*TCMS - AISYAHKU*
• Azzam POV •
Saat ini, aku sedang menikmati saat-saat sepertiga malam bersama dia, bidadari surgaku. Ya, bersama Savierra. Sejenak aku teringat momen tadi malam. Saat aku dan Savierra bermain di bawah hujan. Menurutku, itu adalah momen terindah selama dua minggu pernikahanku dengan Savierra. Aku senang bisa melihat dia bahagia malam itu. Tawa renyahnya masih terngiang di telingaku.
Setelah menyelesaikan doa sholat tahajjud, aku berbalik badan dan mendekat pada Savierra. Seperti biasa, Savierra mencium telapak tanganku. Aku pun mencium keningnya. Aku berusaha menyalurkan kasih sayangku padanya. Sebab aku memang sangat menyayanginya. Aku berusaha memberinya senyum terbaikku. Sama sepertinya yang selalu memberiku senyum cantiknya. Meskipun lelah, aku berusaha tidak menampakkan itu. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.
“Sya.”
“Hm?”
“Kamu baik-baik aja?”
“Iya, baik-baik aja. Kenapa memangnya?”
“Enggak apa-apa, sih. Kelihatannya kamu lemas banget.”
“Oh, enggak sih Alhamdulillah. Aku nggak apa-apa.”
“Habis hujan-hujan tadi, kamu ngerasa ada pusing?”
“Em, kayanya sih enggak.”
“Beneran?”
“Iya. Kenapa emangnya?”
“Kamu kelihatan pucet, Sya. Aku takut kamu kenapa-kenapa.”
Mendengarnya, Savierra tersenyum sembari mengusap tanganku yang masih digenggamnya. “Cuman kecapekan aja mungkin.”
“Masa, sih? Kamu jangan bohongin aku. Kalau kamu pusing atau apa, kamu bilang aku, ya.”
“Iya. Kak Azzam tenang aja. Aku nggak apa-apa kok. Alhamdulillah.”
“Ya Alhamdulillah kalau gitu. Aku minta maaf ya, Sya, karena aku ajakin kamu hujan-hujan malem-malem, kamu jadi pucet banget gitu.”
“Nggak apa-apa lah. Lagian, tadi malem aku seneng banget kok.”
“Oh ya?”
“Iya. Aku udah lama nggak main hujan. Dan tadi malem pas Kak Azzam ngajakin aku main hujan lagi, awalnya memang aku takut Kak Azzam sakit. Tapi pas udah di bawah hujan, Masyaa Allah, itu seru banget.”
Aku senang melihat wajah gembiranya dini hari ini. Bahagiaku sederhana saja. Saat melihat senyumnya yang terbit dari bibir tipisnya, seakan membuat bibirku ikut tersenyum. Hatiku mendesirkan sebuah rasa kala senyum manisnya terbit di depan mataku. Di samping degup jantungku yang cukup tak karuan, aku bersyukur sebab Allah telah menghadirkan dirinya untuk menemani hari-hariku.
“Kak Azzam.” Panggilnya kemudian.
“Iya?”
“Kenapa lihatin aku gitu banget?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Lalu aku mengusap pipinya perlahan dengan lembut. “Kamu cantik, Sya.”
Setelah kalimat itu terucap dari bibirku, aku mendapati manik matanya yang menunduk ke bawah menatap sajadah. Namun, aku melihat bibirnya tersenyum. Ah, aku tau, pasti dia sedang malu. Mengapa Savierraku jadi sepemalu ini? Padahal, sudah tidak ada jarak lagi di antara aku dan dia. Ah iya, Savierra tetaplah Savierra. Seorang wanita yang polos dan lugu. Sama seperti wanita pada umumnya yang akan berbunga hatinya jika dipuji oleh lelakinya. Namun mereka tidak menyuarakan bahagianya. Mereka hanya memilih untuk menerbitkan senyum saja dalam diamnya. Savierra membuat hatiku benar-benar jatuh dalam.
“Sya,”
“I-iya?”
“Kamu kenapa? Kok bengong?”
“E-enggak. Nggak apa-apa. Em, Kak Azzam bilang apa tadi?”
“Kamu mau dengar lagi?”
“Em, a-aku tadi kurang denger.”
“Masa? Aku bilangnya jelas kok tadi.”
“E-em, t-tapi aku sedikit kurang denger. Ya udah, mungkin Kak Azzam cuma bercanda aja tadi.”
“Tapi aku tadi nggak bercanda, Sya.”
“N-nggak bercanda? I-iya mungkin, emang aku yang kurang deng---”
“Kamu cantik, Sya. Aku seneng lihat kamu ketawa, lihat kamu senyum juga. Aura kamu positif banget. Aku jadi ikut senyum kalau lihat kamu senyum.”
Baru setelah aku mengatakannya dengan begitu jelas, ia tersenyum menatapku. Sudah tidak tertunduk lagi. “Terima kasih, Kak Azzam.”
“Ih, udah nggak malu-malu lagi ya kamu?”
“Apaan sih, Kak Azzam. Mulai deh.”
“Lah, emang iya loh.”
“Ya udah terserah Kak Azzam aja.”
“Hehehe. Tapi kamu beneran nggak apa-apa, kan?”
“Iya. Orang tadi malem seru banget. Aku malah seneng banget karena udah lama nggak main hujan.”
“Hahaha, sampai dimarahi umi loh tadi malem.”
“Hahaha, Masyaa Allah, iya. Umi sampai kaget gitu lihat kita pulang basah-basahan.”
“Lagian kamu, udah aku ajakin pulang malah nggak mau. Masih pengen main hujan terus.”
“Hehehe, iya. Seru banget, sih. Sampai nggak mau pulang.”
Aku tertawa bersamanya di sepertiga malam terakhir ini. Dengan masih terduduk di atas sajadah, aku dan Savierra saling bercerita tentang momen semalam saat bermain dan tertawa bersama di bawah hujan.
• Flashback on •
“Kak Azzam, ini seru banget!” Ucap Savierra seraya merentangkan tangannya dan menatap langit yang sedang menurunkan gemuruh hujan.
“Kamu seneng?”
“Seneng banget!”
“Udah lama nggak main hujan, ya?”
“Iya. Dulu waktu kecil sering banget. Kalau sekarang hampir nggak pernah. Nanti dikira masih anak kecil sama bunda.”
“Hahaha, berarti sekarang kita lagi jadi anak kecil.”
“Hahaha, iya. Bunda! Savierra jadi anak kecil sebentar ya di sini. Savierra main hujan-hujan sama Kak Azzam. Nggak lama kok. Karena seru banget!”
Aku tertawa melihat dirinya yang seakan sedang berbicara dengan bundanya. Ia pun juga tertawa. Kebahagiaannya sederhana saja. Dengan bermain bersama di bawah hujan dalam gelapnya malam, aku bisa melihat dan mendengar tawa renyahnya yang merekah sempurna. Dia, gadisku yang polos dan lugu. Dia, semenyenangkan ini orangnya. Lelahku tidak terasa jika sudah melihatnya tersenyum.
“Kak Azzam, jangan diam aja. Ayo sini.” Ucapnya sembari berdiri di tengah jalan.
“Jangan terlalu tengah, Sya. Nanti ada motor lewat.”
Sejenak ia menoleh ke kanan dan ke kiri. “Iya juga, ya. Tapi aman kok. Jalanannya sepi.”
“Sini, Sya. Jangan terlalu ke sana.”
“Iya.”
Savierra berjalan mendekat ke arahku. Ia berjalan perlahan-lahan karena bajunya yang sudah basah kuyup itu sedikit menyulitkannya untuk berjalan. Ketika sudah dekat denganku, aku dibuat terkejut sebab Savierra tidak sengaja menginjak ujung gamisnya sendiri. Alhasil, ia hampir terjatuh. Beruntungnya, aku segera menopang tubuhnya.
Dalam dekapanku, di bawah hujan dan langit malam pada saat itu, aku menatap manik matanya begitu lekat. Cantik sekali. Bahagianya bisa ku rasakan juga. Senyumnya bisa ku lihat meski ia memakai kain suci untuk menutupi sebagian wajahnya.
Setelah beberapa saat, ia kembali berdiri. Jujur, saat ia hampir terjatuh tadi, jantungku sudah berdegup sangat kencang. Aku merasa sangat khawatir. Tapi beruntungnya, ternyata hal itu adalah perantara Allah agar aku dan Savierra semakin dekat. Allah, rencana-Mu memang di luar dugaan.
“Kamu nggak apa-apa, Sya?”
“Nggak apa-apa.”
“Kalau jalan hati-hati, ya.”
“Maaf, Kak Azzam, aku ceroboh banget.”
“Nggak apa-apa. Lain kali hati-hati aja. Khawatir jatuh, sayang.”
“I-iya.”
“Main hujan lagi?”
“Iya dong. Hehehe.”
“Kamu masih belum puas, ya?”
“Baru juga sebentar, Kak Azzam. Ayo, main hujan-hujan lagi.”
“Iya iya. Ini juga udah di bawah hujan, nih. Tuh, udah basah kuyup semua.”
“Hahaha, iya.”
Aku melihat Savierra yang benar-benar bahagia malam ini. Tawa renyahnya seakan tidak membawa beban apapun. Padahal aku tau, di balik pertanyaannya yang ia tanyakan padaku setiap hari tentang keadaanku, dia juga merasakan lelah yang sama. Dia juga merasakan letih yang sama. Namun dia selalu menerbitkan senyum terbaiknya kala bersama denganku. Ah, entahlah, aku sangat mencintainya.
“Kak Azzam.”
“Iya?”
“Kak Azzam kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa, Sya.”
“Beneran?”
“Iya. Kamu kedinginan, ya? Apa kita pulang sekarang?”
“Sebentar lagi, ya.”
“Tadi kata kamu main hujannya sebentar aja loh.”
“Iya. Mana tau kalau ternyata seseru ini. Hahaha.”
“Kalau sakit nanti gimana? Pulang, ya.”
“In Syaa Allah enggak. Sebentar lagi, Kak Azzam.”
“Iya udah.”
“Kak Azzam yang kedinginan, ya? Em, kalau kedinginan ya udah pulang sekarang aja nggak apa-apa.”
“Enggak kok. Biasa aja, aku malah khawatir kamu yang kedinginan.”
“Beneran?”
“Iya, Sya. Kamu masih mau main hujan lebih lama, nih? Nanti sakit, Sya.”
“Em, pulang aja deh, ya.”
“Yakin?”
“Iya deh. Takut malah Kak Azzam yang sakit. Mana Kak Azzam akhir-akhir ini sibuk banget, nggak tega kalau lihat Kak Azzam sakit.”
Aku tersenyum mendengarnya. Savierraku sepeduli itu terhadapku. Layaknya Nabi Muhammad, Savierra sudah seperti Aisyahku. Dia yang begitu lucu tingkahnya. Dia yang terkadang masih seperti anak-anak, tapi pemikirannya begitu dewasa dalam menyikapi setiap hal. Ah Allah, sepertinya sebentar tak bersamanya akan membuat hariku terasa kurang.
“In Syaa Allah nggak akan kenapa-kenapa, Sya. Asal sama kamu aja.”
“Hah?”
“Kenapa? Pura-pura nggak denger? Hm?”
“Em, e-emang nggak denger kok. Em, k-karena hujan ini. Agak nggak jelas suara Kak Azzam.”
“Masa, sih? Aku denger-denger aja suara kamu.”
“Em, ya-ya nggak tau.”
“Kamu akhir-akhir ini sering gugup gitu ya, Sya? Sering grogi gitu.”
“Hah? E-enggak. Kata siapa?”
“Kata aku barusan.”
“Ada-ada aja.”
“Hm, masa udah sekitar dua minggu masih gugup sih, Sya?”
“G-gugup gimana maksudnya?”
“Ya kayak kamu gini. Kamu masih malu kalau deket sama aku, ya?”
Ah, aku senang rasanya dapat menggodanya. Apalagi di bawah hujan seperti ini. Wajahnya kelihatan sangat lucu. Mungkin ia masih malu-malu. Dan saat ini ia sedang mencari alibi yang tepat untuk mengelak pernyataanku tentang dirinya. Ya, mungkin seperti itu. Aku cukup tersenyum menatap dirinya. Entah mengapa, bahagiaku tak pernah habis kala bersama dengannya. Mungkin, kata orang terlalu berlebihan jika aku berkata demikian. Tapi, tidak semua dari mereka faham akan perasaan semacam ini. Yang pasti, hatiku selalu mendesirkan cinta setiap kali bersama dengan Savierra.
“Kenapa diem, Sya? Nggak mau jawab pertanyaan aku?”
“Em, Kak Azzam kita pulang sekarang, yuk.”
“Kenapa? Tadi katanya nggak mau pulang dulu. Kalau gitu jawab pertanyaan aku dulu, sayang.”
Aku sedikit mendekatkan langkahku padanya. Kini, jarak antara aku dan dia hanya sedikit. Aku menatap lekat matanya. “Nggak apa-apa, Sya. Nggak perlu dijawab. Aku nggak maksa. Kalaupun kamu masih malu-malu pun nggak masalah. Nanti juga terbiasa. Ya, kan?”
“I-iya, Kak Azzam.”
“Udah seneng hujan-hujan malam ini?”
Ia tersenyum dan mengangguk. “Seneng banget. Terima kasih.”
“Sama-sama, sayang.”
Tanpa ku sangka, Savierra memelukku. Ah, apa-apaan ini? Di tengah jalan seperti inikah? Tapi, sedang tidak ada orang juga. Baiklah, aku membalas pelukannya. Saat ini aku berharap, semoga Savierra tidak mendengar degup jantungku yang sedang berpacu kencang. Ah, dasar aku. Bisa-bisanya memojokkan Savierra dengan pertanyaan seperti tadi, sedangkan aku sendiri masih merasakan gugup seperti ini saat sedang dekat dengan dirinya. Aku mengusap lembut kepalanya. Sesekali juga mengecupnya.
“Ya udah, sekarang masih mau hujan-hujan terus?” Tanyaku padanya setelah ia melepas pelukannya.
“Em, pulang deh, Kak Azzam. Takut orang rumah jadi khawatir. Udah malem juga.”
“Siap. Yuk, pulang.”
“Yuk.”
Di bawah hujan malam ini, aku menggenggam tangannya dan berjalan berdua menyusuri jalanan komplek. Malam ini bahagiaku seakan sempurna. Cukup berdua dengannya, sudah bisa menambah pahala sebab aku dan dia sudah terikat dengan ikatan yang halal dan suci. Masyaa Allah.
“Kak Azzam.”
“Ya?”
“Kayak anak kecil, ya? Main hujan-hujan kayak gini. Hehehe.”
“Nggak apa-apalah. Asal kamu seneng aja.”
“Aku kayak anak kecil, ya?”
“Mau gimanapun kamu, nggak masalah buat aku, Sya. Toh kalaupun kamu kayak anak kecil, hati aku bilangnya kamu itu seakan Aisyahku.”
“Maksudnya?”
Aku mengacak gemas pucuk kepalanya. Dengan polosnya, ia mengedip-edipkan matanya yang terkena tetesan air hujan. Menggemaskan sekali Aisyahku ini. “Kita pulang dulu, ya. Em, nanti setelah tahajud aku cerita sama kamu deh. Setelah sampai rumah nanti, langsung tidur aja biar nggak sakit.”
Aku melihat Savierra yang mengangguk paham. Kemudian, pandangannya beralih ke jalan raya. Aku pun sama. Sembari menyusuri jalan, sembari mengucap syukur atas nikmat Allah yang turun sampai pada saat ini. Hingga akhirnya, aku sampai di rumah. Kedatanganku dengan Savierra disambut oleh umi dengan raut wajah heran.
“Assalamualaikum.” Ucapku dan Savierra setelah tiba di halaman rumah.
“Waalaikumussalam. Dari mana aj--- Astaghfirullah, kalian hujan-hujan?” Seloroh umi.
Aku dan Savierra hanya mengangguk dan tersenyum saja menjawabnya.
“Ya Allah, umi kira tadi kalian pergi kemana loh karena nggak pulang-pulang. Hujannya lebat banget. Umi kira kalian berteduh, eh ternyata malah hujan-hujan.”
“Hehehe, maaf, Umi. Tadi memang kita niatnya cuma jalan-jalan sebentar doang sambil cari pedagang angsle ronde.” Jelasku pada umi.
“Terus?”
“Pas kita jalan udah gerimis, Umi. Terus kita cepet-cepet ke tempat pedagang angsle yang ada. Ya terus kita minum angsle di sana deh.”
“Terus kenapa sampai hujan-hujan basah kuyup begini? Kalian nggak neduh emangnya?”
“Hehehe, maaf ya, Umi. Tadi Kak Azzam udah ajak pulang. Tapi Savierranya keasikan main hujan.” Jawab Savierra.
“Iya. Tapi yang ngajak hujan-hujan Azzam kok, Umi. Cuman ya kelamaan aja, hehehe.”
“Ya Allah, kayak anak kecil aja kalian berdua ini. Dari tadi abi nanyain terus karena kalian nggak pulang-pulang. Umi khawatir.”
“Maaf, Umi. Lain kali nggak lagi deh, hehehe.” Jawabku.
“Ya udah, kalian cepet masuk deh. Buruan dibilas badannya. Ganti baju biar nggak sakit.”
“Iya, Umi.”
Aku dan Savierra pun masuk ke dalam rumah dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
• Flashback off •
“Hahaha, umi panik banget ya kayanya?” Tanya Savierra padaku.
“Iya, Sya. Kayak kaget gitu pas lihat kita pulang basah-basahan.”
“Hahaha, Masyaa Allah, seru banget malam ini.”
Aku tersenyum mendengarnya. “Alhamdulillah. Semoga malam-malam berikutnya juga, ya.”
“Aamiin ya Mujibassailin.”
Aku dan Savierra tersenyum. Memang benar, malam ini, berbagai kombinasi rasa bahagia itu ada. Allah turunkan bahagia itu bersama dengan derasnya hujan.
“Kak Azzam.”
“Ya?”
“Tadi katanya, Kak Azzam mau cerita sesuatu setelah sholat tahajud.”
“Oh iya. Kamu mau diceritain?”
“Mau.”
“Em, kita beresin alat sholatnya dulu, ya. Nanti aku ceritain di kasur sambil tiduran.”
“Iya.”
Setelah beberapa saat membereskan alat sholat, kini, aku dan Savierra sudah berada di atas tempat tidur. Beberapa kali setelah aku tidur di pangkuannya, kini Savierra lah yang tidur di pangkuanku. Allah, semenyenangkan ini rasanya pacaran setelah menikah. Aku membelai surai hitamnya yang panjang nan wangi. Harumnya adalah aroma khas dari dirinya dan sudah menjadi kesukaanku.
“Mau cerita apa, Kak Azzam?”
“Kamu lupa aku mau cerita apa?”
“Em, seingat aku, tadi Kak Azzam bilang bilang kalau Kak Azzam ibaratkan aku seperti Aisyahnya Kak Azzam. Kak Azzam punya Aisyah? Aisyah siapa?”
“Eh, bentar dulu, Sya. Bukan gitu maksudnya.”
“Terus?”
“Gini, kamu ingat siapa istri Rasulullah setelah Khadijah binti Khuwailid dan Saudah binti Zam’ah?”
“Ingat. Aisyah binti Abu Bakar.”
“Nah, itu maksud aku.”
“Hah? Gimana-gimana?”
“Gini, dulu, Rasulullah menikahi Sayyidah Aisyah dengan selisih usia yang terpaut sangat jauh, Sya. Bahkan, ada riwayat yang mengatakan bahwa Sayyidah Aisyah adalah satu-satunya istri Rasulullah yang masih perawan. Karena semua istri Rasulullah itu janda.”
“Kamu tau kenapa aku ibaratkan kamu seperti Sayyidah Aisyah?”
“Kenapa?”
“Selain karena kamu lebih muda dari aku, ya meskipun cuma selisih beberapa bulan aja, tapi sifat kamu yang cerdas, lemah lembut, penuh kasih sayang, itu seakan meneladani sifat Sayyidah Aisyah.”
“Karena itu aku seakan jadi Aisyahnya Kak Azzam?”
“Iya. Aku rasa, kamu banyak meneladani sifat beliau.”
“Tapi, aku nggak sebaik itu. Bahkan ya nggak semulia itu juga.”
“Ya kan aku bilang meneladani, Sya. Kamu memang bukan Sayyidah Aisyah. Kalau Sayyidah Aisyah itu ya Aisyahnya Rasulullah. Kalau kamu ya Aisyahku. Setidaknya, bisa meneladani sifat istri Rasulullah, In Syaa Allah bisa menggiring kamu untuk menjadi penghuni surga bersama para istri Rasulullah.”
“Masyaa Allah, Kak Azzam, aku pengen nangis jadinya.”
“Jangan nangis lah, sayang. Kenapa harus nangis?”
“Aku bener-bener merasa dimuliakan sama Kak Azzam. Kalau Kak Azzam anggap aku seperti Aisyah, bukan nggak mungkin aku anggap Kak Azzam sebagai Muhammadku.”
Aku tersenyum mendengarnya. Jujur, aku tersanjung tentu saja. Allah, Savierra benar-benar membuatku jatuh cinta semakin dalam. “Nggak ada yang bisa setara dengan Rasulullah, Sya.”
“Iya. Rasulullah memang nggak akan pernah ada tandingannya dalam hal apapun. Tapi seenggaknya, Kak Azzam sudah mencoba meneladani beberapa sifat Rasulullah. Rasulullah Muhammad itu nabiku. Beliau Muhammadnya Sayyidah Aisyah. Sedangkan Kak Azzam itu suamiku, Kak Azzam itu seakan Muhammadku.”
Tanganku yang masih mengusap lembut rambut panjangnya, tiba-tiba diraih olehnya dan diciumnya. Allah, terima kasih telah mendesirkan rasa cinta ini dalam hatiku. Aku tidak merasa rugi sedikitpun perihal mencintainya.
“Kamu tau, Sya, Rasulullah punya panggilan khusus untuk Sayyidah Aisyah. Kamu tau apa?”
“Tau. Khumairah, kan? Artinya, yang kemerah-merahan. Itu karena kulit Sayyidah Aisyah yang putih sampai kemerah-merahan.”
“Iya. Masyaa Allah. Aku kalau lihat kamu seakan inget akan panggilan Rasulullah terhadap Sayyidah Aisyah itu.”
“Kenapa gitu?”
“Pipi kamu kan sering kemerah-merahan gitu. Jadi, kamu juga khumairahku.”
“Kak Azzam mau panggil aku kayak gitu juga?”
“Terserah, semaunya kamu.”
“Kak Azzam panggil aku ‘Sya’ aja aku udah seneng kok. Itu juga kan panggilan khusus dari Kak Azzam.”
Aku tersenyum mendengarnya. Allah, kesederhanaannya lagi-lagi membuat aku jatuh hati berkali-kali. “Masyaa Allah, Sya.”
Bagaimana aku tidak mengucap syukur pada Allah untuk setiap detiknya jika setiap detik tersebut Allah selalu menghadirkan rasa bahagia? Dan yang aku sadari, sumber bahagiaku sekarang adalah dia. Ya, Savierra. Dia Aisyahku. Dia khumairahku. Dia yang membuatku bersyukur berkali-kali sebab Allah selalu menghadirkan bahagia lewat perantara dirinya. Allah, aku sangat mencintainya.
¤¤¤¤