Suasana Omah Lemper sore itu terlihat heboh sejak di pintu masuknya menggantung tulisan ‘Buka’. Lemper sering diucapkan orang dengan bunyi vokal E yang keliru. Orang-orang sering mengira tempat ini hanya menyediakan satu menu saja, yakni lemper. Kudapan yang terbuat dari beras ketan putih dengan isian suwir ayam yang dibebat daun pisang; lemper. Padahal lemper yang dimaksud bukan itu, tapi cobek atau cowek; iya lemper yang itu.
Bunyi vokal E seharusnya diucapkan seperti pada kata ‘send’, bukan seperti pada ‘search’. Seperti pada kata 'lelet', bukan seperti pada 'lemes'.
“Oke, berhubung Blue Java sudah datang, saya persilakan teman-teman dari Blue Java untuk naik ke panggung. Karena Blue Band harus dikembalikan lagi ke tempatnya, yaitu ke penggorengan, demi memenuhi pesanan Anda sekalian,” kata Juwita disusul kekeh kecil. "Welcome, Blue Java dan para pengunjung Omah Lemper sekalian. Kami siap melayani Anda.”
Nging dari mikrofon yang kembali diletakkan Juwita di gagangnya, mengiringi ketukan langkah kaki para personil Blue Java untuk kemudian satu per satu naik ke panggung. Suasana begitu riuh. Tepuk tangan meriah dari para penonton masih belum reda.
Para staf Omah Lemper gegas kembali ke posisi dan tugas mereka masing-masing. Terdengar sorak sorai yang lebih meriah dari bangku penonton ketika sang vokalis mulai mendekatkan bibir bergincunya ke depan mikrofon.
Baru pertama kali Omah Lemper mengundang Blue Java untuk mengisi acara Special Weekend. Band jazz asal Surabaya yang beranggotakan tiga orang cowok dan satu orang cewek itu kerap mengusung lagu-lagu populer namun dengan improvisasi jazz. Keyboard, gitar, saxophone, vokal. Baru saja mereka membawakan improvisasi lagu Always dari Bon Jovi, versi bahasa Jawa.
“Hm, cowok yang tadi itu ...” gumam Trisna kepada dirinya sendiri. Sepuluh menit yang lalu acara hiburan telah usai. Benaknya masih berusaha mengingat siapa cowok yang dimaksud, tetapi kapasitas memorinya terlampau pendek. Ingatan Trisna lemah. "Gitaris Blue Java ... gitaris itu ... hm ... gitaris ...”
“Woi, kerja atuh, Neng. Ngelamun aja,” sembur Jaka yang sedikit membuat Trisna bergidik kaget.
Jaka duduk di sebelah Trisna setelah meletakkan piranti laptop di meja kerjanya. Ruang kerja divisi promosi dan media sosial memang sangat fleksibel. Terbukti, Gusti membebaskan Jaka dan Trisna untuk mengelola media sosial milik Omah Lemper dan membebaskan mereka memilih ‘ruang kerja’ mereka sendiri. Asalkan masih dalam satu lingkup bangunan Omah Lemper. Dan asal bukan di ruang direktur saja.
Kali ini tempat yang mereka pilih adalah meja yang bersebelahan dengan kasir dan jendela dapur.
“Eh, Jaka. Ngagetin aja,” protes Trisna.
“Jaka, Jaka,” protes Jaka. “Trisna, kamu teh lebih muda tiga tahun dari saya. Harusnya kamu teh panggil saya Abang atuh.”
Bukan merasa bersalah, Trisna justru tertawa menanggapi nasihat Jaka yang lebih terdengar seperti omelan.
“Aduh, sensitif amat, sih, Abang Jaka. Lagi PMS, Bang?” Trisna mengatakan ‘Abang’ dengan intonasi yang berlebihan. Seperti memang sedang berniat menyindir Jaka.
“Giliran si Windhy aja boleh tuh dia manggil kamu Jaka aja. Nggak pakai 'Bang'. Malah kamu sendiri yang nyuruh dia manggil kamu Jaka aja. Biar lebih akrab gitu, katamu. Masa giliran partner susah-senang yang manggil gitu, kamu malah protes sih. Ah, pilih kasih kamu, Jak. Nggak asyik!”
Jaka menghela napas. Seperti biasa, argumen cerdas Trisna selalu mampu membungkam mulut Jaka. Skak mat. Jaka kalah telak.
“Yaa ... wajar, kan? Kalau Windhy itu mah beda derajatnya sama kamu, Tris ...” Kata-kata Jaka menggantung. Jaka ingin membalas argumen Trisna, tapi tiba-tiba dia kehabisan ide.
“Ah elah, sok-sokan ngomong derajat. Emang udah pernah kamu ukur pakai termometer? Emang si Windhy berapa derajat? Emang udah pernah kamu ukur derajatku berapa? Emang berapa derajat? Emang kamu tahu cara ngukur derajat? Emang gimana caranya? Emang kamu—”
“Ah, udah, udah,” sela Jaka. Dia mengibarkan bendera putih jika harus berdebat dengan Trisna. “Kamu teh ngajak ngobrol mulu, Tris. Nggak kerja-kerja saya.”
Trisna kesal. Dia sengaja memberondong telinga Jaka dengan rententan pertanyaan yang intinya sama. Sama melanturnya dengan argumen Jaka.
“Tapi ngomong-ngomong, kamu teh tadi mikirin apa atuh, Tris? Bukannya mulai kerja, malah bengong,” sindir Jaka. Tatapan matanya sesekali melirik Marin yang sedang membantu Reno menyiapkan piring-piring saji.
Trisna tiba-tiba jadi ingat dengan cowok gitaris Blue Java yang sempat dia pikirkan tadi. Trisna penasaran dengan ingatannya. Cowok itu kayaknya nggak asing deh, batinnya. Ah, tapi apa gunanya membahas hal seperti ini bersama Jaka?
"Eh, kamu tahu nggak? Itu ... gitaris Blue Java," kata Trisna memulai. "Siapa tadi namanya ...?" Telunjuk Trisna menekan pelipisnya sambil memejamkan mata berusaha mengingat sebuah nama.
"Oh, Bisma?" sambar Jaka.
"Iya, itu!" Trisna menampar pundak kanan Jaka. Cukup keras hingga Jaka mengaduh.
"Kenapa atuh, Tris? Kamu teh kepengen Knowing Every Particular Object ya sama Bisma? Dasar cewek. Nggak bisa lihat yang gantengan dikit, langsung pengen kenalan," gerutu Jaka.
Trisna bengong. "Hah? Ngomong apaan sih, Jak?"
"Dasar K.E.P.O!" sembur Jaka.
Trisna kembali menampar pundak Jaka hingga Jaka mengaduh. “Tuh, urus aja sana Mbak Marinnya,” balas Trisna sambil cekikikan.
Jaka salah tingkah karena Trisna memergoki gelagatnya yang sering memperhatikan Marin dari jauh.
“Apaan sih, Tris.” Jaka kesal karena tertangkap basah. Tetapi rona merah di pipi Jaka adalah saksinya.
“Kalau ditanya itu jawab atuh, Trisna, bukan malah ngeledek,” sembur Jaka.
Trisna tergelak. “Eh, tapi ngomong-ngomong, Bisma itu udah punya pacar belum ya?"
"Tanya atuh ke orangnya langsung. Bukan malah tanya ke saya. Gimana sih," tohok Jaka.
"Cie, jangan jutek gitu kali, Jak," goda Trisna.
"Kamu teh mau nggak saya kasih bocoran?"
"Hah, bocoran apaan?" selidik Trisna. Ia mengangkat sebelah alis.
Jaka memberi isyarat agar Trisna mendekatkan telinganya. Jaka berbisik di telinga Trisna. "Saya dengar dari Mas Gusti, Bisma itu mau dikontrak sebagai penyanyi tetap buat ngisi acara hiburan di sini."
"Ah, yang bener?"
"Eh, ssst!!!" Jaka meletakkan telunjuk di depan bibirnya. Menyuruh Trisna memelankan suara.
"Serius kamu, Jak?" ulang Trisna. Dia memelankan volume suaranya.
"Iya, serius," jawab Jaka malas. "Puas-puasin sana kenalannya."
Trisna semringah. "Mulai kapan dia di sini?"
"Tanya aja sana sama Mas Gusti," jawab Jaka ketus.
"Yaelah, sewot amat sih, Jak."
Trisna memberi isyarat agar Jaka mendekatkan telinganya. Trisna berbisik di telinga Jaka. "Kamunya udah menyatakan belum ke Mbak Marin?” kejar Trisna.
“Ah, apaan sih, Tris. Kerja atuh!”
“Kalau ditanya itu jawab atuh, Jaka, bukan malah nyuruh kerja,” balas Trisna ketus sambil menirukan logat Jaka. Sontak Jaka melotot. Habis sudah kesabarannya. Bila perlu, Jaka sudah siap mengangkat laptop untuk menimpuk kepala Trisna.
■▪︎○▪︎■