*TCMS - DERU NAFAS CINTA*
• Savierra POV •
Hari ini, entah mengapa bahagiaku terasa berkali-kali lipat. Mulai dari matahari yang terbit dari ufuk timur, sampai sebentar lagi matahari itu akan kembali masuk ke tempat peristirahatannya. Setiap detiknya selalu ku lewati bersamanya. Setiap harinya memang sudah seperti itu sejak sekitar dua minggu yang lalu. Tapi entahlah, hari ini rasanya seluruh atensiku berada padanya. Apakah atensinya juga selalu berada padaku? Pada intinya, setiap detiknya selalu ku lewati bersamanya. Dia selalu berada di dekatku.
Allah, sebahagia ini rasanya pacaran setelah menikah. Aku begitu bersyukur pada Allah sebab selama ini Allah menjaga hatiku agar tidak jatuh pada siapa-siapa. Hingga akhirnya hatiku jatuh tepat pada dia yang menjadi jodohku saja. Hatiku begitu lega sebab Allah menjawab doa-doaku tentangnya.
Saat ini, aku baru saja selesai menunaikan sholat ashar berjamaah dengannya. Sebelum ashar tadi, aku sempat bertanya padanya. Apakah ia ingin sholat di masjid atau di rumah saja? Karena selama ini dia selalu menunaikan sholat berjamaah di masjid. Jarang menunaikan di rumah bersamaku. Kecuali sholat isya, saat ia pulang lebih malam dari biasanya. Aku selalu menunggunya untuk menunaikan sholat bersamanya. Juga sholat tahajjud, sholat shubuh, juga masing-masing dua rakaat isyroq, dhuha, dan isti’adzah. Rupanya, ashar kali ini ingin ia tunaikan di rumah bersamaku. Apapun alasannya, baik hatiku maupun hatinya berniat murni ingin menjalankan ibadah pada Allah. Dimanapun tempatnya, asal hanya Allah yang ada dalam hati, maka tidak masalah. Allah, aku bisa melihat cinta di matanya. Cinta itu bisa ada semata-mata hanya karena-Mu yang sudah menitipkan fitrah itu pada hatiku dan hatinya. Allah, terima kasih.
Saat ini, aku sedang membereskan sajadahku dan sajadahnya, sebab kami baru saja selesai melaksanakan sholat ashar berjamaah. Aku belum melepas mukenahku. Aku memilih membereskan sajadah terlebih dahulu. Namun tanpa ku sangka, tiba-tiba Azzam memelukku dari belakang. Sontak aku terkejut. Jujur, aku masih sedikit gugup jika dekat dengan dirinya. Mungkin karena memang pernikahan ini berlangsung belum lama. Jantungku berdegup sangat kencang. Saat ini yang aku harapkan adalah semoga Azzam tidak mendengar degup jantungku itu.
Di samping gugup, justru aku juga senang. Tentu saja aku merasa senang sebab Azzam memperlakukanku dengan penuh cinta. Ah Allah, aku sangat mencintainya. Aku tersenyum tanpa menatapnya. Aku malu jika harus langsung menatapnya. Sungguh, ini mendebarkan. Namun juga menyenangkan.
“Sya.”
“Ya?”
“Kamu belum lepas mukenah aja, wangi rambut kamu bisa aku cium. Tadi habis pakai sampo, kah?”
“Iya. Kebetulan tadi aku keramas.”
“Pantesan.”
“E-emang kenapa? Nggak suka baunya, ya?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Justru aku suka banget sama wangi rambut kamu.”
Mendengarnya, aku tersenyum. Ah Allah, ternyata seromantis ini suamiku. Sudah beberapa kali ia memperlakukanku semanis ini. Aku bisa merasakan hirupan nafasnya begitu dekat. Pelukannya begitu menghangatkan. Begitu nyaman mendekap tubuhku. Aku bisa merasakan bahwa ia menghirup aroma rambutku yang katanya disukainya.
“Kenapa bisa sewangi ini, Sya?”
“T-terlalu wangi, kah?”
“Iya. Masyaa Allah, bau surga.”
Ah Allah, apalagi ini? Berkali-kali dia membuatku melayang dengan kata-katanya. Allah, terima kasih telah mendatangkan fase ini dalam kisah hidupku. Dimana ada seorang lelaki yang begitu mencintaiku setelah ayahku. Dia begitu menyayangiku, serta kerap kali memujiku dengan sebutan ‘wanita beraura surga’. Karena seperti yang diketahui, bahwa ucapan bisa menjadi doa. Aku mengaminkan ucapan-ucapannya itu. Bahkan wangi rambutku pun dibilangnya seperti bau surga. Dia, adalah perantara dari-Mu yang membuatku semakin ingin memperbaiki diri. Dia yang membantuku menjalani masa-masa hijrahku. Dia, Azzamku.
“Jangan terlalu berlebihan, Kak Azzam. Aku masih belum sebaik itu.”
“Tapi kamu memang sebaik itu di mata aku, Sya.”
Lagi-lagi aku tersenyum mendengarnya. “Terima kasih, Kak Azzam.”
“Untuk apa?”
“Setiap kata yang Kak Azzam bilang sama aku, baik itu tentang surga, bahkan tentang wangi rambutku yang Kak Azzam bilang seperti bau surga, ataupun aku yang kata Kak Azzam adalah wanita beraura surga, membuat aku lebih semangat menjalani hijrah. Secara nggak langsung, Kak Azzam selalu bantu aku. Kak Azzam turut andil dalam proses hijrahku. Makasih banyak, ya, Kak Azzam.”
Setelah itu, Azzam mengusap lembut telapak tanganku. Ia semakin memelukku erat. Yang ku rasakan saat ini adalah kenyamanan dan kasih sayang.
“Yang aku ingin memang seperti itu, Sya. Aku ingin mendampingi masa hijrah kamu. Aku ingin menjadi penyemangat untuk hijrah kamu. Aku selalu berdoa sama Allah, semoga aku selalu diberi kesempatan untuk selalu berada di samping kamu, di dekat kamu, menemani kamu, dan menjaga kamu juga.” Ucapnya.
“Aku memang belum pernah ke surga, Sya. Bahkan dengan amalku di dunia yang masih sedikit, aku nggak tau apakah aku bisa masuk di sana atau enggak. Tapi, aku bisa bilang kalau kamu itu wanita yang beraura surga, wangi rambut kamu seperti bau surga, semua itu juga sebagai bentuk doa aku, Sya. Aku berharap kita bisa sama-sama masuk surga. Kita bisa sama-sama mencium bau surga. Aku mau jadi saksi besok di akhirat kalau kamu memang wanita shalihah. Aku bisa jatuh cinta sama kamu karena kamu cinta sama Allah. Karena kamu shalihah dan taat sama Allah.” Ucapnya lagi.
Aku sangat terharu mendengarnya. Dia selalu menyebutku sebagai wanita shalihah. Lantas bukan tidak mungkin bagiku jika aku menyebutnya sebagai lelaki yang shalih. Karena dia memang begitu shalih. Tutur katanya begitu lembut hingga hatiku terenyuh. Suaranya begitu lirih, sangat lembut melewati gendang telingaku. Ah Allah, ingin sekali ku raih surga bersamanya.
“Terima kasih, Kak Azzam. Yang selalu aku sebut dalam doa sekarang adalah aku ingin meraih surga itu sama-sama dengan Kak Azzam. Kita usahakan itu sama-sama, ya.”
“Iya, Sya. Aamiin ya Mujibassailin. In Syaa Allah. Pada dasarnya, memang surga bukan tujuan utama kita beribadah pada Allah. Tapi, kita sebagai makhluknya Allah pasti akan selalu membutuhkan Allah. Karena itu kita beribadah pada Allah. Karena kita selalu butuh Allah, Sya. Karena hidup kita ada pada kendali Allah. Kita jalani hidup kita baik-baik ya, Sya. Supaya Allah selalu ridho sama kita.”
“Iya, Kak Azzam.”
Lantas setelah itu, Azzam membalikkan badanku menjadi menghadapnya. Manik mataku dan manik matanya bertemu pada satu titik. Tatapan yang begitu lekat, yang di dalamnya terdapat cinta dan kasih sayang. Beberapa detik kemudian, wajahnya mendekat. Kecupan hangatnya mendarat begitu lembut di keningku. Aku memejamkan mata. Aku begitu merasakan kasih sayangnya. Aku begitu merasakan perasaan cintanya. Andai dia tau, bahwa aku juga sesayang dan secinta itu pada dirinya.
Setelah beberapa saat, dia menyudahi kecupannya. Dia menatapku sembari tersenyum. Ah, manis sekali senyumnya itu. Sedari dulu memang sudah semanis itu. Jantungku benar-benar berdegup begitu kencang kala netranya menatapku. Tak lama kemudian, ia kembali memelukku. Ia mengusap punggungku dengan begitu lembut. Aku juga bisa merasakan bahwa sesekali ia mengecup pucuk kepalaku. Allah, sebegini hangatnya pelukan Azzamku. Sebegini nyamannya dekapannya.
“Aku sayang kamu, Sya.”
Masyaa Allah, hatiku benar-benar sudah tidak bisa terkondisikan lagi sepertinya. Jantungku sendiri berdegup tak karuan. Aku sangat senang tentu saja mendengar kalimat itu. Sembari membalas pelukannya, aku tersenyum dalam dekapannya. Seorang Azzam yang dulunya sangat dingin terhadap wanita yang bukan mahramnya, kini bisa sehangat ini padaku. Seorang Azzam yang selalu irit bicara, kini bisa selembut ini kala berbicara denganku.
“Aku sayang Kak Azzam juga.”
Azzam mengecup pucuk kepalaku lagi. Setelah beberapa saat, ia melepas pelukannya. Ia mengelus pipiku dengan lembut. Ia menerbitkan senyum manisnya lagi di hadapanku. Membuatku ikut tersenyum juga.
“Kita ke balkon, ya.” Ucapnya.
“Mau lihat senja sekarang?”
“Boleh.”
“Emang udah ada senjanya?
“Mau belum ada pun juga nggak apa-apa. Kita duduk-duduk aja dulu sambil nunggu senja.”
Aku pun tersenyum dan mengangguk mengiyakan ajakannya. “Iya. Aku beresin mukenah dulu, ya.”
“Iya. Aku juga mau ganti baju dulu.”
“Kenapa ganti baju?”
“Ya nggak apa-apa. Baju koko ini kan nanti aku pakai lagi buat sholat maghrib di masjid sama ayah sama Vino. Aku ganti aja dulu.”
“Oh, ya udah. Em, aku ambilin bajunya dulu, ya.”
“Nggak usah, nggak apa-apa. Kamu beresin mukenah kamu aja dulu. Aku bisa ambil baju sendiri, sayang.”
Ah, panggilan itu lagi. Akhir-akhir ini, Azzam sering kali memanggilku dengan panggilan itu. Aku memang menyukainya. Bahkan sangat menyukainya. Hanya saja, jantungku sering kali juga tidak terkontrol degupnya kala Azzam memanggilku dengan sebutan itu.
“I-iya udah. Beneran nggak apa-apa ambil sendiri?”
“Nggak apa-apalah, sayang. Kamu kenapa? Kok gugup?”
“Hah? Em, e-enggak, nggak kenapa-kenapa.”
“Tuh, merah lagi pipinya. Akhir-akhir ini kayanya pipi kamu sering merah gitu loh.”
“M-masa, sih? M-merah, ya? Enggak kok kayanya.”
“Iya kok. Sekarang udah lumayan enggak, sih. Tapi ya masih merah.”
Apa-apaan lagi ini? Kenapa pipiku selalu merah saat Azzam bersikap semanis ini? Ah Allah, bantu aku, aku malu jika harus seperti ini di depan Azzam.
“Em, ya udah terserah Kak Azzam aja lah. A-aku mau beresin mukenah dulu.”
Aku membalikkan badanku dan berniat berjalan sedikit menjauh dari Azzam. Tapi langkahku terhenti kala aku mendengar suaranya lagi.
“Kenapa? Pipinya merah gara-gara malu, ya?” Ucapnya.
“S-siapa bilang? Ada-ada aja.”
“Hehehe, emang iya kali.”
“E-enggak kok.”
“Ya udah, sana beresin mukenahnya. Aku ganti baju dulu. Habis itu langsung ke balkon, ya.”
“I-iya.”
Lantas, aku segera merapikan mukenahku. Melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di tempat alat ibadah. Aku juga menyisir rambutku sebentar. Benar kata Azzam ternyata. Rambutku memang wangi. Karena memang saat mandi tadi, aku juga berkeramas. Setelah menyisir rambut, aku memakai jilbab santaiku. Aku tidak memakai cadar, sebab aku hanya di balkon saja bersama Azzam. Baru setelah itu, aku berjalan menuju balkon dan duduk di kursi yang ada di sana.
Tak lama kemudian, Azzam juga turut duduk di sampingku. Ia tersenyum menatap langit yang mulai dihiasi dengan semburan senja. Azzam memang sesuka itu dengan senja. Bahkan aku pun sama. Masih menyukai senja sampai saat ini. Dan mungkin, selamanya tetap seperti itu.
“Kak Azzam.”
“Iya?”
“Mau aku ambilin teh di bawah?”
“Em, nggak usah deh. Nggak apa-apa. Kamu duduk sini aja.”
“Kalau ada teh kan lebih enak jadinya.”
“Iya. Tapi udah, nggak apa-apa. Nggak ada teh juga nggak masalah, Sya.”
“Iya udah deh.”
Kemudian, aku pun turut menatap langit yang mulai memerah. Aku tersenyum melihatnya. Senja memang sangat indah. Karenanya lah aku dan Azzam sangat menyukainya.
“Sya.”
“Iya?”
“Mataharinya mulai tenggelam pelan-pelan.”
Mendengarnya, aku tersenyum sembari melihat matahari yang mulai menjadi setengah. “Iya. Bagus banget.”
“Senjanya datang lagi, Sya.”
“Masyaa Allah, iya, Kak Azzam.”
“Kamu inget nggak waktu kita di butik, kalau nggak salah dua minggu sebelum nikah. Kita sempat lihat senja bareng lagi di butik.”
“Em, yang habis pesen souvenir tambahan itu, ya?”
“Iya.”
“Iya, aku inget. Kita lihat senja bareng di sana.”
“Aku masih inget, Sya. Aku sempat berharap waktu itu, kalau senjaku dan senjamu akan jadi senja kita suatu saat nanti. Dan saat itu adalah sekarang, Sya. Senjaku dan senjamu sudah menyatu.”
“Jadi senja kita, ya.”
“Iya.”
“Masyaa Allah.”
“Hai, senja, bertemu lagi sama kita di sini.” Ucap Azzam kemudian.
Sejenak aku menoleh dan melihatnya. Ia tersenyum sembari menatap senja. Ia seakan benar-benar berbicara dengan senja. Alhasil, aku pun melakukan hal yang sama.
“Hai, senja. Ini Savierra sama Azzam. Kita ketemu lagi sama senja di sini.”
Kemudian, aku dan Azzam saling menatap dan tersenyum. Azzam meraih tanganku dan digenggamnya. Lalu, atensinya kembali lagi pada senja.
“Senja, aku berhasil menghalalkan dia.” Ucap Azzam sembari menunjukkan genggaman tanganku dan tangannya pada langit dan senja.
“Hehehe, Kak Azzam apa-apaan, sih? Ada-ada aja.”
“Biar senja tau juga, Sya.”
“Kan udah tau senjanya.”
“Nggak apa-apa. Pengen kasih tau lagi.”
“Senja, dulu aku pernah melihat kamu bareng-bareng sama Savierra. Waktu itu, masih ada jarak yang menjadi pemisah di antara aku dan dia. Sekarang, aku bisa lihat kamu lagi bareng-bareng sama Savierra. Dan sekarang, aku bisa lihat kamu sambil menggenggam tangan dia.”
“Hehehe, Kak Azzam kayak lagi ngomong sama senja beneran loh.”
“Senja juga ciptaan Allah, Sya. Aku yakin senja bisa dengar cerita aku. Aku juga yakin kalau sekarang senja lagi senyum sama kita.”
“Oh ya?”
“Iya, In Syaa Allah. Semoga senja juga seneng ya, Sya.”
“Seneng kenapa?”
“Ya seneng karena kita bisa lihat dia bareng-bareng lagi. Lebih-lebih, sekarang kita udah halal.”
Aku tersenyum mendengarnya. “Aamiin. Semoga senja senang juga, ya.”
“Aamiin.”
“Ngomong-ngomong, kenapa kita sama-sama suka sama senja, ya?” Ucapku kemudian.
“Takdir mungkin. Alhamdulillah, sama-sama suka senja, sama-sama saling suka, dan akhirnya jodoh, hehehe.” Jawab Azzam.
“Ih, Kak Azzam mancing-mancing.”
“Mancing-mancing apa?”
“Enggak. Nggak jadi.”
“Kamu kali yang mancing-mancing.”
“Kok aku?”
“Apa kamu mau aku ceritain aja semua kisah kita sama senja? Hm?”
“Nggak usah deh. Panjang kisahnya. Nanti senja capek dengernya. Kasihan.”
“Hahaha, kamu bisa aja, Sya.”
“Hehehe.”
“Tapi, Sya, jujur, aku seneng banget bisa ada sampai di titik ini sama kamu.”
“Sama, Kak Azzam. Aku juga seneng.”
“Hah, Alhamdulillah. Oh iya, Sya, kapan-kapan kita jalan-jalan yuk.”
“Kemana?”
“Em, kamu maunya kemana?”
“Em, kemana aja. Terserah Kak Azzam.”
“Kemana ya kira-kira?”
“Cuman kita berdua?”
“Mau kamu gimana? Berdua aja?”
“Em, aku---”
“Ya udah berdua aja.”
“Loh, kan aku belum jawab.”
“Hehehe. Kamu mau berdua aja emangnya?”
“Nggak tau. Terserah Kak Azzam aja.”
“Hehehe. Ya udah. Berdua aja, ya?”
“Em, i-iya terserah.”
“Nanti deh, aku pikir dulu mau ke mana.”
“Tapi kan, apa Kak Azzam nggak banyak kerjaan?”
“Itu bisa izin, Sya. Sekali-sekali mah nggak apa-apa kata abi.”
“Hehehe, ya udah.”
“Gimana? Seneng mau jalan-jalan?”
“Seneng lah.”
Azzam tersenyum sembari mengacak pucuk kepalaku. Kemudian, ia menatapku begitu dalam. Jemarinya masih tetap mengusap lembut telapak tanganku. Aku pun juga menatap dirinya. Netranya dan netraku bertemu kembali saat ini. Allah, bahkan bersentuhan dengannya dan menatap matanya akan menjadi pahala bagiku dan baginya sebab aku dan dia sudah berada dalam ikatan halal.
Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap deru nafas yang ku lewati bersamanya, tak henti-hentinya ku selipkan ucapan syukur pada Allah. Maha Besar Allah yang telah menyatukan aku dan Azzam dalam ikatan suci ini. Bahagiaku terasa lengkap bersamanya. Aku masih tidak menyangka, bahwa aku akan menjadi miliknya dan dia akan menjadi milikku. Kini, pelabuhan cintaku sudah diisi oleh perahu Azzam. Allah, pekenankanlah cintaku dan cinta Azzam supaya tetap suci atas nama-Mu.
¤¤¤¤
"Pada akhirnya, kisahku dan kisahmu menjadi serupa dengan kisah Fatimah Az-Zahra dan Ali, yakni memendam rasa diam-diam. Kini, harapku sederhana. Semoga kisahku dan kisahmu dapat meneladani kisah Habibillah Rasulillah dengan Sayyidah Aisyah. Yang romansanya menyentuh hati para umatnya."
• Cinta dan Hijrahku Fisabilillah •
¤¤¤¤