*TCMS - DERAI HUJAN*
Savierra POV
Tidak ada hari tanpa senyum sejak aku dan dia sudah terikat dalam ikatan suci. Entah mengapa di setiap harinya, hatiku selalu merasakan sesuatu. Sebuah desiran rasa bahagia yang disebabkan aku dapat melihat dirinya sebagai orang pertama yang ku temui setiap kali aku membuka mata untuk menyambut mentari.
Usai shubuh tadi, aku melihat Azzam tertidur lagi di atas tempat tidur. Ku lihat di sisi lain, yakni di meja kerjanya, terdapat beberapa tumpukan kertas yang cukup banyak. Ah Allah, Azzamku benar-benar lelah sepertinya. Lantas, aku pun menghampirinya dan berdiam di sampingnya.
Dalam tidurnya, ku lihat matanya yang terpejam itu. Begitu manis, begitu tampan, begitu rupawan. Aku tersenyum sembari menatap wajahnya. Ah, jika sudah seperti ini, jatuhnya bukan dosa. Tapi pahala. Sebab yang ku tatap adalah wajah imamku. Wajah Azzam, suamiku. Wajah Azzam begitu teduh meski ku tatap saat ia sedang tertidur.
Entahlah, aku tidak bisa menyurutkan senyumku. Perlahan, aku membelai pipinya. Lalu aku mengusapnya dengan sangat lembut supaya dia tidak terbangun. Beberapa hari yang lalu, dia mengajakku melihat senja dan memberitahu senja bahwa aku dan dia sudah menyatu. Matanya yang suka melihat senja itu kini sedang tertutup rapat. Nampak lelah sekali dia. Bahkan saat sholat shubuh tadi, matanya kelihatan sayu. Alhamdulillahnya, Azzamku tidak sampai jatuh sakit seperti beberapa tempo lalu.
Aku masih mengusap pipinya dengan lembut sembari tersenyum. Masyaa Allah, Azzamku sangat tampan ternyata. Pantas saja waktu dulu di pesantren, banyak akhwat yang menyukainya. Aku pun beruntung bisa menyukainya. Lebih beruntungnya lagi, dia juga menyukaiku. Maha Besar Allah yang telah menitipkan rasa suka itu dalam hatiku dan hati Azzam.
Aku menopang kepalaku dengan satu tangan. Sedangkan tanganku yang lain ku gunakan untuk menggenggam tangan Azzam. Sesekali aku mengecup tangannya. Kemudian ku tersenyum lagi memerhatikan wajahnya yang begitu manis meskipun ia sedang tertidur. Aku tidak tau mengapa aku begitu mencintainya sampai saat ini. Ku rasa, bukan hanya karena kecintaannya pada Allah saja. Tapi karena sifat lemah lembutnya pada wanita juga. Terbukti betapa teduh wajahnya, betapa teduh matanya kala ia tertidur seperti ini. Ah Allah, entah sudah berapa kali aku mengatakan kalimat ini, bahwa aku sangat mencintainya.
Dengan masih menatap wajah tampannya sembari tersenyum, tak ku sangka tiba-tiba Azzam membuka matanya perlahan-lahan. Ia mendapati diriku yang sedang termenung menatap dirinya sembari tersenyum. Ah, harus bagaimana aku sekarang? Azzam pasti tau jika aku sedang memerhatikan dirinya sedari tadi. Sembari mengerjap-erjapkan matanya, ia tersenyum padaku. Jantungku kembali berdegup sangat kencang.
“Sya.”
“I-iya?”
“Dari tadi kamu lihatin aku tidur?”
“E-em, a-aku, aku cuma---“
“Kamu lihatin sambil senyum-senyum, Sya.”
“Hah? E-enggak ih.”
“Orang aku lihat sekilas tadi kamu senyum-senyum sambil lihatin aku.”
“Em, Kak Azzam salah lihat kali.”
“Enggak sih aku rasa. Orang tadi jelas banget.”
“E-enggak. Salah lihat mungkin.”
“Kamu kenapa, Sya?”
“Ke-kenapa apa?”
“Kamu suka lihatin aku pas aku lagi tidur, ya?”
Ah, benar saja. Ternyata Azzam melihatku yang yang sedang tersenyum sembari memerhatikannya tidur tadi. Aku harus bagaimana sekarang? Jujur, aku benar-benar malu. Pasti pipiku memerah lagi saat ini. Aku gugup sekali di depan Azzam. Sedangkan yang ku lihat, Azzam malah tersenyum kepadaku.
“Kenapa, Sya? Aku aneh ya kalau tidur?”
“E-enggak kok. Biasa aja.”
“Masa? Ganteng, ya?”
“Hah?”
“Aku kalau tidur ganteng, kan?”
“Em, i-iya lah ganteng.”
“Oh ya?”
“Ya iya. Emang udah dasarnya ganteng. Mau tidur juga tetep ganteng.”
“Oh, kamu bilang aku ganteng gitu, ya?”
“Ih, Kak Azzam kebiasaan mancing-mancing nih.”
“Mancing-mancing apa sih, Sya? Nggak ada yang mancing-mancing.”
“Kak Azzam sengaja mancing-mancing aku supaya aku bilang kalau Kak Azzam ganteng.”
“Lah, emang aku ganteng, kan?”
“I-iya deh iya.”
“Bilang ganteng sama suami sendiri aja gengsi.”
“Apaan, sih? Orang biasa aja.”
“Bohong.”
“Ih, ya udah kalau nggak percaya.”
“Orang pipi kamu merah lagi.”
Ah, aku lupa. Aku sudah menduga jika pipiku akan memerah lagi jika Azzam sudah semanis ini lagi denganku. Mau mengelak bagaimanapun, Azzam sudah tau jika aku sedang malu. Sontak aku memegang kedua pipiku. Kemudian aku melihat Azzam yang tertawa lirih menatapku. Lagi-lagi aku kebingungan harus bersikap seperti apa jika sudah seperti ini.
“Panas pipinya?”
“Hah?”
“Kenapa? Lagi malu ya kamu?”
“E-em, e-enggak.”
“Ya udah deh terserah. Kamunya mengelak terus. Mau nggak mau aku harus ngalah. Nggak apa-apa deh.”
Setelah itu, Azzam membenarkan duduknya. Dia juga sempat merenggangkan otot-ototnya sebentar setelah bangun tidur. Beberapa menit kemudian, ia bersiap turun dari tempat tidur.
“Aku mandi dulu ya, Sya.”
“Iya.”
“Ah, aku ketiduran tadi. Jadi nggak bisa sholat isyroq, dhuha, sama isti’adzah di awal waktu.”
“Nggak apa-apa, Kak Azzam. Waktunya masih ada kok.”
“Kamu udah sholat duluan, ya?”
“Belum. Jamaah sama Kak Azzam aja.”
Azzam tersenyum menatapku. Lagi-lagi aku dibuat lemah oleh tatapannya. Beberapa detik kemudian, dia mendekatkan wajahnya padaku. Kemudian dia mencium keningku begitu lama. Ah, aku sangat menyukai saat-saat ini.
“Shalihahku,”
Aku tersenyum mendengarnya. Dia, benar-benar penyemangat hari-hariku, penyemangat hijrahku, penyemangatku untuk selalu memperbaiki diri. Dia selalu menyebutku sebagai shalihahnya. Wanita mana yang tidak senang jika diperlakukan layaknya seorang ratu oleh lelakinya. Allah, Azzamku begitu lembut hatinya. Dia begitu penyayang. Hingga aku juga sepenyayang itu terhadapnya.
“Aku ke kamar mandi dulu, ya.” Ucapnya kemudian.
“Iya. Aku siapin sajadah sama baju Kak Azzam.”
“Terima kasih, sayang.”
Lagi-lagi, aku tersenyum. “Sama-sama.”
Setelah itu, Azzam pun turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan aku mengambil dua sajadah serta menyiapkan baju koko untuk Azzam. Tak lupa juga aku menyiapkan mukenahku. Aku menatanya begitu rapi sesuai shaf imam dan makmum yang menghadap kiblat. Baru setelah itu, aku menunggu Azzam sampai ia keluar dari kamar mandi.
Tak lama kemudian, benar saja bahwa Azzam sudah kelihatan segar saat keluar dari kamar mandi. Azzam memakai sarung hitam dan kaos polos putih. Ia berjalan mendekati tempat tidur dan meraih baju kokonya. Sampai akhirnya ia memakainya. Aku terpaku melihat Azzam. Rambutnya yang masih basah karena air wudhu begitu menambah kesan rupawan. Apalagi saat ia memakai peci putihnya sembari tersenyum ke arahku. Allah, rasanya aku ingin memberhentikan waktu sejenak. Aku ingin menatap Azzam lebih lama. Dia yang selalu menyebutku sebagai wanita surganya, kini aku benar-benar bisa melihat aura surga juga di matanya.
“Sya.”
“Hah, Astaghfirullahal’adzim.”
Lamunanku terbuyarkan oleh panggilannya. Azzam nampak mengernyitkan dahinya. Realitanya aku tidak benar-benar berhasil menghentikan waktu. Tapi rasanya, aku sudah menatapnya begitu lama hingga aku melamun dan disadarkan oleh dirinya.
“Kamu kenapa, Sya?”
“A-aku nggak apa-apa.”
“Aku ngagetin kamu, ya?”
“E-enggak kok. A-aku lagi ngelamun aja tadi.”
“Beneran?”
“I-iya. Ya udah, aku ke kamar mandi dulu.”
“Iya.”
Lantas, untuk mengurangi rasa gugupku di depan Azzam, aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Kemudian aku menutup pintunya rapat-rapat. Di sana, aku menyandarkan tubuhku pada dinding. Lalu aku memegang dadaku. Degupan itu masih sama kencang seperti beberapa detik yang lalu saat masih berada di hadapan Azzam.
“Aduh, kenapa deg-degan banget rasanya lihat Kak Azzam yang kayak gitu?”
“Hah, Kak Azzam kelihatan ganteng banget setiap kali habis mandi sama wudhu.”
“Kalau gini terus bisa-bisa aku jantungan.”
Aku merutuki diriku sendiri di dalam kamar mandi. Lalu aku mencoba menormalkan kembali degup jantungku dengan menarik nafas perlahan lalu membuangnya. Baru setelah itu, aku segera membersihkan diri dan berwudhu.
¤¤¤¤
Saat ini, aku sedang menunggu Azzam pulang dari masjid. Tadi, sejenak setelah ia pulang dari kantor abi, Azzam langsung bersiap-siap untuk menunaikan sholat maghrib berjamah di masjid dekat rumah. Biasanya juga Azzam, abi, dan Vino menunggu waktu sebentar untuk sekalian mengerjakan sholat isya berjamaah di sana. Alhasil, aku masih tidak mempunyai banyak waktu untuk mengobrol dengannya. Satu prinsip yang ku pegang teguh sampai saat ini adalah, ketika aku atau Azzam benar-benar menjaga hubungan dengan Allah dengan taat pada perintah-Nya, maka aku yakin bahwa Allah juga akan menjaga hubunganku dengan Azzam.
Sembari menunggu Azzam pulang, aku membantu umi menyiapkan makan malam. Kebetulan umi juga menunggu abi dan Vino pulang dari masjid juga. Dibantu oleh Tara juga, kini, makan malam hampir siap tersajikan.
“Sav, tadi Azzam pulang jam berapa dari kantor abi?” Tanya umi sembari mengelap piring.
“Sekitar jam 6 kurang, Umi. Mepet banget sama maghrib. Jadi tadi Kak Azzam buru-buru.”
“Oh, makanya tadi umi nggak lihat dia. Tapi berangkat sama abi, kan?”
“Iya, Umi. Mungkin umi belum sempat ketemu aja. Kak Azzamnya juga buru-buru.”
“Iya. Dia sibuk banget ya, Sav?”
“Em, kalau Savierra lihat memang iya, Umi. Di samping banyak kerjaan dari kantor yang harus diurus, ada tugas dari kampusnya Kak Azzam juga.”
“Hah, kasihan anak umi. Jadi sibuk banget begitu. Pasti dia capek banget.”
“Jujur, Savierra juga nggak tega lihat Kak Azzam terlalu memforsir tenaganya, Umi. Savierra kadang juga bantu dikit-dikit. Tapi Kak Azzam yang kadang juga nggak ngebolehin Savierra buat bantu.”
Lalu, umi mengusap bahuku seraya tersenyum menatapku. “Umi beruntung bisa menjadi mertua kamu. Kamu perhatian banget sama anak umi. Umi yakin, In Syaa Allah, Azzam akan selalu bahagia sama kamu, sayang.”
“Masyaa Allah, jangan begitu, Umi. Savierra yang beruntung banget bisa jadi bagian dari keluarga umi. Aamiin ya Mujibassailin. In Syaa Allah, Umi. Bantu doa buat Savierra sama Kak Azzam, ya.”
“Iya. Itu selalu. Kamu tenang aja. Memang akhir-akhir ini, umi juga sering lihat Azzam yang kelihatannya kecapekan. Matanya sayu banget.”
“Iya. Savierra jadi nggak tega, Umi. Kalau shuhuh gitu, kadang Kak Azzam kelihatan lemas banget. Karena pas malemnya banyak yang harus dikerjain.”
“Ya Allah, iya juga ya. Em, kamu coba beli vitamin aja buat Azzam, Sav. Biar menjaga kesehatan tubuhnya dia. Biar nggak sampai sakit.”
“Alhamdulillah udah, Umi. Waktu itu dianterin Kak Azzam beli vitamin. Mungkin memang lagi padat-padatnya. Tapi kata Kak Azzam, seberat apapun pekerjaan kita, In Syaa Allah nanti buahnya juga buat kita. Savierra salut banget sama Kak Azzam.”
“Masyaa Allah. Dari dulu Azzam memang seperti itu, Sav. Kalau udah lagi ambisius nih, bakalan dia kejar mati-matian sampai dapat. Azzam selalu yakin, Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh katanya. Jangankan kamu, umi aja salut banget sama dia.”
“Gitu ya, Umi? Hm, Savierra bener-bener nggak nyangka awalnya kalau Kak Azzam sehusnudzon itu sama Allah. Ya Alhamdulillah, Umi. Memang kita kan harus bersungguh kalau berdoa atau meminta sesuatu sama Allah.”
“Iya. Betul banget. Nah, umi rasa, kamu tau apa yang harus kamu lakukan untuk Azzam, Sav. Umi percaya kamu bisa.”
“In Syaa Allah, Umi. Savierra mau berusaha jadi istri yang baik. Apapun kondisinya, In Syaa Allah Savierra akan selalu ada buat Kak Azzam.”
“Alhamdulillah. Umi seneng, menantu umi shalihah banget.”
Aku tersenyum mendengarnya. Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Azzam. Semua orang di rumah ini menyayangiku sama seperti di rumahku sendiri. Aku sangat bersyukur pada Allah. Allah memang Maha Baik.
Tak beberapa lama setelah makan malam tersaji di meja makan, akhirnya Azzam, abi, dan Vino sudah pulang dari masjid. Sebelum makan malam, Azzam memilih untuk masuk ke kamar terlebih dahulu untuk mengganti baju. Baru setelah itu ia kembali ke ruang makan untuk makan malam bersama.
Saat makan malam pun, kebiasaan di keluarga Azzam hampir sama seperti di rumahku. Sama halnya seperti ayah, abi juga tidak suka jika saat makan, ada yang berbicara. Karena memang makan sambil berbicara tidak diperbolehkan. Alhasil, hanya ada suara dentingan antara sendok, piring, dan garpu hingga makan malam selesai.
¤¤¤¤