(Gunug Cikuray, Garut, Jawa Barat.)
Dap!
Raihan si pemuda berblangkon hitam sejenak terpana pada pemandangan di depan mata. ‘Pohon-pohon tumbang? Apa yang terjadi?’ Telapak tangannya terbuka, meraba-raba udara hampa seraya memejamkan mata, berniat menelisik kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu. Tetapi, tak ada gambaran jelas soal apapun yang terpintas dalam benak pemuda berjaket hitam. ‘Apa yang terjadi?’
“Kang Raihan?” Panji berhenti di belakang lelaki bercelana hitam. “Apa kau tahu siapa dia?” tanyanya mendongak – menatap langit, di mana sesosok manusia gondrong tengah mengembangkan sayap hitam nan lebar.
‘Bukankah itu Mandala? Apa dia yang melakukannya?’ pikir Raihan mendongak ke langit malam.
*
(Alam Mimpi.)
“Jiwa manusia, akan semakin kuat ketika terus menerus ditempa. Sebab, ujian kerap tiba bukan hanya karena bentuk teguran, tetapi sering datang sebagai bentuk penguat batin.” Ki Panca melempar senyum ramah pada lelaki berkaos hitam.
Wildan terdiam merenungkan kalimat sosok yang sudah ia anggap sebagai guru. ‘Aku hanya takut. Aku takut merasakan kesedihan.’
“Suatu ketika, Syekh Mutawalli Asy-sya’rawi pernah berkata, jangan bersedih atas perkara yang membuatmu menangis, Sang pemilik Arsy mencintaimu ketika mengujimu. Katakana Alhamdulillah, maka kau akan bebas.”
Pemuda beralis lebat tersenyum masam, menundukan wajah – enggan menatap balik sosok berbusana serba putih. ‘Dua bulan lagi, aku seharusnya mengikuti ujian nasional. Aku harusnya seorang remaja SMA seperti umumnya. Sampai semua hal-hal konyol ini datang begitu saja. Aku meninggalkan kehidupan normalku, demi sesuatu yang bahkan tidak aku tahu. Titisan Cahaya? Pusaka mengerikan yang tak bisa dilepas? Harimau gaib berusia ribuan tahun? Tugas hidup? Takdir? Semua ini tak adil!’
Tep!
Ki Panca bersimpuh guna menyetarakan tinggi badan sembari menepuk pundak kiri Wildan. “Nak, ingatlah bila hidup ini bukan soal dirimu.” Ia menunjuk kulit yang menutup jantung. “Ini soal nurani, soal jalan agar mendapat ridho illahi. Dunia, bukanlah surga. Ia hanya penjara penuh beban yang harus dilalui.” Sosok mancung dengan sepasang mata yang dicelak, menghela napas. “Seharusnya kau bersyukur sebab terpilih dalam skenario besar Sang Maha Pencipta,” imbuhnya.
“T-tapi aku hanya bocah yang belum tahu apa-apa, Mas!” sahutnya membendung air mata. “Apa yang kau sebut sebagai jalanku ini, terlalu curam untuk dilewati,” tambahnya lirih.
“Tugas kita, hanyalah berusaha. Sebab dalam berusaha, terdapat titik-titik celah menuju keberhasilan,” tanggapnya. “Ingatlah itu, wahai Sang Musafir.”
*
(Beberapa jam kemudian, sebuah rumah dekat kaki Gunung Lawu, Jawa Timur.)
Sayup-sayup mata pemuda berkaos hitam itu mulai terbuka. Punggungnya yang mendera luka, ditopang oleh kasur kapuk bersprei hijau – tak terlalu empuk dan bersih. “Agh… Sakit!” Ia memaksakan diri untuk bersandar pada bingkai tempat tidur dari kayu jati. ‘Badanku seperti remuk! Bergerak sedikit saja, nyerinya gak ketolongan!’ pikirnya meringis menahan sakit. Keningnya berkerut, ia memandang heran kamar asing dengan perabotan kayu. Dari jendela kamar, terlihat rimbun tanaman hutan bertumbuh pada sisi luar bangunan.
‘Kau sudah siuman, Wildan?’
“Sayf? Apa yang terjadi? Sekarang, aku di mana?” gumamnya lemas. Wajah lelaki berusia delapan belas tahun tersebut pucat, dengan bibir kering.
‘Sesaat sebelum kau masuk ke dalam air, aku mewujudkan diriku dan menangkapmu. Setelah itu, kita berada di sebuah sungai yang dulunya dikuasai orang-orang kerajaan Majapahit,’ jelasnya tanpa menunjukan diri.
Netra beriris coklatnya melirik ke kanan-kiri, otaknya mencerna informasi dari sang khodam. ‘Majapahit? Ini, di Jawa Tengah? Atau Jawa Timur? Terus, ini di rumah siapa?’ sahutnya mengelus kepala. “Heh! Sebentar! Bukankah tadinya kita di Gunung Cikuray Garut? Sungai? Apa maksudmu, aku hanyut sampai ke sini?”
‘Beberapa sungai, danau, dan laut, sejatinya bisa menghubungkan daerah satu dengan daerah lainnya. Memang tidak semua kubangan air bisa digunakan sebagai jalan pintas untuk berpindah tempat, tapi kebanyakan memiliki sisa-sisa energi dari leluhur maupun pertapa sehingga memungkinkan kita memakainya. Di masa kerajaan Nusantara, itu disebut sebagai gerbang gaib air.’
Wildan mengusap wajah, tak mau ambil pusing. ‘Yah, terserah. Hal-hal diluar nalar saja sudah aku alami bertubi-tubi.’ Ia menghela napas. “Kalau ini ada di daerah Jawa Tengah ataupun Jawa Timur, artinya dekat dengan Jogja, kan? Apa mungkin ini pertanda alam agar kita ke sana?”
‘Tenangkan dirimu, Wildan. Tubuh dan sukmamu terluka parah akibat pertarungan semalam. Aku juga perlu memulihkan diri sebelum bisa mewujud ke dunia manusia. Kau perlu beristirahat sejenak,’ anjur Sayf dari dalam badan.
Krrriet…
Bunyi pintu kayu yang sedikit lapuk, membuat Wildan menoleh ke arah pintu. Ia terdiam membisu melihat sesosok lelaki penuh keriput dengan rambut yang sudah memutih. Sosok kakek tua berbusana batik abu-abu, terlihat kurus dengan gigi yang masih rapi. ‘Siapa dia? Apa pemilik rumah ini?’
“Sudah bangun, Nak?” sapanya ramah sembari berjalan mendekat.
“Bapak, maaf… Tapi, saya sekarang di mana?” Pemuda berkaos hitam berhenti bersandar.
“Saya Muhaimin. Saudaraku menemukanmu pingsan di pinggir sungai pagi tadi pas pulang dari masjid,” jelasnya duduk di sisi ranjang. “Apa kamu pendaki?”
“Eemm…” Paham bila menceritakan peristiwa sebenarnya akan sulit dipercayai, Wildan pun ragu memberi tanggapan. ‘Sayf, aku harus bilang apa?’
“Hooh, anak muda itu sudah sadar?” Lelaki sepuh bertampang bule muncul dari ambang pintu kamar. Rambut yang telah memutih serta keriput di wajah mengindikasi usia yang cukup jauh dari Wildan.
‘Turis asing?’ pikir Wildan.
*
Laras duduk merenung di pembatas balkon rumah sakit – sisi luar ruang tunggu. Gadis berseragam SMA tersebut menunduk, mengayun-ayunkan kaki jenjang yang mana terjuntai ke bawah. ‘Orang-orang dari eropa biasa menyebut lelaki idaman mereka sebagai pangeran tampan berkuda. Orang-orang sekarang, kebanyakan menyebut lelaki idaman mereka dengan sebutan mirip artis Korea. Tapi kenapa sejak bertemu dengannya, aku tak bisa lupa saat dia dengan gagah berani menunggangi harimau putih?’ Bibir manisnya tanpa sadar merekahkan senyuman.
Ketika wajah pemuda beralis tebal dengan sepasang netra coklat terbayang di benaknya, Laras buru-buru menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak! Tidak! Tidak!” gumamnya menghela napas. “Apaan, sih! Aku saja belum kenal dia itu siapa! Bukankah dia itu tidak wajar! Dia tiba-tiba saja datang dan melakukan berbagai keajaiban demi menolongku?” gumamnya lirih.
“Siapa tahu dia ini jodoh yang Tuhan kirim untukmu,” celetuk siswa jangkung berjaket hitam dengan celana abu-abu.
“Heh?” Wajah Laras berubah merah seraya menoleh ke belakang. “A-Afif! Heh! Kagetin orang saja!” sahutnya kesal. “Kau, bolos sekolah lagi?” Alis siswi berseragam SMA naik sebelah.
Melompat kemudian duduk di sebelah kiri gadis tersebut, Afif menyahut, “sekolah dipulangkan mendadak karena terjadi kesurupan masal.”
“Kesurupan masal? Lagi?”
“Untung kau tidak di sana. Kalau di sana, bisa-bisa aku dan yang lain kuwalahan menjagalmu yang kerasukan itu! Ahahah!”
Bibir gadis berkulit sawo matang manyun. “Dasar tak sopan!” celetuknya kesal.
“Aku datang kesini karena Bu Evita bilang, Wildan ada di sini. Tapi, di mana dia?” tanyanya celingukan.
“Dia…” Ekspresi Laras terlihat lemas. “Dia pergi semalam.”
“Pulang ke Pekalongan?” Afif memastikan.
Laras menggeleng. “Dia cuma bilang, pergi untuk menyelamatkan Sukma,” jawabnya.
“Sukma? Adikmu? Lah, bukannya dia sudah siuman?”
Laras menoleh cepat. “Apa maksudmu?”
“Itu barusan pas aku jalan ke sini, adikmu sedang makan disuapi perawat,” lapornya menunjuk arah belakang menggunakan jempol.
Dap!
Gadis berkerudung putih segera balik kanan, mengayuh kedua kaki menuju ruang ICU di mana adik bungsunya berada. “Sukma?” Wajah perempuan berhidung mancung tersebut menampakkan raut bingung.
Dak! Dak! Dak!
Ia menggedor pintu menuju ruang ICU sembari membendung air mata ketika melihat gadis kecil yang agak mirip dengannya, terduduk lemas sembari disuapi sang perawat. “Sukma!” Setelah pintu dibuka, ia menerjang – mendekap erat gadis remaja berusia belasan tahun sembari menangis sesenggukan.
Di pojok ruangan, sesosok harimau putih bermata menyala dalam wujud tembus pandang, duduk menyaksikan adegan haru. ‘Kau berhasil, Wildan.’
“Rengganis Adistya Larasati?” Lelaki berbalut seragam TNI berdiri di ambang pintu masuk – sejajar dengan seorang pria berbusana ala dokter.
Sayf menghadap pada lelaki sawo matang dengan name-tag Andi pada baju, sebelum lenyap dari ruangan.
*
(Senja di kaki Gunung Lawu.)
Wildan menyandarkan punggung pada kursi kayu di halaman rumah lempeng sederhana. Di sebelahnya, lelaki bule tua beruban turut menemani. “Jadi, Bapak ini veteran Belanda yang sekarang menetap di Indonesia?”
“Bisa dibilang begitu, Nak,” jawabnya manggut.
Terbayang masa-masa ketika teriakan disertai ledakan semasa muda. Mata lelaki mancung itu, membendung air mata. “Peperangan, bukanlah hal yang kami kehendaki. Banyak dari kami, dipaksa oleh pemerintah kerajaan untuk membantu agresi militer di Nusantara waktu itu. Jika kami menolak, maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada keluarga kami.”
“B-begitukah?” Wildan menoleh cepat pada pria berusia delapan puluh tahunan.
“Muhaimin adalah veteran negeri ini yang keluarganya aku bunuh pada masa penyerangan. Ayah, Ibu, dan adik-adiknya. Aku yang diperintah untuk menghabisi nyawa mereka oleh komandan tertinggiku waktu itu.” Bulir air mata mulai keluar dari pelupuk mata, menetes mengaliri pipi. “Meski dia sudah bilang berkali-kali telah memaafkanku, aku tetap tidak bisa memaafkan diriku sendiri.”
Jantung Wildan turut sesak mendengar pernyataan sang mantan algojo Belanda. ‘Orang ini benar-benar menyesal,’ pikirnya.
“Dor! Dor! Dor!” Mbah Muhaimin muncul dari dalam rumah nan sederhana. “Kebiasaan! Kalau ada tamu kok pasti diceritakan pelajaran sejarah terus!” celetuknya geleng-geleng sebelum duduk di sebelah Wildan. “Wis, ora opo-opo! Jangan diingat-ingat terus! Semakin gundul nanti kepalamu Dor! Hehehe!”
‘Mbah Muhaimin sama sekali tidak menyimpan dendam pada orang yang telah membunuh keluarganya?’ renung Wildan.
Sayf muncul dalam transparan, langsung menanggap pertanyaan Wildan, ‘orang yang lapang hatinya, akan mudah mengampuni serta memaafkan siapapun yang pernah melukai mereka. Kenapa kau heran pada sikap orang ini, Wildan? Bukankah itu yang diajarkan oleh para ulama?’
‘Sayf? Heh! Kau datang tidak bilang-bilang!’ Netra coklat Wildan melirik pada sebuah pohon pisang di halaman rumah, di mana Sayf berteduh di bawahnya.
‘Adik gadis Garut itu sudah siuman. Perempuan yang kau sebut pramugari itu juga sudah membaik. Artinya, kau sudah menuntaskan amanah Kakekmu, Wildan.’
Pemuda berkaos hitam menyipitkan mata seraya menekuk ujung garis bibir ke bawah. ‘Terus?’
‘Batu biru yang ada di Gunung Lawu. Kau harus mengambilnya sebelum pergi ke Markas Pusaka Nusantara di Jogja, benar?’
“Ahh! Ya!” celetuknya teringat pada tugas.
“Kenapa, Nak?” Lelaki bule sepuh bernama Theodore menghapus air mata.
Wildan menatap dua lelaki tua bergantian. “A-anu, Mbah. Di atas itu, Gunung Lawu kan, ya?”
‘Jadi dia bukan pendaki? Tapi kok, dia hanyut di sungai yang bermuara dari gunug?’ Mbah Muhaimin mengerutkan kening. “Ya, betul. Kenapa, Cah Bagus?”
“Anu, apa Mbah pernah dengar soal pusaka batu biru?”
Mbah Muhaimin melirik ke kanan-kiri sejenak sebelum memandang lelaki bule beruban. “Dor, tolong buatkan kopi sama sekalian rebuskan pisang, ya? Buat teman udud!” ucapnya.
Lelaki bernama Theodore tersenyum seraya beranjak dari tempat duduk. “Mentang-mentang si Minah sudah dikubur, aku yang jadi pembuat kopi!” celetuknya geleng-geleng.
*
(Hutan Gunung Lawu, Jawa Timur.)
Alif masih saja bersedekap kedinginan walau tubuh kurus berdaging padatnya sudah dibalut jaket tebal warna hitam. “Anto! Sudah belum woy! Jangan lama-lama! Kau tak mau disunat Mbak Kunti di sini, kan!” serunya kesal. Pasalnya sepuluh menit ia lalui demi menemani teman seangkatan yang jadi panitia permekahan pecinta alam.
Siswa SMA berambut keriting mulai balik badan setelah sepuluh detik berlalu tanpa adanya jawaban. Ia masih ingat jelas bila temannya buang air besar tak jauh darinya berdiri. “Anto! Buruan! Jangan lama-lama!” serunya menyorot area bawah pohon menggunakan senter bersinar jingga di tangan kiri. “Loh? Kok ilang!” celetuknya spontan – tak menemui remaja sebayanya di sana.
“Wah! Jangan-jangan aku ditinggal! Benar-benar ngawur si Anto! Ditemenin malah ninggalin!” celetuknya kesal kembali berjalan menuju arah tenda para rekan-rekan.
Tiupan angin malam berembus lirih menerpa wajah berhidung mancung si pemuda berkulit gelap. Samar sepasang telinganya mendengar suara familiar dari arah datangnya angin, “Alif… Tolong…”
“Anto?” Ia menyorotkan senter ke jalan setapak di hadapan. “Anto!”
“Alif… Tolong, Lif…”
“Anto! Kau di mana!” sahutnya mengayuh kedua kaki cepat-cepat. “Anto!”
Drap drap drap drap drap drap…
Pemuda berjaket tebal gelap, mulai memperlambat laju langkah ketika tubuhnya meraskan aura yang menyesakkan paru-paru. ‘Aih! Merinding!’
“Alif, tolong aku, Lif…”
“Ck! Anto! Kau di mana!” sahutnya kembali berlari maju melewati dua buah pohon beringin besar.
Tanpa pemuda itu sadari, taburan bunga, beserta dupa yang masih menyala, berada dekat dengan sesajen di bawah pohon besar berdaun lebat tersebut.
Sementara di tempat tadi Alif berdiri, seorang remaja dengan seragam PDL yang mana bertuliskan nama Anto pada bagian belakang, kini celingukan dalam kegelapan. “Lif! Woy! Alif! Di mana kau! Woy! Gue kagak bawa senter malah ninggalin!” Wajah remaja tersebut berubah pucat. Tanpa membersihkan diri, cepat-cepat ia mengayuh kedua kaki pada arah yang berlawanan dari Alif yang sudah pergi lebih dulu. “Huaaaaa!”