"Iya, aku paham. Sepertinya, aku bisa menebaknya dengan benar. Jadi Kartika, bagaimana kalau sabtu malam kita jalan?"
Pertanyaan Steve menggantung di udara, Kartika belum sempat menjawabnya, karena tiba-tiba Janu hadir di antara mereka. Janu melambaikan tangannya pada Kartika, memberikan kode agar dirinya segera mendekat. Tentu saja Kartika tersenyum lebar. Janu datang pada waktu yang tepat. Kartika bisa menggunakan Janu untuk melepaskan diri dari Steve. Kartika menoleh pada Steve dan berkata, "Maaf ya Steve, aku nggak bisa. Aku permisi dulu, ada seseorang yang menungguku." Setelah itu, Kartika segera berlari kecil menuju Janu yang berdiri di tepi taman.
Steve yang ditinggal, hanya menatap punggung Kartika dengan tajam. Lalu mengeluarkan bungkus rokok, dan mulai menghisap batang tembakau tersebut dengan nikmat. Steve tampak begitu santai dengan kegiatannya tersebut. Ia megabaikan para mahasiswi yang lewat dan mencuri pandang padanya. Karena kini, otak Steve tengah bekerja keras, menyusun sebuah rencana untuk bersenang-senang. Saat sudah mendapatkan sebuah ide yang cemerlang, Steve tidak bisa menahan diri untuk menyeringai lebar, tampak semakin tampan saja.
Sementara itu, kini Kartika dan Janu tengah berada di sisi taman yang lain, yang berada dekat dengan jalan raya dan beberapa kafe yang memang berada dekat dengan area kampus di mana Kartika kuliah. "Kakak serius ke sini cuma mau ketemu Kartika?" tanya Kartika saat menerima cone ice cream dari Janu. Ya, Janu memang membelikan ice cream untuk Kartika. Tentunya Janu tahu seberapa senang Kartika pada makanan manis semacam es krim seperti ini. Karena itulah, Janu memberlikannya tanpa berpikir dua kali.
"Ya, Kakak dengar bahwa kamu telah kuliah. Jadi Kakak menyempatkan untuk mengunjungi Kartika saat di kampus. Karena selama ini, Kakak sangat sulit bertemu dengan Kartika," jawab Janu sembari mengulas sebuah senyum menawan.
"Hehe, iya Kartika kuliah. Ternyata Aa kasih Kartika izin buat kuliah." Kartika mengulum senyum. Kartika memang sangat senang denga fakta jika dirinya sudah bisa berkuliah seperti apa yang sudah ia impi-impikan selama ini.
Janu mengerutkan kening, saat mendengar kata 'Aa' di dalam kalimat Kartika. "Aa?"
Kartika menjilat es krim yang tersisa di sudut bibirnya, lalu mengangguk. "Ah, maaf. Aa itu panggilan untuk suami Kartika, Kak Baskara. Ia ingin aku menggunakan panggilan kesayangan, dan itulah yang aku gunakan. Maaf, aku terbawa dan memanggilnya seperti itu.” Tanpa Kartika sadari, kalimatnya barusan telah meredupkan binar mata Janu. Tapi sedetik kemudian, Janu berubah seperti biasa. Ia bahkan tersenyum lalu menepuk-nepuk lembut puncak kepala Kartika yang masih sibuk dengan es krimnya.
"Suka?" tanya Janu mengalihkan topik pembicaraan.
Kartika menoleh dan tersenyum lebar, hingga matanya menypit lembut. Kepalanya segera memberikan anggukkan cepat. "Suka. Apalagi Kartika udah lama gak makan es krim."
"Apa mau Kakak belikan lagi? Sepertinya kamu lebih kurus dari sebelumnya," ujar Janu.
Kartika segera menunduk, meneliti tubuhnya sendiri. Namun ia tak melihat tanda-tanda kekurusan di tubuhnya. Yang ada, tubuh Kartika makin berisi, terlihat sintal dengan proporsi yang tepat. "Tapi Kartika gak kurus, Kak. Kartika malah makin gendut aja."
"Kamu kurus. Nih, Kakak sampai sulit mencubit pipi Kartika," ucap Janu sembari mencubit salah satu pipi Kartika dengan gemas. Membuat Kartika meringis kesakitan. Tapi ekspresi meringisnya terlihat begitu menggemaskan bagi Janu. Pria itu bahkan harus menahan diri agar tak menarik Kartika ke dalam pelukannya saat itu juga. Tapi Janu masih bisa berpikir jernih untuk saat ini.
"Lepas!" Kartika mengusap pipinya yang terasa sakit. Sedangkan Janu terlihat tertawa lepas. Kartika menunduk dan menggerutu kesal. Keduanya kembali berinteraksi dengan hangat. Mereka tak sadar jika telah menarik perhatian banyak orang. Orang-orang kebanyakan, mengira jika keduanya adalah sepasang kekasih yang tampak manis. Ada beberapa orang yang memuji mereka, tapi sayangnya ada pula yang mencela. Terutama para mahasiswi yang tak senang pada Kartika, yang merupakan siswi baru, tapi sudah berhasil menarik perhatian banyak mahasiswa dari berbagai angkatan.
Para mahasiswi merasa, jika Kartika sama sekali tidak cantik. Ditambah lagi Kartika sering bersikap aneh, dengan menunduk dalam dan tak berani untuk menatap mata lawan bicara. Intinya, bagi para mahasiswi, Kartika tak ada apa-apanya. Jadi, apa yang membuat para mahasiswa tertarik pada Kartika?
Kartika menyadari jika sudah tiba untuknya kembali menuju kelas mata kuliah selanjutnya. "Kak, Kartika permisi dulu ya. Masih ada mata kuliah."
"Iya. Semangat ya, jangan selalu memikirkan Kakak, fokus saja dengan pelajaranmu! Kakak tidak akan pergi kemana-mana, Kartika satu-satunha yang menjadi tujuan Kakak."
Kartika tertawa kecil saat mendengar penuturan Janu, yang diucapkan dengan wajah begitu serius. Kartika menganggap Janu tengah melemparkan banyolan seperti biasa. Namun siapa yang tahu, jika Janu mungkin saja mengatakannya dengan serius. "Kakak selalu saja seperti itu. Ya sudah, Kartika pergi ya Kak! Dah!" seru Kartika sembari melambaikan tangannya dan berlari kecil menjauhi Janu yang masih menatapnya.
Janu juga melambaikan tangannya, senyum tipis terukir di wajahnya yang rupawan. Matanya yang tajam tampak menatap punggung Kartika, tapi sedetik kemudian, dirinya menatap seorang pria yang berdiri di ujung taman. Karena terlalu jauh, Janu tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun Janu bisa mengidentifikasi bahwa pria tersebut tengah mengamati Kartika dengan lekat.
***
Kartika melirik Baskara yang makan dengan begitu tenang. Tapi ketenangan Baskara tampak ganjil bagi Kartika. Jika diibaratkan, ketenangan Baskara kali ini, bak tenang sebelum badai. Jadi, sejak pulang kuliah, Kartika bersikap dengan berhati-hati, takut jika Baskara meledak karena kesalahannya. Namun hingga malam menjelang Baskara belum menunjukkan tanda-tanda kemarahannya. Hanya saja, Baskara tampak menjaga jarak dan lebih diam dari biasanya. Semua itu membuat Kartika merasa begitu tak nyaman. Tapi Kartika hanya bisa menelan ketidaknyamanannya itu seorang diri.
"Terima kasih makanannya," ucap Baskara kemudian berdiri serta melangkah meninggalkan Kartika begitu saja.
Kartika tertegun, ia semakin merasa begitu aneh. Apa dirinya telah melakukan kesalahan dan melupakannya? Kartika mulai menggigiti bibir bawahnya dengan cemas. Begitu selesai makan dan membereskan dapur, Kartika segera berlari menuju ruang kerja Baskara, yang juga telah menjadi ruang belajar baginya. Kartika tampak gelisah saat Baskara sama sekali tak menyapanya, padahal Kartika dengan sengaja menutup pintu dengan suara yang cukup keras.
Rasa cemas Kartika semakin menjadi, saat melihat peralatan belajarnya telah berpindah menuju meja jati baru di sudut ruangan. Tanpa dijelaskan pun, Kartika mengerti bahwa Baskara ingin dirinya belajar sendiri. Kepala Kartika menunduk, entah mengapa Kartika merasa tak senang dengan keputusan Baskara ini. Tapi lagi-lagi, Kartika tak menyuarakan isi hatinya dan memilih untuk menuju meja belajarnya.
Kartika mengerjakan tugasnya dengan tekun. Tangan serta otaknya bekerja keras untuk menyelesaikan semua tugas miliknya itu. Tapi percayalah, ada satu kegelisahan yang membuat Kartika kesulitan untuk fokus pada tugasnya. Apalagi jika bukan sikap Baskara yang berubah. Entah mengapa Kartika merasa takut. Takut, jika Baskara akan terus menunjukkan punggung dinginnya.
Dan sikap Baskara itu, tetap bertahan hingga keesokan harinya. Kartika tampak lesu, ia kehilangan sebagian energinya. Kartika memang beberapa hari ini, terus memeras energi untuk mengerjakan berbagai tugas kuliahnya. Ditambah tadi malam, Kartika harus membagi fokus untuk memikirkan sikap berbeda Baskara. Hal itu, membuat Kartika benar-benar kekurangan waktu tidur. Sejak Baskara berangkat bekerja setelah mengantarkannya ke kampus, Kartika tak bisa menahan diri untuk terus menguap. Kepalanya juga terasa agak pening. Sepertinya Kartika harus meluangkan waktu, di sela-sela jam kuliah, untuk tidur beberapa saat.
Namun, rencana Kartika tak berjalan mulus. Hari ini, jam kuliah begitu padat. Ia tak bisa meluangkan waktu untuk tidur. Dan waktu istirahat, baru Kartika dapatkan saat lewat tengah hari. Perutnya telah berbunyi keras. Tapi Kartika tak berminat untuk pergi ke kantin, ia lebih memilih tidur di mejanya. Baru beberapa saat Kartika tertidur, ia dibangunkan oleh gerakan di sampingnya. Kartika mengerang saat kepalanya terasa semakin pening. Ia menoleh dan melihat Steve yang tersenyum lebar.
"Siang, Kartika. Kamu lapar gak? Aku bawa makanan nih!" Steve mengangkat dua buah bungkusan nasi goreng transparan. Ia segera menyerahkan satu bungkus pada Kartika, sedangkan yang satunya lagi untuk Steve sendiri.
"Kamu kok bisa di sini?" tanya Kartika setelah bisa meredakan sedikit peningnya.
"Haha, kita satu kampus. Fakultas kita, tetanggaan. Mudah untuk aku, mencari keberadaan kamu. Ayo makan nasi gorengnya, mumpung masih hangat." Steve sendiri langsung memakan nasi gorengnya. Kartika tak memiliki pilihan lain, perutnya telah menjerit ingin diisi. Tanpa pikir panjang, dirinya segera memakan nasi gorengnya tersebut. Keduanya makan siang bersama, dan bercengkrama sedemikian akrab. Tak memedulikan mahasiswa serta mahasiswi yang melirik tajam dan berbisik satu sama lain.
Namun Steve tampak tak bisa berlama-lama di sana, ia harus segera pergi karena kelas akan dimulai. Kartika sendiri tampaknya akan melanjutkan tidurnya, namun perutnya yang penuh dengan makan siang mulai bergejolak tak nyaman. Dan pada akhirnya, Kartika tanpa pikir panjang segera berlari menuju kamar kecil. Sesampainya di kamar kecil, Kartika tak bisa menahan diri untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Air mata membasahi pipinya yang pucat. Kartika duduk di lantai dengan tangan yang berpegangan di sisi closet. Ia bersandar di bilik pembatas kamar kecil, mencoba mengembalikan energinya.
Setelah beberapa saat, Kartika ke luar dari bilik toilet, tapi dirinya segera disambut oleh gerombolan mahasiswi yang telah menunggunya di dalam toilet wanita itu. Beberapa mahasiswi yang berada di sana bisa dikenali oleh Kartika, mereka adalah teman satu jurusan dengannya. Total ada tujuh mahasiswi berwajah sinis, yang tampak siap menerkam Kartika saat itu juga. Kartika seketika merasakan firasat buruk.