Ada yang berbeda dari Samesta pagi itu. Ia keluar dari kendaraan sambil memeluk sebuah kardus. Entah apa yang dibawa olehnya. Yang jelas, tak mengurangi ketampanan Samesta sebagai Papa Keren. Semua orang masih saja terkesima dengan gaya Samesta yang santai. Walau mereka tahu Samesta pasti mau pergi ke kantor.
Pakaiannya lebih santai dari biasa. Ia hanya mengenakan kaus hitam yang menambah tone kulit pulih miliknya. Ia memakai celana denim dan paduan sepatu putih. Siapa pun akan mengira bahwa Samesta bukan orang tua dari Sansan melainkan pamannya. Desiran angin pagi tak lantas mengacaukan rambut hitam Samesta. Pria itu menambahkan sedikit usapan jel sehingga membuat penampilannya tampak segar bagai habis mandi. Parfum yang ia pakai menggelitik penciuman orang-orang ketika dia lewat. Rasanya seperti baru saja makhluk surga melintas.
“Pagi ...,” sapa Samesta memberi anggukan kecil.
Ia selalu lupa diri kalau senyumannya itu bisa melelehkan hati siapa saja. Suara Samesta akan terngiang-ngiang di telinga mereka. Keramahan dan tatapan lembut pria itu mampu menarik perhatian. Orang model Samesta tak pernah merasa kesepian. Auranya begitu kuat sehingga mampu mengalihkan perhatian orang-orang kala dia berjalan. Bagaikan gula yang walau diam akan dikerubuni sekelompok semut. Samesta itu kata lain dari sempurna.
Dan Lintang masih diberi kesempatan melihat itu semua. Debaran jantungnya bertambah kencang. Ditambah beberapa hari tak melihat Samesta. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum menyambut kedatangan lelaki yang pernah mengukir kenangan di masa lalu itu. Dari mana cahaya di belakang Samesta itu berasal? Lintang bertanya-tanya. Sejak pertama kali melihat Samesta belasan tahun lalu, ia begitu penasaran mengapa Samesta begitu mudah mencuri hatinya.
“Pagi, Sansan. Sam.”
“Pagi, Bu Guru Cantik!” seru Sansan berlari ke arahnya.
Lintang mengusap pucuk kepala Sansan. Sedikit melirik Samesta yang diam di hadapannya. Samesta memberi anggukan. Suaranya hampir tak terdengar. “Pagi.”
“Bu Guru, hari ini ayah bawa banyak donat. Ayah mau bagi-bagi donat. Iya, kan, Yah?”
Samesta mengangguk canggung di hadapan Raya. Perlahan terdengar bisik-bisik para orang tua siswa kindergarten. Samesta semakin tak nyaman berada di situasi itu.
"Ehm ..., Lin. Ini Raya minta aku menyampaikan rasa terima kasihnya pada semua guru ya Sansan. Kalian sudah menjaga anak kesayangan kami. Jadi ... boleh tunjukkan dimana ruang gurunya?"
Sebenarnya bisa langsung serahkan pada Lintang, lalu Samesta pergi. Hati nuraninya malah memarahi. Bagaimana bisa ia membiarkan seorang wanita mengangkat kardus berisi puluhan donat. Selain bakal kesusahan, lumayan berat juga. Maka Samesta harus melakukan permintaan Raya secara penuh. Terpaksa ia mengikuti Lintang dari belakang. Sansan pergi ke kelasnya.
Sampai di ruangan guru. Sebagian guru masih ada di sana. Samesta membagikannya pada orang yang ada dulu, sisanya biar jadi urusan mereka. Secara keseluruhan respon mereka bagus. Sesuai perkiraan Samesta. Inilah jalan amannya. Jika hari ini ia memberikan kotak donat hanya pada Raya, bukan tidak mungkin akan menjadi perbincangan yang melihatnya. Samesta juga segan memberikannya pada Lintang.
"Kalau gitu, aku lanjut jalan lagi, Lin. Makasih sudah antar ke ruang guru."
"Sama-sama, Sam. Seharusnya kami yang mengucapkan banyak terima kasih sudah bagi-bagi donat masih hangat pula. Kebetulan sebagian besar dari kami belum sarapan. Sekali lagi terima kasih, Sam."
"Iya, nanti aku sampaikan pada Raya."
Air muka Lintang sontak berubah. Samesta menyadari wanita ini tak suka nama Raya disebut dalam obrolan mereka. Ini yang membuat Samesta tak ingin berlama-lama bicara bersama Lintang.
"Beberapa hari ini Septian yang jemput Sansan."
"Oh, iya. Aku lagi banyak kerjaan. Jadi aku minta bantuan Septian. Hm ..., kalau gitu aku pamit?"
"Ya, silakan, Sam. Hati-hati di jalan."
Akhirnya Samesta terbebas dari debar karena takut. Sepanjang berjalan menuju kendaraan yang terparkir di depan gerbang kindergarten, ia merasakan tatapan Lintang masih tertuju padanya. Menatap Samesta dari belakang. Samesta segera tancap gas begitu telah berada di balik kemudi.
***
"Dari muka Lo, gue tahu. Baru aja dapat masalah?" tebak Septian datang ke dalam ruangan sahabat yang menjabat sebagai bos tempatnya bekerja hanya untuk meledek.
Pantas saja para karyawan yang datang ke ruangan Samesta bilang bahwa atasan mereka itu sedang dalam suasana hati buruk. Samesta memarahi setiap kesalahan yang dilakukan mereka meski itu hanya bersifat kecil. Benar saja kata mereka. Wajah Samesta mumet parah. Dari tatapannya saja saat pertama kali melihat Septian hadir dari balik pintu seperti akan menerkam orang.
Sudah jelas, Samesta sedang dirundung masalah serius.
Samesta mendengkus. Sedang malas menghadapi bercandaan Septian. Candaannya sering kelewatan. Untuk saat ini Samesta harus menghindari potensi bertambah parah kondisi perasaannya.
"Udah gue bilang, kejujuran lebih baik cepat lebih baik."
Namun, Samesta sulit berdiam diri. Setiap Septian datang bawaannya ingin bercerita.
"Gue ketemu Lintang pagi ini."
"Kan tiap pagi juga ketemu, Sam. By the way, katanya lo udah minta pendapat Raya soal mindahin Sansan ke sekolah dekat-dekat sini. Gimana katanya?"
"Itu dia .... Raya nggak setuju."
"Udah gue duga."
"Dia mikirnya sebentar lagi Sansan keluar dari kindergarten dan masuk Sekolah Dasar. Buang-buang uang kalau pindah sekolah sekarang. Katanya kalau mau Sansan sekolah di dekat kantor gue pas masuk SD aja sekalian. Lah, masalahnya sekarang aja udah gawat. Apalagi nanti? Bisa pecah kepala temen lo ini, Sep."
Septian malah menertawakan Samesta. "Lagian elu pake sok sok-an bohong demi jaga perasaan Raya. Ujung-ujungnya kebohongan itu nggak baik. Raya bakal lebih sakit hati kalau tahu dirinya dibohongin."
"Terus gue harus gimana? Sekarang Raya penasaran sama Bu Guru Cantik idola Sansan. Tadi pagi aja dia minta gue anterin puluhan banyak donat buat guru-gurunya Sansan. Untungnya Raya dengerin gue buat ngasih ke semua guru bukan cuma ke Bu Guru Cantik."
"Serius Raya pengen ketemu Lintang?"
"Iya .... Kali ini gue bisa melarang dia. Nah, kalau tiba-tiba dia tanpa sengaja ketemu Lintang di kindergarten gimana? Yang gue takutin sekarang tuh, takut Raya jemput Sansan dari sekolah tanpa sepengetahuan gue." Samesta mengusap wajahnya kasar.
"Bener kata lo, kayaknya Lintang masih ada rasa ke gue."
"Tahu dari mana?"
"Ya ... tau aja."
Septian kasihan melihat sahabatnya kacau. Baru membayangkannya saja bisa bikin stres sih.
"Asal lo nggak ada rasa ke dia, nggak akan jadi masalah besar. .Gue kagak punya solusi lagi, Bro. Sori, ya. Ranah gue di rumah tangga kalian cuma sekadar bantuin jemput Sansan sama dengerin curhatan lo."
Samesta juga memaklumi itu. Sekarang keadaannya berbeda. Bukan lagi solid atau kesetiakawanan, melainkan pengertian. Mereka telah memiliki kehidupan sendiri. Samesta menghadapi dilema antara keluarga kecilnya dan masa lalu yang datang kembali. Septian sedang ribet menghadapi kehamilan istrinya. Samesta tak ingin menambah masalah Septian.
"Nggak lah. Mana ada gue punya rasa ke dia. Semua udah berakhir udah lama banget. Dulu gue nggak benar-benar suka sama Lintang. Dia bikim nyaman aja diajak ngobrol. Nggak ada yang kayak Raya."
"Bagus."
"Lo mau dengerin keluh-kesah gue aja, gue udah seneng. Thanks, bro. Gue nggak akan lupain jasa lo."
"Jelas. Nanti ya gue pikirin dulu balas jasanya harus apa."
"Elu nggak pernah tulus bantuin temen. Temen lagi susah juga." Samesta merotasi bola matanya.
Sejak mereka bersahabat baik, Samesta mengenal Septian dengan kepribadian setia. Dia sangat baik pada sahabatnya. Melakukan apa pun demi sahabatnya.
"Kalau gue gratisin, lo bakal keenakan bisi masalah lagi dan lagi. Emang gue apaaan? Orang yang nampung kesusahan orang lain? Dih. Jangan datang ke gue pas lagi susah doang," balasnya diakui Samesta ada benarnya juga. "Gue denger-denger cerita lo banyakan susahnya. Heran, ternyata kegantengan dan kemapanan nggak berpengaruh bikin bahagia."
"Kapan gue datang pas susahnya doang? Ngada-ngada banget. Lo kan teman terdekat gue."
"Habisnya elu keras kepala. Dari dulu selalu aja masalah kecil digede-gedein." Embusan napas Septian sengaja dikeraskan. "Gue balik ke tempat gue kerja. Pikirin baik-baik, Sam. Lo harus ngajak Raya bicara secepatnya. Kita nggak tahu masa depan gimana. Gue harap lo bisa mengantisipasi semuanya."
"Iya, iya, bawel .... Dah, sana keluar!"
"Gue bilang ini demi kebaikan lo sama Raya. Kalau sampai ada sesuatu sama hubungan kalian gimana nasib keponakan-keponakan gue?"
"Gue yang bapaknya, Sep. Gue lebih memikirkan nasib mereka dari pada siapa pun, oke? Bisa lo keluar sekarang biarin gue lanjut mikir? Kerjaan gue tertunda karena lo datang. Sana, sana."
Septian geleng-geleng kepala. "Sialan lo ngusir gue."
Perdebatan kecil dan gak jelas mereka akan berakhir dengan tawa. Setidaknya Samesta lebih merasa baik baik setelah menceritakan semua pada seseorang.
Sepertinya sudah waktu ia jujur pada Raya. Senyum Samesta mengembang. Ia menegakkan posisi duduknya dan kembali menghadap tumpukan dokumen. Secepat mungkin semua pekerjaan itu harus selesai sebelum malam. Samesta akan membicarakan semua tentang Lintang dan alasan harus pindahnya Sansan ke sekolah lain.
Semangat baru datang bagai angin di siang hari. Menyegarkan. Samesta membuka lembaran map. Mulai melakukan pekerjaan yang tertunda.
--Sweet Delusion--
Samesta bakal berhasil nggak ya jujur ke Raya? Hm...
Makasii buat tap love dan dukungannya..
Share cerita ini ke temen atau keluarga kamu yuk
See you