Tetangga Baru 1

1301 คำ
    “Aku tidak mau melakukan pertemuan di hari liburku. Katakan padanya, jika ia masih memaksa, maka batalkan saja kerja sama kita. Aku tidak mau bekerja sama dengan orang yang tidak bisa profesional,” ucap Darka pada Bayu yang tengah berbicara dengan sambungan telepon.     Pagi-pagi, Darka sudah menerima telepon dari Bayu. Bawahannya itu mengatakan jika seorang klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Darka, kini meminta untuk bertemu dan makan siang bersama sembari berbicara bersama dengan Darka mengenai masalah pekerjaan. Sayangnya, Darka tidak ingin melakukan hal itu. Karena bagi Darka, waktu liburnya sama sekali tidak boleh diganggu. Apalagi oleh masalah yang sama sekali tidak mendesak seperti itu. Darka rasa pembicaraan mengenai pekerjaan yang tidak mendesak itu, bisa ditunda hingga waktu kerja datang kembali. Bayu sebenarnya sudah mengerti masalah ini. Namun, orang yang dihadapi oleh Bayu sangat sulit. Jadi, pada akhirnya Bayu memilih untuk meminta jawaban dari Darka secara langsung.     “Baik, Tuan,” jawab Bayu lalu mematikan sambungan telepon lebih dulu.     Darka yang menyadari hal itu benar-benar jengkel. Ia menatap ponselnya dengan kesal dan berkata, “Hei, harusnya aku yang mematikan sambungan telepon! Auh benar-benar menyebalkan. Jika kau tidak berguna, aku pasti sudah memecatmu sedari lama.”     Darka melemparkan ponselnya dengan kesal sebelum beranjak untuk turun ke lantai satu. Ia ingin meminum kopi. Tentu saja, pagi hari akan terasa sangat sempurna dengan secangkir kopi panas yang harum. Saat tiba di ruang makan, ternyata Tiara sudah menyiapkan sarapan dan secangkir kopi yang menguarkan harum yang terasa lezat. Darka tidak mengatakan apa pun dan duduk di kursi yang selalu ia tempati. Ia menyesap kopi dan cukup senang dengan rasa lezat yang membasuh lidahnya. Padahal, ini kopi yang dibuat oleh Tiara, tetapi entah kenapa Darka merasa jika kopi ini terasa begitu lebih lezat daripada kopi yang Darka beli dari brand terkenal. Tiara kembali ke meja makan dan menyajikan pisang goreng yang masih hangat pada Darka. Tentu saja, Darka yang melihat hal itu mengernyitkan keningnya dalam-dalam.     “Apa itu?” tanya Darka.     “Ini pisang goreng,” jawab Tiara cepat sembari duduk di kursinya.     “Aku tau, itu pisang goreng. Maksudku, untuk apa kau menyajikan itu padaku?” tanya Darka sembari menatap Tiara yang kini juga tengah menatapnya dengan kedua netra yang terlihat begitu bening dan indah.     “Untuk camilan. Kudengar, minum kopi hitam terasa sangat lezat dengan camilan pisang goreng yang masih hangat,” jawab Tiara sembari mengingat perkataan orang-orang yang didengarnya saat masih tinggal di panti asuhan. Tiara memang belum pernah mencoba kopi hitam, jadi ia tidak bisa mengatakan apa yang ia katakan benar atau tidak.     “Aku tidak suka. Bawa pergi dari hadapanku!” seru Darka kasar.     Tiara pun menghela napas pelan dan menarik piring pisang goreng yang berada di hadapan Darka. Tiara mengambil satu potong pisang goreng dan menggigitnya hingga menimbulkan suara renyah yang terdengar menggiurkan. Darka melirik Tiara yang tampak menikmati goreng pisang tersebut dan bertanya-tanya, apakah goreng pisang tersebut terasa lezat? Kenapa bisa suaranya serenyah itu? Darkan pun pada akhirnya merasa penasaran dan ingin mencicipi goreng pisang tersebut. Namun, Darka tentu saja tidak mungkin langsung mengatakannya begitu saja. Mau ditaruh di mana wajah Darka jika dirinya melakukan hal itu? Darka pun berdeham dan berkata, “Aku ingin sarapan. Buatkan aku roti panggang dengan isi telur goreng dan salad.”     Tiara sama sekali tidak membantah dan beranjak untuk membuatkan sarapan yang diinginkan oleh suaminya. Setelah tempo hari di mana Tiara mengatakan jika Vanesa datang ke rumah untuk bertamu, Darka memberikan peringatan tegas pada Tiara. Tentu saja, setelah mendapatkan peringatan tersebut, Tiara menyadarkan dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati dalam bertindak. Tiara memilih untuk tidak mengungkit hal itu kembali di hadapan Darka, agar tidak lagi membuat Darka marah kepadanya. Tak lama, Tiara pun sudah mengenakan celemek dan menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk menu sarapan yang diminta oleh Darka. Saat Tiara memunggungi Darka dan sibuk dengan acar memasaknya, saat itulah Darka mengulurkan tangannya dan meraih sepotong pisang goreng.     Ia mengamati makanan tersebut sebelum menggigitnya dengan ragu. Namun, begitu merasakan jika pisang goreng tersebut terasa gurih dan manis dalam sekali waktu, Darka tidak bisa menahan diri untuk menghabiskan potongan goreng pisang tersebut. Darka pun meminum kopi hitamnya sebelum kembali mengambil sepotong pisang goreng dan menghabiskannya dalam waktu singkat. Meskipun terlihat berminyak, tetapi setelah digigit, Darka tidak merasakan hal itu. Tidak terlalu terasa berminyak bagi Darka, dan rasanya Darka bisa menghabiskan semua pisang goreng tersebut. Namun, Darka menahan diri. Ia tidak mungkin menghabiskan semuanya dan malahmembuat Tiara senang. Darka tidak mau mempermalukan dirinya sendiri dengan bertingkah seperti itu.     Pada akhirnya, Darka menghentikan kegiatannya saat dirinya sudah menghabiskan tiga potong pisang goreng lezat yang dibuat oleh Tiara. Rupanya, Tiara juga sudah menyelesaikan kegiatan memasaknya dan segera menyajikan sarapan yang diminta oleh Darka dengan rapid an cantik di hadapan Darka. Tentu saja, Darka yang memang sudah measa kelaparan, segera menyantap sarapan tersebut. Tiga potong pisag goreng yang ia santap rupanya tidak bisa mengganjal perutnya agar terasa kenyang. Tiara yang melihat Darka makan dengan lahap, tentunya merasa senang. Meskipun Darka masih bersikap kasar padanya, tetapi setidaknya sekarang Darka mau memakan makanan yang sudah ia buat, bahkan meminta untuk dimasakan sesuatu. Kini, rasanya Tiara menjalankan tugas yang sesungguhnya sebagai seorang istri.     Tiara pun menatap piring pisang goreng dan memiringkan kepalanya saat menyadari jika ada beberapa potong pisang goreng yang menghilang dari piring. Tiara melirik Darka yang masih menikmati sarapannya dalam diam. Sedetik kemudian, Tiara berusaha menyembunyikan senyumannya. Ternyata diam-diam, Darka mencicipi pisang goreng yang sudah ia buat. Tiara tidak mengatakan apa pun, dan memilih untuk memakan pisang goreng tersebut sebagai sarapannya. Karena Darka sudah mendapatkan sarapannya, tentu saja pisang goreng ini tidak akan bisa dimakan oleh Darka. Setidaknya, Darka sendiri sudah memakan beberapa potong, jadi tidak ada salahnya bagi Tiara untuk menghabiskan pisang goreng yang sebenarnya menjadi camilan favoritnya ini.     “Ah, aku hampir lupa. Kemarin sore, Jarvis menelepon dan berkata jika ia ingin makan siang di rumah kita besok,” ucap Tiara mengingat pesan Jarvis.     “Apa dia meneleponmu?” tanya Darka menghentikan kegiatannya.     “Aku tidak punya ponsel. Dia menelepon ke telepon rumah,” jawab Tiara.     Darka tertegun. “Kau tidak punya ponsel? Memangnya kau ini semiskin apa?” keluh Darka kesal.     Tentu saja, jika Darka membawa Tiara ke luar dan orang-orang mengetahui jika Tiara tidak memiliki ponsel, siapa pun yang mendengar hal itu akan menertawakannya. Sungguh konyol. Bagaimana bisa Tiara tidak memiliki ponsel, padahal ia adalah menantu satu-satunya dari keluarga Risaldi dan Al Kharafi yang terkenal sebagai pemilik kilang minyak terbesar di Kuwait. Lalu, Tiara adalah istri dari Darka yang tak lain adalah pengusaha muda yang kaya raya. Bagaimana bisa dengan semua harta itu, Tiara bahkan tidak memiliki ponsel satu pun. Sungguh menggelikan. Darka melotot pada Tiara dan berkata, “Besok, aku akan meminta Bayu untuk mengirimkan ponsel untukmu. Tapi, kau tidak boleh sembarangan menggunakannya. Jangan pikir, jika kau menghubungi kedua orang tuaku dan mengadukan hal yang macam-macam.”     Tiara terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Darka. Namun, Tiara tersenyum karena merasa senang. Sebelumnya, Tiara memang memiliki ponsel. Hanya saja, ponsel tuanya itu sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Jika Darka membelikannya ponsel, itu artinya Tiara bisa menghubungi Sekar dan menanyakan kabar adik-adiknya di panti asuhan. Rasa senang yang mengisi hati Tiara membuatnya tersenyum dengan lebar dan menatap Darka dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, akan aku pergunakan dengan baik,” ucap Tiara dengan tulus.     Darka sendiri agak tercengang. Padahal, Tiara bisa saja meminta ini itu pada Darka, mengingat kesepakatan yang sudah mereka buat. Darka memang tidak akan menganggap Tiara sebagai istrinya yang sesungguhnya dan tidak akan memperhatikan masalah hatinya. Namun, Darka sudah menegaskan jika dirinya akan memberikan nafkah pada Tiara, itu pun termasuk membelikan keperluan pribadi Tiara. Darka tentu saja tidak merasa keberatan untuk membelikan barang-barang untuk Tiara, termasuk jika itu adalah barang mewah. Darka sudah terbilang sangat terbiasa membelanjakan uangnya untuk menyenangkan hati wanita. Setiap wanita yang menghangatkan ranjangnya, tentu selalu meminta ini itu dan tentu saja itu adalah barang mewah yang menghabiskan begit ubanyak uang. Jelas, kesederhanaan Tiara ini adalah hal yang sangat baru bagi Darka. Karena itulah, Darka mengalihkan pandangannya dari Tiara dengan gugup dan berdecih sebagai jawaban dari ucapan terima kasih yang dikatakan oleh Tiara padanya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม