Aku berusaha tidak terpancing emosi setelah mendengar ucapan Bima. Rasanya dulu juga dia pernah mengucapkan kalimat ini, tapi nggak bisa mengingat lagi kapan tepatnya. Dengan tenang aku pindah dan duduk di sebelahnya. Ini bukan masalah buatku. Aku sudah sering menghadapi murid-murid yang begitu menyebalkan, jadi cuma satu yang seperti ini, nggak akan menjadi masalah buatku. "Singgahin aku di toko buku dekat perempatan lampu merah, kebetulan ada sesuatu yang ingin aku beli. Kamu boleh langsung pulang kok," kataku setelah menemukan ide yang bagus agar bisa menghindarinya. Bima menoleh sekilas ke arahku. Tampaknya dia setuju karena nggak mengucapkan kalimat penolakan apa pun. Tenanglah Aya, sebentar lagi aku akan terbebas darinya. Aku menarik napas lega saat Bima menghentikan mobilnya di

