33. Kenangan Samesta

1376 คำ
“Nenek!”   Teriakan Samesta menggema ke seisi rumah. Wanita yang berdiri angkuh menyiramkan air kotor di kepala seorang gadis menoleh. Esti tak menyangka dari sekian lama membesarkan Samesta penuh kasih sayang, hari itu pertama kalinya Samesta memberinya tatapan kecewa. Seakan dia menentang perilaku Esti. Entah kapan Samesta sampai di rumah. Seingat Esti cucu kesayangannya itu baru berangkat kuliah satu jam lalu.   “Sa-Samesta?” Esti terbata.   Ember kosong di genggamannya meluncur ke lantai, menciptakan kegaduhan. Para asisten rumah tangga pun berhampuran mendatangi ruang tengah. Mencari tahu apa yang terjadi. Mereka terkejut menyaksikan pemandangan menyedihkan di sana. Raya duduk bersimpuh dengan tubuh basah kuyup. Sedangkan di hadapan Raya berdiri nyonya besar mereka. Hanya dengan melihat sekilas saja, mereka tahu apa yang sudah terjadi. Ember kosong dan genangan air itu seolah bicara.   Ini melewati batas. Seorang asisten rumah tangga pun tidak pernah dicaci separah itu. Mereka heran, mengapa menantu yang harusnya dijadikan nyonya tak ubah seorang pengemis di hadapan mereka. Rum terenyuh menyaksikan Raya hanya diam sambil menunduk dalam. Anak itu tak pernah membela diri. Membiarkan dirinya dihina seolah pantas mendapatkannya. Jika Raya adalah putrinya, Rum akan memperlakukan Raya sangat baik. Menyayanginya sepenuh hati dan menjaduhkan dia dari orang-orang jahat. Tubuh kecil Raya mengigil. Walau terus berusaha terlihat tegar, siapapun mengetahui Raya menahan kesedihan.   Seharian ini Raya bekerja, sedangkan dari pagi Esti tak membiarkan Raya istirahat untuk sekadar mengisi perut. Kini apa yang ia dapatkan?   Rum datang dan langsung menyampirkan handuk menyelimuti tubuh Raya. Gadis malang itu mendongak. Benar saja Raya mati-matian menahan tangis. Matanya memerah. Saat Rum membantunya berdiri, Raya menurut. Seolah menyerahkan segalanya pada Rum. Raya sedang kelihangan daya. Untuk sekadar berpikir apa yang harusnya ia lakukan saja tidak tahu.   “Nenek ... ini ada apa?” Samesta mengeluarkan suara lagi setelah Raya hilang di balik lorong menuju dapur. Ada rasa syukur Raya dibantu seseorang pergi dari sana.   Sungguh ia masih kesulitan mencerna. Samesta kembali ke rumah untuk mengambil barang yang tertinggal. Tak dinyana malah mendapatkan pemandangan tak diduga.   Samesta memang mengetahui neneknya sering memerintah Raya mengerjakan pekerjaan asisten rumah tangga selama ini. Ia hanya diam saja karena masih berada di batas wajar. Namun, ia tak mengira neneknya bertindak terlalu jauh.   “Kamu kenapa kembali lagi? Apa ada sesuatu?”   Bahkan setelah melakukan hal sejahat itu dan disaksikan orang-orang diluar keluarga mereka, neneknya tak menampilkan rasa bersalah? Samesta mundur selangkah.   Esti sontak mengernyit mendapatkan reaksi Samesta. Cucunya menghindarinya. “Ada apa, Samesta? Kenapa melihat nenek seperti itu? Kemana Samesta nenek yang ganteng?”   “Nek, ini sudah keterlaluan. Nenek sudah menghina Raya. Sekarang Samesta yang melihat, bagaimana kalau Umi, Ayah, atau Kak Alam?”   “Jadi kamu menyalahkan tindakan Nenek? Dia bersalah, Mesta. Gadis desa itu melakukan kesalahan. Hampir saja dia membuat nenekmu ini terjatuh. Dia memang bodoh. Melakukan pekerjaan rumah saja tidak becus. Dasar gadis kampung tidak berguna. Ini kenapa Nenek sangat menentang keputusan ibumu. Pasangan yang pantas dengan Samesta itu harus baik bibit, bebet, bobotnya. Ini apa? Lihat sekarang. Setiiiiiiiiiiap hari dia membuat kesalahan—“   “Nek, tetap saja perlakuan Nenek terhadap Raya tadi salah. Gimana pun Raya istriku. Aku sah menikahi dia.”   “Kamu tidak terima gadis kampung itu diperlakukan begitu, Mesta? Kamu yakin lebih membela dia dari pada nenekmu sendiri yang sedari kecil menyayangi kamu?”   Samesta mendesah resah. Ini kondisi yang paling ia hindari dalam hidup. Menjelaskan dengan pelan. “Gadis kampung itu punya nama, Nek. Dia Raya, istrinya Samesta. Tentu Samesta tidak senang melihat istri Samesta dihina begitu. Bukannya saat harga diri seorang istri dihina sama dengan menghina harga diri suaminya juga?”   Kali ini Esti tak langsung menyahut. Perkataannya seolah terkalahkan. Ketidaksukaan tampak jelas di raut muka Esti. Ia berkaca-kaca, tak menyangka untuk pertama kalinya mendapatkan pertentangan dari Samesta. Dan lagi ini karena orang asing dalam keluarga mereka.   “Samesta nggak masalah Nenek nyuruh dia bekerja sebagai pembantu rumah ini. Memperkenalkan dia sebagai pembantu juga di depan teman-teman arisan Nenek. Tapi jangan kayak tadi. Samesta akui sikap Samesta ke dia juga nggak baik. Seenggaknya kebencian nenek ini jangan sampai menciptakan dosa dan penyesalan nantinya.”   Pada dasarnya Samesta belum pernah menjudesi seseorang. Apalagi separah sikapnya terhadap Raya. Setiap menyakiti Raya lewat perkataan lalu melihat mata Raya memerah menahan tangis, sekuat tenanga Samesta menahan gejolak rasa bersalah. Ia tak mahir menyakiti seseorang. Samesta akan cepat menghindar. Untuk itu dia menyuruh Raya agar tak menampakkan diri di hadapan Samesta kecuali jika diminta. Samesta hanya takut perasaan buruk yang terbawa dari luar rumah mempengaruhi tindakannya ketika bertemu Raya. Mungki sesuatu yang belum pernah Samesta bayangkan terjadi. Menyakiti Raya secara fisik, misalnya? Samesta menghindari itu.   Namun, terlanjur tertanam dalam benak Raya bahwa Samesta membenci dirinya karena pernikahan mereka. Dan Samesta tak ingin memperbaiki persepsi itu. Ia biarkan Raya berpikiran bahwa dirinya dibenci oleh suami sendiri. Ia harus bersembunyi karena suaminya tak ingin melihatnya berkeliaran di depan mata.   Samesta rasa itu cara terbaik bagi mereka. Semakin jarang bertemu, semakin jarang pula Samesta menyakit Raya. Samesta tak yakin mengapa setiap melihat Raya bawaannya kesal. Kekesalan utamanya sebab Raya tidak menolak perjodohan mereka padahal mempunyai kesempatan besar. Apa untungnya pernikahan lewat cara kuno perjodohan di zaman sekarang? Kebebasan berpendapat dan menentukan pilihan kan hak setiap orang. Mengapa pula harus menyetujui perjodohan setelah Samesta memperkenalkan perempuan yang sedang dekat dengannya. Iya, Samesta tahu ini demi membayar hutang tak ternilai peninggalan ayahnya yang pergi itu. Melihat bagaimana Raya begitu muda, lugu, bahkan baru lulus Sekolah Menengah Atas .... Samesta merasa terjebak. Dan seseorang yang bersalah besar terhadap bencana ini adalah dirinya sendiri.   Samesta membiarkan dirinya terjebak walau telah mengetahui hal itu dari jauh hari. Samesta seketika menyetujui perjodohan melihat bagaimana seseorang begitu hancur di hadapannya. Raya tak menangis. Saat Senja bertanya mengapa Raya diam saja. Raya bebas mengeluarkan kesedihan, tetapi Raya  mejawab, “Ibu minta aku jangan nangis.”   Menurut Samesta, itu adalah hal paling berat dalam hidup. Kehilangan orang paling dekat apalagi seorang ibu tanpa tangisan sangat mustahil. Raya tetap tak menangis ketiak seseorang datang menagih hutang ibunya di hari yang sama. Orang itu akan menjadikan Raya istri mudanya kalau hutang ibu Raya selama menjalani pengobatan di rumah sakit tak dibayar hari itu juga.   Untuk itu Samesta tergerak menyembunyikan Raya di balik punggungnya. Begitu saja Samesta ingin pasang badan demi orang asing. “Saya calon suaminya. Jaga ucapan Anda, jangan macam-macam.”   Semua orang terkejut. Keputusan besar dalam hidup telah Samesta buat. Dan itu berlaku untuk selamanya.   Esok harinya Samesta memenuhi perkataan sendiri menjadi calon suami Raya. Ia belum pernah merasakan debar kacau lebih dari hari itu. Berkali-kali ia mengusap kening, Samesta berkeringat dingin. Sejak kecil ia selalu ditunjuk sebagai pemimpin teman-teman. Samesta pernah menjabat ketua OSIS waktu SMP dan SMA. Saat itu pun ia sedang dalam masa jabatan sebagai presiden mahasiswa fakultasnya. Samesta terbiasa menghadapi masa, menghadapi tekanan di depan umum, yang dianggap sulit bagi setiap orang bagi Samesta bukan masalah. Namun hari itu, dimana ia duduk bersebalahan dengan gadis berkebaya putih, tangannya gemetar membalas jabatan tangan pria di hadapannya. Pria itu menyerahkan tugas menjaga adik perempuan satu-satunya pada Samesta.   Raya.   Seperti habis mendapatkan satu beban besar di pundak, Samesta melepas jabatan tangan itu. Semua orang kompak mengatakan “sah”. Beban itu terasa semakin nyata begitu Raya ragu-ragu menuruti permintaan semua orang untuk mengecup punggung tangan Samesta.   Hari itu menjadi titik awal hidupnya jungkir balik. Kebebasan yang terbiasa ia lakoni perlahan akan dibatasi. Melakukan kegiatan di luar rumah sebagai pemuda bebas tanpa ikatan, misalnya. Seberusaha pun Samesta tetap menjadi dirinya yang biasa, Samesta tetap teringat bahwa di rumah ada Raya. Ada seseorang yang akan membukakan pintu saat ia pulang. Raya akan terjaga sampai Samesta pulang.   Ketahuilah kebaikan Raya terhadapnya meski hampir setiap mereka bertemu menerima perkataan menyakiti hati, Samesta tersiksa.   Samesta hanya ingin membuat Raya pergi dari rumah. Di sisi lain Samesta juga menginginkan Raya di sisinya.  Lama-lama Samesta bingung dengan perasaaan sendiri. Ia selalu goyah melihat tatapan sakit dan menahan tangis itu. Bagian dari dirinya mendorong Samesta untuk memberi Raya pelukan. Membiarkan gadis itu menumpahkan air mata. Bukan hal baik menahan kesedihan terlalu lama.   Lagi-lagi dorongan diri memberi pelukan tak pernah sampai. Tangan Samesta hanya berakhir menggantung di setiap sisi tubuh sembari menggepal. Bingung apa yang terjadi.     --Sweet Delusion— Duh, Samesta ... sayang tapi gengsi :( Makasii buat yang tap love dan dukung terus cerita ini ya See you.. 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม