Munculnya Sadewa, Sang Tombak Naga!

2485 คำ
(Ruang tunggu rumah sakit, Garut, Jawa Barat.) “Wildan Alfatih?” tanya sesosok tentara berseragam lengkap seraya mendekati pemuda bermata coklat. Siswa SMA berjaket hitam menoleh cepat, memandang bingung lelaki cepak kulit sawo matang yang barusan memanggil. “Iya, benar. Anda…” Matanya beralih pada name-tag bertuliskan Andi. ‘Tentara? Apa aku akan diinterogasi?’ Karena keadaan sekitar yang cukup sepi, Pak Andi memutuskan duduk di kursi panjang sebelah kiri Wildan. “Salam kenal, saya Andi,” ujarnya mengulurkan tangan kanan guna menjabat pemuda asing tersebut. “Apa Anda ingin mengetahui soal kejadian korban kecelakaan itu, Pak?” tanya Wildan gugup. ‘Ah! Masa iya aku harus menceritakan semuanya!’ Sayf menyahut dari dalam badan, ‘tenanglah, Wildan. Orang di sebelahmu ini, bukan orang awam yang tak tahu soal apa-apa. Justru ia lebih banyak tahu soal apa yang sedang kau hadapi.’ “B-benar, kah?” gumamnya terbelalak. “Sampean masih muda, Mas Wildan. Saya tidak akan percaya kalau bukan Raden Panca yang menjelaskan sedikit tentang Anda,” ucapnya ramah. “Raden Panca?” Netra beriris coklat siswa berjaket hitam melirik ke kanan dan kiri. “Raden Panca yang Anda maksud itu, siapa ya, Pak?” ‘Orang yang sama, yang menyelamatkanmu beberapa kali. Sosok yang kau sebut dengan nama Mas Panca,’ ungkap sang khodam tanpa menunjukan diri. “Raden Panca, orang yang sudah kau temui beberapa kali itu. Ingat?” Pak Andi memastikan. “Ah, benar. A-apa beliau sudah menceritakan semua pada Anda, Pak?” “Langsung saja, Mas Wildan.” Pria berusia tiga puluh lima tahunan tersebut menghela napas. “Saya pribadi sudah dengar laporan soal tindakanmu menolong siswi dari SMA Garut di Dieng kemarin. Saya juga dengar laporan soal orang-orang asing yang mengejarmu di dekat penginapan Dieng. Yang ingin saya tanyakan, hal apa yang membuat mereka mengejarmu, Mas?” ‘Sayf, tidak apa, kan? Kalau aku menceritakan pusaka itu pada orang ini?’ tanyanya lewat batin seraya menundukan wajah. ‘Dia salah satu orang kepercayaan Raden Panca. Tak akan jadi masalah bila kau mau menceritakannya.’ Wildan celingukan, memandang lorong dalam ruangan yang sepi dari pengunjung maupun petugas rumah sakit. Mengerti situasi cukup landai, pemuda berjaket hitam menyingsingkan lengan kanan, sejurus kemudian membuat pusaka bernama Cakar Putih Pajajaran terlihat – membalut jari hingga lengan kanan. Pak Andi tak bergeming menatap pusaka yang secara ajaib muncul di tangan si siswa asal Kota Pekalongan. ‘Pusaka itu! Bentuk dan motifnya sama persis seperti pada patung tokoh rahasia di Markas Pusaka Nusantara, kan!’ “Orang-orang asing itu mengejar saya karena benda ini, sudah melekat di badan saya.” Wildan menghela napas, berniat menjelaskan penyelamatan yang ia lakukan, “kemudian pramugari yang selamat hanya satu, Pak. Saya tidak yakin kalau di pesawat itu masih ada penumpang lain lagi.” Saat mendengar derap kaki dari beberapa orang menggema di lorong ruang tunggu, Wildan kembali menggaibkan pusaka berbentuk sarung tangan agar tak terlihat. “Saya berniat pergi dari rumah karena beberapa orang polisi sudah sempat mendatangi sekolah.” “Polisi? Apa alasan mereka ingin menangkapmu, Mas? Apa mereka juga menunjukan surat penang kapan?” Kening anggota tentara berkulit sawo matang mengerut. “Saya tidak tahu soal itu, Pak. Tapi yang jelas, mereka datang bersama salah satu orang asing berambut pirang. Seseorang yang juga mencoba menangkap saya di penginapan Dieng kemarin,” jawabnya lesu. ‘Mereka pasti dipengaruhi orang-orang LHA.’ Pak Andi manggut-manggut. “Lalu, kau sekarang mau pergi kemana?” “Saya ingin pergi ke salah satu SMA di Garut untuk menuntaskan sesuatu. Setelah itu, ada hal lain lagi yang ingin saya selesaikan, Pak.” “Mas Wildan, apa kau pernah dengar soal sa-” Pertanyaan sang tentara terpotong oleh suara gadis yang tak asing, “Kak Wildan!” seru gadis berkerudung putih dengan balutan seragam SMA. Di belakang gadis itu, wanita berseragam guru dengan name – tag Evita turut berdiri mematung. “Laras?” Wildan memandangi wajah gadis sawo matang yang terdiam bingung. * (Markas Pusat Pusaka Nusantara, Daerah Istimewa Yogyakarta.) Buuukk! Mandala si pemuda gondrong berjaket jeans gelap, menjatuhkan lelaki jangkung yang semenjak tadi ia gendong. Di hadapan Raden Ronggo Jati beserta Raden Rikma Seto, pemuda mancung berusia Sembilan belas tahun tersebut mengatur napas yang tersengal. “Dia pelaku penyerangan pesawat tadi malam, Den.” Berbeda dari lelaki berambut putih yang mengamati wajah lelaki bule berambut kriting, Raden Ronggo Jati justru memandangi darah yang tercecer dari pemuda mancung berkulit putih tersebut. “Apa dia anggota LHA?” tanya sang petinggi Pusaka Nusantara berusia dua puluh delapan tahunan. Mandala duduk dalam posisi berlutut. “Davis Trevor. Dia bule asal Amerika. Saat saya menyisir hutan dekat bangkai pesawat, saya menemukan dirinya sedang merintih kesakitan. Saat saya dekati, sempat ada tanduk rusa yang tumbuh di bagian punggung dan kepala.” Raden Rikma Seto menghela napas panjang. “Bawa dia ke ruang perawatan. Minta Sentono dan Riski untuk mengawasinya sampai dia siuman,” perintah sosok sepuh berusia tujuh puluh tahunan. “Sendiko dawuh, Raden.” Mendengar perintah, Raden Ronggo Jati membungkuk – mengiyakan, sebelum beranjak dan membopong pemuda keriting yang tergeletak tak sadarkan diri. “Nak Mandala, obati lukamu lebih dulu. Raden Panca menunggumu di taman belakang aula,” ujarnya lirih. Mandala bernapas lega setelah Raden Ronggo Jati membawa pergi sosok manusia yang mampu menumbuhkan tanduk rusa. “Baik, Den,” sahutnya lirih.   * (Ruang ICU, Rumah sakit Garut.) Laras dan Bu Evita duduk di kursi dekat ranjang ICU, di mana adik bungsu gadis berkulit sawo matang masih saja terbaring tak sadarkan diri. Sementara Wildan masih terdiam mengatur napas yang tersengal setelah beberapa kali gagal mencoba menarik keluar paku gaib dari kepala si gadis berseragam OSIS. ‘Bacalah wirid yang kau rapal saat meditasi di hutan beberapa waktu lalu, Wildan. Niatkan tanganmu untuk mengambil benda berbahaya yang ada pada kepala gadis itu,’ anjur Sayf sembari menjilat-jilati kaki kanan depan di dekat sebuah ranjang ruang ICU. Wildan buang napas setelah berulang-ulang tak mampu melakukan apa yang sudah Sayf beritahukan. ‘Ngomong lebih gampang dari pada prakteknya ya, Bund!’ gerutunya dalam batin. ‘Ayolah, Wildan. Kau hanya canggung karena harus memegang gadis itu saja, kan? Padahal kemarin setelah terlontar keluar dari candi, kau malah mendekap – memeluknya tanpa rasa bersalah,’ ledek Sayf. “Hmmm…” Wildan menarik napas dalam-dalam – membuat Bu Evita dan Laras menoleh ke belakang. “Bagaimana, Mas Wildan? Apa mau coba lagi?” tanya sang guru ragu. Wildan hanya mengangguk, sejurus kemudian mencengkamkan tangan kanan pada ubun-ubun si gadis berkerudung. Bibir pemuda berjaket hitam mulai bergerak-gerak merapal wirid yang ia ulangi ribuan kali saat meditasi. “Aduh! Hey! Sakit! Pelan-pelan!” rintih Laras. Drrrrg… Tangan kanan Wildan yang mendadak diselimuti Cakar Putih Pajajaran, seketika gemetaran. Dirasakannya sesuatu padat nan dingin berada di kepala si gadis. ‘Ini…’ Sayf berhenti membersihkan telapak harimaunya. Kepala harimau transparan bermata putih menyala, menoleh pada sang pemilik pusaka. ‘Terus, Wildan. Yakinkan batinmu untuk mencabut benda itu. Menghancurkan raja genderuwo berusia ratusan tahun saja bisa, apa lagi hanya mencabut benda usang seperti itu,’ tanggapnya. “Huuungh!” Dari kepala si gadis tersebut, sebuah paku besar ia cabut keluar – menembus kerudung tanpa merobeknya. Bu Evita terbelalak melihat sarung tangan besi sekaligus paku yang tengah ditarik dari kepala Laras. ‘Masyaallah! Subhanallah!’ Tiing… Paku usang berkarat yang Wildan cabut, jatuh ke lantai. “Huuff… Huuff… Huuff…” Pusakanya kembali lenyap. ‘Sudah, kah?’ “Alhamdulillah!” celetuk Bu Evita lega. “Terima kasih, Mas Wildan!” imbuhnya semringah. “Sayf, lalu bagaimana agar aku bisa menyembuhkan adik perempuannya itu?” Netra beriris coklat pemuda bercelana hitam panjang kini tertuju pada gadis remaja yang terbaring di ranjang ruang ICU. Laras balik badan, menggapai paku usang berkarat yang terjatuh ke lantai. ‘Ini benda yang ada di kepalaku?’ pikirnya menyipitkan sepasang mata sembari menjepit benda tersebut menggunakan jari. ‘Tapi, kepalaku memang jadi terasa ringan!’ Ia mengelus ubun-ubun. ‘Sukma gadis kecil itu, dibelenggu di suatu tempat. Kau harus melepas belenggu gadis itu, Wildan.’ “Di mana?” bisiknya melirik pada sang harimau putih tembus pandang.  * (Beberapa jam kemudian, Komplek Perumahan Kota Pekalongan.) Tok! Tok! Tok! Bocah berkaos putih dengan celana pendek kuning mengetuk pintu kamar sang kakak perempuan. “Mbak Dian! Mbak! Mbak Anisa sama yang lain sudah ada di bawah!” Sudah tiga menit lamanya bocah cepak tersebut diam menanti sang pemilik kamar merespon. “Mbak Dian! Cepat! Dih! Lama!” Krriet… Gadis berseragam PDL merah membuka daun pintu dari balik kamar. Sepasang netranya sembap dengan lingkar mata panda di wajah. “Iya, sebentar,” ucapnya lesu. Sang adik bungsu membalik badan setelah mengamati wajah sang kakak perempuan. “Kalau Mbak Dian mau istirahat, ndak usah keluar. Aku yang bilang kalau Mbak Dian ndak enak badan,” ucapnya lirih. Sebagai adik kecil yang diam-diam mengamati perilaku Diana, ia paham betul kalau kakaknya itu jadi sering mengurung diri di kamar semenjak pertemuan terakhir dengan Wildan. “Ndak usah, Mbak mau langsung berangkat sekarang sekarang,” ujarnya memasang senyum palsu. Sebuah ransel besar berisi pakaian ganti serta perlengkapan kemah lain tertata rapi dalam ransel besar di punggung. “Mbak yakin, mau berangkat?” tegurnya lirih setelah gadis berkaos lengan panjang melangkah pelan menuju tangga turun. “Bilang ke Bapak sama Ibu. Mbak Dian pamit,” sahutnya lirih menuruni tangga. Gadis berkaca mata dengan kerudung serta seragam coklat ala pramuka telah menantinya di ruang tamu. Dua pelajar SMA lain tampak duduk di sofa seraya memandangnya iba – Alif dan Dita.  Alif berdiri dan berpaling pada pintu keluar. ‘Sudah beberapa hari Senpai Wildan tidak masuk sekolah. Guru-guru sama sekali tidak ada yang membahas tentang kepergiannya. Meski begitu, banyak siswa-siswi melihat polisi dan orang-orang asing di hari ia kabur dari sekolah. Sebenarnya apa yang terjadi?’ pikirnya. “Lif?” Dita si gadis berkuncir berbalutkan busana serupa seperti yang lain, menyusul Alif dari belakang. “Mbak Diana sama Mbak Anisa kan sudah kelas tiga. Tapi kenapa mereka dipilih buat ikut acara ini?” Alif berbisik, “Pak Ircham sengaja mmeinta Mbak Diana agar bisa sedikit melupakan soal Senpai Wildan. Aku dengar, Senpai Wildan putus hubungan dengannya sehari sebelum dia kabur dari sekolah,” ungkapnya. * (Gunung Guntur, Garut.) Drap drap drap drap drap drap drap dlap! Mengarungi tebing terjal yang mana diapit oleh dua buah jurang pada sisi kanan-kiri, Wildan Alfatih mengendarai sang harimau putih berbulu lebat. Desir angin malam menerpa daun-daun hingga berjatuhan sebagian. Arloji hitam di tangan kiri pemuda berambut lebat menunjukan pukul 21.00 WIB. Hanya suara jangkrik dan hewan nokturnal lain yang terdengar di malam nan mencekam tersebut. “Gadis itu sepertinya menyukaimu, Wildan,” celetuk Sayf. Sinar dari kedua matanya sedikit menerangi jalan – sedikit mengusir kegelapan malam. “Heeey! Anda! Kenapa kau bilang begitu!” “Buktinya, dia meminjamkanmu benda itu,” jawabnya terus melajukan keempat kaki pada jalan setapak tanpa rumput. “Heh, dia hanya meminjamkan jam tangan saja! Apa hubungannya dengan rasa suka!” Wajah Wildan tampak sewot.  Jalan yang mereka lalui kian menanjak, kabut-kabut tebal yang turun mulai turut menyesakkan paru-paru. Netra beriris coklat sang pemuda berjaket hitam melirik pada POS satu Gunung Cikuray. ‘Tidak ada orang? Atau memang jam segini sudah tidak ada yang jaga loket, ya?’ terkanya. Drap drap drap drap drap dap! Beberapa menit terbunuh begitu saja. Di hadapan mereka, pohon-pohon hutan mulai menyambut dengan dataran yang lebar untuk diarungi. Sayf berhenti mendadak, memaksa Wildan menjambak kencang bulu si harimau dan menunggingkan badan – nyaris terjungkal ke depan. “Woy! Bilang-bilang kalau mau rem mendadak!” celetuknya kesal. “Grrrr….” Sayf menggeram seraya memasang raut waspada seolah siap menerkam mangsa. Wildan mengerutkan kening sembari menyipitkan sepasang mata. “Ada apa, Sayf?” ‘Sebagian makhluk halus di sekitar gunung ini, terpancing karena energi kita berdua. Tapi sebagian lain, tidak suka dengan niat kita untuk membebaskan sukma bocah itu, Wildan,’ sahutnya lewat telepati. “A-apa? Kenapa begitu? Apa artinya, mereka juga bersekongkol untuk mencelakai adik Laras?” Ia menyapukan pandang ke sekitar – mencari makhluk-makhluk tak kasat mata di sekitar hutan. Grrrrrraaaawgh! Gelegar suara makhluk tak dikenal menggelegar layaknya bunyi guntur. Sementara nyanyian hewan malam yang sedari tadi berbunyi, seketika tak terdengar. Hanya sunyi senyap hutan dan kegelapan malam yang terhampar. Deg! Jantung pemuda berjaket hitam terasa tersentak hebat setelah mendengar raungan dari sesuatu yang tak ia ketahui. Tubuhnya menggigil diterpa angin dari arah depan. “S-ayf? Suara apa barusan?” “Grrrr… Siapa yang berani datang untuk mengusik Tuan kami!” Kelelawar yang tadinya menggantung, segera beterbangan menjauh dari pepohonan bersama beberapa belas burung-burung sekitar. Bunyi dari benda berat, menghantam keras tanah serupa seperti suara raksasa yang melangkah di tanah. Selang beberapa detik, sepasang mata merah menyala tampak di kegelapan hutan. ‘Bersiaplah bertarung, Wildan! Sukma gadis itu, sepertinya ada di perut genderuwo itu,’ ucap Sayf saat sosok genderuwo setinggi empat meter berdiri tegap di dekat pohon pinus. Glek… Wildan menelan ludah. Matanya terbuka lebar saat kelebatan bayangan putih terlihat berseliweran di awang-awang. Bunyi gamelan misterius, serta tawa cekikikan sosok-sosok tak kasat mata, terdengar memecah suasana. ‘Lagi-lagi lawan para dedemit!’ keluhnya mulai turun dari punggung sang harimau belang. Cakar Putih Pajajaran muncul menyelimuti tangan kanan. Tawa belasan kuntilanak yang berseliweran di sana, tiba-tiba saja berhenti. Genderuwo raksasa beserta belasan kuntilanak putih, menoleh ke kiri atas setelah merasakan sesuatu bertekanan giab tinggi – tengah melesat menuju pada mereka. Dlap! “Siaga! Wildan!” Sayf sang harimau putih cepat-cepat menggigit tangan kanan Wildan yang terbalut pusaka Cakar Putih Pajajaran, sejurus kemudian melompat jauh ke belakang. Blaaaammm! Sesuatu yang begitu cepat serta kuat, menghantam hancur permukaan tanah hingga tercipta cekungan seperti kawah kecil. Benda atau mungkin seseorang itu, mendarat di badan makhluk besar bermata merah menyala hingga tumbang. Melihat sosok berbadan besar telah jatuh berkalang tanah, belasan kelebatan putih yang mana melayang-layang, mulai terbang menjauh. Swung! Wildan yang padahal sudah sempat dibawa Sayf melompat guna menghindar, terguling tiga kali di tanah akibat empas kuat angin dari sesuatu yang mana membentur tanah di sana. “Uwaagh!” Tubuhnya terguling – terhenti oleh semak belukar di pinggiran jurang. “Apa itu!”  “Grrr!” Sayf berjalan mundur tanpa memalingkan pandang dari sesuatu yang masih terselimut debu. Ia berhenti di dekat pemuda berjaket hitam. ‘Wildan! Siaga!’ ‘Apa itu, Sayf?’ tanya Wildan lewat telepati. Pemuda beralis lebat tersebut mulai bangkit berdiri. ‘Kenapa aku merasa sesak!’ Debu yang beterbangan mulai sirna. Sesosok manusia yang menghantam jatuh genderuwo raksasa dari langit, menoleh heran pada Sayf dan Wildan. Dari jarak nan jauh, matanya menyipit. “Tekanan sukma ini…” Ia memalingkan pandang dari genderuwo besar yang mengaduh kesakitan. Dlap! Hanya dalam satu pijakan kaki, lelaki berambut panjang dengan kumis tipis di wajah, sampai di hadapan Wildan. Jaraknya dengan pemuda berjaket hitam kini berkisar lima meter. “Kau…” Manusia berbaju besi ala kerajaan Jawa warna merah, mulai tersenyum kecil. “Wah!” Usai mengamati wajah Wildan dalam kegelapan, ia menatap kepala sang harimau putih bermata menyala. “Wah!” serunya lagi memperlebar senyuman. “Sayf? Siapa dia?” bisik Wildan curiga. “Wahahahah! Sudah berapa abad kita tidak saling salam sapa, wahai Titisan Cahaya!” 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม