Mahasiswi Baru 2

1287 คำ
    "Di perpustakaan, sudah ingat?" tanya Baskara tajam. Kartika tersentak. Di perpustakaan, dirinya memang sempat berdekatan dengan senior laki-lakinya. Namun, Kartika tidak sengaja. Ia hanya belajar dan tak melakukan apa-apa lagi. Kartika menggigit bibir bawahnya. Bukan karena cemas mendapatkan kemarahan dari suaminya ini. Melainkan lebih karena merasa takut dengan fakta, bagaimana bisa Baskara mengetahui apa yang ia lakukan? Apa mungkin, Baskara mengikuti dirinya?     Belum sempat Kartika mengajukan pembelaan, Baskara terlebih dahulu merambatkan tangannya pada salah satu paha mulus Kartika yang masih tertutup rok selututnya. Kartika yang mengetahui niat dari Baskara, segera menggeleng panik. "Ja-jangan di sini!" pekik Kartika. Ia tidak mau jika Baskara melewati batas dan melakukan hal-hal intim di tempat seperti ini. Baskara hanya tersenyum tipis. Ia tahu ketakutan Kartika. Tapi, tak berniat menghentikan aksinya sama sekali. Yang ada, Baskara melarikan wajahnya pada lekukan leher Kartika yang tertutup helaian rambut sebahunya. Baskara dengan gencar memberikan kecupan dan hisapan yang membuat Kartika merasa panas dingin.     "Kenapa?" tanya Baskara singkat, tetapi lebih dari cukup membuat Kartika semakin merasa takut.     "Di sini tempat umum Aa," jawab Kartika cemas. Ya, ini tempat umum. Di kamar pribadi saja, Kartika masih saja merasa malu. Lalu kini Baskara mengajaknya untuk melakukannya di tempat ini? Mau ditaruh di mana wajah Kartika?!     "Tapi di sini sepi." Jawaban Baskara membawa Kartika untuk meneliti sekeliling. Ternyata memang tak ada orang. Yang ada di sisi kanan kiri jalan, hanya pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Karena langit mulai dihiasi lembayung, area tersebut tampak gelap dan begitu menyeramkan. Kartika tidak bisa membayangkan jika dirinya ditinggalkan sendirian di tempat seperti ini. Tanpa sadar, tubuh Kartika lagi bergetar pelan. Dan hal itu tak lepas dari pengawasan Baskara. Pria itu seakan bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Kartika. Baskara menyeringai, ia mendaptak  senjata untuk menyerang istrinya.     "Apa kau mau Aa tinggal di sini?"     Kartika sontak menggeleng, dan memeluk leher Baskara dengan erat. Baskara menyeringai senang. "Kalau begitu, cium bibir Aa dulu."     Dengan ragu, Kartika menatap bibir Baskara. Ia terdiam beberapa detik, sebelum memutuskan untuk menempelkan bibirnya pada bibir Baskara. Hanya sebatas menempelkan beberapa detik, dan berniat segera melepaskannya. Tapi Baskara tak membiarkannya begitu saja, Baskara menahan belakang kepala Kartika dengan kuat, lalu melumat bibir istrinya dalam-dalam.     Apa yang terjadi selanjutnya? Mobil pun bergoyang di bawah lembayung senja yang semakin pekat. Hanya pohon-pohon serta serangga kecil yang menjadi saksi bisu apa yang terjadi di antara Baskara dan Kartika.   ***           "Aa, Tika mau belajar dulu." Kartika berusaha turun dari pangkuan Baskara. Namun Baskara tanpa kata tetap memeluk pinggang Kartika dengan erat. Kartika menggigit bibirnya cemas. Sudah dua jam dirinya berada dalam posisi seperti ini. Sejak melakukan kegiatan panas di tempat yang tak dikenal olehnya, Kartika jatuh tertidur dan baru terbangun setelah tiba di apartemen. Karena waktunya makan malam, Kartika segera mandi dan memasak untuk makan malam.     Namun, setelah makan, Baskara segera menarik Kartika duduk di atas pangkuannya, dan tak membiarkan Kartika bergerak sedikit pun. Padahal Kartika harus segera mengerjakan tugas yang harus ia kumpulkan esok hari. Jika tidak dikerjakan sekarang juga, bisa-bisa tugasnya tidak selesai. "Kau mau belajar?" tanya Baskara. Kartika hanya mengangguk, dan menggeliat geli saat Baskara menggulung cuping telinganya.     "Baik, mari belajar!" seru Baskara sembari mengangkat Kartika dalam gendongannya dan melangkah menuju ruang kerja Baskara, yang kini merangkap menjadi ruang belajar Kartika. Namun setibanya di ruangan belajar, Baskara tak membiarkan Kartika untuk duduk sendiri. Kartika masih duduk di pangkuan Baskara, yang kini bersandar di sandaran kursi kerjanya.     "Aa, Tika mau belajar," rengek Kartika.     "Tinggal belajar, buku dan semua kebutuhan belajarmu sudah ada di atas meja, bukan?"     Kartika menatap meja kerja Baskara, yang memang separuhnya telah diisi oleh buku-buku miliknya. Posisi duduk Kartika bukannya tidak nyaman, hanya saja Kartika takut tidak fokus belajar karena Baskara yang memeluknya dengan erat. Namun Kartika hanya menggeleng pelan dan segera meraih bukunya untuk mulai mengerjakan tugas. Kartika sepenuhnya berkonsentrasi dengan tugasnya. Namun, konsentrasi Kartika itu hanya bertahan selama tiga puluh menit lamanya, karena kini Baskara telah kembali menggerayangi tubuhnya.     Kartika menggeliat saat Baskara mulai mengecupi pundaknya, dilanjutkan dengan salah satu tangan Baskara yang menyentuh bagian paling sensitif milik Kartika. Baskara menyeringai saat Kartika memekik terkejut saat dirinya mulai memainkan inti istrinya itu. Tak lama, bagian bawah Kartika terasa begitu lembab. Hal itu membuat Baskara menyeringai semakin lebar. Dengan gerakan cepat, Baskara telah menyatukan tubuh mereka, tanpa membuka pakaian sama sekali.     Kartika yang tiba-tiba mendapatkan serangan seperti itu, hanya bisa menjerit sembari mencengkram tepian meja kerja Baskara yang terbuat dari kayu jati kokoh. Kepala Kartika menggeleng lemah. Ia tak bisa melayani Baskara untuk saat ini, karena Kartika harus mengerjakan tugasnya. Seakan-akan bisa membaca pemikiran Kartika, Baskara berbisik pada istrinya itu. "Ingat, persyaratan yang Aa ajukan. Kau harus melaksanakan kewajiban Eneng sebagai seorang istri dalam kondisi apa pun. Aa ingin dilayani saat ini juga, jika Eneng masih ingin mengerjakan tugas, maka kerjakan."     Tangan Kartika yang bergetar, mencoba meraih bolpoin yang tergeletak tak berdaya di atas meja. Namun begitu ia meraihnya, Baskara menggerakkan penyatuan mereka. Membuat konsentrasi Kartika benar-benar buyar saat itu juga. Ia tak bisa kembali fokus mengerjakan tugas, dan pada akhirnya pasrah pada suaminya. Baskara yang menyadari kepasrahan Kartika, segera merubah posisi Kartika untuk berbaring di atas meja, lalu kembali menyatukan tubuh mereka, untuk meraih puncak kenikmatan, bukti nyata dari keberadaan surga dunia yang selama ini dielu-elukan.       ***           Lingkaran hitam tampak tercetak jelas di bawah mata Kartika. Hingga tengah malam ia harus melayani suaminya, dan langsung berlanjut mengerjakan tugas. Dan tadi malam, ia hanya bisa tidur selama dua jam, karena paginya ia harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan, serta baju kerja untuk Baskara. Karena hal itu pula, sepanjang jam kuliahnya, Kartika tak bisa menahan diri untuk terus menguap. Untung saja, dosen pengajar tak mengusir Kartika dari kelas. Jika iya, Kartika pasti akan kebingungan.       Dan saat ini, Kartika tengah duduk di kursi taman kampus yang tak terlalu ramai. Ia duduk di kursi yang masih dipayungi rindangnya dedaunan. Angin sepoi-sepoi seakan tengah membuainya untuk segera tertidur. Tapi begitu dirinya akan memejamkan mata, sesuatu yang dingin terasa menyengat pipi kanannya. Kartika terpekik dan menoleh, ia melihat Steve yang menempelkan kaleng kopi dingin di pipinya. "Ka-Kak Steve?"     "Siang Kartika. Sejak tadi kulihat kau tampak sangat mengantuk. Apalagi setelah berada didekatmu, aku bisa melihat dengan jelas lingkaran hitam di bawah matamu itu. Ugh, itu sangat mengerikan."     Kartika menyentuh lingkaran hitam matanya. Apa semengerikan itu? tanya Kartika dalam hatinya.     "Ini, minumlah. Kafein bisa mengatasi rasa kantukmu."     Kartika menerima kaleng kopi dan mengucapkan terima kasih. Ia segera meneguk isinya tanpa pikir panjang. Jelas, tampaknya Kartika melupakan hukuman Baskara yang kemarin ia terima. Angin berembus cukup kuat, dan menyebabkan rambut sebahu Kartika terhempas mengikuti arah berhembusnya angin. Saat itu pula, bercak-bercak yang ditinggalkan oleh Baskara terlihat samar. Steve yang memiliki mata tajam, bisa melihat bercak samar itu. Senyum misterius tampak terukur di wajahnya yang tampan.     Tiba-tiba Steve duduk di samping Kartika dan berkata, "Sepertinya pacarmu sangat agresif ya."     Kartika menoleh dan menggeleng polos. "Kartika tidak punya pacar."     Steve mengerutkan keningnya lalu terdiam beberapa saat. Lalu kemudian mengulas senyum tipis dengan mata berbinar aneh. "Iya, aku paham. Sepertinya, aku bisa menebaknya dengan benar. Jadi Kartika, bagaimana kalau sabtu malam kita jalan?" tanya Steve dengan mengulas senyum. Senyum yang kebanyakan membuat para gadis yang melihatnya menjerit kesenangan. Sayangnya, hal itu sama sekali tidak dirasakan oleh Kartika.     Kini tulang belakang Kartika terasa dirambati oleh rasa dingin yang mengerikan, saat melihat senyum Steve yang tampak menakutkan. Senyumannya benar-benar berbeda dengan senyuman yang ia lihat untuk pertama kali. Steve benar-benar menakutkan. Tapi rasa takut ini, berbeda dengan rasa takut yang Kartika rasakan pada Baskara. Meskipun bersama Baskara Kartika terkadang merasa takut, tetapi Kartika yakin Baskara tak akan menyakitinya. Dan kini, tiba-tiba rasa rindu yang teramat merasuk ke dalam jiwa Kartika. Ya, Kartika rindu. Rindu pada Baskara! Kartika ingin Baskara! Kartika benar-benar ingin melarikan diri saat ini juga dan bertemu dengan suaminya itu. Jelas, berada di sisi Baskara akan lebih baik daripada bersama Steve. Karena meskipun Kartika tidak mengenal Baskara dengan baik, Kartika sadar jika Baskara bukan orang jahat, dan tidak akan melukai dirinya.  
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม