"Rana, semua yang kita butuhkan buat ngelewatin tahun ini tuh mungkin cuma pembenaran diri aja supaya kita merasa sedikit lebih pulih. Bahagia sama sedih tuh kayaknya cuma soal sudut pandang aja, ya nggak sih? Nikmati selagi masih bisa. Hargai selagi masih ada. Semuanya. Secukupnya."
Suara itu membuat Kirana sakit.
Bisma melangkah pergi saat Kirana berniat menggapai tangan Bisma. Biarpun begitu, Kirana terus menggapai. Walau yang digapai tangan ringkih itu adalah angin belaka. Tetapi seolah Kirana sudah tidak lagi peduli. Seiring bertambahnya usia, cita-cita dan impianmu akan mengalami evolusi. Bukan lagi tentang mengejar sesuatu, tapi tentang mengejar seseorang.
Seperti kata John Lennon, bahwa: "Mimpi yang kamu mimpikan sendiri hanyalah tinggal mimpi. Tetapi mimpi yang diimpikan bersama adalah suatu bentuk manifestasi yang sebenarnya.”
Begitupun dengan Kirana. Dia ingin menjadikan seseorang itu sebagai cita-citanya lantas mengejarnya sampai dapat karena Kirana tahu kalau Bisma sama-sama mau mewujudkan semua impian mereka bersama. Kirana meyakini bahwa impiannya bisa diwujudkan bersama seseorang itu. Bisma. Seseorang yang juga ingin mewujudkan impiannya bersama Kirana. Kirana merasa Bisma sefrekuensi dengannya dan Bisma mau hidup bersamanya sampai tua nanti atas dasar komitmen ikatan suci. Pernikahan.
“Na, kalau kamu udah menemukan seseorang itu, maka bertahanlah bersamanya sampai akhir, meski badai pasti datang di kemudian hari dan langit tidak selalu berwarna biru. Tapi ketika kamu bersamanya, kamu sadar bahwa kamu bisa merasa cukup.” Tiba-tiba suara-suara lain memenuhi kepala Kirana. Membuat batinnya kian sesak.
“Kapanpun kamu menggenggam erat tangannya, kamu selalu bisa merasa bahwa dia adalah rumahmu; begitupun sebaliknya. Baginya, kamu adalah rumah paling nyaman sedunia. Kalian saling merasa sama-sama pulang dan kamu merasa hidupmu bakal baik-baik aja saat bareng dia. Dan semua itu datang dari hati.”
Suara-suara itu bergaung, memantul di seluruh sudut ruang ingatan Kirana. Hingga Kirana jatuh berlutut. Kedua tangannya bergantian menutup kedua telinga. Namun sia-sia. Suara-suara itu terus bergaung dan seolah enggan enyah dari kepalanya.
“Rana, hidup adalah sebuah perjalanan panjang dan akan sangat membosankan kalau kamu berjalan sendirian, kan? Lebih asyik kalau jalannya barengan, bisa ngobrol bareng dan saling nyambung tentang apapun, ketawa sepuasnya, menangis secukupnya, menjalani susah-senang bareng-bareng dan nggak kerasa tahu-tahu udah senja aja usia kalian berdua. Tapi ketika kalian melihat ke belakang, nggak ada penyesalan sama sekali karena kalian udah memilih berjalan bersama orang yang tepat. Memang, nyari teman perjalanan yang cocok itu nggak mudah sih, Na.”
Setetes air mata Kirana jatuh bersamaan dengan dentang pertama jam dinding di ruang tengah rumahnya. Pukul dua belas tengah malam.
Bukan pertama kalinya Kirana bermimpi seperti ini. Sosok Bisma masih membayang di benak Kirana bahkan setelah Kirana menikah. Entah sudah berapa kali sejak dua tahun terakhir. Sejak Kirana menikah dengan Willy, mungkin sejak saat itu mimpi buruk tentang Bisma terus dialami Kirana.
Matanya melirik jam dinding di kamar. Sementara itu dentang jam kuno di ruang tengah masih terdengar lantang. Kirana enggan memejamkan mata. Seketika rasa kantuk hilang begitu saja. Kirana menoleh ke samping kanan. Kima masih nyaman di ranjang bayi. Pulas sekali bayi itu tidur.
Kirana beranjak dari ranjangnya. Dia tidak bisa menahannya lagi kali ini. Tangannya bergegas membuka laci meja untuk mengambil bolpoin. Dia menyobek selembar kertas. Ujung mata bolpoin mulai melakukan gerak dinamis bersamaan dengan gerak pergelangan tangan Kirana di atas kertas.
**
Pagi-pagi sekali Windhy mencium aroma sedap sesampainya di ruang tengah. Dia turun dari kamarnya di lantai dua dan berhenti di ambang tangga. Aromanya mengingatkan Windhy pada permen kapas yang diberi bumbu rempah. Perpaduan lain terasa seperti kaldu ayam yang pekat, gurih, wangi dan perutnya tiba-tiba mendengkur kelaparan.
Windhy mencoba menerka kira-kira apa yang sedang dimasak oleh Mbok Darmi pagi ini sembari langkahnya bergegas menuju dapur.
Dan tebakannya keliru.
Bukan soal masakan apa yang sedang dimasak, tapi soal siapa yang sedang memasak di dapur saat ini.
"Mbak Rana?" seru Windhy sesampainya di ambang pintu dapur. Windhy senang sekaligus heran. "Mbak Rana masak?"
Windhy mengatakannya dengan penuh rasa syukur. Tidak biasanya Kirana memasak. Bahkan sejak Kirana menikah dengan Willy. Selama ini urusan pekerjaan rumah diserahkan sepenuhnya kepada Mbok Darmi. Tetapi apa yang terjadi pagi ini sungguh membuat Windhy heran sekaligus merasa bersyukur dalam waktu yang bersamaan.
"Sarapan yuk, Win," ajak Kirana. Seperti habis menang undian senilai miliaran dolar. Ceria sekali rona wajah Kirana pagi itu.
"Seneng banget deh lihat Mbak Rana masak dan bersemangat kayak gini," kata Windhy sembari membantu Kirana menyiapkan piring-piring dan peralatan makan di meja.
Kirana tidak segera merespon. Dia cuma tersenyum. Kedua tangannya sibuk menata potongan apel di atas piring.
"Ini, Win, sebelum makan berat, kita makan buah dulu, yuk. Apel bagus lho buat pencernaan," kata Kirana masih dengan wajah semringah yang sama.
Windhy makin penasaran sebenarnya ada apa dan apa yang menyebabkan Kirana berubah seceria ini. Tapi dia tidak ingin memburu Kirana dengan rasa penasarannya. Biarlah Kirana sendiri yang nantinya bercerita secara sukarela.
Windhy hanya perlu bersabar.
Dengan turut menikmati kebahagiaan Kirana, Windhy sudah merasa lega. Dia berharap kondisi Kirana kian membaik setelah selama ini melewati tahun-tahun yang berat karena depresi.
“Win, Mbak mau minta tolong. Boleh?” tanya Kirana tiba-tiba. Seketika Windhy menatap mata Kirana dengan penuh tanda tanya.
**
Kota tidak selalu menyimpan rasa karena ia tidak memiliki hati. Kota cuma punya jantung. Tetapi senja itu sepertinya lain. Kota menjadi begitu perasa.
Tidak biasanya Trisna begitu ingin mencuri dengar obrolan orang lain di peron stasiun. Kereta yang dinaiki Melly sudah berangkat lima menit yang lalu. Tetapi rasa penasaran yang begitu kuat memaksa Trisna diam di tempat. Telinganya sedia menangkap seluruh suara yang diproses sebagai informasi. Agaknya ada rasa was-was juga kalau-kalau dua orang itu menyadari keberadaannya.
"Maaf, ini apa?" tanya Bisma kepada lawan bicaranya setelah menerima sesuatu dari seorang perempuan yang berdiri di hadapannya. Perempuan itu berdiri membelakangi Trisna dengan balutan dress hitam sepanjang lutut. Trisna tidak bisa memastikan siapa perempuan itu. Dugaan awalnya, perempuan itu adalah seseorang yang dia kenal. Kirana Soecitro.
"Ini titipan dari Mbak Kirana, Kak," jawab si perempuan.
Trisna tersentak. Dari suaranya, jelas bukan Mbak Kirana sih ini, batinnya. Tapi dari perawakannya mirip. Dan tadi dia menyebut nama Kirana. Kalau dia adalah Kirana, mana mungkin dia menyebut namanya sendiri?
Jangan-jangan dia ...
"Kirana?" ulang Bisma. Kontan dia kaget dan bingung ketika sebuah nama dilontarkan. Yaitu nama Kirana.