34. Kegelisahan Raya

1155 คำ
Samesta tersentak mendapatkan sentuhan di kaki. Ternyata Raya sedang berjongkok melepas sepatunya. Tangan Raya bergerak penuh kehati-hatian seolah tak ingin mengusik Samesta. Samesta mengusap wajahnya kasar. Mimpi buruk itu datang lagi. Saat kondisi lemah pasti dia datang dan mengobrak-abrik perasaan sampai menjadi keping-keping tak berarti. Mimpi buruk itu kembali mengingatkan berapa banyak dosa yang diperbuatnya pada Raya di masa lalu. Terkadang Samesta menangis saking sakitnya mengingat kesalahan di masa lalu. Kejamnya ia. Begitu Samesta menegakkan posisi duduk. Raya mendongak menatap wajah lelah sang suami. Samesta mengusap kepala Raya lembut. Dalam hati berharap wanita ini tak akan mendapat kesakitan lagi. Sudah cukup Raya menangis dalam diam dan tak punya sandaran. Samesta telah berjanji untuk menggenggam tangan Raya selamanya. Tak akan membiarkan dia merasa sendirian dan tidak diharapkan. Maka sebelum hidup salah satu dari mereka berakhir. Mereka akan tetap bersama. “Kamu udah bangun?” “Sejak kapan aku di sini, Ray?” Samesta mengucek mata. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruanga. Ia sedang berada di ruang tengah. Televisi menyala menampilkan acara berita malam. Pulang dari kantor Samesta tak kuat menahan kantuk. Ia membiarkan mobilnya terparkir di halaman kantor sedangkan ia memesan ojek online. Sadar-sadar Samesta tertidur di kursi ruang tengah. Keadaan ruanga yang temaram membuatnya tambah mengantuk. “Setengah jam lalu kamu pulang langsung tepar di sini. Aku udah bikin air panas, mau mandi sekarang atau... mau makan dulu? Kamu belum makan, kan?” Raya hendak beranjak, tetapi Samesta menarik tangannya hingga duduk di pangkuan Samesta. Lagi-lagi Samesta membuatnya terkejut. “Sam, ish!” Pukulnya pelan pada lengan Samesta. “Kebiasaan ngagetin aku.” Samesta mengeratkan rengkuhan tangannya pada tubuh Raya. Menyurukan wajah ke dalam leher Raya. Merasakan kehangatan bercampur aroma sampo rambut istrinya yang jatuh ke bahu. “Aku kangen kamu tahu. Kamu nggak kangen aku emangnya?” “Baru tadi pagi kita bertemu, Sam. Setiap hari juga kita nyempetin teleponan.” Raya balas mengelus rahang tegas Samesta. Menatap teduh binar mata pria kesayangannya ini. “Kamu kelihatan capek banget.” “Kerjaan lagi banyak-banyaknya. Aku sengaja menyelesaikan cepat supaya nggak lembur di kantor.” “Ck. Kebiasaan. Selalu memporsir tenaga. Nggak baik tahu. Biar apa sih? Kan dikerjainnya sedikit-sedikit nggak akan bikin perusahaan kamu bangkrut dalam satu malam.” “Biar bisa cepat ketemu kamu, Raya .... Aku tuh kangen berat sama kamu. Pengen peluk kamu kayak gini. Pengen deh bikin tempat kerja kita berdekatan. Biar aku leluasa nengok kamu. Bukan cuma saat pagi dan malam aja.” Raya tertawa. Pemikiran suaminya ini selalu ada-ada saja. “Emangnya kamu nggak bosan ketemu aku terus 24 jam?” “Nggaklah. Kamu kan nggak ngebosenin. Emang kamu bosen lihat aku?” Dalam hati Raya mengnyahut. Mana ada ceritanya ia bosan bertemu Samesta. Pria rupawan yang langka. Tak banyak wanita beruntung mendapatkan pasangan sesempurna Samesta. Tampan, mapan, penyayang, setia, bertanggung jawab. Raya balik memeluk Samesta, mengusap kepala bagian belakangnya. "Aku mimpi buruk lagi," lirih Samesta didengarkan Raya seksama. Artinya Raya menunggu Samesta bercerita sepenuhnya. Untuk itu dia melanjutkan usapan di belakang kepala Samesta. Membiarkan prianya nyaman dalam pelukan. "Mimpinya gimana?" Tentu Raya mengetahui mimpi buruk yang dimaksud itu yang mana. Sejak putri pertama mereka lahir dan Samesta mati-matian mempertahankan Raya dan Saluna, Samesta sering teringat kenangan awal-awal pernikahan mereka sampai terbawa mimpi. Raya cukup tahu Samesta merasa sangat bersalah. Namun, bagi Raya setiap orang perlu berproses. Ketika Samesta sadar perlakuannya salah, tidak semerta-merta Raya senang. Sebab setiap kali kelelahan Samesta akan tampak lebih tersiksa. Bukan hanya sekali dua kali Samesta ketahuan menangis. Jika terpergok Samesta akan langsung memeluk Raya sambil menggunakan kata maaf sampai terlelap. Melihatnya kacau, membuat Raya hancur. Ia tak menginginkan Samesta begini. Raya hanya ingin Samesta mengingat kenangan indah yang mereka ciptakan setelah kegelapan pergi. Terkadang kondisinya lebih mengkhawatirkan dari menangis sendirian. Samesta akan jatuh sakit. "Aku ... keinget kamu yang disiram sama Almarhum Nenek. Aku kebayang-bayang kamu yang duduk dilantai menggigil kedinginan. Kami cuma menunduk menerima setiap amarah Nenek. Kenapa kamu nggak pernah membela diri sendiri, Ray?" "Karena nggak sopan menyahut ketika orang tua sedang bicara. Katanya apa yang kita perbuat, besar kemungkinan akan menurun ke anak kita. Aku nggak mau anak-anakku kalau sudah besar nanti melawan omonganku." "Tapi itu bukan omongan biasa, Ray. Nenek menghina kamu. Membela diri nggak ada salahnya. Lagian membela harga diri saat dijatuhkan adalah setiap orang. Mereka yang melihat kejadian itu juga mengerti perlakuan nenekku ke kamu itu salah." "Sam ..., nggak baik membicarakan orang yang sudah tiada," sanggah Raya selalu begitu. Menghindari pembahasan di masa lalu. Katanya buaya apa dibahas kalau sekarmag mereka telah mendapat kebahagiaan. Mereka berhasil melewati masa-masa sulit. Harusnya lebih mensyukuri kehidupan sekarang bukannya menyalahkan ketidakadilan yang pernah terjadi. Raya sakit. Sangat sakit harus mendapatkan kepedihan. Namun, kembali lagi. Mungkin itulah takdirnya. Jalan yang harus ia lewati mesti tak ingin. "Raya kamu kenapa baik banget? Pernah tanya ke orang tua kamu, pas bikin kamu komposisinya apa aja biar anak punya hati luar biasa baik?" "Ya ampun, Sam .... Apa-apaan deh. Pakai bawa-bawa komposisi bikin anak segala. Ya komposisi mah sama aja semuanya juga. Kalau udah keinget masa lalu suka ngawur omongannya." "Maaf banget ya, Ray, untuk semuanya?" Samesta menyurukan wajah pada leher Raya lagi. Memejam di sana meredam perasaannya yang masih kacau. Samesta butuh penenang dan hanya Raya yang punya. "Aku bosen denger permintaan maaf kamu, Sam. Aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf. Aku juga minta maaf banget sampai sekarang belum bisa jadi istri yang sempurna buat kamu." Raya menghela napas. "Jujur, aku nggak tahu kenapa akhir-akhir ini perasaan aku sakit. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Cuma tinggal menunggu waktunya tiba. Semua baik-baik aja, kan, Sam?" Sontak Samesta membuka mata kala mendengar ucapan Raya satu detak darir angkaian irama jantungnya berdenyut sakit. Raya merasa sesuatu yang salah itu? Bagaimana ini? Pikiran Samesta kembali berkelindan lagi. "Aku baik-baik aja. Kamu?" Samesta berusaha biasa saja. Padahal niatnya ingin menceritakan segalanya pada Raya malam ini. Situasi yang terjadi sekarang malah mengurungkan niat Samesta. Ia tak tega menyakiti Raya. Apalagi lepas dari rengkuhan hangatnya. Meresapi usapan jemari lentik Raya di sela-sela rambutnya. Samesta masih ingin menikmati ini. Jika boleh tidak ingin cepat berakhir. "Aku ... juga baik sih ...." "Kok kayak nggak yakin gitu jawabnya pake 'sih'?" Samesta mendongak. Bersitatap langsung dengan mata bulat Raya. Wanita di pangkuannya mengedikkan bahu tak yakin. "Kalau kamu merasa semua baik-baik aja. Kenapa gelisah gitu, hm?" "Aku cuma takut terjadi sesuatu. Semoga aja nggak ya?" Samesta menelan ludah. Benar ya apa kata orang kalau perasaan seorang istri itu pekanya luar biasa. Raya bisa merasakan apa yang terjadi sama Samesta. Walau bagaimana pun Samesta telah main di belakangnya. Sebenarnya Samesta juga pernah berbohong pada Raya, tetapi belum pernah semendebarkan ini. Sebab Samesta tahu rahasia yang ia sembunyikan tidak akan mudah mendapatkan maaf. Raya telah memberinya kesempatan berubah, Samesta hanya tak ingin mengkhianati kepercayaan Raya yang telah memberinya kesempatan. Samesta jadi deg-degan mendengar kegelisahan Raya. --Sweet Delusion-- Makasii tap love dan dukungannya ya .... Semoga betah di sini See you ... 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม