Hari ini, Darka sudah berangkat bekerja seperti biasa. Jadi, setelah mengantarkan kepergian Darka berangkat bekerja, Tiara segera sibuk melakukan pekerjaan rumah selayaknya ibu rumah tangga pada umumnya. Jika dibandingkan dengan pekerjaan Tiara di rumah ini dengan pekerjaan Tiara di panti asuhan jelas pekerjaan di panti asuhan lebih banyak dan lebih berat. Namun, entah kenapa Tiara merasa lebih lelah mengurus pekerjaan rumah ini daripada mengurus pekerjaan di panti. Tiara berpikir, jika mungkin ini ada kaitannya dengan masalah hubungannya dengan Darka yang bukannya semakin membaik seiring waktu berjalan, malah Darka semakin menekan dirinya seolah-olah tidak mau membuat Tiara merasa tenang hidup dengan berstatuskan istri darinya.
Darka seakan-akan sengaja melakukan semua itu untuk membuat Tiara muak dengan statusnya sebagai istri dari Darka. Apa mungkin, Darka ingin membuat Tiara mengajukan perceraian? Tiara menggeleng. Sepertinya itu tidak mungkin. Meskipun Darka membencinya, bukankah perceraian terlalu berlebihan untuk mereka yang bahkan baru menikah belum lebih dari satu bulan? Tiara pun menghela napas dan melangkah menuju area belakang kediaman minimalis yang terasa mewah bagi Tiara tersebut. Di sana, ad ataman kecil dan sebuah kolam renang. Kali ini, Tiara akan membersihkan kolam renang dari dedaunan kering yang jatuh ke dalamnya. Baru saja Tiara memegang alatnya, Tiara sudah lebih dulu mendengar suara bel pintu.
Tiara menoleh dan bertanya pada dirinya sendiri, “Siapa yang datang, ya? Apa Mama dan Papa?”
Puti dan Nazhan akhir-akhir ini memang sering datang tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Sepertinya, kedua mertuanya itu ingin memastikan bahwa Darka memang masih berada di rumah saat masa cutinya belum selesai. Hal itu jugalah yang terkadang membuat Darka kesal, karena dirinya sama sekali tidak bisa pergi ke mana pun, di saat dirinya merasa begitu bosan karena harus menghabiskan waktunya yang cukup panjang hanya dengan berdiam diri di dalam rumah. Tiara sendiri sudah terbiasa menghabiskan waktunya di dalam panti, jadi dirinya sama sekali tidak merasa keberatan hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah setelah menikah dengan Darka. Ia memiliki banyak pekerjaan karena harus mengurus rumah seorang diri. Jadi, tidak ada kata bosan bagi Tiara.
“Iya, tunggu sebentar,” teriak Tiara sembari melangkah menuju pintu utama.
Tiara membukakan pintu dan melihat seorang wanita cantik dengan pakaian seksinya. Tentu saja, Tiara sama sekali tidak mengenali wanita tersebut. Namun, sebaliknya. Wanita itu tampaknya mengenali Tiara. “Kau Tiara, bukan?” tanyanya dengan tatapan yang agaknya terasa merendahkan bagi Tiara.
Namun, Tiara mencoba untuk tidak mempedulikan tatapan tersebut dan balik bertanya, “Iya, saya sendiri. Ada urusan apa, ya?”
“Bolehkah aku masuk? Aku di sini seorang tamu. Apa mungkin, ini caramu memperlakukan seorang tamu?” tanya wanita itu sembari tersenyum sinis.
Tiara pun tersenyum tipis. Sepertinya, tamunya kali ini akan membuat suasana hati Tiara memburuk. Namun, Tiara sama sekali tidak berniat untuk mengusir tamunya tersebut. Ia membukakan pintu dan berkata, “Silakan.”
Wanita itu segera duduk di sofa ruang tamu tanpa dipersilakan terlebih dahulu oleh Tiara. Namun, Tiara tidak merasa tersinggung dan malah berkata, “Tunggu sebentar, biar saya buatkan minum dulu.”
Setelah menghilang beberapa saat, Tiara pun muncul dengan sebuah namapn di tangannya. Tiara membuatkan teh manis hangat untuk tamunya itu. Setelah menyajikannya, Tiara duduk berseberangan dengan wanita yang dengan anggunnya menyesap teh yang sebelumnya sudah disajikan oleh Tiara. Melihat dari pembawaannya dan tampilannya yang anggun, Tiara yakin jika orang ini sebelumnya belum pernah bertemu dengannya. Namun, hal yang paling mengherankan adalah, kenapa dia mengetahui nama Tiara bahkan ingin berbicara secara pribadi dengan Tiara seperti ini. Jelas, Tiara bisa menebak hal itu dengan tepat, karena wanita ini datang di waktu jam kerja. Itu artinya, ia memang datang bukan untuk bertemu dengan Darka, melainkan untuk bertemu dengannya dan membicarakan sesuatu yang sampai saat ini belum diketahui oleh Tiara.
“Kau pasti penasaran dengan alasanku menemuimu, dan siapakah aku sebenarnya,” ucap wanita itu setelah meletakkan cangkir dan menatap Tiara dengan senyum yang terasa mengganggu bagi Tiara. Senyuman itu memang terlihat cantik. Namun, Tiara merasa senyuman itu sama sekali tidak tulus dan membawa niat lain di baliknya.
Tiara tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja. Jadi, siapa Anda dan sebenarnya apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?” tanya Tiara dengan nada sopan. Meskipun dirinya belum mengetahui alasan dan siapa orang yang berada di hadapannya ini, berbicara sopan pada tamu adalah suatu keharusan. Jadi, Tiara memilih untuk bersikap sopan, walaupun sejak tadi dirinya merasa jika wanita yang berada di hadapannya ini terus berusaha untuk merendahkannya, melalui ekspresi dan tatapan yang ia berikan.
“Baiklah, mari aku perkenalkan diriku. Aku Vanesa, dan hubunganku dengan Darka adalah … patner seks.”
Perkaaan yang masuk ke dalam indra pendengaran Tiara tersebut terdengar menyakitkan. Namun, Tiara berusaha untuk mengenalikan ekspresinya dengan sebaik mungkin. “Ah, begitu?” tanya Tiara.
Benar, wanita yang datang bertamu secara tiba-tiba tersebut, tak lain adalah Vanesa. Tiara menatap Vanesa dengan riak emosi yang tidak terbaca oleh Vanesa. Jelas, Vanesa yang mendapati reaksi yang diberikan oleh Tiara tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan merasa kecewa. Ia benar-benar kesal, karena usahanya membuat Tiara marah dan mengamuk ternyata gagal total. Ia tidak membayangkan jika Tiara adalah wanita yang sangat tenang seperti ini. Namun Vanesa tentu saja tidak akan mundur begitu saja. Ia sudah datang jauh ke mari, dengan begitu banyak persiapan. Ia sudah bertekad untuk menghancurkan pernikahan Darka dengan Tiara. Jika Darka tidak bisa menceraikan Tiara karena kedua orang tuanya, maka Vanesa hanya perlu membuat Tiara yang menceraikan Darka. Itu sangatlah mudah. Vanesa adalah wanita, dan ia tahu senjata apa saja yang perlu ia gunakan untuk menjatuhkan wanita lainnya.
Vanesa melipat kedua tangannya di depan d**a dan berkata, “Ya, kami adalah patner seks. Setidaknya itu yang sering Darka ucapkan. Namun, aku merasakan hal lebih daripada patner seks pada Darka.”
“Kau menyukainya?” tanya Tiara sudah tidak lagi menggunakan bahasa formal pada seseorang yang sudah melewati batasan yang ada. Tiara tentu bisa bersikap sopan dan mengendalikan perasaannya dengan sangat baik. Namun, ada pengecualian bagi Tiara. Ia tidak bisa bersikap sopan pada seseorang seperti Vanesa yang tidak mengetahui posisinya.
“Ternyata kau lebih cerdas daripada yang terlihat,” ucap Vanesa sembari menyeringai.
Tiara terkekeh pelan. “Sebuah pujian yang terdengar cukup menyenangkan,” ucap Tiara semakin membuat Vanesa jengkel.
Tiara pun pada akhirnya bertanya, “Jadi, apa kau hanya datang untuk mengatakan hal itu padaku? Rasanya, perjalanmu akan sia-sia jika memang datang hanya untuk mengatakan hal seperti itu.”
Vanesa mengetatkan rahangnya. Rasanya, berkelahi dan menghajar para wanita yang sudah berusaha merebut Darka darinya terasa lebih mudah bagi Vanesa, daripada berhadapan dengan seseorang seperti Tiara. Meskipun memiliki wajah polos yang rasanya bisa ditindas dengan mudahnya, tetapi Tiara bukan orang yang mudah untuk dihadapi. Rasanya, Vanesa ingin mencakar wajah sok polos yang saat ini tengah terpasang pada wajah Tiara. Apa dia pikir dengan statusnya sebagai istri sah dari Darka, bisa membuatnya bisa berhadapan dengan Vanesa? Kelas mereka jauh berbeda, dan Vanesa yang lebih unggul di sini. Vanesa akan menunjukkan hal itu.
“Tentu saja tidak. Mana mungkin aku hanya datang untuk mengatakan hal itu,” ucap Vanesa.
“Jadi, apa yang ingin kau katakan lagi? Sebaiknya kau bergegas. Aku tidak bisa menjamumu lebih lama lagi. Ada begitu banyak pekerjaan rumah yang harus aku lakukan sebagai seorang istri,” ucap Tiara.
“Ah benarkah? Aku sampai sulit membedakan seorang istri dengan pembantu rumah tangga. Jika aku yang menjadi istri Darka, aku tidak mungkin perlu mengurus hal yang kotor semacam itu.”
Namun, Tiara sama sekali tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Vanesa dan meminta Tiara untuk mengatakan apa yang sebelumnya ingin dikatakan oleh Vanesa. Tentu saja sikap Tiara tersebut benar-benar menjengkelkan bagi Vanesa. Rasanya, Vanesa malah kalah telak dengan apa yang sudah dilakukan oleh Tiara ini. Hanya saja, Vanesa tidak akan mundur begitu saja. Ia menatap Tiara dengan tajam, lalu sedetik kemudian terkekeh penuh olok pada Tiara. “Aku datang untuk memberikan peringatan padamu,” ucap Vanesa.
“Peringatan? Peringatan apa yang kau maksud?” tanya Tiara meminta Vanesa untuk berbicara dengan jelas.
“Aku tengah memberikan peringatan padamu, untuk menyiapkan hati. Karena aku, akan membuat pernikahanmu dengan Darka seperti neraka. Setiap malamnya, aku akan memastikan untuk mencuri Darka darimu. Aku tidak akan membiarkanmu benar-benar menjadi istrinya. Aku akan menggantikan tugasmu sebagai istri yang memuaskannya di atas ranjang,” ucap Vanesa dengan wajah begitu puas saat melihat Tiara yang menyurutkan senyumannya.