(Beberapa waktu sebelumnya, Badan Pesawat Tujuan Indonesia.)
Pramugari berbusana biru asal Indonesia berjalan mendekati kursi paling belakang sisi kanan – di mana lelaki bule berambut keriting dengan jaket serta jeans hitam terus saja mengeratkan gigi sembari nyingir seperti menahan sakit. Perempuan dengan name – tag Lisa tersebut, mendekati pemuda berkulit cerah yang duduk sendirian sembari bertanya lembut memakai bahasa Inggris, “permisi, Tuan Davis Trevor? Apa Anda baik-baik saja?” Mata jernihnya menyipit memandang heran lelaki yang seperti sedang sakau.
‘Darah… Makan… Daging… Benci… Manusia…’ Suara-suara berbisik terus saja menggema di kepala pria berjaket hitam legam. Ia memejamkan mata seraya menekan-nekan dahi. “Hentikan, aku mohon… Hentikan,” gumamnya ketakutan.
“T-Tuan? Tuan Davis? Anda baik-baik saja, Tuan?” Tangan Lisa menyandar pada kursi, sementara badan atasnya mendekat maju. “Tuan?”
‘Darah! Makan! Daging! Benci! Manusia!’ Suara bisikan di kepala pria bule asal Inggris semakin keras dengan nada membentak. ‘Makan daging dan darah manusia yang kau benci!’
Urat nadi di sekitar wajah pria berjaket hitam terlihat menonjol hanya dalam beberapa detik. Ia menghadapkan wajah pada Lisa si pramugari cepat-cepat seraya berteriak, “berikan aku daging!” pintanya dalam bahasa Inggris.
“Kyaaah!” jerit Lisa mundur ketakutan hingga terjengkang jatuh. Pramugari berkulit bersih tersebut cepat-cepat bangkit guna melaporkan tindakan si penumpang barusan masih dengan jantung berdebar tak karuan.
Pria paruh baya dengan badan besar nan kekar yang mana duduk berseberangan dengan Davis, menoleh dengan wajah sebal. “Hey, Nak! Jaga sopan santunmu!”
Segera mengusap wajah, Davis mengucap maaf seraya berjalan ke belakang – menuju toilet pesawat. Langkah kaki si pria jangkung begitu sempoyongan, ibarat pemain bola yang kelelahan dan tak lagi bertenaga. Seraya menunduk menutup wajah, lelaki tersebut melangkah lunglai.
Bruk!
Tanpa sengaja seorang pria botak berbalut jas hitam menabrak tubuh Davis dari depan. “Oh, Maaf!” ucapnya lirih pada lelaki yang berjalan mundur nyaris kehilangan keseimbangan.
Grep!
Davis Trevor mengutus tangan kanannya mencekik kuat leher lelaki yang tak lebih tinggi darinya. Iris mata lelaki mancung tersebut berubah hitam legam. Dari tenggorokannya timbul suara geraman seperti hewan buas. “Tidak ada maaf bagi daging mentah!” serunya sebelum menggigit leher pria tersebut.
Krraaukk!
Puluhan mata yang menoleh ke arah Davis, terkejut menjumpai darah memancar deras dari leher sang lelaki botak. Pramugari beserta petugas pesawat lain cepat-cepat lari menghampiri. Tetapi laju kaki mereka melambat tatkala sepasang tanduk seperti tanduk rusa bercabang mendadak muncul dari pundak si lelaki jangkung – merobek jaket yang ia kenakan.
*
(Perbatasan Sumedang – Garut, Jawa Barat.)
“Sayf! B-bagaimana bisa ada pesawat terjun kemari! Apa yang terjadi!” tanya Wildan panik. ‘Apa-apaan ini!’ Ia menelan ludah tanpa sadar.
Sang harimau putih berbulu lebat memperlambat laju tapak kaki di atas aspal. “Aku mencium aroma darah segar dari dalam benda itu, Wildan. Aku juga merasakan aura sesuatu yang haus untuk membunuh,” jawabnya usai mendengkus.
“Darah? Apa mereka semua yang ada di dalam sana sudah tewas?” tanyanya dengan wajah gugup.
“Sepertinya masih ada satu atau dua orang manusia yang bernapas, Wildan. Apa kau akan coba menghentikan pesawat itu untuk tidak menghantam permukaan bumi?”
“Tapi apa yang me-” Wildan menabok kepalanya sendiri. “Pikir itu nanti, Wildan! Apa yang bisa kau lakukan untuk menghentikan benda itu!” Teringat pada pelajaran sejarah yang diajart oleh Pak Widodo, pemuda berjaket hitam dengan sepatu sport membalut kaki mulai turun dari punggung sang harimau putih. ‘Berat sebuah pesawat kosong berkisar dua ratus delapan puluh ribu kilogram. Mana mungkin aku bisa menghentikan laju benda itu!” gumamnya kesal.
Sayf menggoyang-goyangkan badan, sejurus kemudian mengambil posisi siap menerkam. “Kau di kehidupan lalu mungkin bisa menahan benda itu bahkan tanpa Cakar Putih Pajajaran. Tapi melihat kemampuanmu yang sekarang, justru kau yang akan berakhir jadi ayam geprek jika memaksakan diri menghentikannya, Wildan.”
“Apa ada kesempatan untuk menyelamatkan dua orang di dalam sana!” Pemuda berjaket hitam menatap sang harimau yang mulai melangkah ke ujung jalan raya beraspal.
“Perlambat waktu. Masuk ke benda itu dan bawa keluar manusia yang masih tersisa. Kalau kau berniat menyelamatkan mereka, aku akan membawamu melompat pada di atas benda itu,” tawar Sayf.
‘Ah, benar!’ Wildan mengayuh kedua kaki, melompat – mendarat kembali di punggung sang harimau bermata putih menyala. “Tapi bukankah kau juga akan ikut melambat seperti halnya benda-benda lain?”
“Pegang badanku, dan niatkan agar aku tetap bisa bergerak saat waktu di dunia manusia melambat. Itu hal yang selalu kau lakukan dulu,” jelasnya menekuk ke empat kaki bersiap menerjang pesawat.
“Berapa jauh kau bisa melompat dengan membawaku, Sayf?” tanyanya mengamati bagian jendela kepala pesawat yang dipenuhi noda darah. ‘Darah? Pilotnya terbunuh?’
‘Sekitar seratus hasta, Wildan,’ jawabnya lewat telepati.
“H-heh! Hasta? satu hasta itu berapa meter memangnya?” Dahinya mengerut.
“Perlambat waktu sekarang! Benda itu sudah dalam jangkauan lompatku!” seru Sayf saat pesawat tersebut kian mendekat.
Wildan Alfatih memejamkan mata sembari mengatur keluar-masuk napas. Jemari kanannya yang seketika dibalut Sarung Tangan Gadil Pajajaran, menjambak erat bulu leher belakang sang khodam. Sinar purnama menerangi wajah serius pemuda beralis lebat, begitu pula dengan angin yang meniup-niup rambut berponinya.
Namun setelah matanya terbuka, dedaunan pada pohon-pohon juga semua hal yang ada di sana tak terkecuali pesawat itu, seketika bergerak sangat lambat seperti keadaan slow – motion. “Sekarang!” tegas Wildan.
Dlap!
Manakala jarak pesawat putih yang menukik sudah dalam jangkauan lompat sang harimau putih kekar melesat – menerjang pesawat dan meninggalkan aspal pijakan yang hancur akibat daya tolak kaki belakang. “Wildan! Pegangan seerat mungkin!” perintah Sayf. Setelah Wildan memeluk punggungnya kuat-kuat, sang harimau belang bermata putih menyala menekuk badan sepereti trenggiling, ia bergulung-gulung di udara sembari mendekati dinding atas pesawat. “Grrraaaawgh!” Cakar pada kaki depannya muncul – ia hantamkan pada langit-langit pesawat.
Ssrrraaaaakkkk!
Logam padat dari bagian pesawat dengan mudahnya dirobek oleh sang harimau putih. Garis robekan logam tersebut cukup lebar sehingga memungkinkan Wildan beserta khodamnya masuk ke dalam pesawat.
Bruukk!
“Huuugh!” Wildan yang terjatuh di lantai pesawat lekas-lekas memulihkan diri dari rasa pusing. “Hadeh! Kau ini suka mendadak melakukan sesuatu yang aku tak tahu!” celetuk Wildan kesal.
Pyak!
Telapak tangan kirinya tanpa sengaja menyentuh genangan darah di kabin pesawat. Netranya terbuka lebar melihat puluhan mayat manusia yang tercabik-cabik dan tergeletak di lantai. Sebagian lain terkulai tanpa nyawa pada kursi duduk masing-masing. ‘Innalilahi wa inailaihi rojiun… Apa ini?’
“Wildan! Cepat cari yang masih bernapas! Ambil dan bawa keluar sebelum waktu kembali bergerak!” pinta Sayf.
Darah di sekujur badan sang pemuda berjaket hitam terasa mendidih, rasa iba serta emosi jadi bahan bakar amarahnya. ‘Siapa yang melakukan hal kejam ini?’
“Ingatlah Wildan, kita tidak punya banyak waktu!” ujarnya lagi pada laki-laki yang tercengang menatap carian merah kental yang tercecer di sekitar mayat-mayat.
‘Luka-luka mereka seperti luka dari hewan buas? Tapi apa! Di mana! Siapa!’ pikirnya memejmkan mata – enggan memandang para mayat yang tewas tercabik-cabik.
“Wildan! Di sini!” Sayf memanggil saat melihat tubuh pramugari berseragam biru di dekat kursi penumpang paling belakang.
Pemuda bermata coklat balik kanan, menghampiri sang harimau belang. Netranya lebar terbuka melihat perut perempuan bernama Lisa, terkoyak oleh sebuah luka cakar. ‘Luka wanita ini cukup parah!’ pikirnya sembari berlutut-bersimpu pada satu kaki. “Satunya lagi di mana, Sayf?”
Swuuusss!
Wildan yang sudah membopong badan si korban meringis tatkala badan pesawat mulai gemetar – bergerak normal menukik ke permukaan bumi. “Haagh! Sayf! Bagaimana ini!”
‘Kau masih bisa memperlambat wwaktu lagi, Wildan?’ Sayf melongok pada langit-langit pesawat dan jendela pesawat sili berganti.
Mengejam menahan napas sejenak, siswa SMA bercelana hitam panjang kembali memejamkan mata seraya mengatur napas. Keringat dingin dan hangat telah membasahi sekujur badan sang penghenti waktu. Waktu lagi-lagi melambat setelah ia membuka kedua mata. “Sayf! Di mana satunya yang masih hidup!”
“Aku sudah tak merasakan keberadaan manusia lagi setelah waktu kembali berjalan barusan, Wildan.” Sayf menunduk mengisyaratkan pada Wildan untuk naik membawa si perempuan yang tak sadarkan diri. “Cepat, jika tidak aku khawatir kau juga akan terluka nanti!”
Wildan mengeratkan gigi dengan perasaan jengkel. “Haaaaargh!” Ia berteriak kesal, sadar bila ia tak akan sempat menyelamatkan korban lain akibat kelemahan diri.
*
(Markas Pusat Pusaka Nusantara, Daerah Istimewa Yogyakarta.)
Ki Panca dan Raden Ronggo Jati tak berpaling dari sebuah berita yang menyiarkan tentang pesawat yang melesat tanpa kendali. Kamera dari regu reporter stasiun televisi menangkap pesawat besar warna putih melayang menjauhi perkotaan dan menuju daerah Garut. “Ada-ada saja,” gumam Ki Panca.
Pemuda berbalutkan busana adat khas kesultanan bernama Raden Ronggo Jati, bertanya tanpa menatap walan bicara, “Den? Angin besar yang membuat pesawat itu menjauhi kota, apa itu karena dia?”
Sosok pria mancung berkemeja hijau lengan panjang manggut-manggut. “Ya. Alhamdulillah tidak terlalu terlambat,” sahutnya saat ponsel dari saku celana jeans bergetar. Melihat kontak bernama Mandala tengah memanggil, Ki Panca menekan tombol terima, “halo assalamualaikum!”
‘Hosh… Hosh…. Hosh… Huuff… Den?’ sahutan suara dari sisi lain panggilan tersengal-sengal seperti atlit lari yang baru menempuh jarak belasan kilometer.
Ki Panca mengangkat cangkir berisikan kopi s**u dari meja. “Posisi?”
‘Saya tak sanggup mengejar laju pesawatnya, Den. Saya masih merasakan keberadaan makhluk itu di badan pesawat tadi, tapi sama sekali tak merasakan korban selamat di sana,” lapornya.
Ki Panca sejenak hening usai menyeruput minuman hangat. Setelah menaruh kopi kembali ke meja, ia merogoh saku guna mengeluarkan sebungkus lisong dari sana sejurus kemudian menyalakannya menggunakan korek. Bibir pria berambut cepak tersebut bergerak-gerak seperti merapal mantra atau mungkin doa.
Raden Ronggo Jati diam-diam menguping pembicaraan sang guru. ‘Suara dari telepon itu, Mandala?’ terkanya.
Ki Panca tersenyum, membuang napas pertanda lega. “Sudah, ndak apa-apa. Sepertinya yang menyelamatkan sisa korban di pesawat, sedang membawa korban ke rumah sakit terdekat. Coba tolong kau sisir wilayah hutan sekitar pesawat. Jika kau menemukan seseorang di sana, bawa dia ke Markas Pusaka Nusantara. Segera, ya?” pinta Ki Panca.
‘Laksanakan, Pak Kyai!’ sahut sosok dari sambungan kemudian memutus telepon.
“Pak Andi sekarang di mana?” tanya Ki Panca pada lelaki di sebelahnya.
“Pak Andi dan Raihan sedang menyelidiki kasus di daerah Bandung, Den. Apa ada sesuatu yang sekiranya perlu saya sampaikan pada mereka, Den?”
“Sampaikan pada Pak Andi untuk mengawasi korban kecelakaan pesawat. Minta pada si korban untuk tidak menceritakan apa yang dia alami pada media. Masyarakat bisa semakin gempar kalau tahu ada siluman dari luar negeri datang ke negeri ini,” ucapnya.
‘Siluman? Dari luar negeri?’ Kening pemuda berkumis mengkerut. “Apa ada kaitannya dengan organisasi itu, Den?”
“Tunggu Mandala membawanya kemari. Kalau asal ucap dan benar, saya disebut dukun. Hahaha!”