Paris bergeming cukup lama. Segelas kopi di hadapannya telah kehilangan kepulan asap. Paris baru meminum kopi sedikit, sebelum Raya mematikannya dengan kalimat menohok. Bukan maksud Raya sebenarnya membuat Paris merasa bersalah dan tak berguna. Namun jika terus dibiarkan ada pihak yang secara berkala akan mendapatkan kesakitan. Karin butuh rangkulan cepat.
“Maaf ya aku ngomong gini kesannya memojokkan kamu.”
Paris mengerjap cepat. Kesadarannya kembali dari lamunan panjang. Entah apa saja yang terlintas dalam benak lelaki ini. Raya harap kenangan-kenangan Paris dan putrinya. Terutama hal-hal yang membuat Paris merasa Karin sangat penting di hidupnya.
“Nggak apa-apa. Kenapa harus minta maaf. Harusnya aku yang berterima kasih. Kamu sudah membuka pikiranku soal sikapku ke Karin selama ini. Aku udah salah memperlakukan anakku sendiri. Padahal Karin adalah darah dagingku, masa depanku. Cuma gara-gara dia hadir tiba-tiba setelah aku dan ibunya berpisah dari lama dan kami belum menikah ... aku memperlakukan dia seenaknya. Aku nggak pernah mempedulikan perasaan dia. Mungkin karena alasan itu juga dia segan minta apa-apa pada ayahnya sendiri. Karena itu juga sekarang saat aku mau memperbaiki hubungan kami, dia ketakutan.”
Raya menjalin jemarinya di atas meja. Diperhatikannya dengan seksama wajah Paris. Lelaki itu hanya menatap kosong ke arah segelas kopi. Kesenduan tercermin di matanya.
Kenangan menyedihkan sedang dilihat Paris. Jika Raya boleh menebak, kemugkinan Paris teringat waktu pertama kali melihat Karin datang ke kehidupannya. Raya ingin mendengar cerita soal itu. Namun ia sadar, akan lancang meminta Paris bercerita sekarang. Di saat pikirannya dikacaukan rasa bersalah. Raya juga takut Paris tersinggung. Telah terlalu banyak Raya ikut campur dalam kehidupan ayah dan anak ini. Raya tak ingin bertindak jauh.
“Dulu waktu Karin dibawa ibunya padaku, aku nggak mempercayai ucapannya bahwa Karin putri kami. Dia menangis seharian karena ditinggalkan ibunya di tempat asing bersama orang-orang asing. Penolakanku lebih parah. Selalu memalingkan muka setiap kami berpapasan. Memarahi dia sampai tangisannya berhenti. Karin takut padaku.”
Raya mengerti. Pasti kesan pertama yang diingat Karin adalah penolakan dari Paris. Entah seberapa parah sikap Paris. Raya tak bisa membayangkan bagaimana tertekannya menjadi Karin. Ia pernah merasa sangat sedih setiap melihat kedekatan seorang ayah dan putrinya. Seumur hidup ia tidak mengetahui bagaimana rasanya mempunyai ayah.
Sampai ada kejadian, ayahnya teman Raya meninggal dunia. Kemudian satu minggu kemudian ada pelajaran Bahasa Indonesia yang menugaskan murid membacakan puisi karya sendiri. Teman Raya yang baru saja kehilangan membawakan puisi tentang ayah. Dia membaca sambil beruraian air mata. Membuat hampir semua orang dikenal merasakan kesedihannya pula dan ikut menangis. Namun Raya sama sekali tak bisa merasakan kehilangan itu.
Bukannya ia tak punya empati. Melainkan Raya tak tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah karena merasakan punya ayah juga belum pernah. Coba saja pikirkan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu, tapi kita belum pernah memilikinya? Mungkin sebagian besar dari mereka menangis karena takut kehilangan ayah. Sedangkan sejak kecil Raya tidak mengenal ayah. Tidak ketakutan akan kehilangannya dalam hati Raya. Sudah sejak lama pria itu hilang dari pikiran Raya. Hampir tidak ada kata ayah.
“Sekarang aku harus menanggung karma.”
Raya tertawa kecil.
“Kenapa kamu ketawa?” Paris mendongak.
“Ternyata bergini ya Paris kalau lagi galau. Aku baru lihat.”
“Kamu pikir selama ini aku belum pernah galau? Normal kali, aku juga manusia,” dengkus Paris tak suka dirinya ditertawakan. Sesaat ia kesal, sedang serius-seriusnya Raya malah tertawa. Namun tak lama Paris merasa waktu berjalan lambat. Lagi-lagi ia terpesona, kali ini dengan tawa Raya yang membuat mata bulat wanita itu menyipit, bibirnya yang kecil semakin tipis.
“Jadi Karin salah satu orang yang mampu bikin seorang Paris galau ya ....”
Kamu juga, Ray. Dalam hati Paris menyahut.
Iya, Raya adalah wanita pertama yang memperkenalkan apa itu dalam pertama kalinya dalam hidup Paris. Wanita ini penuh teka-teka. Sampai sekarang Paris kesulitan memecahkan teka-tekinya seorang Raya. Dia terlalu misterius dan tertutup. Sulit dijangkau. Salut pada lelaki yang berhasil memperistri Raya. Tak semua orang bisa mengerti jalan pikiran wanita ini.
“Masih aja senang meledek orang susah,” sindir Paris.
Tawa Raya yang tak henti-henti membuat Paris ikut tertawa juga. Dari balik meja kasir Zahra memperhatikan keduanya. Perasaannya tak tenang. Takut dari balik pintu kaca kedai ada seseorang yag melihat keakraban mereka. Seperti waktu itu, Saluna.
***
***
Usai mendapatkan pencerahan tambahan, Paris pergi. Ia pamit karena mendapatkan orderan mengantar makanan. Selama mengobrol pasti ia telah melewatkan banyak orderan. Akhirnya Raya termenung sendiri di meja itu sendirian. Di hadapan layar laptop yang hitam. Selama Paris di sana, Raya kehilangan fokus mengerjakan tulisan. Ia mendengarkan cerita Paris seksama. Lama-lama ia menjadi lebih mirip seorang psikolog. Menerima konsultasi dan memberi solusi.
Sedangkan dirinya pun sebenarnya tak sebahagia kelihatannya. Helaan napas Raya terdengar panjang. Ia kembali memikirkan perkataan Samesta untuk memindahkan Sansan ke sekolah dekat kantornya. Mendengar cerita Paris, Raya jadi takut Sansan juga mengalami hal sama. Karena kedua orang tua terlalu sibuk masing-masing, kepercayaan Sansan kepada kedua orang tuanya berkurang.
Sansan juga tak secerewet kakaknya. Anak itu lebih kalem. Tidak sulit bergaul, tetapi hanya terbuka pada orang terdekat saja. Sansan selalu bersembunyi di balik punggung Raya kalah bertemu orang baru. Apa ini juga ciri-ciri Sansan kekurangan dorongan keberanian dari kedua orang tuanya? Apalagi sekarang Sansan terdengar sangat sering membawa-bawa Bu Guru Cantik dalam perkataannya. Siapa sih orang itu? Raya penasaran sekaligus takut Sansan mendapatkan kasih sayang lebih dari orang lain sehingga melupakan kedua orang tuanya.
Raya merasa dirinya dan Samesta telah melakukan yang terbaik. Ketika di rumah perhatian mereka penuh hanya pada keluarga. Meski tak 24 jam. Mereka hanya bertemu di saat sebelum tidur dan sarapan pagi. Saat weekend mereka banyak meluangkan waktu. Walau terkadang sambil Raya membuka laptop.
Mendadak pemikiran itu mengganggu Raya. Apa anak-anaknya juga kurang perhatian? Mengingat Saluna juga kerap membuat masalah dan memaksa Raya memenuhi panggilan sekolahnya. Saluna jadi mirip Langit yang kurang perhatian ornag tua. Yang Raya takutkan Sansan juga pendiam karena merasa orang tuanya tidak perhatian. Seperti Raya dahulu, merasa dibuang oleh ayah. Apa perkataan Samesta perlu dipertimbangkan ya? Mungkin saja ada benarnya.
Tak menunggu lama Raya mendial Samesta. Nada tunggunya hanya berlangsung sebentar. Suara Samesta cepat menyapa di seberang sana.
"Halo, Ray?"
"Sansan udah di kantormu?" Raya mengetuk-ngetuk pelan jemarinya di atas meja.
"Sudah. Ini masih tidur. Kenapa?"
"Pualng jam berapa, Sam? Bisa jangan kemalaman? Kasihan Sansan kamu bawa pulang malam terus."
Terdengar gumaman Samesta di sertain kepakakan kertas. Samesta sedang bekerja. "Oke. Aku pulang sesuai jam kantor, terus jemput kamu ya? Saluna udah ke sana juga?"
"Bel--" Pandang Raya menangkap kehadiran putri sulungnya di balik pantry memilih kue baru rilis. "Udah. Dia lagi milih kue. Mukti bikin varian baru hari ini."
Kedai sedikit ramai. Di luar sana, langit tak lagi cerah. Kuning redup dan keemasan berada di sekitar matahari. Raya melirik jam di pergelangan tangan. Ia sampai tak menyadari waktu berjalan cepat. Sudah sore ternyata. Apa selama itu ya dirinya melamun?
"Sisain buat kami dong. Aku mau nyoba."
"Iya, buat dibawa pulang udah aku pesan ke Mukti. Dah ya kedai lagi ramai. Aku mau bantu Zahra."
Raya menutup percakapan. Beranjak dari meja pengunjung, ia membawa laptop dan buku mendekati area pantry. Kemudian memasukkan area masuk dengan menggeser lemari etalase kure sedikit. Raya sudah berada di balik pantry. Usai menyimpan laptopnya di tempat istirahat Zarah, Raya keluar pintu penghubung pantry dan dapur dengan penutup kepala dan face shield yang menutup mulut. Tangannya juga telah memakai sarung tangan plastik. Begitu saja Raya membantu melayani pembeli. Menyusun pesanan ke dalam kotak.
Kedai semakin ramai menjelang sore. Apalagi hari ini akhir pekan. Biasanya para pekerja yang pulang kantor atau anak muda yang selesai kuliah dan sekolah banyak menghabiskan waktu sebelum pulang ke rumah. Kedia donat dan roti milik Raya menjadi salah satu tempat favorit di kota itu.
Di samping Zahra semangat bolak-balik dapur dan pantry serta menyusun pastry dalam etalase. Setiap habis disusun selalu cepat habis. Raya sampai kewalahan menangani pembeli. Sedangkan Nadia menangani kasir. Sagara sudah pulang sekolah. Remaja SMA itu membersihkan bekas minuman dan kotak makanan di meja. Memastikan setiap meja bersi usai ditinggalkan pengunjung.
Kesibukan ini memberi kesenangan tersendiri bagi Raya. Bisa memalingkan dirinya dari pikiran rumit. Raya lupa begitu saja hari ini telah banyak mendengar keluh-kesan Paris di saat bersamaan Raya pun mempunyai kebimbangan sendiri.
Kemudian Samesta terihat di pintu masuk. Ia memegang tangan mungil Sansan yang seperti akan melesat jika dilepas. Samesta begitu sabar mengasuh anak seusia itu. Jika Sansan kebetulan ikut ke kedai, Raya harus banyak bersabar.
Sampai pengunjung kedai reda. Matahari juga tenggelam sepenuhnya, Samesta membantu Raya di balik pantry. Memasuk-masukkan pesanan pembeli ke dalam kotak. Wajah bapak-bapak tapi tampan Samesta bikin beberapa ibu terbengong sebentar. Hal itu menjadi hiburan tersendiri buat Raya.
"Bapak ganteng jangan kebanyak senyum makanya. Kan pembeli jadi salah fokus antara donat manis atau senyum kamu," seloroh Raya melepas celemek.
Samesta membalasnya dengan tawa. Istrinya ini lebih jago menggombal daripada dirinya. Licik sih, kerjaannya sebagai penulis. Nggak heran kalau pembendaharaan katanya banyak. Bisa bikin Samesta heran karena Raya ada-ada saja.
"Kamu juga jangan ramah-ramah. Para pembeli jadi baper. Apalagi mereka bakal ngira kamu belum punya anak dua."
"Udah tugasku ramah ke pembeli, Sam. Kalau pedagangnua galak mana mau mereka beli?"
"Iya, iya."
Raya sontak mundur. "Mau ngapain maju-maju?"
"Peluk," ucap Samesta santai. Senyumnya merekah di hadapan Raya.
"Kamu peluk terus. Sini!" Raya merentangkan tangan. Menerima permintaan Samesta.
Senang hati Samesta mendekat. Merasakan aroma coklat dan roti bakar di baju wanita kesayangannya. Raya balas mengusap punggung Samesta. Obat pelipur di kala lelah.
"Aku sayang kamu ...," lirih Samesta sambil memejam. Membayangkan mereka berpelukan di pinggir pantai. Dimana laut lepas yang biru mendukung mereka.
"Aku juga."
Sangat malah. Hingga perasaan takut kehilangan muncul dalam hidup Raya. Seperti saat dirinya hanya memiliki ibu. Raya tamu kehilangannya.
Samesta, jangan hilang.
--Sweet Delusion--
Aku sayang kamu ....
Hehe
Makasii tap love dan dukungannya
Moga suka dan terhibur
Share ya cerita ini ke temen atau keluarga, biar seruuu
See you