal. Mungkin nanti kamu bakal tahu. Aku harap kamu setuju kita bicara. Tentunya di tempat terbuka. Gimana pun aku seorang single parent dan kamu seorang suami, ya bicara berduaan akan menimbulkan masalah. Kita ngobrol di tempat terbuka tapi nggak terlalu ramai. Mungkin ... kantin? Di jam belajar begini tidak banyak orang di sana--" "Oke, oke." Samesta menjeda. Penjelasan Lintang mulai kacau, kemana-mana. Lintang menyengih malu melihat Samesta tampak jengkel. Ia sadar bicara terlalu bertele-tele. Sedangkan Samesta orangnya to the point. "Jadi ... dimana tempatnya?" "Hm?" "Kantin? Kamu bilang lebih baik ngobrol di kantin, kan?" Samesta melirik jam tangan sebentar. "Aku nggak bisa lama-lama juga. Kalau bisa dipercepat." "Oh, oke. Ayo, kantinnya deket dari sini." Lintang sedikit memiringkan kepala mengarah ke dalam gerbang, menunjuk tempat yang dimaksud. Samesta mengikuti langkah Lintang. Semoga saja tindakannya kali ini benar. Jika seseorang melihat mereka berjalan beriringan menuju suatu tempat, Samesta harap dia tak melaporkannya pada Raya. Meski Samesta sangat tahu bagaimana Raya. Istrinya itu tak suka ikut campur urusan orang lain apalagi mendengarkan gosip. Tidak buruk juga ide Lintang mengajak bicara di kantin kindergarten. Mereka jadi terlihat seperti sedang membicarakan urusan anak di sekolah. Obrolan biasa antara guru dan orang tua siswa. Mereka sampai di area kafetaria tempat dimana para orang tua siswa menunggu. Tidak terdapat banyak orang di sana. Biasanya akan ramai padam menuju jam pulang. Kemudian mereka duduk di salah satu meja. "Mau pesan minuman?" Samesta menggelengkan kepala, menolak secara halus. "Makasih." Lintang mengigit bibir bagian dalam. Ini situasi paling canggung selama mereka kenal. "Sebenarnya aku bingung harus memulai ini dari mana. Waktu kita bertemu pertama kali setelah belasan tahun, aku kaget nggak menyangka bisa melihat kamu lagi. Sampai aku lupa mungkin pertemuan kita nggak sepenuhnya diharapkan." Samesta mendongak, dalam hal ini ia membaca situasi. Arah pembicaraan Lintnag engtah mengapa terasa seperti Lintang menyadari ketidaknyamanan Samesta selama ini. "Aku ngerti kita udah punya kehidupan masing-masing. Aku dan keluargaku, kamu dan keluarga kamu. Kita jadi canggung dan tidak berleluasa seperti dulu. Namun, niatku cuma mau pertemanan kita nggak putus. Apalagi kamu salah satu orang tua siswa yang aku ajar. Nggak baik juga kalau kita canggung. Dan lagi ... karena akhir-akhir ini kamu tidak lagi menjemput Sansan, aku jadi kepikiran. Apa kamu menghindari aku?" "Sebetulnya iya aku menghindari kamu," jawab Samesta langsung. Mengundang belalakan mata lawan bicara. "Aku merasa harusnya kita nggak bertemu lagi. Tapi keadaan bikin kita bertemu hampir setiap hari. Aku hanya berusaha mengurangi intensitas pertemuan kita yang mungkin akan menimbulkan hal kurang diharapkan nantinya. Maaf, Lin, aku bilang begini. " Lintang memaksakan sebuah tersenyum. "Nggak apa-apa. Aku ngerti Raya pasti tidak akan suka suaminya berkomunikasi lagi dengan mantan pacarnya," kata dia menunduk. "Bukan soal itu. Raya bukan tipe orang yang marah tanpa mendengarkan alasan dulu. Tapi aku juga takut berbuat sesuatu yang berlebihan sehingga bikin kamu--" "Iya, aku tahu, Sam," potong Lintang balas menatap Samesta. "Kamu takut aku salah paham dengan kebaikan kamu. Padahal kamu tidak pernah berniat. Kalau boleh jujur sebenarnya aku belum melupakan kamu. Aku senang kita bertemu lagi. Aku udah mencoba menghindar, tapi kamu memaksa mengantar aku dan Pelangi pulang. Tapi kalau Raya tidak mudah cemburu, kenapa kamu belum mengatakan tentang aku?" Samesta merapatkan bibir. Penjelasan yang ditutup dengan satu pertanyaan menjebak. "Aku mengantar kalian pulang karena merasa harus balas budi pada orang yang sudah menjaga anakku dan sebagai teman. Tidak ada maksud lain. Soal kenapa aku belum bilang tentang kamu di sini, aku belum menemukan yang tepat." "Maaf, Sam. Sudah membuat kamu tidak nyaman dengan kehadiranku. Kalau kehadiranku akan membuat masalah, aku tidak masalah pindah dari sini." Sontak Samesta terbelalak. Perbuatan jahat mengorbankan perasaan dan pekerjaan orang lain demi hidupnya sendiri. Samesta tidak seegois itu. Ia memang ingin menghindari Lintang, tetapi di sini lain kasihan jika Lintang yang merupakan tulang punggung keluarga merelakan tempatnya mencari nafkah. Samesta kembali dilema. "Maafkan aku, Lin. Bukan kamu yang harus keluar dari kindergarten melainkan anakku. Aku dan Raya sudah bicara memindahkan Sansan ke sekolah dekat kantorku. Raya masih belum mengizinkan. Selama itu aku harap jika tiba-tiba Raya ke sini, aku minta tolong sebisa mungkin jangan sampai dia tahu kamu Bu Guru Cantik yang sering Sansan bilang. Aku masih mencari waktu tepat menceritakan tentang kamu." *** "Serius lo mgajak Lintang kerja sama?" "Selain cara ini, gue bingung harus gimana menghindarkan Raya dari Lintang," jawab Samesta sambil membuka laporan dari tumpukan map di meja. "Terus lo percaya sama Lintang gitu aja?" Nada bicara Septian terdengar tidak sepaham dengan Samesta. "Ta, gue tahu ya Lo lagi nggak fokus kerja. Nggak usah sok-sokan meriksa laporan deh. Nih urusin dulu nasib hidup lu." "Sep, kalau udah masuk ke kantor ya omonginnya seputar kerjaan lah." "Gue lagi serius nih, Ta. Kalau nggak butuh gue lagi, jangan harap entar bakal gue dengerin Lo lagi," ancam Septian. "Iya, iya, ngambekan gitu doang. Nggak asik lu semenjak merit. Gue emang minta tolong ke Lintang supaya sembunyi kalau Raya datang ke sana. Nggak tahu ya dia bakal bisa diajak kerja sama atau nggak. Yang jelas, ada harapan gue masih bisa menyelamatkan rumah tangga ini." Tangan Septian berlipat. "Kalau dia memanfaatkan situasi ini, lu bakal gimana?" "Lintang ngancem gue gitu?" Septian mengedik. "Mungkin aja, kan? Kata lo, Lintang masih ada rasa, tingkahnya kentara banget gugup. Ya ..., ini terlalu sinetron sih, permisalan aja Lintang menjadikan kelemahan Lo sebagai ancaman kan bukannya selesai malah tambah parah masalahnya." Samesta sempat terpikirkan sampai sana. Ia hanya mencoba memberikan Lintang kepercayaan. Entah akan bagaimana nanti hasilnya. "Pikiran lo, Sep. Kebanyakan nemenin Lidia nonton sinetron nih jadi ikut-ikutan gitu. Gue belum mikirin harus gimana. Semoga aja dia bukan orang yang kayak gitu," ungkap Samesta lesu sontak membuat Septian menghela napas. Sahabatnya ini selain ramah pada setiap orang dan banyak membuat hati wanita hancur setelah menerima perhatian, Samesta juga terlalu baik. Mirip-miriplah sama istrinya. Samesta dan Raya pasangan baik hati. "Tapi berani juga ya Lintang bilang masih ada rasa ke elu, Ta. Apa rasa itu muncul lagi pas kalian ketemu? Penasaran gue, sebenarnya gimana sih dulu kalian bisa putus? Bukannya waktu Lo udah nikah, kalian belum putus ya?" Memang iya, pernikahan Samesta hanya diketahui keluarga dan dua sahabat Samesta. Saat itu Samesta masih menjalani hubungan dengan Lintang. Samesta bersikap seolah semua baik-baik saja. Daripada tinggal di rumah, lebih betah di kampus meski tak terlalu banyak kegiatan. Samesta hanya akan menghabiskan waktu di luar, kemudian pulang larut malam agar tak banyak melihat Raya berkeliaran. "Ngapain penasaran sama hal nggak penting kayak gitu? Gue bahkan udah lupa," ketus Samesta. Sahabatnya mencebik tak percaya. Septian mengetahui perjalanan cinta Samesta hingga tahap sekarang. Ia menjadi saksi Samesta menikahi gadis yang belum pernah dikenalnya. Septian ada waktu Samesta bimbang antara memilih pacar atau istri demi ibunya. "Gue kok nggak percaya Lo lupa sama kejadian itu? Yang gue inget waktu itu Raya udah mengandung Saluna, kan? Saraf ya lo, Ta, Ta. Bini lagi mengandung darah daging lu, malah pacaran sama cewek lain." Makanya Samesta sangat tertekan sekarang. "Sebelum nikah kan gue punya pacar. Setelah nikah gue masih punya pacar. Lagian dulu masih muda banget. Belum ngerti yang terbaik tuh apa." "Oh, jadi sekarang udah ngerti yang terbaik tuh gimana?" sarkasme Septian mendapat dengkusan Samesta. "Bisanya Lo dari dulu ya ngomentarin sama nyalahin orang, Sep." "Nggak sembarang gue nyalahin ornag kalau nggak salah kali. Lagian Lo sahabat gue. Mana ada sahabat ngebiarin sahabatnya jalan ke arah sesat. Selama gue tahu arah yang benar ke mana, gue bakal nepuk bahu Lo memperingatkan dan ngasih tahu jalan yang bener. Menurut gue masih sama, Ta. Jalan yang benar itu adalah jujur ke Raya. Segera minta maaf. Bukannya lo takut banget kehilangan Raya dan anak-anak? Masih inget banget gue dulu melihat Lo kacau karena Raya ngilang bawa Saluna setelah melahirkan." Samesta memejam. Kilasan masa lalu menyakitkan itu datang kembali bagai film rusak. --Sweet Delusion-- Kilasan masa lalu yang kayak gimana ya ... Makasii buat yang tap love dan dukung cerita ini .. See you .. 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม