*TCMS - DERAI HUJAN [2]*
Aku baru saja selesai membantu umi membereskan ruang makan dan dapur. Lali aku pergi ke kamar untuk menemui Azzam. Di jam seperti ini, biasanya Azzam sedang mengerjakan sesuatu. Baik mengecek berkas-berkas kantor, atau mengerjakan tugas kampus sekalipun. Tapi saat aku sudah masuk ke kamar, ternyata Azzam sedang tidak mengerjakan apa-apa. Dia sedang duduk di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Saat aku berjalan mendekat ke arahnya, ia menoleh kepadaku dan membenarkan posisi duduknya.
“Sya, sini.”
Aku pun duduk di sampingnya. “Tumben.”
“Tumben apa?”
“Biasanya kalau nggak ngecek berkas ya ngerjain tugas kampus. Kak Azzam lagi senggang ya hari ini?”
“Em, sebenernya sih ada aja, Sya. Cuman Alhamdulillah udah selesai. Kan kemarin malem udah aku kerjain semua sekalian.”
“Oh, kemaren kerjaan sebanyak itu ternyata tugas yang buat dikerjain hari ini juga?”
“Iya. Ya sekalian aja aku kerjain. Biar hari ini agak santai.”
“Kak Azzam pasti capek banget, ya?”
“Em, nggak begitu capek. Nggak seberapa. Masih aman, Alhamdulillah. Hehehe.”
“Tapi Kak Azzam kelihatan capek banget.”
“Ya kelihatannya doang, Sya. Aslinya mah Alhamdulillah nggak terlalu capek juga.”
“Lain kali, jangan terlalu capek, ya. Takutnya malah sakit.”
Azzam tersenyum menatapku. Kemudian ia mengacak-acak rambutku. “Iya, Sya. Tenang aja, ya.”
Aku mengangguk menanggapi ucapannya. Beberapa saat kemudian, ku lihat dia meletakkan ponselnya. Lalu beralih duduk menghadap ke arahku.
“Sya, jalan-jalan keluar, yuk.”
“Hah? Malam-malam gini?”
“Iya. Belum malem banget kok ini, Sya.”
“Mau, sih. Tapi mau kemana?”
“Jalan-jalan sekitar komplek sini aja kok. Siapa tau ada jual angsle ronde gitu. Kayanya enak deh, Sya. Hawanya juga agak dingin kayanya malem ini.”
“Ya udah, ayo-ayo aja.”
“Kamu siap-siap gih.”
“Iya.”
Ada-ada saja. Azzam mengajakku jalan-jalan di komplek malam-malam seperti ini. Memang belum terlalu malam. Masih sekitar pukul delapan. Tapi tidak biasanya Azzam mengajakku jalan-jalan di jam seperti ini. Biasanya mungkin di pagi hari. Tapi terlepas dari itu semua, aku merasa sangat senang. Setelah beberapa saat bersiap-siap, akhirnya aku dan Azzam pun berangkat.
“Masih jam delapan kok udah agak sepi ya, Sya?” Tanyanya sembari menggenggam tanganku.
“Ya udah malem, Kak Azzam. Mungkin udah pada mau tidur.”
“Belum malem banget sih padahal.”
“Hehehe, Kak Azzam tuh emang beda. Kalau Kak Azzam mah tidurnya emang malem banget. Sampai jam delapan aja belum dibilang malem banget.”
“Ya emang beneran belum malem banget, Sya. Jam segini biasanya sih waktunya lihat tv atau santai bareng keluarga gitu. Kalau tidur mah nanti jam 9 atau jam 10.”
“Ya mungkin mereka lagi santai sama keluarga di dalem rumah aja.”
“Hm, mungkin aja.”
“Em, Kak Azzam.”
“Hm?”
“Jalan-jalan gini enak juga ya ternyata.”
“Enak gimana?”
“Gimana, ya? Kayak seru aja gitu. Sepi, adem, nyaman banget intinya.”
“Pokoknya nggak jalan sendirian, Sya. Bahaya kalau sendirian mah.”
“Kan sama Kak Azzam.”
Azzam tersenyum menatapku. Kemudian, ia mengecup telapak tanganku yang digenggamnya. Aku dan Azzam terus berjalan menyusuri komplek. Tapi di tengah-tengah jalan, tiba-tiba hujan mengguyur deras begitu saja. Alhasil, aku dan Azzam segera berlari mencari tempat untuk meneduh. Kebetulan, ada satu ruko yang tutup yang di depannya terdapat pedagang kaki lima yang menjual angsle. Aku dan Azzam pun segera mendekat ke sana.
“Duduk, Sya.”
“Iya.”
“Dingin, ya? Minum angsle dulu, ya. Biar hangat.”
“I-iya.” Jawabku gemetar. Malam ini hawanya memang sedang dingin. Ditambah lagi, saat ini sedang hujan. Bajuku dan baju Azzam sudah basah sebagian.
Azzam pun memesan dua angsle ronde pada pedagang kaki lima tersebut. Hitung-hitung, menambah rezeki untuk penjualnya juga. Jujur saja, aku sering kali tidak tega jika melihat orang yang berdagang namun dagangannya sedang sepi. Begitupun dengan Azzam.
“Dingin banget ya, Sya?”
“Hm? I-iya lumayan.”
Azzam segera melepas jaketnya dan memakaikannya padaku. Kini, ia hanya memakai kaos lengan panjangnya saja.
“Kak Azzam kedinginan juga. Nggak apa-apa, jaketnya Kak Azzam yang pakai aja, ya.”
“Ya jangan, Sya. Udah, kamu pakai aja. Nanti sakit. Aku udah biasa kayak gini.”
“Beneran?”
“Iya. Sini, tangan kamu aku tiup biar hangat.”
Azzam menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sebelum akhirnya diberinya tiupan hangat dari nafasnya. Kemudian, ia genggamkan telapak tangannya ke telapak tanganku. Begitu taangannya menyentuh tanganku, benar saja bahwa aku merasakan kehangatan yang nyaman dari dirinya. Sesekali ia langsung meniup tangannya agar tetap hangat. Tanganku dan tangannya saling menggenggam dan saling memberi kehangatan. Lalu ia tersenyum menatapku.
Tak lama kemudian, angsle ronde pesanan Azzam siap tersaji. Aku dan Azzam pun segera menikmatinya.
¤¤¤¤
Seusai menikmati hangatnya angsle ronde, aku dan Azzam masih berdiam di tempat yang sama sebab hujan juga masih turun deras.
“Kak Azzam, gimana ini? Makin deres aja hujannya.” Ucapku.
Namun, bukannya menjawab pertanyaanku, Azzam malam terdiam sembari menatapku. Ia tersenyum sembari sesekali melihat sekitar.
“Kenapa?” Tanyaku padanya.
“Sya, kita hujan-hujan aja, yuk.”
“Hah?”
“Iya, hujan-hujan. Seru loh.”
“Enggak ah. Nanti Kak Azzam sakit. Besok kan harus ke kantor lagi.”
“In Syaa Allah enggak, Sya. Yuk, sini.”
Azzam menarikku menuju jalanan yang diguyur hujan. Tak butuh waktu lama, kini aku dan Azzam sudah basah kuyup. Di bawah derai hujan malam ini, aku melihat wajah Azzam yang begitu bahagia menikmati setiap luruhnya hujan.
“Kamu bisa nafas, Sya?” Tanyanya padaku.
“Bisa.”
“Seru kan main hujan-hujan?”
Aku tersenyum. “Seru banget.”
Jalanan sudah sangat sepi. Bahkan bisa dibilang, hanya tersisa aku dan Azzam saja. Aku benar-benar merasa seakan hanya berdua saja dengan Azzam di dunia ini. Ah, intinya aku sangat senang.”
“Jangan lama-lama ya, Kak Azzam. Nanti sakit.”
“Iya. Kamu kedinginan, Sya?”
“Sedikit, tapi ini seru banget.”
“Hahaha.”
Aku dan Azzam bermain bersama hujan malam ini. Terlihat seperti anak kecil. Tapi ini memang benar-benar menyenangkan. Aku dan Azzam terus tertawa di bawah derai hujan. Jalanan memang sudah benar-benar sepi. Ini sangat menyenangkan.
Beberapa saat kemudian, Azzam berjalan mendekat ke arahku. Kemudian ia menangkup wajahku.
“Sya.” Panggilnya lirih.
“Iya?”
“Aku sayang kamu.”
Sedetik kemudian, ia memelukku. Di bawah derai hujan malam ini, Azzam mengatakan bahwa ia menyayangiku. Allah, aku juga sangat menyayanginya. Aku membalas pelukannya. Pelukannya begitu hangat meski sejatinya aku dan dia sedang berada di bawah hujan yang membawa hawa dingin. Cintanya lah yang berhasil menghangatkan tubuhku.
“Uhibbuki fillah, Sya.” Ucapnya kemudian sembari mencium pucuk kepalaku.
Malam ini, sungguh malam yang sangat membahagiakan. Malam yang sangat indah. Nampaknya, alam turut merasakan bahagiaku. Alam mengizinkan hujan untuk turun dan berpeluk mesra bersama bumi. Hujan tidak selalu berarti air langit yang sedang bersedih. Tapi hujan juga berarti air langit yang sedang rindu pada bumi.
¤¤¤¤