07 # Reject

1052 คำ
Ah, mimpi.   Bisma melihat sekeliling. Dia masih meringkuk di tempat yang sama. Balkon lantai dua rumah kontrakannya di Surabaya. Bedanya, sekarang ada Yudha dan Indra yang sedang berdebat tentang bagaimana cara memindahkan tubuh Bisma yang sedang pulas. Sementara itu, sebuah ponsel yang ada di tangan Indra masih saja meraung.   “Nah, ini si tukang genjreng udah bangun dari tidur ratusan tahun.” Yudha buka suara. Bisma tampaknya masih berusaha mengumpulkan nyawa.   “Untung aja nggak sampai dicium pangeran kodok, kamu udah bangun, Bis,” canda Yudha sembari menepuk bahu Indra saat dia mengucapkan ‘pangeran kodok’.   “Enak aja. Emang aku cowok apaan? Stik drum melayang di kepalamu, baru tahu rasa,” ancam Indra dengan nada bercanda sembari menoyor Yudha yang sedang terpingkal. “Lagian kamu, Bis, ngapain tidur di sini? Sleep walking?”   Begitu sadar sepenuhnya, mata Bisma tertuju pada ponsel yang meraung di tangan Indra.   “Argh, pagi-pagi udah berisik. Sini, ponselku,” gerutu Bisma sembari menjulurkan tangan hendak meraih ponsel miliknya yang kini digenggam Indra. Entah yang dimaksud Bisma dengan ‘berisik’ merujuk kepada dua orang teman band-nya itu atau raungan ponselnya sendiri. Begitu melihat layar ponsel, Bisma mengernyit.   Nomor asing?   “Siapa nih?” gumam Bisma. Seketika dia terduduk. Punggungnya disandarkan di pagar balkon. Punggung tangan kirinya mengucek mata. Bisma menguap lebar-lebar.   “Ati-ati, penipuan tuh,” kata Indra memperingatkan. “Udah biarin aja, nggak usah diangkat.”   Bisma merasa tidak asing dengan deret nomor yang terpampang di layar ponselnya saat ini. Dia yakin ingatannya masih bagus. Karena matanya memandangi dua belas digit nomor ponsel itu hampir setiap hari dalam seminggu terakhir. Tidak heran memorinya seperti terpanggil kembali dan Bisma seketika sadar nomor siapa itu.   Tetapi Bisma bergeming. Bengong seperti orang bodoh. Ibu jemarinya seperti beku. Tidak ada niatan untuk menerima panggilan itu maupun menolaknya. Tatapan matanya yang kosong tertuju pada layar ponsel. Di sisi lain, Yudha menemukan sesuatu yang tergeletak di sebelah Bisma.   “Apaan nih?” gumam Yudha.   Sebuntal kertas kusut yang tergeletak di sebelah Bisma kini berpindah ke tangan Yudha. Yudha menyenggol bahu kanan Indra sembari menunjukkan buntalan kertas kusut yang baru saja dia temukan. Indra menunjukkan ketertarikan saat Yudha mulai melebarkan lembaran kusut itu.   Begitu keduanya membaca tulisan yang ada di kertas itu, Indra tersentak, sementara Yudha mengernyit bingung. Indra sontak menyambar kertas itu untuk kemudian dicocokkan dengan sederet nomor yang masih terpampang jelas di layar ponsel Bisma.   Bingo!   Ternyata cocok. Deret nomor yang tertulis di kertas kusut itu sama persis dengan yang tertera pada layar ponsel. Indra menunjuk-nunjuk kertas itu kemudian telunjuknya berpindah ke layar ponsel. Seperti memberi tahu bahwa Bisma sebaiknya lekas menggeser tombol hijau sekarang juga.   Namun Bisma diam saja. Dia menatap Indra dengan pandangan yang kurang bersemangat.   Begitu Bisma menyadari bahwa Indra telah mengetahui apa yang dia ketahui, Bisma buru-buru berdiri kemudian berjalan menjauhi kedua temannya. Meninggalkan Yudha yang masih saja bingung karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan Indra yang kecewa karena Bisma tidak mau mengangkat panggilan dari nomor asing itu.   Sekitar lima langkah di depan, Bisma berhenti di ruang tengah. Ponsel Bisma masih saja meraung sebab si penelepon begitu gigih. Dia menelepon ulang ketika panggilannya tidak dijawab.   Dasar keras kepala, batin Bisma.   Dia merasa cukup terganggu tetapi sekaligus penasaran. Bisma melempar ponselnya di atas sofa begitu saja, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Bisma benar-benar mengabaikan panggilan itu. Seperti benar-benar sudah tidak peduli lagi.   Tetapi benarkah?     **   Suasana Omah Lemper sore itu terlihat kalang kabut walau di pintu masuknya masih menggantung tulisan 'Tutup'. Tepat pukul tiga, para pegawai gegas bersiap di tempat. Tetapi ada yang berbeda sebab hari ini Sabtu. Omah Lemper buka tiga puluh menit lebih awal dari hari-hari biasanya. Biasanya Omah Lemper buka pukul empat sore.   Seluruh pegawai —manajer, marketing, kasir, koki, pramusaji, cleaning service; yang seluruhnya berjumlah delapan orang, tetapi sebenarnya total ada sembilan orang kalau dihitung sekalian dengan bosnya— buru-buru merapikan penampilan mereka untuk kemudian berjejer membentuk barisan menyamping.   "Selamat sore, Bos!" sapa mereka serentak nyaris bersamaan ketika direktur Omah Lemper menggeser pintu masuk utama. Dia baru saja tiba karena sesuatu hal.   "Sore," jawab seorang pemuda yang dipanggil 'Bos'.   Laki-laki itu terlihat seumuran dengan para pegawainya. Usia mereka tidak terpaut terlalu jauh. Tim pekerja dan atasan lebih terlihat seperti Event Organizer yang sedang melakukan briefing sebelum mulai menggarap suatu acara yang dipastikan memukau para penonton serta tamu undangan.   "Gimana? Orangnya bisa datang nggak?" bisik pemuda itu kepada seorang manajer yang cenderung terlihat seperti kekasihnya sendiri.   Gadis itu masih sangat muda dan cantik. Gaya berbusananya begitu kasual bahkan cenderung tomboy. Kaos merah jambu polos lengan panjang yang digulung hingga batas siku berpadu dengan jeans dan sneakers oranye merupakan outfit-nya sore itu. Rambutnya pendek lurus sebahu dengan potongan bob yang mana poninya dijepit dengan pita rambut bergambar panda.   "Belum tahu nih, Mas. Aku hubungi dari tadi belum diangkat juga. Biar nanti aku coba hubungi lagi," jawab si manajer sembari menempelkan ponsel pintarnya di telinga kanan. Raut muka para pegawai seketika pucat ketika mendapati bosnya mulai menghitung jumlah mereka.   "Oke, saya mulai dari nomor satu!" Si bos mulai melakukan checklist presensi secara tersirat kepada stafnya satu per satu. Hal itu sudah menjadi ritual wajib bagi seluruh pegawai yang bekerja di Omah Lemper. Kurang lebih seperti apel pagi di kantor-kantor pemerintahan atau badan instansi formal.   Tidak terkecuali dengan bosnya. Jadi, sebelum para pegawainya angkat bicara, dirinya sendiri harus memberikan contoh terlebih dahulu kepada yang lain.   Laki-laki itu mengangkat tangan kanan setinggi dagu —mirip orang yang sedang mengucap sumpah— sebelum akhirnya berkata dengan lantang, "Gusti. Tiga puluh tahun. Direktur rumah makan Omah Lemper. Sudah merintis bisnis ini sejak lima tahun terakhir dan belum bosan dengan semua itu. Baru membuka satu cabang di kota ini, tapi di kota lain udah tujuh. Puji Tuhan."   Gema riuh tepuk tangan para pegawai memenuhi tiap sudut dinding Omah Lemper.   "Selanjutnya. Dua!" seru Gusti mempersilakan si manajer untuk melakukan hal yang sama.   "Windhy. Dua puluh empat tahun. Manajer sekaligus Wakil Direktur rumah makan Omah Lemper. Sempat punya impian jadi model tapi nggak kesampaian. Hobi karaoke di kamar mandi dan biasanya makan cokelat banyak-banyak kalau lagi stres berat. Tapi nyesel banget setelahnya karena berat badan jadi nambah, terus besoknya langsung puasa dua hari deh." Windhy menurunkan tangannya tanda selesai. Gelak tawa sontak pecah ketika Windhy mengeluarkan candaan.   "Tiga!" teriakan Gusti lagi-lagi membahana. [ ]
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม