“Dia depresi berat dan akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri,” jawab Bisma. Pandangannya menerawang jauh. Kedua matanya mulai berembun dan mungkin sebentar lagi akan ada gerimis di sekitar pelupuk mata. “Overdosis obat,” pungkasnya. Trisna menyerukan istigfar. “Sebelum dia meninggal, di hari yang sama, dia masih sempat membacakan sebuah dongeng untuk anak-anak di Rumah Asuh Asih. Dan aku benar-benar nggak menyangka kalau ternyata itu adalah panggung terakhirnya.” Bisma mengusap rembesan air mata yang mengalir di pipi. “Gimanapun, percuma kalau kita terus-terusan larut dalam air mata,” kata Bisma. Sesekali dia sesap tehnya untuk mencoba menenangkan diri. “Aku sudah mengikhlaskan dia.” “Kenapa sih, Bis, kamu memilih pura-pura ikhlas, pura pura bahagia?” protes Trisna tiba-tiba.

