Keraguan Bisma

1152 คำ
Sudah satu minggu berlalu sejak sepucuk surat dari Kirana diterima oleh Bisma. Alih-alih menganggapnya sebagai angin lalu, sebenarnya Bisma terus memikirkan apa yang Kirana tulis di surat itu. Sepanjang malam Bisma gelisah. Seperti langit yang gelisah merindukan bintang-bintang yang enggan hadir sebagai teman dalam gelap. Juga bulan yang sedang bersembunyi entah di sudut langit yang mana. Seolah semuanya pergi menjauh dan Bisma dibiarkan seorang diri.   Sepi.   Bisma melamun. Menyembunyikan isi hatinya yang terdalam dari mendung yang menyelimuti keraguannya untuk bertemu kembali dengan Kirana.   Tidak.   Bisma mencoba mengelak dan membantah segala suara yang berkecamuk dalam batin. Bisma tidak boleh bertemu kembali dengan Kirana.   Tidak boleh!   Semuanya sudah terlarang sekarang. Bisma telah gugur dalam perang yang bahkan tidak bisa dia perjuangkan. Dia telah gugur sebelum berjuang karena keputusan sepihak dari almarhum Soecitro, ayah Kirana. Bisma masih begitu terpukul kapanpun dia mengingat kejadian dua tahun silam.   Dari mana dia bisa belajar mengikhlaskan? Dari mana dia bisa mulai belajar melupakan? Bahkan hingga saat ini jawaban atas kedua tanya itu masih nihil. Bisma mengacak belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebaris umpatan lolos begitu saja dari mulutnya. Dia hisap sebatang rokok yang terselip di sela-sela jemari kanan dengan harapan bisa mengurangi keruwetan di dalam kepalanya yang masih enggan terurai dengan benar.   Tetapi percuma.   Justru keruwetan yang ada di dalam hatinya kian menjadi-jadi. Seolah kini dinding dalam batinnya telah penuh dengan jelaga. Seperti ada bom waktu di dalam sana yang siap diledakkan kapan saja bila waktunya sudah habis. Bahkan rasanya kian memburuk seiring dengan sesak yang tiba-tiba menyergap ulu hati. Segumpal rasa yang tidak bisa dijelaskan.   Juga sekumpulan kilas balik yang belum mampu hilang dari benak Bisma tentang Kirana. Sebab Kirana sudah seperti bagian dari napas Bisma. Bagian dari tulang rusuknya tetapi telah hilang untuk selamanya. Dan semua yang indah-indah hanya berlaku di dalam imajinasinya belaka. Sekarang sudah tidak ada Kirana lagi dalam hidupnya. Kirana sudah pergi. Jauh dari jangkauan Bisma. Sekarang hanya ada Bisma dan kesunyian yang berisik.   Bisma menggeram. Dia marah kepada dirinya sendiri.   Ekor mata Bisma melirik jam dinding di ruang tengah tepat di sebelah balkon tempatnya berdiri melamun saat ini. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas. Sayangnya, jarum panjang masih enggan berpindah dari angka sebelas menuju angka dua belas. Seperti hati Bisma yang masih enggan berpindah dari sosok Kirana. Sudah selarut ini tetapi rasa kantuk masih enggan menghinggapi pelupuk matanya. Bisma seolah telah terbiasa dengan semua perubahan ini. Perubahan hidup yang lebih buruk.   Sejak dua tahun silam.   Sejak kejadian yang menyakitkan itu, dia bahkan tidak menyadari bahwa ada yang salah dengan raga dan rohaninya. Bisma meraupkan kedua telapak tangan pada wajah kuyu bekas dihantam rutinitas hari ini. Rasanya sungguh melelahkan. Menjalani tahun demi tahun tanpa Kirana. Hari-hari terasa terlalu panjang dan sangat melelahkan. Malam-malam terasa seperti tinggal di dalam neraka – walau Bisma belum pernah merasakan tinggal di dalam sana. Sampai rasanya dia sudah terlalu bosan untuk hidup, karena tujuan hidupnya memilih berbahagia tetapi bukan dengannya.   Kirana …   Kirana yang malang.   Kirana yang riang.   Kirana yang hilang.   Kirana tersayang.   Sepucuk surat dari Kirana tergenggam erat di tangan kiri. Bisma meremasnya terlalu kuat hingga kertasnya kusut. Sendi-sendi lutut Bisma mendadak lemas. Bisma jatuh berlutut dengan kepala bersandar di pagar balkon yang dingin karena angin malam.   Berapa kalipun dia membenturkan kepalanya di dinding atau pagar balkon, tetap tidak bisa mengenyahkan bayangan Kirana dalam benaknya. Bayang-bayang Kirana adalah alkohol paling memabukkan di dunia Bisma. Entahlah, Bisma seakan telah kehilangan nyawanya sendiri dan hidup layaknya zombie seperti di film-film science fiction. Kota semakin gelap seperti angan-angannya yang semakin kabur.   Tidak tahu hendak ke mana. Tidak tahu apa jadinya Bisma tanpa Kirana. Tubuhnya meringkuk di lantai balkon yang dingin. Tanpa selimut, Bisma mencapai kesadaran pada titik gelombang teta dengan sepucuk surat dari Kirana yang masih terjebak dalam genggaman.   Sementara itu, di sudut meja ruang tengah, tepat di sebelah guci hias, tergeletak ponsel Bisma yang menampilkan lima pesan w******p dan dua belas panggilan tidak terjawab.     **   Bisma berada di sebuah rumah yang tidak asing baginya. Rumah yang berdiri begitu megah dengan d******i cat dinding yang senada dengan warna kulit Kirana. Sangat klasik dengan pilar-pilar tinggi menjulang yang dicat emas. Sebuah hunian yang begitu tinggi, angkuh, mirip pemiliknya. Siapa lagi kalau bukan Soecitro.   Langkah Bisma berhenti di ambang pintu gerbang. Tidak hendak melangkah lebih jauh, juga tidak berniat untuk kembali pulang. Kirana sudah siap menghampirinya dari balkon lantai dua. Tangan gadis itu melambai riang sembari memberi isyarat kepada Bisma untuk menunggu, sementara Kirana bergegas turun.   Senyum Kirana entah kenapa selalu memiliki rasa strawberry dalam imajinasi Bisma. Manis, menyegarkan, namun tiba-tiba masam setiap kali Soecitro muncul secara tiba-tiba. Terlihat Soecitro sedang menegur Kirana dari belakang.   “Untuk apa laki-laki itu datang lagi ke rumah ini? Suruh dia pulang,” hardik Soecitro.   Tubuhnya yang pendek sangat bertolak belakang dengan anak-anaknya yang memiliki postur tinggi semampai; meniru DNA sang almarhum istri. Soecitro bergabung bersama Kirana untuk melihat Bisma dari tepi balkon lantai dua.   “Papa nggak berhak bicara seperti itu. Bisma datang baik-baik. Apa seperti ini sikap Papa kepada tamu? Dia calon menantu Papa,” kata Kirana. Pelan. Menusuk.   Soecitro berlalu begitu saja tanpa membalas kata-kata Kirana. Meskipun jarak Kirana dan Bisma berjauhan, agaknya Bisma bisa memahami percakapan antara bapak dan anak di balkon itu. Dari raut muka Soecitro dan bahasa tubuh Kirana, Bisma paham betul apa maksudnya.   Bisma tersenyum menikmati masamnya senyum Kirana yang kini telah berada di bawah untuk membukakan gerbang.   “Masuk, yuk,” ajak Kirana sembari merangkum tangan Bisma di genggaman tangannya.   Ketika tangan Bisma hendak melangkah ke teras rumah Kirana, tiba-tiba pintu depan dibuka keras-keras hingga menimbulkan bunyi debam yang cukup kuat.   Keduanya kaget.   Bisma menghentikan langkah. Kirana membekap mulutnya dengan satu tangan begitu mendapati dari arah pintu itu keluar dua orang laki-laki. Soecitro dan seorang pemuda mengikuti di belakangnya.   Melihat gelagat Kirana yang kaget melihat kemunculan pemuda asing itu, Bisma tahu Kirana mengenali si pemuda.   “Rana, apa seperti ini sikapmu setelah bersuamikan Willy? Willy ini menantu sah Papa,” tohok Soecitro.   “Rana, kamu berani selingkuh terang-terangan di depanku?” hardik Willy.   Suara-suara itu saling menyahut dan memunculkan efek gaung. Bisma mendapati bibir Kirana meneriakkan satu kata namun telinganya tiba-tiba kehilangan fungsi. Telinga Bisma mendadak menolak suara-suara yang berasal dari Kirana. Dia mendadak tuli akan semua yang Kirana ucapkan. Hanya suara-suara Soecitro dan Willy yang bisa dia dengar. Masih bergaung. Bisma membekap kedua telinganya.   Percuma!   Suara mereka justru makin terdengar lantang. Berisik sekali. Seakan telinga Bisma sedang dijejali ratusan lebah. Bisma mundur perlahan berusaha mencerna segalanya.   Dan tiba-tiba tangan kanannya menggenggam selembar amplop surat. Bisma mengernyit. Dia makin bingung. Kepalanya susah mencerna kejadian barusan.   Mulut Kirana masih meneriakkan sesuatu sembari mencoba meraih tangan Bisma. Namun Bisma tetap tidak bisa mendengar suara Kirana. Tubuh Kirana ditarik oleh tangan Willy untuk menjauhkannya dari Bisma. Bisma jatuh berlutut dengan suara-suara yang masih menggaung lantang di telinga. Lalu, segalanya gelap. Tubuh Bisma tumbang seketika.   Kedua mata Bisma seketika terbuka lebar karena terganggu dengan suara dering telepon yang meraung berulang kali.   Ah, mimpi.  
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม