“Gadis itu tidak cocok dengan Samesta. Cucuku bisa mendapatnya seseorang yang lebih dari dari seorang gadis kampung sebatang kara. Samesta bisa mendapatkan kehidupan sangat baik bersama gadis lain yang setara.”
“Bu ..., tapi Raya gadis baik. Dia akan menjadi sumber kebahagiaan Samesta.”
Raya mengintip ketiga orang dewasa berdebat di sebuah kamar rumahnya. Usai membicarakan rencana perjodohan di depan keluarga Raya yang tersisa yakni kedua kakaknya, terjadi perdebatan sengit antara wanita bersanggul—mereka memanggilnya Nenek Esti--dan Senja. Ibunya Samesta tampil bertentangan dengan pendapat mertua. Senja menginginkan perjodohan itu terjadi sesuai janjinya pada ibunya Raya. Meski segala keputusan berada di tangan anak-anak mereka, tetapi melihat kondisi sekarang Raya sendirian .... Mana tega ia meninggalkan gadis manis itu.
Alhasil ketika Raya menyetujui perjodohan (di luar ekspektasi orang lain), Senja senang luar biasa. Setidaknya dalam perjodohan Raya dan Samesta ada secercah harapan.
“Senja!” sanggah Esti tegas. Tatapannya yang biasa kejam bertambah. “Apa kamu tidak mempedulikan masa depan anak-anakmu? Samesta punya masa depan cerah. Semua orang mengetahuinya. Jika sekarang kamu menikahkan dia, bagaimana Samesta bisa menggapai cita-cita? Kuliah pun belum selesai. Hidup berumah tangga itu harus sudah siap, bahkan Samesta belum mendapatkan pekerjaan. Dia masih membutuhkan bantuan orang tuanya.”
“Bu, Samesta kami anaknya sangat mandiri. Meski sekarang masih tergantung pada orang tuanya perihal biaya kuliah dan keperluan lain yang bersifat besar. Samesta sudah bisa menjalan usaha kecil-kecilan untuk menambah uang sakunya. Melihat itu kami yakin Samesta bisa mengatasi rumah tangga. Lagi pula, Raya setuju dengan perjodohan ini.”
“Tapi Samesta tidak, Senja .... Ingat, dalam pernikahan harus terdapat unsur suka sama suka. Kamu tidak bisa memaksa pernikahan ini pada Samesta. Dari tadi yang kamu dengar hanya pendapat gadis desa itu. Yang anak kandungmu itu Samesta.”
“Lalu Ibu bisa menanyakannya langsung pada Samesta. Apa Samesta menolak perjodohan ini? Sejak tadi Samesta tidak membantah. Aku tahu bagaimana anak-anakku, Bu. Aku yang melahirkan mereka. Diamnya Samesta membuktikan bahwa ia juga mau berusaha mencobanya. Tidak masalah sekarang mereka menikah karena terpaksa. Cinta datang karena terbiasa. Dan aku berharap suatu saat nanti mereka saling mencintai,” jelas Senja sembari mengusap selasar pipinya yang basah. Pria di sampingnya menautkan jemari mereka. Sekilas Senja menatap suaminya itu kemudian kembali bicara. “aku berharap menjalani hidup bahagia.”
Esti mendecih, “Terserah!”
Pintu dibanting keras oleh wanita itu. Meninggalkan Senja menangis dalam pelukan Fajar. Baginya perkataan kejam sang ibu telah biasa ditelan bulatbulat. Hanya saja tetap sakit dirasa. Hati Raya terenyuh mendapat pembelaan sebegitu besarnya dari seseorang. Ia memang telah mengalami kehilangan. Hidupnya kini hanya sendirian. Namun Senja membuatnya merasa bahwa di dunia ini masih ada yang menginginkan dia.
Raya melihat sosok ibu pada Senja. Kelembutannya, kasih sayang, dan perhatian Senja percis cerita ibu sebelum tiada. Sekarang Raya hanya bisa memeluk potret usang dan kenangan bersama ibu.
Memang betul kata Nenek Esti bahwa gadis desa seperti Raya tak pantas disandingkan dengan Samesta. Lelaki yang baru hari ini ia lihat begitu sempurna. Samesta ada dalam doa setiap ibu bagi putri mereka. Entah ibunya juga mendoakan seorang lelaki sepurna seperti Samesta datang ke dalam hidup Raya, tidak tahu. Samesta sangat jauh digapai.
Apalagi si sempurna itu sangat ramah. Hanya pada Raya saja dia menyuarakan ketidaksukaannya terang-terang. Di depan orang lain Samesta bersikap seolah semua berjalan lancar. Raya tahu, Samesta juga manusia biasa. Mungkin di tempatnya tinggal, Samesta memiliki seorang kekasih. Dan dengan adanya pernikahan mereka, Raya telah menghancurkan hubungan mereka.
Terasa mimpi duduk di samping Samesta mendengarkan lelaki itu mengucapkan janji pernikahan. Kain tipis menaungi mereka. Sekilas Raya melihat kegugupan Samesta. Tangannya bergetar saat menjabat tangan kakak tertua Raya. Hal sama dirasakan Raya, belum pernah semendebar itu. Debarannya jauh lebih keras dari saat melihat orang yang disuka. Meski demikian, Raya senang tidak akan sendirian. Walau lagi-lagi ia harus menelan pil pahit. Samesta tampak enggan menerima babak baru dalam hidup mereka.
Kehidupan Raya tak ubahnya kisah Cinderela. Dipinang seorang pangeran tampan dari keluarga kaya. Bedanya Raya tak mendapatkan cinta dari pangeran layaknya Cinderela dalam dongeng. Berkeliaran bebas di sekitar suaminya saja tidak boleh. Segala hal dilarang Samesta.
“Ini kamar Samesta. Sekarang punyamu juga.” Senja membawa menantunya ke kamar atas dimana Samesta biasa tidur.
Ruangan tempat istirahat itu besar. Tiga kali ukuran kamar milik Raya di kampung. Di dalamnya dilengkapi kamar mandi dan tempat berganti baju juga. Raya tak henti-hentinya mengagumi rumah keluar Senja sejak menginjakkan kaki di sana.
“Nanti kita beli lemari satu lagi buat kamu. Untuk sementara kamu menyimpan pakaian kamu di lemari milik Samesta. Setahu Umi masih ada ruang.” Senja membuka lemari di pojok ruangan yang dikira Raya adalah tembok. Dalam lemari itu menggantung pakaian-pakaian Samesta.
“Ah, nggak ada celah ternyata. Ya udah ya, besok Umi langsung pesan. Nah, mulai saat ini keperluan Samesta kamu yang atur ya. Pakaian, sepatu, semua Umi serahkan ke kamu. Kalau butuh sesuatu atau mau bertanya apa pun bisa tanya ke Umi.”
Kata Umi, Samesta dimanja sejak kecil. Terutama oleh neneknya. Dia cucu kesayangan di keluarga besar. Raya hanya mengangguk-angguk. Tanggung jawab sebesar itu semoga tak terjadi kesalahan. Ia tak ingin salah bertindak sehingga merusak barang-barang milik Samesta. Lelaki itu membencinya, jangan sampai kadarn benci Samesta pada Raya bertambah.
Samesta sampai di dalam kamar menjatuhkan tas berisi baju-baju Raya. Dia diminta Umi mengangkut semua barang Raya dari bagasi mobil. Samesta menutup pintu, membuat Raya berjengit kaget. Tanpa rasa berdosa membuat anak orang ketakutan Samesta menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Terlengtang menghadap langitlangit kamar. Sontak Raya mematung. Sesuai perjanjian mereka sebelum kemari, salah satunya Samesta tidak suka Raya bersuara.
Tak lama Samesta membuka mata kembali. Menoleh ke arah Raya yang berdiri canggung setengah ketakutan di sana. “Ada peraturan tambahan karena ternyata Umi nggak menempati janjinya misahin kamar kita. Jadi gue tidur di sini. Lu tidur di kursi. Di dalam lemari ada selimut pake aja. Asal jangan sampai ini bocor keluar kamar ini. Kalau sampai Umi tahu kita tidur pisah, jangan harap hidup lo tenang. Ngerti?”
Raya tak paham sebelum diancam begitu pun kehidupannya yang masih berumur beberapa jam tidak terdapat ketenangan. Samesata juga tidak memberikan Raya kesepatan bicara. Setiap kali Samesta bertanya, Raya hanya mampu mengangguk atau menggelengkan kepala. Raya takut sikap Samesta lebih parah dari ini dan berakhir mengusirnya pergi. Harus kemana Raya kalau bukan dengan mereka? Di kampung urmah peninggalakn ibu disita juragan untuk melunasi hutang.
Tak lama ketukan pintu menginterupsi. Atlas, adiknya Samesta memberi tahu mereka sedang di tunggu di ruang makan. Samesta berjalan melewari Raya memasuki kamar mandi. Sambil berlalu dia berkata, “Muka lo jangan kayak orang bingung gitu, sebisa mungkin di hadapan keluarga gue pura-pura bahagia.”
Saat pintu kamar mandi tertutup, Raya mengembuskan napas. Sakit sebetulnya perasaan Raya disiksa oleh kata-kata kejam Samesta. Bagaimana lagi? Raya harus menerima semua perlakuan Samesta padanya. Gara-gara menikahi Raya, Samesta kehilangan banyak kesempatan di masa depan.
“Sebisa mungkin jangan sampai papasan. Gue nggak mau lihat lo. Tapi kalau gue bilang duduk di dekat gue turutin. Di waktu kumpul keluarga, di hadapan Umi, dan di waktu-waktu lainnya,” kata Samesta suatu hari pulang kuliah.
Mukanya ditekuk masam. Saat Raya membukakan pintu Samesta langsung melempar kasar tasnya hampir mengenai wajah Raya.
“Waktu-waktu lain?” beo Raya.
“Waktu-waktu yang mungkin bakal datang. Pokoknya setiap permintaan gue, tugas lo cuma satu : turuti.”
Sejak itu erak-gerik Raya diatur sedemikian rupa sehingga mereka tidak bersitatap langsung. Raya tidur di atas kursi, sedangkan Samesta nyaman tempat tidurnya yang empuk. Jika pagi-pagi Raya membereskan tempat tidurnya, terkadang Raya mencoba duduk di ujung tempat tidur milik Samesta. Raya akan mengusap dimana Samesta biasa tidur. Samesta bilang pernikahan mereka hanya untuk menghargai keinginan keluarga. Ia sangat menyayangi ibunya. Maka Raya mengerti batasan. Raya tidak berharap pernikahan mereka akan bertahan lebih dari satu tahun. Baru menjalani satu bulan saja, Raya hampir kesulitan bernapas menghadapi sikap dingin Samesta serta perlakuan Esti yang menyamakan posisi Raya dengan asisten rumah tangga.
Segera setelah semua orang berangkat kerja dan berkegiatan di luar rumah wanita tua itu menyuruh Raya membersihkan rumah. Asisten di rumah agak ragu dengan kedatangan Raya membantunya. Sebagian besar tugas asisten dikerjakan oleh Raya. Bi Rum—asisten rumah tangga—yakin majikannya memperlakukan menantu mereka begitu agar Raya tak betah dan pergi. Anehnya meski kelihatan lelah, Raya tak pernah mengeluh. Gadis itu harusnya melanjutkan sekolah. Nasib malang membuatnya berakhir begini.
Sampai suatu hari Samesta melihat bagaimana neneknya memarahi Raya. Gadis itu duduk bersimpuh sambil memegang kain lap. Esti menumpahkan satu ember air kotor bekas pel lantai ke atas kepala Raya. Samesta mematung. Yang ia tahu selama ini hanya Raya dipekerjakan seperti asisten rumah tangga. Ternyata perlakukan neneknya separah ini?
“Nenek!”
Raya terbelalak mendapati Samesta melihatnya dalam keadaan kacau. Tubuhnya menggigil kedinginan. Sekilas Raya melihat tatap sedih pada mata Samesta. Namun, hal itu menambah sakit hati Raya. Ia tak suka dikasihani.
--Sweet Delusion—
Makasii udah tap love dan semoga betah yaa
Dukung terus cerita Samesta dan Raya
See you ...