twenty five - keraguan membentang luas

1044 คำ
Kyoto, 10 Maret 1911. "Bagaimana bisa dia sehebat itu?" Semua kalimat gunjingan mengarah padanya. Arata tersudut di sebuah ruangan, menyantap makan malamnya sendirian setelah staf menghidangkan menu yang sama dengan pendekar muda lainnya. Tidak ada perbedaan, hanya saja Arata terlambat hadir ke ruang makan. "Usianya baru enam belas tahun," bisik salah seorang lainnya yang begitu jelas membenci Arata melalui tatapan matanya. "Dia hanya beruntung karena terlahir gesit dan tangkas." Arata menghabiskan makan malamnya dengan tenang. Seakan tidak terpengaruh sama sekali karena ucapan semua orang di dalam ruangan. Pada akhirnya mereka pasti pergi, membiarkannya sendiri tanpa perlu Arata meladeni dan hanya membuang tenaga. "Yang membuat mereka semakin kesal adalah karena kau tetap diam." Sebuah suara muncul dan hanya datang dari pejuang tertinggal di ruangan. Arata menoleh, menatap pada sosok berambut panjang terikat yang memberi senyum miring ke arahnya. "Lanjutkan saja makan malammu. Kau pantas mendapatkannya," tambahnya lagi setelah berjalan mendekat ke arah meja Arata. "Namaku Geto. Aku sudah mengenalmu. Kita tidak perlu berkenalan lagi karena itu membosankan." "Semua orang membicarakanmu karena mereka merasa iri. Kau bersama kami hanya baru satu tahun dan berhasil melampaui pendekar senior sekali pun. Wajar jika mereka tidak menyukaimu," ucap Geto dengan dengusan. "Aku tidak melihat Yuuta. Apa dia sungguh pergi?" "Ya, tugas yang berat." Arata menyantap sisa sup miso miliknya dan mengabaikan Geto. "Aku turut menyesal." "Untuk?" "Keluargamu. Aku tidak sengaja mendengarnya dari rapat para petinggi tadi." "Itu sudah lama berlalu," sahut Arata santai melirik Geto yang memasang tampang dingin tak tersentuh. "Aku nyaris melupakannya." "Jika kau membalas rasa sakitmu, semua akan membaik." Ekspresi itu belum berubah. Arata terlihat murung dan tidak tersentuh siapa pun. Dia hanya patuh dengan para petinggi dan selebihnya bergerak sesukanya. Ini yang membuatnya terkesan ditakuti. Reputasi itu terlalu melekat dan tidak ada siapa pun berani mendekati. Katana miliknya terlalu kuat dan dingin, mengayun kepada siapa pun tanpa kenal ampun. "Kau benar." Sebelum Geto bangun dari tempatnya, Arata berpaling menatapnya. Atensi pemuda itu terpusat pada Geto seorang. "Aku meminta bantuanmu." "Apa?" "Kau bisa mendengarkan percakapan para petinggi selagi aku tidak ada," kata Arata datar tidak menaruh harapan tinggi padanya. "Dengarkan mereka dan andai saja menyebut nama Yuuta, kau bisa memberitahuku tentang hal itu." "Kau ingin mencari kakakmu sendirian?" "Dia bisa saja terluka di luar sana," balasnya dingin dan Geto mendapati suara itu sedikit bergetar. Arata mencemaskan orang lain dan rasanya mustahil melihat bagaimana kaku serta tingkah misterius lelaki itu. "Seharusnya aku yang menerima tugas itu, bukan Yuuta." Geto mengambil napas serta membawa kedua kakinya pergi. "Aku mengerti." Arata menatap kepergiannya dalam diam. Tidak lagi bersuara atau barang mengucapkan terima kasih. Ia percaya Geto bisa diandalkan dan seandainya Yuuta serius terluka dalam misinya, Arata harus pergi membantu. Makan malamnya telah tandas. Para staff memasuki ruangan untuk membereskan meja. Arata bergegas bangun meninggalkan mejanya untuk pergi mencari udara segar. "Arata." Seseorang menyebut namanya dengan lirih. Lelaki itu lantas menoleh, menggeser perhatiannya dari sinar bintang untuk menghampiri seseorang yang limbung, nyaris jatuh mencium tanah. "Yuuta?" suaranya terdengar lega. Walau sang kakak terluka dan tampak kepayahan namun dia berhasil selamat. Geto membantu setelah muncul dari bilik kamar mandi. Menghampiri keduanya dan membawa Yuuta kembali ke ruangan bersama Arata yang memapah sang kakak, memerhatikan berbagai luka karena katana yang menggores kulitnya. "Aku pergi memanggil tabib." Geto berlari mencari tabib khusus untuk mereka dan membiarkan Arata menyiapkan tempat untuk sang kakak beristirahat, membantunya dengan baik. *** Saito menutup tirai yang menghubungkan antara dojo dan rumah Mia. Saat melihat tamunya saat ini, ia mempersilakan masuk ke dalam dan memberi ruang setelah menutup pintu. Geto duduk bersimpuh bersama Saito yang mengambil tempat untuk duduk di depannya. Beberapa menit berlalu dan tidak ada yang membuka suara. "Keperluanmu sangat mendesak?" "Aku melindungi seseorang dan sosok itu ada di rumah ini sekarang." Geto mengambil napas getir. "Arata, aku melindunginya. Dia mungkin tidak membutuhkanku, tetapi aku perlu melakukannya." Air muka Saito belum juga berubah. "Lantas?" "Arata pernah datang ke Asakusa sebelum ini. Sebelum dirinya melarikan diri dari neraka Kyoto dan menghilang selama sepuluh tahun. Saat dia kembali, banyak spekulasi muncul dalam kepalaku. Salah satunya adalah alasan besar dia datang ke Asakusa." Sebelah alis Saito terangkat naik. "Dia datang hanya sebagai pengembara biasa dan tidak lebih. Aku percaya dirinya hadir ke tempat ini bukan dengan tujuan lain." "Aku mengenalnya selama itu." Raut Geto tampak keras. "Aneh melihat Arata pergi tanpa tujuan setelah malam berkabung itu." "Kau sepertinya tersinggung saat dia berkata tidak akan mengayunkan katana lagi setelah era baru berjalan stabil," tebak Saito dengan kekehan pahit. "Kenapa kau terluka? Pejuang hebat bisa memilih jalannya sendiri tanpa campur tangan orang lain." Geto mencela sinis. "Itu terdengar sangat mustahil, Tuan Saito. Pejuang harus melakukannya agar dia dan orang yang dicintai selamat. Arata menghadapi banyak rintangan selama ini, keputusannya selalu membuatku terkejut." "Perlu kau tahu, bahwasanya Mia dan aku tidak ada sangkut-pautnya dengan jalan pengembara itu." Saito memperingati dingin dan menatap Geto lekat. "Kami tidak berhak masuk ke dalam urusan orang lain, sama halnya dengan Arata." "Kakaknya masih hidup dan bernapas sampai detik ini." Seakan tahu konflik yang banyak terjadi dalam dunia pendekar, Saito hanya terdiam selama beberapa saat untuk mencerna kalimat Geto. Setelah memahaminya, ia baru mengangguk datar. "Dia bisa melukai Arata kapan saja tanpa peduli saudara dan siapa dirinya," ungkap Saito menyelipkan kesimpulan dan Geto terdiam. "Asakusa tidak akan aman selama Arata masih menetap di sini. Dia diminta untuk kembali ke Tokyo dan Kyoto pasti hadir untuk membalaskan derita." Ekspresi wajah tanpa arti Saito memberi banyak pertanyaan dalam kepala Geto. Sang legenda yang sempat tidak terkalahkan menyimpan sejuta misteri. Geto tidak bisa membongkarnya secara tepat. "Aku tahu kau tidak ingin banyak bicara, beri aku pertanyaan yang mengganjal dalam kepalamu." Saito memberi kesempatan kepada Geto untuk memberinya satu pertanyaan pamungkas. Sang kepala tim sektor dua menghela napas berat, membuangnya perlahan. "Kau mengenal Arata jauh sebelum dia datang ke Asakusa kedua kalinya, kan?" Kilat pada mata Saito berubah. Geto menangkap perubahan itu dengan jelas dan terekam nyata pada otaknya. "Bukan karena kalian adalah seorang pejuang muda. Arata memiliki misi merah di Asakusa dan dia berhasil selamat lalu kembali ke Kyoto untuk memberi hasilnya. Asakusa, kau menetap di desa ini jauh lebih lama dari perkiraanku." Saito mengembuskan napas panjang. "Kau berniat akan melaporkan kebenaran itu pada Mia?" Geto menggeleng lirih. "Aku hanya menginginkan kebenaran cerita tersebut." Sang legenda memilih untuk diam seribu bahasa.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม