“Dia nanyain gue?” Samesta langsung bertanya begitu Septian kembali darie mnjemput Sansan.
Sesaat Septian mengernyit tak memahami maksud pembicaraan sahabatnya. Ia mengalihkan perhatian dari map di genggaman demi itu. “Maksud lo bukan Lintang?”
Samesta berdeham, tak mengingkari bahwa dirinya pun merasa aneh membicarakan ini. Namun, sungguh ia sangat penasaran bagaimana reaksi wanita itu melihat yang menjemput Sansan bukan dirinya.
“Astaga, Sam. Serius lo penasaran apa yang dibilang Lintang pas gue jemput anak lu? Jangan bilang lo mulai ada rasa-rasa lagi?”
“YA, nggak juga lah. Gue cuma pengen tahu gimana reaksi Lintang lihat lo yang jemput Sansan. Tadi pagi kan gue yang antar Sansan ke sekolah.”
Septian mencebik. “Hati-hati, Sam. Dari cuma penasran jadi pengen segala tahu.”
“Apaan sih lo?”
“Lintang kagak ngomong apa-apa. Tapi mukanya kentara dia penasaran lo kemana. Gue inisiatip ngomong aja kalo Samesta lagi sibuk jadi nggak bisa jemput.” Septian mengedikkan bahu.” Ya ... nggak biar apa-apa sih. Gue merasa dia harus tahu dan jangan berharap lebih lagi. Dia harus tahu lo nggak nyaman komunikasian lagi sama dia. Sekarang kalian punya kehidupan masing-masing. Apalagi gue tahu lo nggak akan bisa hidup tanpa Raya dan anak-anaknya. Gue cuma nggak mau kehidupan sahabat gue hancur gara-gara godaan kecil.”
Benar. Samesta tidak pernah membayangkan bagaimana kehidupannya tanpa Raya dan anak-anak. Pastinya Samesta tidaka bisa hidup tanpa mereka. Sameseta akan seperti kursi kehilangan satu kaki. Pincang.
“Tapi lo nggak bikin dia—“
“Kagak. Dia kagak nangis.”
Samesta mengangguk-angguk. “Bagus deh. Gue nggakmau menyakiti perempuan karena gimana pun gue punya anak cewek. Takut karma.”
“Belum kebayang gimana gue nanti.” Septian menghela napas panjang.
“Gimana apanya?”
“Sekarang Nidia hamil udah ribet dan marah-marahnya sulit gue pahami. Apalagi kalau udah kayak lo ya Sam. Punya dua anak dan pernikahan udah belasan tahun. Cobaan itu pasti ada aja datang.”
Melihat wajah melasa sahabatnya, Samesta terkekeh. Septian akhir-akhir ini tampak kuyu. Padahal hanya menunggu minggu dia akan resmi menjadi seorang ayah.
“Awal-awal pernikahan emang gitu kali. Di dalam surat memang iya lo tanda tangan sebagai suami. Tapi lo merasa belum menganggap diri lo bukan suami tapi masih pacar. Coba lo bayangin pernikahan gue berlandaskan perjodohan. Gue bahkan baru ketemu Raya di hari pernikahan. Bagi gue, Raya tuh orang asing yang tiba-tiba ambil semua kehidupan gue.”
“Makanya waktu awal-awal lo cuek dan kejam banget sama Raya,” timbal Septian.
“Nah, itu dia. Gue nggak suka banget lihat dia berkeliaran. Karena gara-gara dia juga gue kehilangan apa yang sebelumnya gue kerjain. Hampir setiap saat Umi marahin gue karena nggak bertanggung jawab. Apalagi setelah tahu Raya hamil. Di rumah yang anak kandung bukan gue, tapi Raya.”
“Gue juga heran. Lo selalu bilang benci sama Raya, tapi tahu-tahu naruh investasi masa depan dalam rahimnya. Gimana ceritanya?” kekehan Septian dilempari sebuah buku.
“Sialan lo!” Samesta ikut terkekeh, tak menyangka dirinya bisa sejauh ini mempertahankan mahligai pernikahan. “Ya pikir aja deh sendiri. Kita suami-istri, satu ruangan, gue juga waktu itu stres berat mikirin kuliah, kampus, nasib hidup ....”
“Jadi Saluna tercipta dari ketidaksengajaan gitu?”
“Ya ... kagak gitu juga sih. Tapi asli, waktu Raya mengandung anak pertama dan sikap gue masih cuek sama dia bikin merasa udah dosa besar. Bodoh banget gue ya jahat sama cewek yang sama-sama nggak tahu apa-apa. Sama-sama terpaksa menjalani semua itu karena keadaan. Udah ibunya meninggal, dia nggak punya siapa-siapa lagi. Harusnya sebagai seseorang yang menjadi harapan terakhir dia, gue bisa selalu ada.”
“Menurut gue wajar sih. Waktu itu lo masih muda banget. Ego masih gede, pengen melakukan banyak hal, tapi ada sesuatu yag menghalangi langkah lo itu. Kalo gue jadi lo, udah kabur gue sebelum duduk depan penghulu. Gue salut lo bisa menghadapi ini sampai belasan tahun. Lo berani amil tanggung jawab di saat kebanyakan teman kita lebih mementingkan diri sendiri.”
Hidung Samesta agak mau terbang sedikit. Selanjutnya sudut bibirnya berkedut, miris. Masa muda memang hanya sekali. Tidak bisa diulangi kembali. Namun, Samesta telah lumayan banyak berkenalan dibandingkan Raya. Raya menikah setelah lulus SMA. Mungkin sebenarnya harapan dia jauh lebih besar. Hanya saja setiap Samesta tanya apa Raya menyesal menikah sangat muda dan tidak bisa melakukan hal yang teman-temannya lakukan. Raya akan menjawab, justru ia akan merasa tak lengkap kalau seandainya tak menikah muda. Mungkin dia tidak akan menjadi ibu dari Saluna dan Sansan.
“Gue lupa, bahkan Raya waktu itu lebih muda dari gue. Di baru lulus SMA. Belum merasakan gimana masuk kuliah. Gue selalu bilang, kalau mau ambil kuliah dia bisa. Sampai sekarang dia nggak mau melakukan itu.”
“Sekarang udah males kali belajar lagi. Anak udah dua, banyak urusan.”
Iya, banyak urusan. Samesta sering mendapat penolakan setiap meminta Raya berhenti bekerja sebagai penulis. Kini Samesta sadar. Masa muda Raya telah direnggut. Selama ini dia hanya mengabdi pada keluarga. Setidaknya biarkan dia memilih jalan hidup sendiri.
***
Seperti sekarang. Samesta memasuki tempat yang perlahan ramai menjelang sore. Di balik etalase yang memaerkan barisan donat dan roti berbagai warna topi menggiurkan, Samesta menikmati pemandangan luar biasa. Raya memakai celemek coklat tua tampak sibuk melayani pembeli. Face shield dan penutup kepala tak mengurangi sedikit pun kecantikan dan senyuman manis Raya.
Samesta ingin betah-betah memperhatikan dia dari jauh. Namun, Raya cepat menyadari kehadirannya. Tangannya yang dibalut sarung tangan plastik melambaik-lambai. Samesta tergerak untuk melangkah lebih dekat sambil menggulungkan lengan kemeja panjangnya. Samesta memasuki celah kecil menuju balik pantry. Ia berdiri di samping istrinya. Memperhatikan Raya dari samping, bagaimana wanita itu memasukan satu per satu donat ke dalam kotak.
“Rame banget,” ujar Semesta melenggang ke dalam dapur mencari celemek dan perlengkapan untuk membantu Raya.
“Udah pulang, Mas.” Mukti sedang membuat adonan menyapa.
“Eh, Muk. Iya nih. Raya nyuruh pulang cepet. Ternyata kedai ramai. Aku mau bantu Raya dulu.”
“Bentar lagi libur panjang, Mas. Jadi ramai, puji tuhan.”
Samesta tersenyum memperhatikan Mukti sibuk menguleni adonan dan mengangkat donat-donat yang sudah matang.
“Capek nggak kerja sendiri?” tanya Samesta sambil mengenakan penutup kepala. “Kalau butuh angkat karyawan baru bantuin kamu di dapur bilang aja ke saya. Kayaknya kita kekurangan karyawan. Raya pasti nggak akan ngasih. Kasihan juga dia harus ikutan kerja. The Rames Bakery makin hari makin banyak pengunjung. Apalagi setiap weekend ramai,” ujar Samesta di akhiri helaan napas.
“Kalau lagi gini lumayan, Mas, tapi udah biasa. Buat hari-hari mah masih bisa ditangani.”
Dulu, pertama kali Raya minta sesuatu Samesta langsung kaget. Dia bilang mau beli sebuah ruko dan memabngun bisnis. Itu untuk pertama kalinya Raya meminta sesuatu yang besar padanya. Lantas Samesta langsung menuruti. Ia beli ruko itu untuk Raya. Membiarkannya menentukan bisnis yang dia senangi. Perkiraan Samesta karena Raya menyukai dunia literasi kemungkinan Raya akan membuka perusahaan percetakan buku. Jauh dari dugaan ternyata Raya memilih membuka kedai makanan.
Meski demikian Samesta tak berharap banyak pada usaha Raya. Dia tidak begitu tertarik pada bisnis, jadi perkiraan Samesta dua atau tiga tahun Kedai Rames akan tutup. Tak menyangka sampai sekarang masih ada dan malahan punya nama.
Harus diacungi jempol usaha kerasnya.
“Capek ya?” Samesta kembali dari dapur dengan penampilan lain. Di perhatikannya wajah Raya dari samping. Tetesan keringat muncul di pelipisnya. Jadi tidak tega.
“Nggak terlalu,” jawab Raya sambil terus memasukan pesanan ke dalam kotak, lalu menyerahkannya pada Nadia.
Samesta mengambil kotak berlogo RAmes Bakery. Logo yang dibuat Samesta khusus. Samesta ikut melayani pesana pembeli. Memasukan donat-donat itu ke dalam kotak.
“Cari karyawan baru lagi aja. Usaha makin gede. Kamu juga nggak akan ikutan capek.” Usulan Samesta hanya mendapat lirikan Raya.
Jawabannya telah Samesta dapatkan. Raya enggan mendapat karyawan baru selama pekerjaan masih bisa di-handle sendiri.
“Biar aku yang mengurus gajinya deh. Nggak tega tahu aku lihat kamu gini. Masa istriku sibuk begini kayak lagi dikejar setoran kredit.”
“Aku kerja gini karena senang, Sam.” Akhirnya Raya menanggapi.
“Apa aku berhenti kerja di Sames terus bantu kamu di sini, jualan donat?” canda Samesta mencondongkan tubuh ke arah Raya.
Raya balas menyenggolnya. “Kamu tuh kalau ngejek aku dipuas-puasin. Biar pun jualan donat, tapi laku dapat untung banyak.”
Obrolan akrab mereka di balik pantry diperhatikan seseorang. Samesta dan Raya tampak saling menyayangi. Mereka banyak tersenyum kala bicara. Kentara sekalicinta di antara mereka begitu besar.
Hatinya linu menyaksikan itu. Tatapan penuh cinta Samesta dulu tak sebesar saat Samesta menatap Raya sekarang. Apa benar ia tak punya harapan lagi?
Lintang menghela napas sabar. Dia hendak melangkah berbalik, tetapi tangan kecil menahannya. Pelangi mendongak. Melontarkan pertanyaan lewat mimik wajah dan gerakan tangan.
“Kita beli donatnya nanti aja ya, Sayang .... Antri banget. Kayaknya sebentar lagi donatnya habis.”
Bahu anak itu turun menyuarakan kekecewaannya. Pelangi mengikuti langkah ibunya dengan lesu. Sambil sesekali merik ke arah bangunan berwarna merah dan coklat tua. Donat besar berhiaskan coklat meleleh ditaburi seres warna-warni membuatnya menelan ludah. Meski hanya patung, tetapi sangat menggoda untuk dimakana.
Sedangkan tanpa disadari Lintang, saat ia dan putrinya pergi dari balik kaca kedai, Samesta menangkap kehadiran mereka. Samesta bersyukur Lintang takk berani masuk ke dalam kedai. Masalah akan tambah besar bila Sansan berseru memanggil Lintang sebagai Ibu Guru Cantik. Raya akan tahu siapa BU Guru Cantik itu dan segala hal yang disebembunyikan suaminya.
Samesta menggelengkan kepala. Jangan sampai ... Raya tahu, dalam hati ia berdoa.
“Kenapa?” Raya menatapnya heran.
Agak tersentak Samesta mendapatkan tatapan menyelidik itu. Akhir-akhir ini ia agak parno sama ekspresi penasaran Raya.
“O-oh ..., nggak kenapa-kenapa.”
--Sweet Delusion—
Lintang ke kedai mau beli donat, kok Samesta stres xD
Pede banget ya si Sam
Makasii tap love dan dukungannya..
Share ya cerita ini ke teman dan keluarga kamuu
See you..