01 # Kelahiran Buah Hati
Panggung itu memakan seperempat ruangan. Menghadap ke arah pintu masuk Omah Lemper. Menyita perhatian siapapun yang melewati area depan Omah Lemper.
Denting piano di sudut panggung terdengar seperti rayuan pulau kelapa. Semua hadirin menyimak dengan khidmat. Alunannya lembut. Mengundang. Mengikat perhatian penonton.
Jemari kurus dengan kuku yang dipotong pendek, khas tampilan dari pianis kondang yang kebanjiran ‘jam terbang’, membawa para hadirin larut dalam suasana senja penuh romansa.
Seolah ingatan jemari itu telah begitu banyak merekam jejak-jejak tuts tua hingga entah sudah berapa ratus lagu ia mainkan yang berhasil memukau penonton.
Menyusul di belakang, melodi genjreng gitar yang lembut namun cepat tiba-tiba terdengar riang. Hilir mudik para penyanyi dadakan satu per satu keluar dari balik tirai hitam. Suara satu mulai mengalunkan baris pertama dari lirik lagu Buaian dari Danilla Riyadi. Segera setelahnya, improvisasi dadakan dimunculkan.
Suara dua beraksi. Melengkingkan gema vokal yang manis, tak begitu menggebu namun enerjik. Suara tiga terjun dalam balutan kur. Menjadikan suasana Omah Lemper sore itu seperti kafe-kafe malam dengan baristanya yang menawan.
Gemerlap cahaya lampu aneka warna di tepian dindingnya, menambah hangatnya suasana. Meriah namun tetap lembut dan elegan.
Ada Bagas yang duduk di kursi kayu tengah panggung. Cara Bagas memeluk gitar persis seperti sedang menimang bayi. Posisi duduknya cukup menyita perhatian pemirsa. Penonton dibuat takjub dengan kepiawaian Bagas memetik senar gitar akustik Yamaha C330A. Bagian interlude yang ia mainkan seakan membius tatap mata para gadis di bangku paling depan.
Dipadu dengan suara vokal alto milik Juwita, kur dari kuartet Marin-Reno-Ribut-Jaka, ditambah denting piano yang sungguh manis racikan si pemilik jemari kurus; Trisna, menjadikan perpaduan melodi dan vokal yang harmonis.
Cukup menghibur.
Sementara dua member lainnya; Gusti dan Windhy, sudah tidak kelihatan batang hidungnya sejak tadi. Sejak plakat bertuliskan ‘Tutup’ dibalik menjadi ‘Buka’, mereka telah menghilang entah ke mana.
Riuh tepuk tangan penonton menjadi tanda selesainya lagu Buaian yang dibawakan oleh band beranggotakan tujuh orang staf Omah Lemper.
“Blue Band! Blue Band! Blue Band!”
“La-gi! La-gi! La-gi!”
Terdengar sorak-sorai penonton mengelukan nama band mereka. Seperti mengharapkan satu buah lagu untuk kembali mereka mainkan sekarang juga.
■▪︎○▪︎■
“Ambil napas, keluarkan perlahan lewat mulut. Iya, begitu, Ibu. Sedikit lagi. Tarik napas ...”
Sementara itu, di sebuah rumah sakit bersalin, seorang dokter tengah memberi arahan kepada pasiennya yang hendak melahirkan.
“Dokter Restia, gimana keadaan—” todong Gusti begitu Restia keluar dari ruang persalinan.
“Selamat, Bapak. Bayinya perempuan. Sehat dan normal,” kata Restia sembari melepas masker. Bulir-bulir keringat membanjiri pelipis. Mata cokelatnya yang dibingkai kacamata seolah ingin menyampaikan sesuatu namun tak tega.
Gusti menyuarakan kelegaan yang sangat. Mulutnya berulang kali mendaraskan syukur kepada Tuhan serta kepada Restia karena sudah bekerja keras.
Windhy dan Mbok Darmi yang berdiri di sebelah Gusti juga merasakan euforia serupa. Mbok Darmi tak kuasa menahan haru karena sebentar lagi ada anggota keluarga baru yang akan tinggal di rumah majikannya. Mata Mbok Darmi berbinar gembira. Begitu pula dengan Windhy.
“Boleh kami masuk untuk—” Ucapan Windhy terhenti karena tiba-tiba ada suara yang menyelanya.
“Namun ...” sela Restia. Ia ragu apakah sebaiknya kalimat ini nanti ia sampaikan empat mata saja dengan Gusti atau sekarang saja toh tidak ada anggota lain selain hanya keluarga pasien yang hadir di sini saat ini. Etis atau tidaknya biarlah jadi urusan nanti. Karena mau tidak mau, Restia harus menyampaikan ini. Harus dan sekarang juga.
Restia mengambil napas panjang, berusaha menguatkan diri.
“Tapi ..." Restia berdeham. "Begini, Bapak ...” Beberapa kali menimbang ulang keputusannya. Sesekali ekor matanya menatap raut muka Gusti dan yang lainnya. Tanda tanya besar tersirat di sana.
“Kami sudah berusaha semampu kami, namun ...” Restia belum selesai dengan kalimatnya tiba-tiba Gusti sudah histeris. Seakan Gusti sudah bisa menebak apa yang akan Restia katakan.
Berita duka.
Gusti jatuh berlutut. Berulang kali menyumpah sembari menyebut satu nama yang tidak asing di telinga Restia.
“Willy berengsek!” umpat Gusti. Windhy berusaha memegangi kakaknya supaya tidak ambruk. Seketika duka merayapi ketiganya. “Kamu harus membayar semuanya, Wil! Nyawa harus dibayar dengan nyawa!”
“Mohon maaf, sebentar, Pak Gusti,” sela Restia. “Tapi Pak Willy memang sudah membayar semuanya.” Gusti menatap Restia heran. Sekarang ini ia sedang tidak bisa membedakan mana yang serius, mana candaan. Restia buru-buru meluruskan.
“Maksud saya, seluruh biaya persalinan Ibu Kirana, dan yang lainnya sudah dibayar lunas. Tadi saya dapat kabar kalau seluruh biaya administrasi Ibu Kirana sudah ditransfer oleh Pak Willy kemarin,” terang Restia dengan polosnya.
Gusti mendongak untuk kembali berdiri. Ia menatap Restia. Bingung. Masih saja tak mengerti maksudnya. Apakah sekarang ini seorang dokter sudah mulai ahli melontar candaan atau dituntut untuk memiliki rasa humor yang tinggi supaya ketika ia berhasil mengabarkan berita duka kepada wali pasiennya —seperti sekarang ini— maka dokter itu berhak mendapat medali emas dan diberangkatkan ke tanah suci, misalnya? Apakah seperti itu? Apa sekarang Gusti perlu pura-pura tertawa karena candaan Restia yang sama sekali tidak lucu?
Gusti sama sekali tidak mengerti.
“Apa kakak saya selamat, Dok? Ibu Kirana masih hidup?” tanya Gusti masih dengan raut muka linglung.
Restia menyerukan istigfar. “Ya ampun, Pak Gusti, apa saya tadi bilang kalau ibu dari bayi tidak selamat?”
Gusti terbengong-bengong. Cengoh secengoh-cengohnya.
“Tapi tadi—” Lisannya ingin membantah tapi tak ada kata yang mampu terlontar.
Begitu pula dengan Windhy dan Mbok Darmi. Mereka berdua hanya sanggup menyimak dan menunggu penjelasan Restia.
“Saya tadi belum selesai bicara, tapi Pak Gusti sudah teriak-teriak histeris seperti itu. Ya sudah, mau gimana lagi? Saya diam. Ndak salah to?” ujar Restia membela diri. Nada bicaranya mirip seperti almarhum Gus Dur ketika mengatakan ‘Gitu aja kok repot’.
“Jadi tadi Dokter mau ngomong apa?” Kali ini Windhy yang bersuara.
“Saya mau bilang kalau pihak rumah sakit sudah berusaha semampunya untuk membujuk Pak Willy supaya beliau berkenan datang menemani istrinya bersalin, sesuai instruksi dari njenengan. Namun beliau tetap saja menolak karena alasan pekerjaan,” tutur Restia kepada Gusti. Kali ini ia benar-benar menyelesaikan penjelasannya. Lengkap dan gamblang.
“Dengar? Kamu dengar sendiri, kan, Win?” tandas Gusti di sela amarahnya yang kembali memuncak.
“Kakak iparmu itu tetap aja nggak berubah. Kelakuannya masih sama berengseknya dengan dulu. Sudah tahu istrinya melahirkan anak pertama, tapi di mana dia sekarang, huh? Sebenarnya yang jadi istrinya itu Mbak Kirana atau Paris sih?”
“Sabar, Mas, sabar. Yang penting Mbak Kirana baik-baik aja. Ibu dan bayi selamat. Kita patut bersyukur. Iya, kan, Mbok?” Windhy meminta dukungan Mbok Darmi yang sontak mengangguk sejutu.
Gusti memijat pelipisnya. Harus diapakan lagi orang yang bernama Willy itu supaya sadar betapa Kirana setiap hari menanti kabar darinya. Menunggu Willy pulang dari Paris setiap pekannya. Namun apa yang Kirana dapat? Nihil.
Willy seolah menganggap Paris sebagai tanah airnya yang baru, hingga perasaannya begitu berat meninggalkan kota itu. Namun sama sekali ringan ketika harus meninggalkan Kirana, istrinya.
Apalagi sekarang bayi mereka sudah lahir. Entah apa yang merasuki Willy hingga tega menomorduakan Kirana. Apa sekarang prioritas utamanya bukan lagi Kirana?
“Apa jangan-jangan ...” celetuk Gusti. “Dia sudah punya istri baru di Paris?”
“Hush!” bantah Windhy memperingatkan. “Ngawur! Mas jangan ngomong gitu, ah. Pamali.”
“Kamu, Win,” hardik Gusti. “Besok kalau kamu cari suami, jangan seperti kakak iparmu itu, ya, Win.” Kata-kata peringatan dari Gusti barusan lebih terdengar seperti ancaman daripada nasihat hangat dari seorang kakak kepada adiknya.
“Ck, ck, ck, nggak bener,” gumam Gusti lebih kepada dirinya sendiri. Ia masih terus mengomel soal suami Kirana.
Dokter Restia hanya bisa tersenyum masam sembari geleng-geleng menyaksikan drama dari keluarga ini. Sementara Windhy menatap Restia dengan sungkan sembari ikut tersenyum masam.
■▪︎○▪︎■