Gunung Lawu dan Kematian

2485 คำ
(Jelang subuh, Gunung Lawu, Jawa Timur.) Dita si gadis sawo matang dengan seragam PDL kemerahan, menyusuri hutan bersama Diana dan Anto. “Alif! Alif! Alif! Kau di mana, Lif!” Mereka tengah mencari keberadaan salah satu peserta kemah pecinta alam yang tak lain merupakan siswa yang satu sekolah dengan mereka.  “Memangnya semalam kalian terpisah bagaimana sih!” Diana merengut menatap siswa yang satu tahun lebih muda darinya.  “A-anu, Mbak! Aku kira semalam si Alif itu malah sudah balik ke tenda duluan! Terus pas aku sudah ketiduran dua jam, dia masih belum ballik tenda. Aku kira dia malah ketinggalan dan baru mau menyusul,”  “Sudah dibilang tidak boleh meninggalkan sesame kawan sendirian!” Dita si gadis dengan rambut berkuncir sebahu melirik tajam. “Awas saja kalau si Alif kenapa-kenapa! Kau juga bakal babak-belur tiap pulang sekolah!” imbuh si juara nasional Karate.  “I-iya maaf, Dit. Aku kira kan si A-” “Pssst!” Diana mendesis, menyenggol kain kerudung dekat telinga.  Dita dan Anto turut diam, bersamaan menoleh pada siswi kelas dua belas. Mereka bertiga serentak menyipitkan mata sembari mengarahkan senter ke depan dikala suara derap kaki mulai samar terdengar.  “Aku tidak menyangka bakal ada banyak orang begini di Gunung Lawu, loh!” Sesosok pria berbusana hitam lengan panjang tanpa corak maupun motif, berbisik pada tiga pelajar dari belakang.  Dita yang mendengar adanya suara tak dikenal, cepat-cepat berguling ke depan sebelum kemudian bangkit memasang kuda-kuda. “Kalian! Minggir!”  Cet!  Diana dan Anto segera dibekap dari belakang oleh lelaki paruh baya. Ikat kepala hitam di kepalanya seperti blangkon. “Sepertinya kalian memang sedang apes karena bertemu denganku,” ucapnya menyeringai.  “Siapa kau!” bentak Dita. Tinju kanan-kiri gadis beralis tipis tersebut erat mengepal. Matanya melirik ke kiri, menerka-nerka tentang siapa sosok yang mendadak muncul menyerang. Setelah berkomat-kamit sembari membekap Diana dan Anto, lelaki misterius tersebut menunjuk-nunjuk dengan wajah ke arah belakang Dita. “Coba lihat ke belakang, Nduk.”  Sesosok makhluk hitam besar bermata merah menyala, berdiri tegap di belakang gadis tersebut. “Halo adek manis?” ucapnya melempar senyum mengerikan. * (Kaki Gunung Lawu, Jawa Timur.) Pagi buta, Wildan berjalan keluar dari Masjid setelah melaksanakan salat subuh. Pria berjaket hitam merasakan tulang-tulangnya yang masih pegal, disentuh hawa dingin. Ia mengikat tali sepatu dan membawa ransel hitam, tubuhnya pulih hanya dengan tidur selama tujuh jam. Asri dan rindang pepohonan ia saksikan. “Diana? Dita? Kenapa aku gusar mengingat mereka, ya?” gumamnya lirih. "Assalamualaikum?" Seorang kakek sepuh menyapa dari belakang. Ia memakai sarung dan kemeja batik kuning, sementara rambut beruban di kepala sudah dibalut peci hitam. Waalaikumsalam?" sahutnya spontan menoleh pada sumber suara. Ketika dilihat sosok sepuh yang memberi salam, Wildan lantas mendekat mencium tangan sosok tersebut. "Kamu dari mana, Nak?" Mata sang kakek menatap dalam netra coklat Wildan. "Saya dari Pekalongan," jawabnya tersenyum sembari duduk di sebelahnya. "Oh, lantas apa yang Musafir Pekalongan cari di sini?" "Musafir? Bu-bukan, Mbah." sanggahnya ragu. “Saya hanya sedang jalan-jalan saja.” "Apapun tujuanmu, tetaplah ileng lan waspodo," anjur si kakek. "Nggih, Mbah." Pemuda berjaket hitam mengangguk. "Gunung Lawu memiliki tiga puncak. Puncak Hargo Dalem dan Puncak Hargo Dumiling, lebih tenang walau memiliki nuansa gaib yang kental, tapi Puncak Hargo Dumilah, adalah tempat yang cukup menantang bagi para petualang sejati," ucapnya. ‘Hatiku berdebar-debar, aku yakin orang ini bukan orang sembarangan,’ terkanya. "Kamu datang dari tempat yang jauh, pastinya kamu juga seorang petualang sejati bukan?" Wildan tersenyum masam. ‘Kenapa aku merasa kalau, simbah ini sudah tahu tentang siapa aku?’ "Dia sudah menunggumu. Berangkatlah, Nak," ujarnya menunjuk ke arah jalan setapak yang dikelilingi pepohonan, di mana harimau putih tembus pandang telah berdiri menanti. Ia menganga. ‘Dia bisa melihat Sayf?’ terkanya menengok ke arah kanan, di mana seharusnya si kakek duduk. Tetapi, tak ada siapa-siapa di teras masjid selain dirinya. ‘Loh? Kok ilang?’ Melangkah mendatangi Khodam, Wildan masih saja sesekali memandang ke arah masjid di belakang. "Siapa kakek tadi? Apa dia bisa melihatmu?" "Kau akan tahu sendiri, Wildan," tanggapnya sambil melangkah menyusuri jalan menuju kediaman Mbah Muhaimin. ‘Jadi benar, kan? dia itu bukan orang sembarangan,’ pikirnya memejamkan sepasang mata beriris coklat sembari mengatur napas. Sayf berhenti maju, menoleh pada wajah Wildan. ‘Apa kau bermaksud mendaki gunung sekarang sambil memperlambat waktu?’ “Mbah Muhaimin sudah menceritakan beberapa hal yang perluku ingat. Kita tidak akan buang-buang waktu.” "Tunggu, biarkan aku menjelaskan sesuatu tentang gunung yang akan kau daki," cegat si harimau transparan. "Apa itu?" Tanpa membuka mata, pemuda bercelana hitam panjang bertanya. "Matahari belum muncul, jika kau tiba di sana, makhluk-makhluk gaib pasti akan berkerumun memperhatikanmu, karena aura gaibku dan juga aura cakar putih Pajajaran." "Maksudmu, aku harus menunda pendakian sampai matahari terbit?" Ia melirik ke kanan bawah di mana sang harimau putih tembus pandang berada. “Bukankah jika mereka muncul dan menghadang, aku hanya perlu membersihkan mereka saja?” "Ingatlah, Wildan. Kita datang kesana bukan untuk bertarung dan membunuh makhluk yang juga punya hak hidup. Aku bukan golongan jin, tapi aku juga makhluk gaib." Sayf lanjut melangkah – meninggalkan Wildan yang merenungkan kalimatnya barusan. Pemuda berjaket hitam menghela napas. ‘Sepertinya aku mulai membenci apapun yang berniat menghalangiku.’ * (Jalur pendakian Gunung Lawu Via Cemara Sewu.) Pemuda jangkung berbadan besar, menghentikan langkah kaki. Jas almamater kampus serta tas ransel besar di punggung, mengindikasi bila ia dan rombongan merupakan mahasiswa yang tengah terlibat acara di sana. “Kok… Perasaanku mendadak, jadi ndak enak, ya?”  Gadis berkerudung putih dengan jaket kuning yang ada di samping kanannya turut berhenti. “Kenapa, Wan?” tanya si gadis bermata belo tersebut.  “Ck! Ayo, Wan! Ini sudah pagi! Acara sudah dimulai dari semalam! Kita sudah terlambat gara-gara emakmu yang geger khawatir, loh!” celetuk lelaki jabrik cepak berkulit gelap. “Dilarang naik gunung karena takut kenapa-kenapa,” imbuhnya menirukan gaya bahasa ibu Iwan malam tadi. “Takut ada pesawat nyungsep ke gunung? Takut dimakan dukun kali ah!” Lelaki berbadan gempal menghela napas di hadapan Iwan. “Wan! Sebentar lagi POS 5! Mau turun juga nanggung!” celetuknya kesal sebelum balik badan – melanjutkan perjalanan. Iwan si lelaki berkulit cerah masih saja mematung, membiarkan lima orang mahasiswa termasuk pria jabrik bernama Feru berjalan mendahului. Gadis berjaket kuning yang ada di sisi kanan Iwan, menepuk pelan pundak sembari lirih bertanya, “Wan, kita sudah ditunggu panitia dari semalam. Kita juga sudah setengah jalan. Ayo?” Lelaki berambut ikal tersebut menghela napas berat. “Tan, apa kau tidak merasa ada hal aneh?”  Mengerutkan kening, gadis mancung tersebut memandang wajah Iwan. “Maksudmu?”  “Aku benci firasatku karena setiap kali aku-” “Feru!” rombongan muda-mudi yang berjalan di depan Iwan serentak menjerit memanggil nama si lelaki jabrik. Pasalnya satu di antara tiga macan tutul kuning sudah menerkam – menindih pemuda jabrik. Dua yang lain menyeringai – bersiaga dalam posisi siap menerkam para manusia di sana. Iwan dan gadis di sampingnya terkejut tatkala rekannya yang berada di barisan paling depan, tengah ditindih oleh sesosok harimau tutul. “Macan tutul?”  “Hwaaaagh!” Feru menahan leher spesies kucing besar agar terdorong jauh dari mukanya. ia kian histeris saat liur sang harimau menetes membasahi pipi. “Minggir kau kucing garong!”  Salah satu mahasiswa berbadan gempal berinisiatif mencari sesuatu guna menolong temannya. Kepalanya terhenti pada sebatang dahan yang mana tergeletak tak jauh dari dirinya berdiri. “Tahan! Fer!”  Namun baru bergerak hendak meraih dahan di tanah, satu dari macan tutul berukuran besar langsung melesat – menerjang. “Grrraaagh!”  Cet! Pemuda berjaket hitam melesat dari rimbun sembak belukar. Tangan kanannya yang dibalut pusaka Cakar Putih Pajajaran, mencekal punuk belakang sang harimau tutul. Setelah genggamannya cukup kuat, Wildan memutar badan ke belakang seraya melempar tubuh si spesies kucing besar pada macan tutul yang sedikit lagi berhasil menggigit leher Feru.  “Grrryyaaang!” Dua macan tutul tersebut terguling-guling di tanah, sejurus kemudian kembali berdiri dalam posisi siaga. Tiga hewan buas itu serentak menatap tajam Wildan dengan posisi siap menerkam.  Feru yang nyaris jadi sarapan para macan tutul, bergegas berlari mendekati rombongan. Sesaat sebelum harimau tutul melesat mengejar, mereka memandang Wildan yang justru melotot. ‘Apa kalian kehabisan mangsa sampai-sampai menyerang manusia!’ Sayf membentak ketiga hewan buas tersebut lewat telepati.  Berdiri dalam kuda-kuda, Wildan mengerutkan dahi. “Sayf? Kau bicara pada mereka?” gumamnya lirih.  Tiga harimau tutul jantan di sana mulai menunduk seolah ketakutan. Salah satu yang sempat hampir mencelakai Feru, buang muka – enggan menatap Wildan. Mereka melangkah pelan menjauhi Wildan beserta rombongan. Salah satunya mengeong, takluk pada bentakan khodam harimau putih yang berada di dalam pusaka Wildan.  ‘Pergi sekarang! Atau aku lahap kalian!’ bentak Sayf lagi.  Namun yang didengar oleh Iwan beserta rombongan, adalah suara auman harimau misterius lain – yang mana menggema di sekitar hutan. Suara barusan membuat tiga macan tutul tersebut lari tunggang langgang tanpa menoleh ke belakang.  Menghela napas setelah tiga sosok hewan buas melarikan diri, Wildan berucap lirih, “alhamdulillah.” Rombongan muda-mudi yang berdiri masih saja gemetaran, sekaligus takjub pada apa yang pemuda asing berjaket hitam lakukan. Iwan menyipitkan mata saat pusaka yang sempat membalut tangan kanan Wildan, lenyap secara perlahan. ‘Benda apa itu? Siapa bocah ini?’ * (Belasan jam lalu, Hutan Gunung Lawu.) Kegelapan malam masih saja memberi kegelapan di hutan. Meski angin malam tak terasa berembus di sana, tetapi hawa dingin yang begitu menyengat menusuk tulang tetap bisa dirasakan. Bunyi serangga malam, tak lagi terdengar. Cukup janggal bila hutan itu sebenarnya dihuni oleh berbagai jenis hewan nokturnal.  Alif yang sudah sempat putus asa karena tak kunjung menemukan Anto, memilih duduk di bawah pohon beringin. “Hadeh! Mana baterai sudah mau habis!” keluhnya menoleh kecil pada senter di tangan kanan. Buang napas kesal, ia mendongak memandang langit malam. ‘Kalau dirasa-rasa, ini sudah berjam-jam aku berjalan cari-cari si Anto. Tapi…’ Ia menggerakan senter guna menyorot sekitar. “Apa aku cuma berputar-putar saja, ya?”  Klaang…  Tatkala remaja keriting berkulit gelap beranjak dari duduk, ia tak sengaja menyenggol sesajen dan dupa yang ada di bawah pohon. “Loh?” Ia menyenter ke bawah di mana buah-buahan serta daging ayam tergeletak di tanah. ‘Sesajen? Loh! iya, kan! Aku kan sudah lihat sesajen ini berkali-kali! Jangan-jangan aku benar-benar diputar di sini!’  Bunyi suara seperti dengkuran, jelas terdengar oleh Alif. Jantung remaja berjaket tebal gelap seketika berdetak begitu kencang, bulu kudu sekujur badannya berdiri. ‘Suara apa itu?’  Suara berat dari sesuatu, terdengar dari dedaunan rimbun pohon beringin. “Keturunan ningrat! Pasti dia senang bisa dapat bocah berdarah biru sepertimu!” Sepasang mata merah menyala, muncul dari gelapnya pohon. Disusul oleh tetesan cairan bening serupa liur yang menetes jatuh membasahi dahi remaja berhidung mancung.  Mendongak ke atas, Alif terpaku tak mampu menggerakan seujung jari pun. Badannya gemetar setelah mata kepalanya menyaksikan sesosok genderuwo besar yang tengah menyeringai memamerkan taring panjang nan lengkung. Untuk menjerit pun ia tak sanggup sebab ketakutan yang begitu membekukan. * (Masa kini, Gunung Lawu.) Selesai memperkenalkan teman-teman rombongan beserta tujuan mereka mendaki gunung pada Wildan, Iwan menatap Feru – lelaki yang diterkam macan tutul dan nyaris jadi sarapan para penghuni alam liar gunung. “Terima kasih banyak sudah menolong kami.” “Aku Yuliana. Panggil saja Yuli,” ucap si gadis berbusana kuning usai membalut luka gores akibat cakaran macan tutul di badan Feru.  Sudah hampir tiga puluh menit mereka lalui dengan beristirahat di hutan tersebut. Wildan si pemuda berjaket hitam pun tersenyum ramah saat mahasiswa berbadan gempal menyodorkan sebotol minuman. “Terima kasih, Mas,” ucapnya.  Sayf sang harimau tembus pandang, kini duduk melipat keempat kaki. ‘Wildan... Wildan....’ Harimau bermata putih menyala memanggil dengan nada kecewa. ‘Kenapa? Kau dari tadi diam saja, dan sekarang kau... kesal?’ Meneguk air di mulut, pemuda berjaket hitam itu menaikan alis seraya melirik pada sosok khodam. ‘Kau seharusnya tidak berdiam di sini terlalu lama dengan mereka.’ Mengembalikan minuman yang masih tersisa pada lelaki berbadan gempal, Wildan bertanya lewat batin, "kenapa? Aku kan berniat melindungi mereka!’ Yuliana duduk di sebelah Iwan, matanya curi-curi pandang pada pemuda berjaket hitam yang tak henti-henti melirik ke sisi kanan. ‘Bocah SMA mendaki gunung sendirian? Ya mungkin bukan hal yang perlu dicurigai sih, tapi kok aneh ya?’ batinnya. Sayf melanjutkan, ‘niatmu memang baik, tapi sepertinya kau melupakan apa yang telah aku sampaikan, Wildan.’ "Apa?" tanya Wildan lirih. ‘Hampir semua makhluk gaib di gunung ini mengawasi kita. Dan kau justru berdiam bersama anak-anak polos yang tak tahu-menahu tentang hal gaib dalam pendakianmu.’ Wildan tertegun. "Kau benar." Ia menghela napas, menyapukan pandang pada para mahasiswa. ‘Apa kau bisa memastikan macan tutul tadi tidak akan menyerang mereka?’ ‘Hewan-hewan tadi sudah cukup jauh dari sini. Mereka berlari menuju hutan di dekat kaki gunung. Jadi kau tak punya alasan untuk mengantar mereka sampai tujuan,’ ungkapnya bangkit. Sepasang telinga harimau tersebut bergerak-gerak. ‘Ayo, Wildan. Ada sesuatu yang sudah menunggumu,’ imbuhnya.  ‘Sesuatu?’ Wildan menoleh seraya mengerutkan kening. ‘Apa? Di mana? Apa berkaitan dengan batu biru yang kita cari?’ ‘Aku yakin begitu, Wildan. Mari bergegas, Aku rasa ada sesuatu yang ganjil sedang terjadi di gunung ini,’ tanggapnya berjalan lebih dulu. “Hmmm…” Pemuda berjaket hitam bangkit berdiri. "Mas Iwan, Mbak Yuli, semua, sepertinya kita berpisah di sini," ucapnya berpamitan. "Apa kau bersungguh-sungguh, Mas?" tanya Iwan ragu. "Iya, ndak apa-apa, Mas.” "Kalau nanti butuh pertolongan, teriak saja ya, Mas! Kami tidak akan dengar," celetuk Feru cengengesan. "Apa-apaan sih, Fer!" Yuliana jengkel, disusul para rombongan lain. Wildan justru tertawa lirih. Senyumnya simpul. ‘Sudah ditolong malah songong,’ batinnya. “Kalau sampean ketemu kucing lagi, bilang ya Mas? Biar saya yang elus-elus,” balasnya. Iwan dan yang lain geleng-geleng, tidak seperti Feru yang merasa direndahkan.  "Baiklah, sampai jumpa!" Wildan mengucapkan salam perpisahan dan berjalan perlahan. Jalur yang ia lalui cukup datar, tak lagi menanjak sebagaimana di awal tadi. Setelah dirasa cukup jauh dari rombongan Iwan di belakang, ia memejamkan mata seraya mengatur napas.  Dedaunan yang jatuh secara tiba-tiba berhenti di udara tatkala sepasang netra beriris coklatnya terbuka. Pemuda beralis lebat, memajukan tangan kanan sebagai pelindung kedua mata. Berlari ketika benda-benda di sekitarnya berhenti sama saja bergerak dengan kecepatan yang amat tinggi. "Gasss!" bisiknya lirih. Ia pun mulai berlari. Ia melangkah melewati pepohonan dan juga beberapa semak belukar. Tanah yang ia tapaki makin menanjak, bulir-bulir keringat mulai menetes dari wajah dan tubuhnya.  Beberapa waktu berlalu, tak jauh di depan pemuda berambut lebat, tampak sebuah makam berlantai putih. Pada sebelah makam beratap tersebut, terdapat sendang atau mata air berbentuk kolam persegi. Mata air bernama Sendang Drajat. Sesosok lelaki berbusana putih ala resi, duduk di sana seraya melempar senyum pada Wildan beserta sang harimau putih. Kerumunan orang-orang di sana masih saja bergerak begitu lambat. Wildan perlahan berjalan mendekati pria yang wajahnya seperti pernah ia lihat. "Dia, orang di Masjid subuh tadi kan?" gumamnya lirih, melewati orang-orang di sana. Sayf sang harimau tembus pandang lekas-lekas menundukkan kepala – memberi hormat seperti saat bertemu Ki Panca.  Membuka mata, orang itu tersenyum dan menatap kedua sosok yang mendekat. "Assalamualaikum?" sapa Wildan. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawabnya tenang.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม