Pemuda berjaket hitam sejenak memperhatikan Sayf yang menundukkan kepala, sama seperti saat mereka bertemu Ki Panca.
"Wildan Alfatih, benar?" Pria sepuh berbusana putih tersebut tersenyum.
Wildan mengangguk, batinnya yakin bila orang yang bersila di pendopo kecil ini bukanlah orang biasa, hanya saja pakaiannya yang sederhana. ‘Aku tak yakin beliau ini bangsa manusia, meski begitu hawa keberadaannya menyejukkan…’
"Apa tujuan sebenarnya kau datang mendaki gunung ini, Nak?" Suara itu bernada bijak.
Pemuda bermata coklat menghela napas lirih, hatinya mantap untuk mengatakan tujuan sebenarnya. "Sebenarnya, saya mendapat amanah untuk mencari batu biru – yang sebenarnya saya juga kurang tahu apa itu," jawabnya sedikit tertunduk.
"Setelah kau mendapatkan benda itu, apa yang akan kau lakukan, Nak?" Sang sosok sepuh kembali bertanya lirih.
"Saya akan langsung menyerahkan benda itu kepada orang yang mengutus saya kemari," jawabnya masih menunduk.
"Wildan Alfatih Sang Titisan Cahaya, sebelum kau pergi melanjutkan perjalananmu, bersediakah kau menemani pria tua ini berbincang sejenak?"
Deg!
‘Beliau tahu sebutan itu juga? Siapa beliau sebenarnya?’ Wildan mengangguk kecil dengan ekspresi kaget.Mata mereka saling memandang barang sejenak.
"Indonesia, adalah nama yang diberikan untuk tanah ini." Beliau menghela napas, "tanah yang diperebutkan oleh banyak bangsa asing. Dan akhirnya dikaruniakan kemerdekaan usai pertumpahan darah yang membasahi negeri ini." Ia menunduk seraya melanjutkan, "aku bukanlah ayah dari negeri yang luar biasa ini, tapi aku, aku adalah saksi dari jeritan para leluhur. Saksi yang sudah lama melihat peperangan antar saudara bahkan peperangan terhadap orang-orang asing yang tiba."
Hati Wildan terasa sesak, seolah merasakan apa yang dirasakan oleh sosok sepuh di hadapannya. Sepasang telinganya seksama mendengar.
"Bangsa ini, para generasi penerus bangsa, sungguh telah mencoreng wajah kami." Ia menarik napas dalam-dalam.
"Mungkin tidak semua, tapi kebanyakan dari mereka telah menganggap bahwa dunia adalah ujung kehidupan. Mereka melupakan Sang Maha Pencipta beserta Darma dan perintah-Nya. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan hal-hal hina yang bahkan tidak dilakukan oleh para hewan rendahan." Airmata mengalir dari pelupuk mata jernih sang kakek sepuh.
Mendengarnya, membuat Wildan teringat pada berbagai dosa kecil yang ia remehkan secara sengaja maupun tak disengaja. Jiwanya terenyuh, diselimuti rasa bersalah.
"Kera tidak pernah merebut hak singa untuk memakan daging, induk burung tidak pernah menghamili anaknya, tapi lihatlah bangsa ini? Bukankah manusia adalah makhluk yang lebih mulia? Bukankah manusia memiliki hati nurani dan akal yang tidak dimiliki binatang? Tapi kenapa mereka justru bertingkah lebih keji dari para binatang?"
Lelaki berjaket hitam turut meneteskan airmata. Ia malu – merasa bila dirinya merupakan salah satu wakil pemuda yang gagal meneruskan harapan bangsa. Wajahnya menunduk menatap lantai putih – tak kuasa menatap balik netra sosok yang tengah mengutarakan kebenaran.
Sang kakek sejenak membisu seraya mengusap air mata, "jika kakek yang tua ini boleh meminta tolong, mohon nasehati para pemuda bangsa ini, sebab hal itu juga jadi tugasmu sebagai lentera untuk menerangi mereka."
Wildan mengangguk, ikut mengusap air mata. Keduanya sejenak terdiam untuk beberapa menit. Sampai sosok berbusana putih di depan siswa SMA menghirup segarnya udara gunung, dan kembali tenang. "Menyelamlah ke dalam Sendang Drajat,” anjurnya menoleh ke samping kiri di mana sebuah kolam yang dikerumuni orang-orang berada. “Kau akan menemukan jalan untuk mengambil Mustika Naga Biru." sang kakek bangkit dan memegang kepala Wildan, "semoga Ridho Allah menyertaimu," imbuhnya sebelum lenyap tanpa jejak.
‘Beliau hilang?’ pikirnya setelah membuka sepasang mata beriris coklat lebar-lebar.
‘Di antara bangsa jin, terdapat sosok yang mengamalkan apa yang Baginda Nabi ajarkan dengan sungguh-sungguh. Karena agamamu, adalah rahmatan lil’alamin – berlaku untuk segenap makhluk.’ Sayf yang sejak tadi terdiam, kembali bangkit – menghadap pada Sendang Drajat. ‘Aku tak tahu pasti dengan apa yang menanti kita di sana. Apa kau sudah siap, Wildan?’
Wildan turut berdiri menghadap mata air Sendang Drajat, di sana sudah ada beberapa orang yang mengantri untuk membasuh wajah. Waktu yang semula beregerak begitu lambat, kini kembali normal. Ia mengerutkan kening, sedikit mengaitkan alis kanan saat melihat mata air yang dimaksud. "Mata air itu tidak terlalu dalam. Bagaimana bisa mengantarkan kita menuju Telaga Sarangan?" Wildan berbisik, mulai melangkah menuju antrean paling belakang.
"Kenapa kita tidak menunggu hingga sepi saja?" usul sang harimau.
"Hatiku berkata kita harus secepat mungkin pergi ke Telaga Sarangan." Wildan menoleh ke arah sosok harimau putih tembus pandang yang menyusul langkahnya.
"Hatimu, atau keinginanmu?"
Wildan menghela napas, menanggalkan ranselnya seraya berkata lirih, "terserah kau mau ikut atau tidak." Ia berlari, menjejakan kaki bersiap melompat.
‘Jika kau melompat kesana tanpaku, kau tidak akan sampai di Telaga Sarangan!’ teriak Sayf.
Bukan hanya Wildan, puluhan orang yang ada di sana pun terdiam. Mereka mendengar gelegar suara harimau. Orang-orang di sana pun menoleh kesana-kemari mencari sosok hewan buas tersebut. Namun mereka tak menemukan sosok yang dicari.
‘Apa maksudmu?’ Wildan kembali menoleh kecil ke belakang, tak acuh pada beberapa mata yang memandangnya heran.
‘Hanya hal gaib yang mampu mengantarkanmu kepada gaib.’ Sang harimau putih kini terlihat jelas. Ia mampu dilihat oleh mata manusia biasa. Bulunya yang lembut dan tebal, matanya yang bersinar putih terang, dan taring tajamnya, tampak jelas – membuat gemetar siapapun yang melihat. Beberapa bahkan pingsan melihat sosok wujud Sayf.
Para warga spontan berlarian, beberapa mengambil ponsel dan mengarahkan kamera. Namun belum mereka sempat memotret sang harimau, makhluk eksotis berukuran besar itu melesat – menerkam Wildan ke dalam mata air Sendang Drajat.
Byur....
Cipratan air besar mencuat dari mata air Sendang Drajat tersebut setelah Sayf menerkam pemuda berjaket hitam. “Sayf!” Wildan spontan memeluk harimau putih tersebut. Akalnya bertanya-tanya bagaimana mungkin makhluk ini menyerangnya. Tetapi hatinya yakin bila Sayf tengah melakukan sesuatu yang benar.
Di dalam air, Wildan menahan napas. Baru setelah tiga menit lamanya berlalu, sang pemuda bercelana hitam panjang mulai berontak. Kepalanya terasa pusing, tanpa sengaja ia membuka mulut – membuat semua udara yang ditahan, lepas keluar. Lingkungan air di mana ia berada pun berubah gelap.
‘Badanku gemetar! Aagh! Aku seperti pernah mengalami ini! Apa mungkin sama seperti saat tubuhku terjatuh ke dalam sungai di wilayah gunung Garut hingga akhirnya sampai ke Jawa Timur!’ Mata coklatnya pedas sebab air yang terus menyelimuti sekujur badan. Setelah terpaksa menelan air tawar, dilihatnya sinar mentari menembus permukaan air.
“Grrrh…” Sayf menarik menggigit kain hoodie Wildan – menariknya ke atas permukaan.
Pemuda itu membuka sepasang matanya lebar-lebar saat mengetahui bila kini ia mengambang di tengah danau yang cukup luas nan jernih. ‘Ini… Telaga Sarangan! Aku benar-benar berpindah!’
“Ohhoowgh! Ooookh! Hooowkh!” Mengatur napas dan memuntahkan beberapa gelas air yang telah masuk ke dalam badan, Wildan merasakan lemas pada tubuh atletisnya. Tangan lelaki berjaket hitam begitu erat berpegangan pada sang harimau putih yang basah kuyup dan juga mengambang di permukaan.
"Wildan, waspada!" seru Sayf seraya menapakkan keempat kaki pada permukaan danau.
Swuuussss!
Sesuatu meluncur dengan cepat ke arah mereka – membelah permukaan air hingga terciprat ke sekitar. Setelah lebih dekat, jelas terlihat sesosok buaya putih sebesar mobil terus melaju sembari membuka mulut lebar penuh deret gigi tajam.
Sang harimau putih berbulu lebat pun segera melompat menghindari serangan sang buaya besar – turut serta menghindarkan Wildan dari terjangan lawan. “Grrrrr…”
Wussss....
Keempat kaki Sayf menapak di permukaan air, Wildan mulai duduk di punggung sang khodam. Sarung tangan Cakar Putih Pajajaran mendadak muncul menyelimuti tangan kanan. “Sayf! M-makhluk apa lagi itu!”
“Salah satu siluman penjaga tempat ini. Sepertinya, mereka bertambah kuat karena pusaka Syekh Subakir yang sempat tercabut beberapa bulan lalu,” jawab sang harimau dengan sorot mata memandang perairan – di mana sang siluman menghilang.
‘Siluman buaya?’ Wildan menelan ludah. "Tapi Sayf, jika kita bertarung di tempat ini, bukankah akan ada manusia yang melihat?" Wildan menatap ke tepi danau, di mana ada beberapa kapal terparkir.
"Baru saja, sosok terkuat di sini beserta pasukannya telah memasang pagar gaib yang cukup kuat, manusia biasa tidak akan bisa masuk ataupun melihat apa yang ada di danau ini," jawab Sayf menatap buaya putih raksasa yang kembali meluncur ke arah mereka.
"Pasukan? Maksudmu, makhluk barusan tidak sendirian?" Wildan menengok ke kanan-kiri, mencari lawan-lawan yang lain.
"Sekarang fokuslah pada lawan di depanmu!" seru Sayf bersiap menghindar.
Mata coklat pemuda beralis lebat menatap buaya besar yang melesat membuka mulut. Mengatur napas, pria kekar bercelana hitam itu berdiri di punggung sang harimau putih berbadan besar. Wildan memasang kuda-kuda, memusatkan energi suka pada tangan kanan. Kakinya, sempoyongan mencoba menjaga keseimbangan badan. ‘Agh! Apa aku bisa melawan makhluk yang begitu di tengah air begini! Tapi kalau aku keluar, aku khawatir orang-orang sekitar yang kena imbasnya!’
Setelah sarung Tangan Gadil Pajajaran mulai menyala terang, Wildan melompat mengarahkan tinjunya ke moncong buaya putih yang sudah cukup dekat. “Hyaaaaaah!”
Blaaag!
Ia memukul sang buaya dari atas ke bawah, cipratan besar air seketika menyembul. Makhluk itu tenggelam cepat – mengarah ke dasar telaga layaknya torpedo. Usai memukul, Wildan kembali mengambang dan mencoba naik ke punggung si harimau putih. “Huuff… Huuff… Huufff…”
Air danau yang bergejolak tidak tenang, sejenak sunyi. Tidak ada suara selain napas Wildan yang tersengal-sengal. ‘Aku masih gusar! Di mana sisanya!’
"Ini baru pertarungan pembukaan, Wildan. Apa kau sudah lelah?" tanya Sayf pada pemuda di punggungnya.
Wildan terkekeh dengan senyum masam, "heheh, bicara apa kau ini? Aku masih belum mengeluarkan segenap kekuatanku!" sahutnya menepuk kepala Sayf dari belakang.
‘Energi sukma bocah ini telah banyak berkurang. Mungkin itu karena ia menggunakan gerakan secepat kilat untuk mendaki gunung. Terlebih lagi, pukulan barusan cukup kuat dan memerlukan banyak tenaga,’ renung Sayf.
‘Energiku banyak terkuras, aku memang merasakan keberadaan siluman buaya lain, rasanya cukup banyak! Tapi di mana mereka!’ batin Wildan. "Memangnya di mana letak Mustika Naga Biru yang kakek misterius tadi maksud, Sayf?"
"Setibanya kita di sini, mustika itu masih berada di dasar telaga. Namun sepertinya raja siluman buaya di sini segera mengambil benda itu," jawab si harimau bermata menyala.
"Hai pemuda, siapa gerangan berani mengusik kerajaanku?" Terdengar suara tanpa rupa yang menggema di udara.
Sayf menyahut, "kami ditugaskan untuk mengambil Mustika Naga Biru. Jadi tolong serahkan benda itu sebelum ada korban lagi dari pihakmu.”
"Mustika Naga Biru adalah milik kami! Jika kau ingin merebutnya, maka kau harus bertarung melawan kami semua!"
Deg!
Jantung Wildan sejenak serasa dihantam beton. Bulu kudu yang sudah basah, mendadak berdiri. Meski terik mentari bersinar terang kala itu, tetapi hawa dan suasana di permukaan air telaga terasa begitu mencekam. ‘Apa ini!’
Tak berapa lama, muncul ratusan manusia berkepala buaya, mereka mengenakan baju perang ala Jawa. Kulit mereka bersisik seperti buaya putih pada umumnya. Dari ratusan makhluk berbadan kekar nan mengerikan, hanya ada dua ekor manusia buaya memegang pedang sementara sisanya memegang tombak sebagai pusaka. Siluman-siluman buaya tersebut, mulai bergerak maju mengepung Wildan.
“S-Sayf? A-apa kita bisa mengalahkan mereka semua?” tanyanya terbelalak memandang para siluman buaya. Wildan menggenggam dadanya yang seperti ditekan keras.
"Beberapa kali aku pernah menaklukan kerajaan siluman sendirian," tanggapnya. "Apa aku perlu menggunakan Gerengan Sardula Seta?"
Wildan menoleh ke arah tepi telaga. "Apakah suara auman itu tidak akan terdengar dan tidak akan menimbulkan kerugian warga di sekitar tempat ini?"
"Walau danau ini diselubungi oleh penghalau gaib, tapi aumanku masih bisa menembus – menghancurkannya. Dampak aumanku pun masih sama," jawabnya.
"Ck! Apa tidak ada pilihan lain!" Wildan mengeratkan tinju kanan yang terbalut pusaka logam.
"Ajian Wadya Sardula Naraka. Aku akan memanggil sekumpulan Khodam dan jin berwujud harimau. Mereka sangat ganas, hingga bisa saja manusia tak berdosa mereka serang," jawabnya.
"Tak apa, kita berada di tengah telaga, dan ada penghalau gaib yang menghalangi mereka keluar." Wildan menghela napas lega.
"Sayangnya perisai gaib yang sulit mereka tembus ini, harus aku hancurkan lebih dulu untuk itu."
Wildan mengusap muka menggunakan tangan kiri. “Hadeh! Ya Alloh!”
"Bertarunglah semampumu, yakin dan percayalah bahwa tugasmu di dunia masih belum usai." Sayf mengerutkan wajah garangnya. Ia bersiap menerkam. Rombongan buaya itu mengarahkan tombaknya ke arah kedua lawan mereka. “Bersiap! Wildan!”
‘Agh! Apa aku gemetaran karena takut mati!’ pikirnya jengkel saat para manusia buaya kian dekat.
"Lagi pula percuma bila mundur, kita tidak akan bisa melangkah keluar dari danau karena perisai gaib," ujar Sayf. "Pegangan yang kuat!" serunya menerkam buaya yang meluncur menyerang – segera mencakar leher makhluk bermoncong keras.
Srrak!
Sayf terlihat kuwalahan, mencakar serta menerkam lawan kesana-kemari sembari membawa Wildan. Yang bisa pemuda itu lakukan pun hanya berpegang erat pada sang harimau putih. Beberapa kali Sayf tergores oleh dua buaya berpedang, namun ia tetap mencoba menghindar sekaligus melawan.
"Sayf! Bukankah kau masih menguasai banyak Ajian terlarang, lalu apa Ajian terhebat yang belum kau ceritakan!" teriak Wildan sambil beberapa kali menghindari tusukan tombak. Ia merasa kesal karena tak mampu bantu menyerang. Jarak serang sarung tangan tinjunya terlalu pendek.
Sayf tak menjawab. Ia sibuk menghajar buaya-buaya yang menghampiri mereka.
"Sayf! Jawab aku! Jika kita seperti ini terus, kita berdua bisa mati!"
Jlap! Jlep! Jlep! Jlep! Jlup!
Lima tombak melayang – menancap di perut Sayf, salah satu tombak menggores mengenai perut Wildan. Pemuda itu memegangi luka seraya nyingir. "Aku tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini!" Wildan memejamkan kedua matanya. Dikala ia membuka sepasang netra, beberapa buah tombak tengah melayang mengarah ke tubuhnya.
Namun segala sesuatunya berhenti. Wildan segera meloncat dan berlari di atas permukaan air saat waktu benar-benar melambat. Ia menggenggam tinju kanan berbalut pusaka erat-erat. "Rasakan ini!"
Blaag!
Wildan memukul buaya bertombak di depan, tinjunya menembus zirah sang siluman. Buaya itu pun terpental sejauh setengah meter dan terhenti di udara. Ia lanjut berlari dan memukuli manusia buaya lain.
Wildan terus menyerang ratusan pasukan hingga tubuhnya begitu lemas. "Ugh! Staminaku payah begini!" Ia berlari ke arah Sayf guna kembali menaikinya.
Semua buaya di sana terpental, beberapa bahkan menabrak dinding gaib yang mereka ciptakan di tepi telaga. Sebagian bertabrakan satu sama lain. Darah segar, menggenangi separuh permukaan air danau. Perut para siluman yang dihantam pusaka Wildan, berlubang – membiarkan organ dalam mereka terlihat.
Sayf terkejut, ia tak menyangka bila pemuda itu masih kuat menggunakan kemampuannya. "Kau memaksakan dirimu ya, Wildan."
"Aku terlalu lelah, Sayf. Badanku sepertinya tak bisa bergerak lagi!" ungkapnya lemah.
Namun para manusia buaya di sana kembali bangkit. Mereka menggeram dengan lebih keras. Mereka kembali melesat dan menyerang dengan perut yang terluka oleh pukulan Wildan.