"Kirana siapa?" lanjut Bisma mencoba memastikan apakah Kirana yang dimaksud si lawan bicara adalah Kirana yang sama dengan yang ada di dalam benaknya.
"Kirana Soecitro. Kakak saya," jawab si perempuan.
Windhy? Pekik Trisna dalam hati setelah mengetahui siapa perempuan itu.
Tidak hanya Trisna yang dikejutkan dengan keberadaan Windhy di stasiun saat ini, tetapi Bisma juga sama terkejutnya atas sesuatu yang bertengger di tangannya saat ini yang ternyata berasal dari Kirana. Dan kini benda itu dia pandangi lekat-lekat.
Selembar amplop putih.
**
"Mbak Rana," bisik Windhy di ambang pintu kamar Kirana yang terbuka. Terlihat Kirana sedang menidurkan bayinya. Dia memberikan isyarat tangan kepada Windhy supaya Windhy menutup pintu kemudian mendekat.
"Gimana?" Kirana hanya bertanya begitu saja namun secara otomatis Windhy sudah paham apa yang Kirana maksud.
"Udah," jawab Windhy masih setengah berbisik. Dia tidak ingin Kima terbangun sebab Kirana sudah susah payah menidurkannya.
"Terus, apa katanya?"
"Awalnya dia mengira itu isinya bonus insentif hasil manggung di Omah Lemper," kata Windhy sambil terkekeh. Windhy sempat menangkap ekspresi wajah Kirana yang semringah. Baru hari ini Windhy melihat wajah Kirana yang seperti itu. Beberapa tahun terakhir, Kirana terlihat seperti orang depresi setelah dia menikah dengan Willy.
"Mbak Rana seneng?" Windhy bersyukur ketika Kirana mengangguk sebagai respon.
"Kamu nggak bilang-bilang ke Gusti, kan, soal surat itu dan soal Bisma?" tanya Kirana tiba-tiba. Dan Kirana sangat lega karena Windhy menggeleng.
**
Gitaris muda itu sangat mencuri perhatian penonton. Apalagi dia sedang membawakan lagu anak-anak. Suaranya berat namun enak didengar. Tidak menutup kemungkinan kalau dia memakai pita suara yang berbeda saat sedang bernyanyi atau berbicara. Sesekali terdengar sorak-sorai yang asalnya dari anak-anak penghuni Rumah Asuh Asih.
Wajah laki-laki itu mengingatkan Trisna pada topeng Telek khas Bali. Kalem, halus, minim ekspresi. Yang semakin dipandang, semakin meneduhkan. Seperti tari Telek yang melambangkan keselamatan, kedamaian.
"Serius atuh, Tris?" Jaka menyentak lamunan Trisna begitu Trisna sudah selesai bercerita. "Kamu pernah ketemu sama Bisma?"
Trisna mengangkat bahu.
"Kok gini sih?" protes Jaka sambil menirukan gerak bahu Trisna.
"Soalnya udah lama banget, Jak. Aku sendiri nggak percaya sama ingatanku."
"Kamu yakin itu teh si Bisma?" Jaka melirik Trisna dari ekor matanya.
"Kayaknya sih iya," kata Trisna sekenanya. Dia mencoba mengingat-ingat kembali tentang momen waktu itu tapi pada akhirnya ragu dengan ingatannya sendiri.
"Jangan-jangan teh kamu cuma mimpi atuh, Tris," sambar Jaka. Desain daftar menu Omah Lemper yang baru sudah hampir jadi dan perlu diunggah ke media sosial.
"Kalau mimpi sih enggak, kalau salah orang sih mungkin," elak Trisna sembari mulai menyalakan laptop.
"Udah, ah, kerja, kerja," timpal Jaka mendapati perbincangan di antara keduanya yang kurang berfaedah.
"Kerja terooos. Piknik atuh woy," gumam Trisna lebih kepada dirinya sendiri. Tetapi sepertinya Jaka merasa tersindir. Tatapan tajam yang dia berikan untuk Trisna mungkin sebentar lagi bisa melubangi dinding. Seperti sinar laser yang dimiliki superhero.
“Jangan-jangan …” timpal Trisna tiba-tiba hingga menyentak fokus Jaka dari layar laptop. Tetapi Jaka tidak berniat menanggapi. Ekor matanya hanya sekilas melirik Trisna.
“Jangan-jangan mereka CLBK?” pekik Trisna.
"CLBK?" ulang Jaka. Seketika Trisna mengangguk. “Siapa atuh yang CLBK?”
“Siapa lagi kalau bukan Bisma sama Windhy, Jak?”
"Ah, kamu teh jangan mengada-ada atuh, Tris. Menyimpulkan tanpa bukti. Mana bisa dipercaya sebagai fakta?" protes Jaka bertubi-tubi. Kemudian Trisna menceritakan kejadian di stasiun ketika dia tidak sengaja melihat Windhy bersama Bisma. Trisna awalnya mengira Windhy adalah Kirana karena perawakan keduanya yang jika dilihat dari belakang terlihat persis. Belum lagi gaya potongan rambut keduanya yang sama persis membuat Trisna salah mengenali orang.
Trisna menengadah seperti memikirkan sesuatu. "Tapi kalau bukan CLBK, terus apa dong?"
Jaka yang hendak menanggapi, seketika urung karena tiba-tiba dari arah dapur keluar tiga orang pegawai.
"Eh, kalian tahu nggak sih? Gitaris Blue Java ..." bisik Juwita tiba-tiba di antara Reno dan Marin. Mereka bertiga berduyun-duyun duduk di salah satu sudut yang dekat dengan tempat Trisna dan Jaka duduk mengerjakan desain.
Agaknya Jaka terlihat kurang peduli tapi sebenarnya dia menyimak pembicaraan Juwita dan rekan-rekannya.
"Maksudmu Bisma?" sahut Reno.
"Iya, Bisma. Katanya sih dia pernah pacaran sama anggota keluarga Soecitro," lanjut Juwita berapi-api. Suaranya masih sengaja dipelankan tapi telinga Trisna cukup sensitif sehingga mampu menangkap informasi itu.
Sontak, Jaka dan Trisna saling pandang.
"Hah, yang bener? Siapa?" kejar Reno antusias. Sesekali Jaka mencuri pandang ke arah Marin yang sedari tadi hanya menyimak tanpa berniat menanggapi apapun.
"Tuh, kan? Apa kubilang?" Trisna menampar lengan Jaka hingga Jaka tersentak. "CLBK, Jak, CLBK!" Cukup keras Trisna mengatakannya hingga sontak ketiga rekannya dari meja sebelah menoleh.
"Siapa yang CLBK, Tris?" timpal Juwita ingin tahu.
Trisna meringis. Ujung telapak tangannya dia letakkan di depan bibir. Matanya melirik antusias ke kanan lalu ke kiri. Jaka bergidik melihat tingkah polah Trisna yang mulai absurd itu.
"Ups, ada yang KEPO nih," goda Trisna kepada Juwita.
Jaka cengengesan. Terkikik melihat raut muka Juwita ketika sedang KEPO parah. Seperti topeng Penasar dari karakter topeng Panca.
"Simbiosis mutualisme dong, Mbak Juju," kejar Trisna. Dia menaik-naikkan kedua alisnya dengan menunjukkan wajah semringah. "Tukeran info, entar aku kasih tahu siapa yang CLBK. Gimana? Deal?"
Detik itu, Juwita masih seperti topeng Penasar. Namun tidak perlu waktu sedetik untuk mengubah raut mukanya menjadi topeng Sidakarya.
**
Windhy mengernyit ketika keesokan harinya Trisna menghadang Windhy di depan pintu masuk Omah Lemper. "Bicara empat mata?"
"Soal apa, Tris?" tanya Windhy lagi setelah keduanya duduk di ruangan Windhy.
"Jadi gini, Mbak. Beberapa waktu lalu, setelah acara konser Blue Java selesai, besoknya aku nganter sepupuku, si vokalisnya Blue Java ..."
"Lho, jadi Melly itu sepupumu?" sela Windhy. Dia baru mengetahui informasi itu hari ini dan cukup terkesima mendengarnya. Trisna otomatis mengangguk.
"Nah, aku nganter Melly ke stasiun pagi itu. Dan aku nggak sengaja lihat Mbak Windhy ada di sana juga bareng Kak Bisma." Trisna menggantungkan kalimatnya untuk sesekali melihat bagaimana ekspresi Windhy ketika menyimak ceritanya.
"Iya, terus?" kejar Windhy dengan nada sabar dan sama sekali tidak ada tanda-tanda pengelakan.
"Uhm, Mbak Windhy udah dengar gosipnya belum?" bisik Trisna sambil sedikit mencondongkan badannya. Windhy yang belum menyadari arah pembicaraan Trisna, hanya bisa mengerutkan dahi. Rasa penasarannya memuncak.
"Hah? Gosip apaan, Tris?" Windhy ikut mencondongkan badan.
"Gosipnya, Kak Bisma itu mantannya Mbak Windhy. Itu bener nggak sih, Mbak?" tanya Trisna masih sambil berbisik.
Sontak Windhy melotot. "WHAT?"
**