Firasat Buruk

1042 คำ
    Setelah beberapa saat, Kartika ke luar dari bilik toilet, tapi dirinya segera disambut oleh gerombolan mahasiswi yang telah menunggunya di dalam toilet wanita itu. Beberapa mahasiswi yang berada di sana bisa dikenali oleh Kartika, mereka adalah teman satu jurusan dengannya. Total ada tujuh mahasiswi berwajah sinis, yang tampak siap menerkam Kartika saat itu juga. Kartika seketika merasakan firasat buruk."A-Aku udah selesai pakai toiletnya, silakan," ucap Kartika dan berniat melangkah pergi.     Namun langkah Kartika segera terhenti, karena mahasiswi yang lain mulai mengelilingi dirinya serta memojokkannya pada pintu bilik kamar kecil yang paling ujung. Kartika panik, ini bukan kali pertama dirinya mendapatkan perlakuan seperti ini. Sejak kecil, Kartika memang menjadi korban bullying. Jadi Kartika telah bisa membaca kelanjutan dari perlakuan mereka. Dan Kartika tak bisa mengharapkan bantuan dari siapa pun kali ini.     "Lo itu harusnya tau diri! Muka jelek, badan minimalis, orang miskin pula," cela seorang mahasiswi yang paling mencolok tampilannya. Mahasiswi itu bernama Sonya. Kartika mengenalinya sebagai pentolan mahasiswi jurusannya. Tidak banyak orang yang mau mengusiknya. Mengapa? Karena Sonya sangat berkuasa dan ditakuti karena ayahnya yang seorang pemilik tambang batu bara yang kaya raya, yang juga menjadi salah satu donatur dari kampus tersebut.     "Ma-maksudnya?" tanya Kartika jelas tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya tengah dimaksudkan oleh Sonya.     "Sonya, gak usah banyak basa-basi. Mending langsung kasih pelajaran aja deh." Mahasiswi lainnya mulai memanasi suasana.     "Iya, Son. Dia udah berani tebar pesona, apalagi dia berani deketin Stevan yang jelas udah jadi inceran lo selama ini."     Kartika merinding saat salah seorang mahasiswi tersebut menyeringai dan mengamati tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu tak lama, ia berkomentar sembari melemparkan sebuah senyuman yang mengerikan bagi Kartika. "Sonya, gimana kalo gue aja yang ngasih pelajaran sama dia? Gue tau cara terbaik ngasih hukuman buat cewek murahan kayak dia. Kayaknya kita obrak-abrik aja tuh dalemannya."     Seketika toilet itu berubah riuh dengan sorakan para mahasiswi. Bagaimana tidak, wanita yang baru saja selesai berbicara tak lain adalah Tya, mahasiswi yang terkenal sebagai pecinta sesama jenis, yang tak malu untuk menunjukkan penyimpangannya itu. Kartika menggeleng. Dirinya segera mencoba melarikan diri. Namun langkahnya segera tertahan oleh salah satu anak buah Sonya. Sonya sendiri segera melayangkan tamparan keras pada pipi Kartika, saat gadis itu tengah dicekal sehingga ruang geraknya terbatasi.     Penyiksaan terus berlanjut. Pembelaan diri Kartika sama sekali tak berhasil. Mau bagaimanapun, Kartika hanya gadis mungil dan harus melawan tujuh wanita yang begitu agresif, tentu saja ia kalah tenaga serta jumlah. Beberapa menit kemudian Kartika telah tergolek lemas di sudut toilet, dengan punggung yang menjadi bulan-bulanan. Tendangan serta pukulan secara bertubi-tubi menghampiri punggung kecilnya. Kartika hanya bisa merintih. Tenaganya telah terkuras habis, dan dirinya sudah kesulitan untuk berpikir mencari jalan keluar. Ia hanya bisa berdoa, agar semuanya cepat berakhir.     Namun doa Kartika tak terkabul. Beberapa saat kemudian, tubuhnya yang awalnya meringkuk diterlentangkan dan mulai ditelanjangi oleh Tya. Kartika sendiri segera berontak. Meskipun di dalam toilet itu semuanya wanita, Kartika masih merasa sangat malu.   Srakk       Kartika menjerit dan meraung histeris saat blus yang ia kenakan disobek menjadi dua. Dan yang paling parah, setelah itu Tya mulai menyentuh-nyentuh tubuh Kartika dengan sesuka hati. Bukannya Kartika tidak memberontak, tapi kedua kaki serta tangannya ditahan oleh para pembullynya. Sedangkan sisanya menonton serta mengabadikan kegiatan nista tersebut. Tangis pilu Kartika semakin kuat, saat pakaian dalamnya dilucuti. Kepala Kartika mulai terasa pusing saat Anna menendangnya dengan masih menggunakan sepatu hak tingginya yang runcing. Dan saat itu pula, pemberontakan Kartika melemah. Memudahkan Tya untuk melangsungkan aksinya.     Wanita muda itu terlihat bernafsu, saat tubuh Kartika hampir tersaji polos di depannya. Tanpa banyak kata, Tya segera melarikan jari berkuku panjang yang sengaja ia cat hitam, menuju bagian sensitif Kartika. Berharap, bahwa Kartika masih tersegel dan dirinyalah yang pertama kali menyentuh Kartika. Namun wajah Tya segera berubah masam, saat mengetahui harapannya tak terpenuhi. Ia mencabut jarinya dan melotot pada Kartika yang terlentang pasrah. "Dasar p*****r. Lo beneran murahan. Perawan lo, dijual berapa? Udah berapa orang yang udah nyocol? Sialan, gue keduluan."     "Ty, kasih pelajaran sama p*****r sok kecantikan ini! Dasar p*****r, hari ini gue pastiin lo bakalan hancur sehancur-hancurnya!" desis Sonya dengan penuh amarah. Ya, Sonya tidak main-main dengan perintahnya. Ia bahkan tidak peduli jika kemungkinan terburuk akan terjadi. Karena Sonya lebih dari yakin, jika keluarganya memiliki kuasa yang lebih dari cukup untuk melindunginya dari semua sanksi yang kemungkinan akan menjerat dirinya.     Tangis Kartika semakin terdengar begitu pilu. Saat menyadari bahwa peluangnya untuk selamat sama sekali tak ada. Tya menginjak-injak kakinya dan berusaha melukai bagian sensitif Kartika yang susah payah ia lindungnya. Tya juga menginjak perut dan menendang punggung Kartika, begitu Kartika susah payah meringkuk untuk melingungi tubuhnya dari serangan-serangan tersebut. Kartika pasrah. Percuma saja ia mengharapkan ada orang yang akan menolongnya. Karena sejak tadi pun, tak ada satu orang pun yang datang, setelah dirinya menangis dan meraung meminta tolong.     Kesadaran Kartika semakin menipis, saat Tya menghentikan aksinya. Kepala Kartika terasa berputar. Perutnya pun terasa begitu bergejolak. Ia hampir tak bisa mempertahankan kesadarannya saat para pembullynya berdiskusi serius. Lalu Kartika merasakan dirinya di masukkan ke dalam bilik toilet kecil. Anna menatap Kartika dengan angkuh sembari mengancam, "Ini cukup untuk peringatan pertama. Tapi kalau lo tetep gak tau diri. Gue bakal biarkan Tya merkosa lo. Dan satu lagi, kejadian barusan udah gue rekam. Siap-siap buat jadi terkenal besok ya."     Setelah itu, pintu bilik toilet di kunci dari luar. Kartika yang babak belur sama sekali tak bisa berteriak minta tolong. Kesadarannya yang semakin menipis, membuat Kartika hanya bisa berharap dan berdoa. Berdoa agar Tuhan mengirimkan seseorang yang bisa menolongnya. Mengirimkan sosok malaikat tanpa sayap yang siap menjadi penolong disetiap kesulitan yang menimpa Kartika.     Air mata kembali menetes tanpa tertahankan. Kartika meringkuk tanpa daya. Melindungi tubuh telanjangnya dengan potongan gaun yang sebelumnya ia kenakan. Suhu tubuhnya yang mendingin menambah buruknya kondisi tubuh Kartika saat ini. Di ambang kesadarannya, Kartika menggemakan sebuah nama yang ia harap bisa datang saat itu juga. Nama seseorang yang entah sejak kapan telah menghuni hati Kartika.     Brak!!         Visi Kartika menggelap, saat pintu bilik toilet terbuka lebar. Tapi setitik air mata penuh kelegaan menetes di sudut mata Kartika. Ternyata Tuhan mendengar doa yang sebelumnya ia panjatkan. Ya, Tuhan memang tidak pernah tertidur. Saat Tuhan merasa jika dirinya memang perlu mengulurkan tangannya, maka Tuhan pun menunjukkan kuasanya. Dan Kartika merasakan hal itu dengan jelas.       "Kartika!"       Kartika tersenyum saat mendengar seruan di antara ketidaksadarannya itu. Ini bukan mimpi. Baskara benar datang. Datang sebagai malaikat tanpa sayap, yang siap menolongnya. Datang sebagai matahari yang melindungi bintang kecilnya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม