“Ngomong-ngomong, makasih ya, Tris, udah menahan diri untuk nggak membahas mood-ku yang mendadak buruk sewaktu di kafe tadi,” kata Bisma setelah menghabiskan gelak tawa.
Trisna mengangguk. “Makasih juga ya, Bis, kamu udah mau repot-repot ngasih aku tumpangan malam ini.”
“Siapa bilang ini gratis?” ucap Bisma dengan nada bercanda. Raut mukanya dibuat pura-pura serius.
“Oh, jadi selain manggung dari satu kota ke kota lain, rupa-rupanya kamu punya side job jadi sopir taksi online ya? Obsesi apa lagi ini?” balas Trisna dengan nada yang sama.
“Jangan lupa kasih bintang lima ya, Mbak, di aplikasi.” Bisma menirukan kata-kata yang biasa diucapkan seorang sopir taksi online setelah menurunkan penumpang.
Tak butuh waktu lama hingga keduanya kembali tergelak.
“Kamu mau rasa apa?” tanya Trisna setelah keduanya turun dari mobil. Beberapa saat yang lalu Trisna meminta Bisma menghentikan mobil di depan pelataran mini market.
“Terserah kamu aja,” jawab Bisma sekenanya.
“Jangan kayak cewek deh kalau ditanya jawabnya ‘terserah’. Ayo cepetan, mau rasa apa? Sebelum aku berubah pikiran nih,” ancam Trisna sembari melangkah melewati pintu mini market. Terdengar salah seorang pegawai melontarkan kalimat sambutan yang khas setiap melihat ada pengunjung yang datang. Trisna menunduk sembari membalas sambutan pegawai itu dengan ucapan terima kasih.
“Kira-kira bisa nggak ya, traktir es krim tanpa bawel?” sindir Bisma. Dia mengomel pura-pura cuek padahal sebenarnya Bisma sangat antusias dengan deretan kotak kontainer es krim di hadapannya. Matanya seakan enggan lepas melihat-lihat es krim aneka rasa di dalam kontainer itu satu per satu. Dari es krim merk terkenal sampai yang kurang terkenal semuanya ada.
“Samain aja sama kamu,” kata Bisma pada akhirnya.
Rasanya Trisna ingin terpingkal karena melihat raut muka Bisma yang terkesan bodoh dan lugu ketika mengamati es krim-es krim itu. Namun urung. Trisna berusaha keras menahan gelak tawa. Dari raut mukanya terkesan seolah Bisma tidak pernah makan es krim seumur hidupnya, batin Trisna.
“Ya udah, kalau gitu aku ambil yang ini dua ya,” kata Trisna setelah menjatuhkan pilihan pada es krim rasa stroberi.
“Bentar, yang ini rasa apa sih?” sela Bisma tiba-tiba ketika Trisna hendak membuka kaca kontainer untuk mengambil es krim rasa stroberi.
Bisma terlihat begitu penasaran sembari menunjuk salah satu es krim dengan bungkus hitam bergaris emas. Sedari tadi matanya enggan lepas mengamati es krim yang satu itu. Bungkusnya sangat menarik dan membuat rasa penasaran Bisma memuncak.
“Oh, yang itu? Itu es krim rasa oli,” jawab Trisna seadanya.
Dia agak kesal karena Bisma menunjukkan tanda-tanda ingin berubah pikiran, padahal tadi ketika ditanya, Bisma bilang ‘terserah’. Pendapat yang mengatakan kalau definisi kata terserah bisa bermakna apa saja ternyata memang benar adanya. Dan tahu apa? Trisna baru saja membuktikannya sendiri. Sangat multipretasi, batinnya kesal.
Bisma menatap sinis ke arah Trisna. “Dasar cewek,” gerutu Bisma sembari mengomel. “Impulsif.”
“Kok jadi bawa-bawa gender?” protes Trisna tidak terima. “Apa hubungannya?”
“Oke, aku mau yang ini.” Bisma mengabaikan protes dari Trisna dan langsung mencomot es krim incarannya. Setelah menutup kaca kontainer, Bisma menyodorkan es krim dengan bungkus hitam bergaris emas itu kepada Trisna. Sorot matanya mendadak berubah semringah.
“Nih, bayar,” kata Bisma tanpa perasaan berdosa. Sedikitpun tidak. Kedua sudut bibirnya menyunggingkan segaris senyum. Seperti ada kepuasan tersendiri setelah berhasil menjahili Trisna.
Trisna menatap sinis ke arah Bisma. Tangan kanannya menyambar es krim yang Bisma sodorkan dengan muka masam. Kemudian tangan yang lain kembali membuka kaca kontainer untuk mengambil satu es krim rasa stroberi untuk dirinya sendiri. Trisna melenggang ke kasir tanpa memedulikan Bisma yang sedari tadi senyum-senyum tidak jelas karena merasa menang.
Trisna masih merasa agak kesal. Berulang kali menepuk pundaknya sendiri guna menenangkan diri. Seperti menghibur seorang anak kecil di dalam dirinya yang sedang tantrum. Trisna mencoba memaklumi ke-nyeleneh-an manusia langka yang satu itu. Tetapi tetap saja yang namanya kesal, tetap saja kesal. “Tadi ditanya mau es krim apa, jawabnya terserah, tapi sekarang mau milih sendiri. Dasar cowok impulsif!” Trisna mengomel kepada dirinya sendiri sembari mengeluarkan dompet dari dalam tas.
Sementara itu, Bisma berdiri di belakang Trisna. Tangannya sibuk berkutat dengan ponsel. Pura-pura tidak mendengar omelan perempuan itu.
“Dasar cowok,” keluh Trisna setelah keduanya kembali ke mobil. “Aku nggak nyangka kalau jiwamu itu ternyata cewek banget, Bis.”
“Maksudmu? Kok jadi bawa-bawa gender?” protes Bisma, namun tidak tersirat amarah sama sekali. “Pakai ngebahas jiwa segala lagi. Apa hubungannya?” Bisma menyobek bungkus es krim dengan sangat hati-hati.
“Masih mending ngebahas jiwa, daripada bahas fisik?” balas Trisna. “Dangkal banget nggak sih orang-orang yang suka menilai apapun cuma dari fisiknya?”
Sontak Bisma merasa tersindir. Detik berikutnya dia memandangi bungkus es krim di tangannya yang berwarna hitam keemasan, kemudian pandangannya buru-buru beralih untuk kembali menatap Trisna.
“Jadi maksudmu, aku memilih es krim ini karena bungkusnya bagus, gitu?” protes Bisma tidak terima. Nada bicaranya mendadak meninggi.
Trisna terkesiap karena kaget dengan respon Bisma. Dia lupa kalau sedang berhadapan dengan manusia yang sulit diprediksi perilakunya. Meskipun memang benar seperti itu yang dimaksud Trisna, dia lebih memilih berbohong demi kebaikan.
“Jangan menyimpulkan sendiri kayak gitu, karena bagus atau enggaknya sesuatu itu, kan, relatif. Menurutku, bungkus es krim itu biasa aja. Tapi mungkin bisa jadi menurutmu lain lagi,” kata Trisna.
“Tapi emang bener kok. Aku memilih es krim ini karena bungkusnya menarik.”
“Hah? Ya ampun, seriusan ternyata.” Trisna menepuk dahinya sendiri. Dia senang karena kesimpulannya benar tetapi di sisi lain dia memilih untuk terus berpura-pura tidak tahu.
“Kamu jarang makan es krim ya?” tebak Trisna kemudian.
Bisma mengangguk. “Lebih tepatnya baru kali ini aku makan es krim gratis. Dan aku harap ini bukan sogokan.”
“Tenang. Bukan sogokan, kok. Tapi udah aku kasih jampi-jampi di es krim yang kamu makan itu. Sebentar lagi bakal keluar paku dari mulutmu,” balas Trisna sekenanya dengan ekspresi datar. Es krim stoberi miliknya sudah hampir separuh tandas.
“Bercanda, kan?” tanya Bisma seolah menantikan kata itu keluar di akhir kalimat. Tetapi ternyata Trisna tidak melanjutkan kalimatnya.
“Dan kamu percaya gitu aja?” Trisna balik bertanya karena dia memang cuma bercanda sekalipun lisannya tidak mengatakan bahwa hal itu hanya lelucon.
“Dasar cewek sarkas. Impulsif,” dengkus Bisma. Dia kembali fokus menikmati es krim. “Ngomong-ngomong kenapa sih kamu ngotot banget pengen traktir aku es krim?”
Untuk beberapa saat mata mereka saling bertemu. Bisma membuang pandangan ke luar jendela mobil. Langit telah sepenuhnya pekat. Dan tetesan air sedikit demi sedikit mulai jatuh dari langit.
Hujan?