Insiden Pesawat dan Objek Misterius!

2295 คำ
(Beberapa menit sebelum Wildan menyadari keberadaan anggota LHA, Dieng, Jawa Tengah.) Udara malam dataran tinggi Dieng begitu menusuk bersama kabut pekat. Meski cerah dengan hias taburan bintang, gelapnya malam dank abut membuat masyarakat sekitar tak mampu melihat jauh. Motor dan mobil milik wisatawan lokal dan interlokal masih berseliweran di jalan raya antar provinsi kala itu. Saat lampu kecil di arloji hitam tangan kanan pria bule berambut pirang tampak berkedip-kedip, tangan kirinya segera mendekatkan kancing baju di kerah ke mulut seraya berkata, “kami menemukan keberadaan sang cahaya putih, Yang Mulia.” Wajahnya memandang lurus ke sebuah penginapan bertingkat lantai dua yang mana berdiri kokoh di hadapannya. Suara dari alat komunikasi sekecil kancing di kerah menyahut, ‘pastikan kau menaklukannya tanpa menimbulkan banyak keributan, ganti.’ Lelaki berkulit gelap dengan busana tuksedo hitam menghampiri pria pirang berkaca mata. “Semua sudah bersiap di posisi. Kita masuk sekarang?” Krrriet… Daun pintu depan penginapan dibuka dari dalam. Wildan Alfatih si pemuda berjaket hitam dengan garis putih melingkar pada lengan, melempar senyum bermakna marah. “Kalian mencariku? Bukankah perempuan-perempuan di luar negeri itu cantik-cantik? Terus kenapa kalian malah kejar-kejar aku? Apa aku terlalu tampan?” tanyanya dengan bahasa inggris. Alis kanannya naik ke atas. “Serahkan dirimu, Nak! Atau kami akan mencelakai orang-orang di sini!” kecamnya merogoh alat penembak laras pendek dari belakang saku celana. Warga sekitar perempuan yang melihat kejadian tersebut mulai menjerit histeris. Sedangkan para lelaki di sana memilih diam – memperhatikan apa yang hendak dilakukan sang pria pirang dengan benda berbahaya di tangan. “Ck! Dasar pecundang!” geretaknya gemetar. Badan Wildan seperti menggigil bukan karena takut – melainkan rasa jengkel yang berpadu kebencian. Ia masih menahan diri untuk tidak menyerang. “Apa kalian akan terus mengejarku sampai berhasil membawaku ke markas kalian?” Wildan berjalan mendekat tanpa ragu. “Atau kalian ingin membunuhku di tempat?” Pria mancung berkaca mata hitam mengacungkan senapan yang digenggam menggunakan kedua tangan. “Percayalah, Nak. Jika kau menyerahkan dirimu baik-baik, aku akan berusaha untuk tidak melukaimu,” bujuknya sembari siaga menekan pelatuk. “Lagi pula kami tahu, kalau kau bisa memperlambat waktu. Tapi perlu kau tahu, kalau rekan-rekanku sudah bersiap di beberapa sudut lokasi untuk menembak orang-orang sekitar agar taka da saksi mata.” Pemuda bersepatu sport mengerutkan bibir. “Hmmm… Sudah kuduga.” Grrrroaaaaar! Auman harimau menggelegar, disusul teriakan anggota LHA yang telah standby di atap-atap rumah sekitar – yang mana bersiap menekan pelatuk sniper laras panjang. Tubuh beberapa pria bertuksedo itu bergulingan di atap, sebelum jatuh ke bawah. ‘Arrgh! Rencanaku gagal!’ pikir si pria pirang berhidung mancung yang menolehkan kepala ke samping kiri di mana tiga orang terjatuh ke tanah tak sadarkan diri. Pemuda berjaket hitam menyipitkan sepasang mata coklatnya pada pria bule rambut pirang. “Tunggu.” Ia heran pasalnya wajah lelaki tersebut, sama seperti orang yang harusnya sudah dicabik di rumah kosong oleh siluman kelelawar, juga mirip seperti pria pirang yang ada di sekolahnya tadi pagi. “Kau orang yang sama, kan?” Lelaki mancung dengan tinggi seratus delapan puluh sentimeter melesat – menyabetkan kaki kanan pada kepala Wildan, disusul dengan pria berkulit gelap yang cepat-cepat menodongkan alat penembak dari saku belakang. ‘Walau sepertinya sama, tapi sepertinya beda orang!’ Wildan menangkis tinju pria bule menggunakan sarung tangan logam putih, kemudian menutup kepala yang diincar oleh tiga timah panas anggota LHA lain. Dang! Dang! Dang! Para warga yang sempat berkerumun seraya meneriaki mereka, mulai berlarian menjauhi area penginapan. Laras yang sudah mengenakan piyama hijau lengan panjang lengkap dengan kerudung, berlari guna melihat keributan dari balkon lantai dua penginapan. Di belakang gadis sawo matang itu, Afif serta Nita muncul menyusul. ‘Wildan! Cepat selesaikan sebelum timbul kehebohan!’ anjur Sayf lewat telepati. Blaaag! Setelah sejenak memperlambat waktu sembari berjalan mendekati lawan, Wildan mengayun tinju dari bawah ke atas ala upper-cut – mengenai perut sasaran dengan sangat keras hingga si bule memuntahkan darah. “Aku tak akan segan mencelakai orang-orang sepertimu! Jadi pikirkan baik-baik sebelum nekat bertindak!” serunya pada lelaki berkulit gelap yang masih saja menyodorkan moncong alat penembak dari jarak delapan meter. “Haaaagh!” Ia melempar tubuh si pria bule hanya menggunakan tangan kanan pada  satu-satunya lawan yang tersisa. “Hebat!” celetuk Afif terkagum. “Aku kira penjelasan Laras yang tidak masuk akal, hanya halusinasi saja,” imbuhnya bergumam.   Nita memegang dahi setelah merasakan getaran gaib kuat dari Wildan. ‘Benda yang ada di tangannya… Dan harimau itu… Siapa sebenarnya bocah itu?’ Laras yang melihat Wildan melompat menaiki sosok harimau putih berbulu lebat, diam termangu. ‘Apa dia manusia?’ * (Jalan Raya Wonosobo, Jawa Tengah.) Drap! Drap! Drap! Drap! Drap! Kedua tangan Wildan begitu erat menjambak bulu lebat sang harimau putih bermata menyala. Ia menunduk meniru pembalap motoGP di punggung sang khodam. “Sayf, ini benar jalan menuju Garut, kan?” tanyanya keras-keras di sela terpaan angin malam. Pada sisi kiri, jurang terjal yang hanya dibatasi pinggiran logam lebar membentang – sementara di sisi kanan tebing nan tinggi menjulang ditumbuhi pepohonan. Aspal yang mereka lalui menurun nyaris sembilan puluh derajat. Sayf menjawab lewat telepati tanpa menggerakan mulut, ‘aku tak tahu pasti, Wildan.” “Lah! Kok? Terus sekarang kita ini ke arah mana!” ‘Aku hanya meraba perbedaan aura tempat yang kita lalui saja.’ Wildan menyipitkan mata, memandang sebuah mobil yang melaju cukup jauh di depan mereka. ‘Memangnya, apa yang berbeda? Hanya karena semakin dingin, artinya makin dekat dengan daerah Sunda, begitu? Mentang-mentang di Bandung dingin?’ ‘Hawa, aura, nuansa, dari alam dan makhluk-makhluk gaib sekitar, memiliki pencirian wilayah tertentu, Wildan. Aku yakin kau hanya perlu mengasah tingkat kepekaan spiritualmu untuk merasakan perbedaannya.’ “Hmmm…” Wildan merebahkan badan ke depan. ‘Sayf, apa tidak ada hal yang aku larang padamu untuk diceritakan?’ ‘Apa di kehidupan ini, kau tahu banyak soal kerajaan Pajajaran?’ ‘Sejujurnya, aku hanya tahu sedikit mengenai Raden Kian Santang dan beberapa saudaranya.’ Ia terdiam sejenak seraya melemaskan badan. “Eh? Tunggu! Apa di kehidupan lalu aku mengenal baik beliau-beliau?” ‘Seingatku, kau begitu menghormati mereka, seperti kau menghormati saudara yang lebih tua.’ “Wahhh… Tapi, memangnya aku tercatat di buku sejarah? Siapa namaku di masa lalu? Apa aku terlibat dalam kejadian besar sejarah?” ‘Buku sejarah? Maksudmu, di prasasti atau relief-relief candi?’ “Mmmm… Y-ya itu bisa juga, sih! Ada?” tanyanya girang. ‘Hanya sedikit kerajaan yang mencatat namamu beserta ramalan kembalinya dirimu. Selain karena dirimu sendiri yang meminta agar jati dirimu disembunyikan, sebagian tentara dari luar Nusantara pun menghapus namamu dari sejarah.’ Bocah berusia tiga tahun yang duduk di jok belakang mobil merah, terkesima memandangi Wildan yang berlari menunggangi Sayf. “Awwwrrr! Aing maung! Aing maung! Aing maung!” serunya menyeringaikan wajah dengan kedua tangan meniru cakar harimau. Sang Ayah yang tengah menyetir, tersenyum seraya fokus pada jalan di depan. “Dek, tidur sana. Sudah malam, Umimu loh sudah merem itu,” tanggapnya menoleh kecil ke samping kiri di mana wanita berkerudung lebar terlelap pulas. Sementara gadis berkerudung biru yang ada di dekat si anak balita, sibuk memainkan ponsel. “Yah! Yah! Aing maung! Awwwrrrr!” serunya menunjuk-nunjuk jendela. Wildan menggaruk-garuk kepala belakang. “Hadeh… Kenapa aku meminta begitu? Dan… Sejak kapan sebenarnya orang-orang asing itu mengerti tentang diriku? Apa tujuan mereka hanya untuk mengambil pusaka ini saja?” Dlap! ‘Karena itu sudah terlalu dalam, maka baiknya kau gali sendiri, Wildan,’ sahutnya melompati sebuah mobil di depan dalam satu kali terjangan. Spontan sang lelaki pembawa mobil memperlambat laju kendaraan sembari mengelus-elus tiga sentimeter di bawah tenggorokan. ‘Astaghfirulloh hal adzim… Apa itu!’ “Nah kan, Yah! Aing maung! Arrrrrrrrg!” celetuk si balita heboh. Plak! Wildan menabok kepala belakang sang khodam berbulut lebat. “Heh! Kucing garong! Yang bener lah! Kau mau jadi sebab kecelakaan!” ‘Ahh, sumimasen!’ sahutnya. “L-lah? Heh? Hey! Anda! Sejak kapan jurig lokal bisa bicara bahasa Jepang!” ‘Bukankah kau yang sering bergumam menamai dirimu sebagai wibu? Dan bukankah wibu itu meniru bahasa dari gambar bergerak yang ditonton oleh pemuda bernama Afif di penginapan tadi? Dan lagi aku bukan bangsa jurig!’ Plak! Wildan menghela napas sembari menepuk jidat. “Hadeh Gusti! Khodamku jadi wibu!” * (Satu hari yang lalu, Bandara udara Dallas, Amerika.) Lelaki keriting dengan jas hitam dan celana jeans panjang, berjalan di antara lautan manusia. Hanya dirinya yang tak membawa tas maupun koper berat seperti yang lain. Pria berkulit putih dengan wajah pucat tersebut, menggigit bibir kering hingga berdarah. Kedua tangan lelaki setinggi seratus lima tujuh puluh lima sentimeter itu ditaruh di dalam saku celana. Langkah kakinya terburu-buru – tertuju pada meja pengecekan visa bandara. Tak jarang beberapa anggota satpam berperut besar mengamati tingkah laku si lelaki itu. Pasalnya pria keriting berhidung mancung tersebut bersikap seolah baru saja menggunakan herbal terlarang. Begitu juga dengan orang-orang yang mengantre di belakang pria tersebut – memasang wajah heran akibat didorong rasa penasaran. Usai memberikan paspor dan visa pada petugas, pria berusia dua puluh satu tahun itu celingukan seperti ketakutan - takut terhadap seseorang atau sesuatu yang mengejar. Beberapa menit ia lalui dengan ketakutan mendalam. Baru setelah ia mendapat kembali kartu visa dari tangan petugas Bandara, pria gusar tersebut mempercepat langkah kaki guna sampai di lapangan pesawat terparkir. Puluhan meter di belakang pria tersebut, seorang pria berkaca mata hitam dengan tuksedo hitam, mendekatkan kancing di kerah pada mulut seraya berkata, “objek telah berangkat ke pesawat. Apa aku masih perlu mengejarnya?”  Suara dari kancing baju tersebut menyahut, ‘kemana tujuan objek gagal kita?’ “Indonesia, Pak,” jawabnya dengan bahasa Inggris. ‘Hoo, bagus sekali! Tepat seperti rencana awal kita. Biarkan saja. Lagi pula atasan LHA banyak pasti akan senang melihat tikus itu datang ke sana. Dan juga, aku penasaran pada daya tahan orang itu. Berapa lama dia mampu menahan naluri liarnya!’ * (Kediaman Ki Panca, Kabupaten Pekalongan.) Wajah pria berusia tiga puluh Sembilan tahunan itu terlihat segar. Ia menghadap seornag pemuda berambut emo – bertemankan dua cangkir kopi s**u hangat dengan sebatang lisong di jepitan jari kanan. “Ju, Jaju. Besok kamu berangkat ke Garut, ya?” Bayu yang juga duduk bersila sembari menikmati racikan lisong khas Nusantara, manggut-manggut setelah membuang klatu ke asbak. “Garut Kota, atau Kabupaten, Pak Kyai?” “Kabupaten. Nanti di sekitar hutan pohon pinus yang kamu jumpai, berdiamlah di sana semalam. Berani, kan?” “Nggih, Pak Kyai. Siap!” sahutnya mantap. “Usiamu berapa, Ju?” Menyeruput kopi di cangkir putih, Ki Panca tersenyum. “Eeeem… Delapan belas tahun bulan depan, Pak Kyai.” “Titisan Cahaya yang dicari-cari kok, tidak lebih tua darimu ternyata. Dia masih sekolah.” Bayu tertegun sejenak. “S-sekolah di Garut, Pak Kyai? T-tapi bukannya kata njenengan sama Mbah Rikma Seto dia orang Pekalongan?” “Ya, dia kan Musafir. Wajar hidupnya jalan-jalan terus,” celetuknya menaruh secangkir kopi ke lantai beralas karpet hijau. Bayu menggulirkan mata ke kanan dan kiri. ‘Oh… Alhamdulillah! Akhirnya, sudah tinggal sebentar lagi bisa ketemu dia!’ “Indonesia, Indonesia, Indonesia…” Ki Panca menyebut nama negara dengan irama. “Kenapa engkau sedang tidak baik-baik saja wahai Indonesia…” “Pak Kyai, ngomong-omong di mana Kang Raihan sekarang? Apa Pusaka Nusantara juga sudah tahu tentang kemunculan Sang Titisan Cahaya?” “Bangsa demit di penjuru negeri, sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Sebagian yang menyimpan dendam kesumat pada Syekh Subakir karena segel gaib yang beliau pasang, sebagian telah pulih. Wajar kalau Pusaka Nusantara sedang sibuk menangani kasus-kasus di berbagai tempat. Tapi untungnya, makhluk itu masih berdiam diri guna memulihkan kekuatan,” ungkap sosok berhidung mancung usai menghisap habis lisong. “Apa tidak sebaiknya kita cari dan cegah makhluk itu sebelum dia mengamuk, Pak Kyai?” Lelaki berbusana hijau lengan panjang menggeleng lirih dengan senyuman. “Ketika wabah penyakit ditimpakan pada umat manusia, bisa saja para Wali berdoa agar penyakitnya diangkat. Ketika gempa maupun bencana alam terjadi, bisa saja para Wali berdoa dan memohon pada-Nya agar musibah tersebut diangkat segera atau dicegah sebelum terjadi. Tetapi, ada kalanya, para Wali ridho terhadap ketentuan-Nya. Sebab, mungkin musibah yang akan terjadi, merupakan pertanda akhir zaman, atau sebuah cara agar manusia merenungkan tujuan hidup.” ‘Jadi maksudnya… Kehancuran yang kelak terjadi oleh makhluk mengerikan itu, memang tak bisa dicegah, ya?’ pikir Bayu. “Jika memang tidak digariskan untuk mencegah, sepaling tidak kita bisa meminimalisir kehancuran. Dan empat orang yang dinubuatkan, adalah wasillah. Itu kenapa, kau juga harus siap membantu mereka,” sahutnya mendengar sesuatu yang sang santri pikirkan. “Lalu soal Kang Mandala, apa saya perlu memberi tahu soal Sang Titisan Cahaya padanya?” “Biarkan mereka bertemu dengan cara-Nya. Lagi pula bocah itu yang kelak mengumpulkan tiga titisan lain,” jelas Ki Panca santai. ”Oh, dan nanti sepulang dari Garut kalau kamu mau cari aku, aku ada di Desa Paninggaran, ya? Insyaalloh mau menetap di sana beberapa bulan ke depan.” * (Memasuki wilayah Garut.) Wildan si pemuda berjaket hitam, tertidur pulas di atas punggung sang harimau putih. Walau laju sang khodam bermata menyala cukup kencang, tetapi daya gaib yang seperti magnet dari tubuhnya, membuat Wildan tetap menempel di punggung tanpa jatuh meski tertidur tanpa menjaga keseimbangan badan. ‘Wildan?’ Sayf memanggil dengan telepati sembari melaju di atas jalan raya aspal nan sepi kendaraan. ‘Wildan, bangunlah! Wildan!’ Mata menyala putih sang harimau berbadan kekar tertuju pada langit malam di mana sebuah benda asing warna putih – tengah meluncur cepat ke permukaan tanah. “Wildan!” serunya memanggil. “Uuugh… Agh, kenapa? Ada apa?” tanyanya malas tanpa membuka sepasang mata. “Wildan! Lihat ke langit!” seru Sayf lagi. “Hooaaam!” Wildan menguap sejenak sebelum duduk tegap di atas punggung sang harimau. Kaki pemuda bersepatu sport itu terjuntai ke bawah tetapi tak menyentuh aspal sebab badan Sayf yang lumayan tinggi. “Ada ap-” Netra coklat pemuda berjaket hitam terbuka lebar beserta mulut tatkala melihat sebuah pesawat melaju kencang ke arahnya. “P-pesawat!” 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม