Tamu Tak Diundang 2

1275 คำ
    “Peringatan? Peringatan apa yang kau maksud?” tanya Tiara meminta Vanesa untuk berbicara dengan jelas.     “Aku tengah memberikan peringatan padamu, untuk menyiapkan hati. Karena aku, akan membuat pernikahanmu dengan Darka seperti neraka. Setiap malamnya, aku akan memastikan untuk mencuri Darka darimu. Aku tidak akan membiarkanmu benar-benar menjadi istrinya. Aku akan menggantikan tugasmu sebagai istri yang memuaskannya di atas ranjang,” ucap Vanesa dengan wajah begitu puas saat melihat Tiara yang menyurutkan senyumannya.         Meskipun dalam beberapa detik Tiara terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Vanesa, tetapi Tiara dengan mudah bisa mengendalikan hatinya. Tiara sudah menebak, jika menghadapi wanita semacam Vanesa sama sekali tidak mudah. Vanesa rela memberikan tubuhnya dan membuat Darka puas di atas ranjang, demi tetap membuat Darka menatapnya dan menyadari kehadirannya. Tidak mengherankan rasanya jika suatu saat nanti Vanesa melakukan hal gila untuk membuat Darka meninggalkan Tiara dan menjadikan Vanesa sebagai satu-satunya wanita yang bisa berada di dalam lingkup hidup Darka. Namun, Tiara tidak merasa jika itu adalah sebuah ancaman baginya. Tiara merasa, jika apa yang direncanakan oleh Vanesa adalah hal yang sangat salah.     Jika niat dan rencanya sudah salah sejak awal, Tiara yakin jika hasilnya pun tidak akan pernah memuaskan atau berakhir baik. Tiara yakin, jika Tuhan tidak mungkin membiarkan umatnya yang berjalan di jalan yang benar terus merasakan penderitaan. Ada saatnya kebahagiaan datang setelah semua penederitaan yang dilewati. Tiara pun memasang senyuman manis yang membuat Vanesa mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Vanesa tidak mengerti mengapa Tiara bisa bersikap setenang ini. Apa mungkin, Tiara sama sekali tidak peduli dengan Darka yang menghabiskan waktu dan menebar benihnya di rahim wanita lain? Mengingat perjanjian pernikahan yang dibuat oleh Tiara dan Darka, itu memang sangat mungkin. Namun, bagi Vanesa, sangat mustahil bagi seorang wanita melepaskan Darka begitu saja, apalagi saat dirinya sudah memilikinya dalam pelukan.     “Apa mungkin, kau tengah meminta izin padaku untuk mencuri Darka setiap malamnya?” tanya Tiara. Membuat Vanesa yang mendengar hal tersebut tersedak ludahnya sendiri.     Vanesa tidak mempercayai pendengarannya. Apa mungkin Tiara ini i***t? Bagaimana bisa ia menyimpulkan perkataannya seperti itu? Sungguh bodoh, pikir Vanesa. “Apa, meminta izin? Kau gila? Aku sama sekali tidak membutuhkan izin siapa pun,” ucap Vanesa dengan penuh percaya diri.     “Jika pun kau meminta izin, aku jelas tidak akan memberikan izin untukmu memuaskan suamiku di atas ranjang. Itu adalah tugasku sebagai seorang istri. Dia, Darka, adalah milikku. Hanya milikku. Tapi, aku sama sekali tidak bisa melarangnya untuk ke luar dan mencarimu. Aku tidak memiliki kuasa seperti itu. Tapi, aku bisa mengingatkannya, jika melakukannya denganmu adalah pilihan yang salah. Karena kini dia memiliki diriku. Aku bisa kapan pun dan di mana pun memuaskannya. Silakan saja kau berusaha untuk menggodanya dan memuaskannya dengan seluruh kemampuanmu. Tapi jangan lupakan satu hal. Kau, bukanlah istrinya. Sampai kapan pun, selagi aku masih berstatus sebagai istrinya, aku tidak akan memberikan status ini padamu. Dan kau, akan tetap berstatus sebagai … wanita simpanan,” ucap Tiara dengan senyum tipis yang terasa menusuk.     Vanesa terlihat begitu marah dan menjerit, “Beraninya!”     “Tentu saja aku berani. Status kita jauh berbeda. Aku, istri sahnya, dan kau hanyalah wanita simpanan yang bahkan tidak berani Darka tunjukkan pada kedua orang tuanya. Seharusnya, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan bagimu untuk mundur. Jangan lagi mengganggu rumah tangga orang lain, dan menggoda suami orang lain,” ucap Tiara memberikan sedikit nasihat.     Vanesa yang mendengar hal itu merasakan urat-uratnya berkedut karena menahan kemarahan. “Apa saat ini kau tengah menasehatiku? Beraninya kau melakukan hal itu! Memangnya kau pikir kau itu siapa? Kau itu hanya terlalu beruntung terpilih menjadi menantu di keluarga Al Kharafi. Tapi, jangan terlalu senang. Aku akan mengakhiri keberuntunganmu itu,” ucap Vanesa dengan kedua mata yang menyorot tajam pada Vanesa.      Vanesa sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Tiara untuk menjawab perkataan yang sudah ia lemparkan. Vanesa berdiri dari tempatnya dan merapikan penampilannya sebelum berkata, “Pastikan saja, jika kau tidak akan mati karena terlalu lelah menangis. Aku akan membalas semua penghinaan yang sudah kau berikan padaku.”     Setelah mengatakan hal itu, Vanesa pergi begitu saja meninggalkan Tiara yang tidak bisa berkata-kata. Sungguh, ia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Vanesa padanya. “Memangnya, di sini siapa yang di hina, dan siapa yang menghina? Apakah dia kesulitan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Ah, kasian. Padahal dia masih muda,” ucap Tiara sebelum membereskan cangkir dan beranjak untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Tiara tampaknya sama sekali tidak peduli dengan apa yang sudah dikatakan Vanesa padanya. Tiara melanjutkan kegiatannya, seolah-olah dirinya sama sekali tidak bertemu dengan Vanesa.       **           Darka berdecak kesal. Karena hujan deras, pesanan makanannya dibatalkan dan kini dirinya tersiksa karena rasa lapar yang membuat perutnya berteriak keras sejak tadi. Suasana hati Darka semakin memburuk, saat dirinya mencium aroma masakan Tiara yang lezat. Darka berpikir, jika Tiara sengaja melakukan hal itu untuk mengolok-oloknya. Darka melihat ke luar jendela, dan ternyata hujan benar-benar deras. Terlalu berbahaya bagi Darka untuk mengemudi di bawah hujan deras yang membatasi jarak pandang ini. Jadi, Darka pun memilih untuk turun ke lantai bawah. Setidaknya, Darka bisa memasak mie instan daripada harus memakan masakan buatan Tiara yang tidak sesuai dengan seleranya.     Namun, begitu sampai di dapur, Darka malah merasakan perutnya semakin keroncongan saat melihat sajian di atas meja makan. Ada tumis kangkung, sambal ulek, sambal kentang dan goreng ikan mas yang tampak lezat. Darka menelan ludah. Ia memang belum pernah mencicipi masakan rumahan semacam ini, karena sejak awal memang bukan seleranya. Hanya saja, sebelumnya Jarvis sudah berulang kali memuji masakan Tiara dan mengatakan jika masakan Tiara sangatlah lezat, walaupun sederhana. Tiara yang melihat Darka berada di ambang pintu dapur segera tersenyum dan berkata, “Baru saja aku akan ke atas untuk memanggilmu dan mengatakan makanannya sudah siap.”     “Memangnya siapa yang mengatakan mau memakan masakanmu ini?” tanya Darka kesal.     “Tapi, sepertinya Darka tidak bisa memesan makanan pesan antar, kan?” tanya balik Tiara.     “Aku ingin makan mie rebus saja,” ucap Darka lalu duduk di meja makan dengan kesal.     “Sayang sekali, tidak ada persediaan mie instan,” ucap Tiara penuh penyesalan sembari menyiapkan alat makan bagi Darka.     “Hei, kenapa tidak mengisi persediaan? Mie instan itu penting!” seru Darka kesal karena kini tidak ada pilihan lain selain memakan masakan Tiara untuk mengisi perutnya yang sudah benar-benar keroncongan. Jika tahu bahwa malam hari akan hujan seperti ini, sebelum pulang Darka akan makan di luar rumah saja.     Tiara yang mendengar keluhan Darka mengernyitkan keningnya. “Itu memang penting di rumah seorang bujangan yang tidak bisa memasak. Tapi, Darka kan sudah bukan bujangan lagi. Ada aku yang akan memasak untuk Darka. Nah, sekarang silakan makan,” ucap Tiara yang rupanya sudah menyendokkan nasi dan laup pauk untuk Darka.     Darka menatap piring yang terisi itu dengan kesal. Dengan ragu, Darka pun makan satu gigit dan cukup terkejut dengan rasa masakan tersebut. Tiara yang menyadari ekspresi tersebut, tersenyum tipis. Ia bertanya, “Apa masakannya sesuai dengan selera Darka?”     Darka menatap Tiara dengan tajam dan berkata, “Kau pikir makanan seperti ini sesuai dengan lidahku?! Tentu saja tidak! Tapi aku sangat lapar, dan tidak ada makanan selain ini. Aku tidak memiliki pilihan lain.”     Darka meyakinkan dirinya jika rasa lezat yang melingkupi lidahnya hanyalah hal yang terjadi karena rasa lapar yang ia rasakan. Jika saja dirinya tidak lapar, tentu saja masakan kampungan yang dibuat Tiara tidak akan selezat ini. Darka yakin itu. Namun, Tiara sama sekali tidak berpikir begitu. Ia melayani Darka dengan cukup baik. Rupanya, Darka cukup lapar hingga menambah nasi dan lauknya. Rasanya, Tiara benar-benar ingin tertawa saat melihat Darka yang terus mencibir masakan buatannya, tetapi tampak lahap menyantap masakan tersebut. Tiara tidak tersinggung dan tetap membantu Darka saat akan menambah lauknya.     Di tengah makan malam tersebut, Tiara pun teringat kejadian tadi pagi. Ia menimbang-nimbang, apa dirinya perlu mengatakan kejadian itu pada Darka. Setelah meragu beberapa saat, Tiara pun berkata, “Tadi pagi, ada tamu yang datang.”     Darka menghentikan kegiatan makannya untuk sesaat sebelum bertanya, “Siapa yang datang? Apa dia mencariku?”     Tiara menggeleng. Ia menatap Darka tepat pada matanya dan menjawab, “Dia tidak mencarimu. Dia mencariku. Dan namanya adalah, Vanesa.”
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม