03 # Sang Mantan

1080 คำ
Kirana berlari mengejar laki-laki itu. Kekasih hatinya, hidup dan matinya. Namun laki-laki itu hanya sekilas menengok ke belakang untuk menepis tatap mata Kirana. Seolah tidak lagi peduli. Seolah tidak ingin kembali membangun hubungan yang memang sudah hancur. Laki-laki itu telah kalah dan dia menyerah. Hubungan yang kandas karena sabda wasiat Citro, ayah Kirana. Namun Kirana tidak ingin kehilangan laki-laki itu. Kirana begitu mencintainya. Sekali lagi, kakinya yang telanjang berlari mengejar laki-laki itu. Kirana ingin menggapai apapun bersamanya. Namun semakin Kirana ingin mengejarnya, semakin laki-laki itu menjauh dari Kirana. Bahkan berapa kalipun tangan Kirana berusaha menggapai sosoknya, sebanyak itu pula Kirana gagal. Mungkin Tuhan ingin memberinya peringatan dengan cara yang tidak adil, menurut Kirana. Kirana menginginkan tangan laki-laki itu untuk menggenggam tangannya sekali lagi. Tangan lembut yang sehangat rahim. Mata teduh yang sehangat matahari senja. Kirana merindukannya. Dia bersedia merelakan apapun, termasuk merelakan harta bendanya, tapi laki-laki itu adalah pengecualian. Seumur hidup, Kirana belum pernah merasakan kekosongan yang lebih kosong daripada ini. Kehidupannya berangsur hambar dan seolah tidak layak untuk dijalani. Kirana beberapa kali mencoba mengakhiri usianya. Rasanya nyaman sekali ketika dulu tangan laki-laki itu mengurung tangan mungil Kirana dalam genggamannya. Kirana merasa aman. Tetapi tiba-tiba muncul bayang-bayang sosok Citro menghentikan langkah Kirana. Laki-laki tua itu bergeming di tempatnya berdiri. Menatap kosong pada kedua mata Kirana yang sembab karena air mata. Citro menarik tangan Kirana untuk membawanya pada Willy. Kirana terjaga tepat pukul dua belas malam. Jam dinding tua di ruang tengah rumahnya selalu berdentang tujuh kali setiap tiba pukul dua belas. Samar-samar telinganya masih mendengar seseorang menyebut namanya dalam mimpi. Suara yang sangat ingin dia dengar sekali lagi namun tidak bisa. Bahkan Kirana tidak tahu di mana dia bisa bertemu dengan laki-laki itu. Keringat dingin membanjiri pelipis. Jantungnya serasa berdegup empat kali lebih cepat. Lagi-lagi Kirana memimpikan mantan kekasihnya. Tak terhitung sudah berapa kali Kirana bermimpi buruk seperti tadi. Dia berusaha duduk dan menenangkan diri. Rasa sakit pasca melahirkan anak pertama masih terasa. Ditambah sampah luka yang dia timbun cukup lama dalam batinnya, membuat rasa sakit itu kian kentara. Kirana merindukan mantan kekasihnya. “Mbak kenapa? Wajah Mbak Rana pucat,” kata Windhy. Dia iba mendapati Kirana yang lesu pagi ini. Keduanya duduk satu meja di ruang makan untuk menyantap sarapan. Mbok Darmi begitu telaten melayani dua kakak beradik itu. “Nggak apa-apa, Win. Mbak cuma kurang tidur aja karena ngurus Kima semalam,” jawab Kirana. Dia berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tidak ada yang boleh tahu perihal kerinduannya pada laki-laki yang ada dalam mimpinya semalam. “Kima?” Windhy semringah. “Jadi Mbak Rana dan Mas Willy udah saling ngobrol soal nama si kecil?” Kirana menggeleng. Seribu gurat kesedihan seketika terpahat penuh pada wajahnya. “Itu nama pemberianku. Willy sama sekali nggak merespon panggilan w******p-ku semalam. Bahkan pesanku hanya dibacanya saja. Mungkin dia terlalu sibuk untuk sekadar memberi nama untuk anaknya.” Windhy menaruh rasa iba pada Kirana. Tetapi apapun yang terjadi setelah ini, Windhy sudah berjanji pada dirinya untuk selalu ada di sisi Kirana. ■▪︎○▪︎■ “Nggak bisa!” Suara gebrakan meja di seberang telepon agaknya sukses mengagetkan Kirana. “Ini udah kelewatan, Mbak. Nggak bisa dibiarin kayak gini terus,” kata Gusti. Beberapa saat yang lalu Gusti menelepon Kirana melalui sambungan w******p. “Aku tahu kamu marah, Gusti. Tapi Mbak nggak apa-apa, kok. Mungkin dia lagi ada urusan penting di sana. Lagipula ini udah larut malam juga, kan? Dia butuh istirahat dan belum sempat balas pesan Mbak,” jawab Kirana. Dia memelankan suara karena si kecil sedang lelap di sebelahnya. “Mbak, tolong sekali aja jangan membela si berengsek itu kenapa sih. Mbak Kirana itu penting. Bahkan menurutku Mbak Kirana lebih penting dari apapun, termasuk lebih penting dari urusan kerjaannya dia di Paris. Apa Mas Willy udah menganggap Mbak Kirana nggak penting buat dirinya sendiri? Kalau memang iya, biar sekalian aja dia kawin sama kerjaannya, Mbak. Memang benaran berengsek tuh orang.” Kirana tidak bisa berbuat banyak selain menangis tanpa suara. Dia buru-buru menyeka air matanya. “Udah dulu ya, Gus. Mbak harus urus si kecil dulu. Sampai besok.” Klik! ■▪︎○▪︎■ Stasiun masih agak sepi pagi itu. Trisna menemani Melly yang akan segera berangkat ke Surabaya sepuluh menit lagi. “Oh ya, Mel, aku lupa mau nanya. Blue Java ganti personil ya?” tanya Trisna penasaran. “Iya, Mbak. Bisma itu gitaris baru kami,” terang Melly. “Kenapa emangnya?” Tadi malam, untuk pertama kalinya, Melly menginap di kamar kos Trisna. Vokalis Blue Java yang paling cantik —karena yang lainnya cowok semua— sekaligus pemilik suara falset paling merdu itu tiba-tiba menepuk keningnya sendiri. Cukup keras hingga kepala belakangnya nyaris membentur tembok. “Oh iya! Sorry, Mbak, aku lupa cerita.” Melly membenarkan posisi duduknya menghadap Trisna. Melly bercerita panjang lebar tentang pergantian personil Blue Java. Trisna menyimak dengan antusias. Sesekali keningnya berkerut sembari berusaha menggali informasi memakai 5W 1H. Sampai kemudian Melly sudah selesai dengan ceritanya, Trisna masih berusaha mengingat-ingat apa yang ingin dia minta dari Melly. Pengumuman keberangkatan kereta tujuan Gubeng baru saja dikumandangkan. Melly bersiap dengan kopernya. Para penumpang dihimbau untuk segera memasuki peron. “Mel, makasih, ya, udah jauh-jauh datang ke Kediri demi undangan manggung di Omah Lemper. Salam, ya, buat Om dan Tante,” kata Trisna. “Siap, Mbak. Pasti aku sampaikan salam Mbak Trisna ke Ayah sama Ibu,” jawab Melly. "Salam juga buat Pakdhe dan Budhe ya, Mbak. Kabari aja kalau ada job manggung lagi." Trisna mengangguk. "Pasti." “Mbak, aku pamit ya,” ujar Melly sambil memeluk erat sepupunya. Trisna melambaikan tangan begitu Melly melepaskan pelukannya. Melly bergegas menuju peron. Dari arah samping, Trisna tidak sengaja melihat sosok gitaris baru Blue Java. “Bisma?” gumam Trisna. Tapi Bisma tidak sendiri. Dia bersama seorang wanita. Sebelum mengambil kesimpulan sendiri, Trisna memastikan apakah benar wanita itu adalah orang yang dia kenal. Matanya menyipit mencoba mencocokkan semua data yang ada dalam memori ingatannya. Trisna tidak mau melempar tuduhan, tapi sepertinya memang benar bahwa dia kenal dengan wanita itu. "Itu Mbak Kirana bukan sih?" gumam Trisna. Ia merogoh ponselnya dari dalam sling bag. Kemudian mengarahkan ponsel itu ke obyek di kejauhan; Bisma yang sedang bersama seorang wanita. Jempol dan telunjuknya menyibak layar sentuh untuk memperbesar obyek bidikan. Dan benar saja. Penglihatannya masih bisa dipercaya. Tidak salah lagi. Wanita yang sedang bersama Bisma saat ini adalah orang yang Trisna kenal. ■▪︎○▪︎■
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม