twenty four - bahkan belum menyatakan

2257 คำ
Kyoto, 10 Februari 1910. "Jadi, namamu Arata? Mengarah pada pertandingan tempo hari, aku mengeluarkan uang untukmu." Arata hanya memasang raut sedatar mungkin, mencoba tenang meski sosok yang duduk angkuh di depannya terlihat bukan dari kelas sembarangan. Gaya pakaian, cara bicara dan tatapan matanya yang pongah menggambarkan benar sosok yang ditakuti banyak pihak. "Ya." Senyum pria itu terlihat dingin. "Aku menjamu dirimu untuk makan dan mencicipi beragam minuman terbaik di sini. Jangan sungkan. Cicipilah sedikit karena kau kelaparan." "Tidak, terima kasih." Suara gemerisik sarung katana menarik perhatiannya. Arata menghela napas, mengamati seisi ruangan sebelum kembali menatap mata sinis pria itu. "Ada apa?" "Kau bukan tipikal yang senang berbasa-basi, kan?" "Aku merasa tidak punya urusan dengan siapa pun," kata Arata singkat dan sejujurnya merasa bosan. "Kehadiranku di arena hanya untuk bermain dan mendapatkan tambahan uang." "Kau sebatang kara?" "Itu benar." "Berapa usiamu?" Buku tangan Arata mendadak mengencang. Ia memilih berhenti sejenak untuk tidak menjawab sebelum bersuara. "Lima belas tahun." "Apa sosok yang menunggu di depan pintu adalah kakakmu?" tanya pria itu lagi. Kembali senyum itu mengulas miring. "Dia sama berbakatnya denganmu?" Kali ini Arata merasa ragu. Kedua matanya menyipit, menilai situasi sebelum melancarkan balasan. "Melebihi diriku. Dia jauh lebih berbakat dariku." Pria dengan jubah hitamnya hanya tersenyum. Lagi yang membuat dirinya muak. Arata mematung, menunggu kalimat selanjutnya saat yang terdengar hanya detak suara jam. "Aku rasa cukup sampai di sini. Karena aku ingin mengenalmu lebih dalam, kita masih bisa bertemu lain hari. Dengan senang hati ingin bicara denganmu lagi, Arata. Oh, ingatkan pada kakakmu untuk datang. Siapa namanya?" Bersama satu raut datar yang belum berubah, Arata menjawab. "Yuuta." Dua pengawal melihatnya pergi. Arata memberi tatapan selidiknya sekali lagi sebelum berjalan menjauh. Melihat sang kakak yang duduk menanti tanpa bicara, meraih tangannya sesampai mereka di tempat yang lebih aman. "Kau bicara apa tadi? Aku lebih kuat darimu? Kau pasti bercanda di sana." Arata tidak sama sekali merubah ekspresi wajahnya saat menatap sang kakak yang serius. Sudut bibirnya hanya tertarik sedikit, memberi senyum pias. "Kau hanya sedang merendah." "Aku tidak begitu. Kali ini sangat serius. Arata, bagaimana jika kau ketahuan tengah berbohong tentangku?" Sang adik merespons hanya dengan gelengan kecil. Sama sekali tidak terpengaruh dengan risiko setelah mengatakannya. "Aku akan menanggungnya akibatnya. Lagi pula, yang kubicarakan adalah kebenaran. Kau hanya kurang percaya diri." Jika menyangkut Arata dan kepercayaan dirinya yang lumayan tinggi, Yuuta tidak seharusnya merasa cemas. Saat matanya mengekori sang adik yang masuk ke dalam perbatasan, napasnya bergerak cepat. "Kau bisa menyebutku kuat seandainya aku mengalahkanmu dalam arena." Arata berhenti melangkah, berbalik menatap sang kakak dengan senyum miring. "Kau sedang terluka, untuk apa membahasnya? Lain kali saja." Yuuta terkekeh kecil, merangkul bahu Arata saat matanya berbinar bahagia. "Kau benar. Saat cedera ini pulih dan aku bisa melakukannya, aku harus. Kau tunggu saja. Aku bisa membuktikannya." "Kau ingin membuatku merasa sakit?" Lalu yang terdengar hanya suara tawa dari keduanya. *** Saat Arata baru saja bangun dari tidur siangnya, dojo terlihat sepi. Tidak ada seorang pun yang hadir setelah guru Saito membubarkan mereka. Arata menatap langit yang bersinar tidak terlalu terik, matahari seolah tertutup awan dan menemukan Liana sedang menjemur pakaiannya sendiri. "Mia juga menyuruhmu menjemur bahan ramuannya?" Liana menghela napas saat mendengar sang guru menegur. "Tidak, tapi aku sengaja melakukannya." Gadis itu melirik Arata yang termenung sebentar. "Biarkan saja. Saat Mia kembali, semua pekerjaan rumah sudah selesai." Saito hanya mengangguk, sedangkan Arata nampak bingung. "Ke mana dia pergi?" "Dia ini siapa? Mia?" Arata dengan kaku mengangguk. Sementara Liana mendengus bibirnya malah cemberut. "Kalau bicara tentang seseorang, harus lebih spesifik. Dia yang kau sebut punya nama," tegur Liana. Mimik wajah Saito berubah geli. Gadis itu sungguh lucu. Dari tingkah mereka yang berbanding membuat Saito memahami bahwa Mia dan Liana sangat berbeda. "Mia pergi ke rumah salah satu penduduk yang ingin mengenalkan putranya. Dia berkata baru saja kembali dari Osaka." "Siapa putranya?" sahut Saito penuh tanya. "Perjodohan?" "Kencan." Liana terkekeh. Kemudian memudar setelah melihat wajah datar Arata. "Tetapi mungkin saja. Karena ibu tadi sangat serius membahasnya. Dia sepertinya ingin memiliki menantu seperti Mia." Arata terdiam selama beberapa saat sebelum membawa tubuhnya mundur dan kembali ke kamarnya sendiri. Pandangan Saito serta Liana yang mengintip mengikuti, membuat sang guru mendengus kecil pada murid cerdiknya. "Ini semua rencanamu?" "Aku betulan bicara yang sebenarnya," sahut Liana setelah mencuci tangan dan duduk. "Mia memang pergi menemui pria itu. Aku bicara agar Arata segera sadar." Saito menggeleng pelan. "Mia menyukainya," ungkap Liana setelah menunduk selama beberapa menit. "Mia jatuh cinta pada Arata, si pengembara dingin itu." Raut wajah Liana berubah saat gadis kecil itu membungkuk, memainkan akar pohon yang lepas untuk membentuk pola abstrak. "Apa kau merasa gelisah karena Mia menyukai orang lain?" "Aku tidak ingin dia terluka dalam bentuk apa pun," balas Liana lirih. "Mia sudah banyak menderita selama ini di hidupnya." Ketulusan terpancar dari mata gadis itu. Liana menoleh menatap sang guru dengan serius. "Saat aku pindah ke rumah ini, Mia sering menangis semalaman dan bermimpi buruk. Dia merindukan keluarganya, terutama kepada ibunya. Tetapi ketika pagi tiba, dia bersikap seolah biasa saja. Seakan tidak pernah terjadi apa pun. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk menghiburnya." Saito hanya tersenyum, tidak bicara lebih banyak saat bersandar dan membiarkan angin sore hari membawa perasaan lelahnya pergi. Kenangan Mia bersama keluarganya samar hadir, mengisi ruang dalam kepalanya. "Mia tidak terlahir sempurna." Liana membeku. "Saat dia lahir, kedua matanya tidak bisa melihat. Mia punya gangguan pada matanya dan membuatnya buta. Saat itu dokter bilang tentang putri kecil mereka yang mengalami kelainan mata permanen. Aku mendengar suara tangisan sang ibu begitu pilu." Kedua mata Liana melebar. "Lantas, bagaimana dengan yang sekarang?" "Ceritanya panjang, Liana." Saito menghela napas. "Aku tidak bisa menceritakan keseluruhannya padamu. Yang paling penting, Mia menjadi dirinya sekarang berkat campur tangan ibunya. Cinta dari seorang ibu yang membuatnya berhasil bertahan. Mia punya kehidupan baru selepas kehilangan keluarganya." Ketika Liana hendak membuka mulutnya, Arata muncul dari kamar dengan tampilan yang lebih rapi. Ketika pria itu berjalan menghadap Saito, dia membungkuk agak dalam. "Terima kasih untuk pakaiannya." "Santailah. Itu tampak sempurna untukmu," balas Saito ramah dan Arata memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua tanpa bicara sepatah kata. *** "Senang berkenalan denganmu. Aku, Raito." Mia melamun, melihat uluran tangan itu dengan ramah setelah menyapa. Saat matanya bertemu pandang, ia hanya tersenyum tipis. "Mia," lirihnya. "Ibu banyak berbicara tentangmu." "Begitukah?" Semburat malu muncul di kedua pipinya saat Mia mengulum senyum. Keduanya sangat ramah dan baik padanya. Saat Mia hadir memenuhi undangan, sang ibu rupanya mengenalkan putranya yang baru saja kembali dari perantauan ke Asakusa dan membanggakan Mia selayaknya benda berharga. Piagam yang patut dijaga. Mia merasa sungkan sekaligus senang. "Aku selalu menulis surat untuknya setiap minggu karena terlalu merindukannya." Sang ibu menyahut dengan lirih menatap putranya penuh sayang. Adegan manis tersaji di depannya membuat Mia tersentuh. "Dia anak yang baik dan tidak pernah merepotkanku. Aku merasa kesepian setelah suamiku pergi karena lambung. Tapi melihat putraku bekerja keras, aku juga harus bertahan di sini walau kami terpisah jarak." "Bagaimana kehidupan di Osaka?" "Tidak seramai Tokyo dan cukup padat dari Asakusa." Raito menjawab hangat. "Aku sering merindukan kampung halamanku dan melupakan saat terakhir kembali." "Kau tidak pernah mampir ke Osaka?" Mia menggeleng dengan senyum malu. "Aku tidak berniat pergi dari Asakusa. Mungkin sesekali berlibur ke sana di saat luang." Percakapan itu mengalir dengan santai. Mia merasa tersanjung karena keluarga kecil itu menyambutnya sangat ramah. Termasuk sang anak yang terkesan tulus, tidak ada kepalsuan. Pria itu punya pesona yang lumayan. Senyumnya tampak hangat dengan binar mata ramah. Siapa pun yang melihatnya akan merasa berbunga. "Ibu akan pergi memeriksa hasil kebun. Mia, tinggalah lebih lama lagi, ya?" Sebelum Mia menjawab, pemilik rumah telah membiarkannya berdua. Kini dirinya harus berhadapan dengan Raito sendirian. Yang sejak tadi tidak pernah melepas tatapan mata itu darinya. "Kau seorang tabib handal di Asakusa. Ibu bercerita kalau tempat ini tidak punya dokter atau tenaga kesehatan setelah kepala desa mengacau." Mia menghela napas skeptis. "Kepala desa membuat sesuatu yang sangat buruj. Dokter senior di Asakusa melarikan diri setelahnya. Yang tersisa hanya aku di tempat ini." "Aku bisa melihatnya. Kau bekerja keras untuk para penduduk Asakusa." Mimik wajah Mia berubah canggung. Sejujurnya, ia tidak terlalu terbiasa dipuji tetapi tidak pernah menolaknya. Aneh melihat ada lelaki lain memberinya setulus itu. "Kau akan kembali ke Osaka?" "Kemungkinan besar. Bulan depan harus kembali bekerja. Ibu memintaku menetap lebih lama dan aku tidak punya pilihan," balas Raito dengan senyum. "Kau bosan? Ingin berkeliling? Aku melupakan banyak hal tentang desa ini. Mungkin kau berkenan menemani?" "Aku kosong hari ini. Kebetulan ada restoran murah yang tidak terlalu jauh dari rumahmu," kata Mia setelah memakai sandalnya. "Benarkah? Aku bisa membawamu ke sana?" Mia mengangguk. "Aku terbiasa membawa keluargaku pergi untuk makan di luar kadang. Mereka sangat senang. Tapi kalau kau mengajak, aku tak bisa menolak." Senyum Raito terlihat lepas dan lega. Setelah keduanya berjalan, menyusuri Asakusa dengan santai dan Mia menjelaskan perubahan yang terjadi selama dirinya menetap di desa ini nyaris dua puluh lima tahun lamanya. Mia hanya berbicara tentang kenangan yang sempat terlihat pada pria itu, tidak lebih. Dan sesampainya di restoran yang senggang, Mia diizinkan memesan semua menu yang dia inginkan. Kebetulan yang menyenangkan. *** Arata melihatnya secara jelas. Mia pergi bersama pria lain dan mereka berdua tertawa bersama masuk ke restoran. Restoran yang sama saat Mia membawanya pergi untuk menikmati olahan tersebut pertama kali. Lamunannya buyar saat keduanya telah lenyap, masuk ke dalam restoran. Napasnya berubah berat, terdengar berantakan dan kacau. Seseorang melewati kakinya cukup keras hingga terjatuh. Arata menunduk, melihat gadis kecil yang tampak lebih muda dari Liana mencoba menyelamatkan bunga miliknya dari keranjang. "Kau terluka?" Gadis kecil itu menggeleng lirih. Arata mengambil semua bunga dan menaruhnya ke dalam keranjang, membantu gadis kecil yang gemetar untuk menyusun kembali bunga miliknya. "Kau membawanya sendirian?" Kepala kecil itu mengangguk. "Harganya hanya dua sen." Harga yang murah untuk bunga cantik nan segar baru dipetik dari taman. Arata mengeluarkan uang koin dari saku kimono miliknya, mengambil dua tangkai bunya yang sedikit kotor. Gadis kecil itu menerima dengan ceria, mengucapkan terima kasih sekaligus maaf karena telah berbuat ceroboh. "Mereka mengejarku dan aku tidak bisa mengontrol diri. Maafkan aku." "Tidak apa," sahutnya datar. Menerima bunga miliknya dan terdiam. "Lain kali kau harus lebih waspada di depanmu." Gadis itu kembali berjalan memamerkan bunga miliknya kepada beberapa orang yang melintas. Sementara Arata termenung, memandang dua tangkai miliknya. Langkahnya terasa berat saat Arata melirik ke dalam ruangan dan melihat Mia serius berkencan seperti yang Liana bicarakan. Pria asing itu sepertinya bukan penduduk asli Asakusa dan Arata tidak pernah melihatnya selama tinggal di desa. Peluit dari pihak keamanan Asakusa berbunyi nyaring. Arata menoleh dan melihat anak buah Geto sedang mengejar seorang ronin aneh yang mengacau kepada dua pedagang karena tidak memberikannya tambahan. Sosok Geto terlihat setelah memberi perintah. Mata mereka bertemu dan pria itu menghampiri dengan santai, menatap Arata yang berjalan seorang diri. "Kau sibuk hari ini?" "Tidak." Pandangan Geto turun, melihat adanya dua tangkai bunga yang sedang Arata pegang membuatnya terkesan walau samar. "Kau membeli bunga jelek itu?" "Gadis kecil itu terlihat kelelahan karena berkeliling pasar. Harganya hanya dua sen," ujar Arata menjelaskan tanpa ekspresi. "Kau bisa memberikannya pada tabib itu kalau mau." Arata terdiam sebelum menghela napas. "Ada apa?" Geto memandang sekitarnya dengan serius, tatapan lekatnya seakan memindai seluruh Asakusa dalam satu kali tatap. "Isuke hadir di Asakusa. Dia bekerja sama dengan banyak ronin untuk membawamu kembali. Kau harus bisa menjaga diri sendiri." "Yang datang adalah Isuke?" tanya Arata dingin. "Isuke diperintahkan oleh seseorang," balas Geto dengan satu geraman. "Dia tidak akan berhenti sebelum berhasil membawamu pulang ke Tokyo. Yang paling penting, jangan terpengaruh dengan seluruh ucapannya." "Dia mengusikmu?" "Aku sudah terbiasa dengan komplotan para manusia semacam mereka semua." Geto mencemooh keras, memandang bangunan restoran yang minimalis bersama helaan napas. "Mereka pasti menggunakan banyak cara untuk membawamu kembali. Informasi ini sudah sampai ke pihak pusat. Kau harus lebih paham mengenali sekitarmu nanti." Seolah mengerti keraguan Arata, Geto menepuk bahu pria itu untuk menyadarkannya. "Kau tidak harus kembali ke Tokyo. Karena apa pun yang terjadi, mereka berencana memulangkanmu ke Kyoto. Asalmu, tempat kau seharusnya tiada. Menetaplah di Asakusa sampai semua landai. Kau bisa melindungi banyak orang di sini. Jaga agar katana tetap hidup." "Jangan memikirkan tabib itu. Dia memiliki Saito Yada bersamanya," imbuh Geto serius. "Yang perlu kau lindungi adalah penduduk tidak bersalah di Asakusa. Tempat ini terbuka untuk siapa saja, tidak terkecuali dirimu. Kau seharusnya sadar itu." Setelahnya, Geto memutuskan untuk mundur dan pergi. Meninggalkan Arata sendiri saat pria itu memberi tatapannya sekali lagi dan melihat Mia masih bercengkerama hangat, tidak ada pilihan untuknya menetap. Arata membawa kedua kakinya pergi kembali ke rumah. Rumah terlihat sepi. Tidak ada Liana yang terbiasa menghabiskan hari untuk melakukan banyak kegiatan yang berujung mendengar ocehan Mia karena kesal. Lalu pada Saito yang hanya duduk, memandang langit dan perdebatan antara Liana bersama Mia bersama sorot geli. Kali ini, rumah sungguh nampak sepi. Arata menutup pagar. Berjalan masuk ke dalam dan bergeser untuk melamun di depan pintu kamar Mia. Mengetahui pemilik kamar tidak ada di dalam, Arata menggeser pintu tersebut dan masuk. Yang terlihat hanya pemandangan kamar dan kincir angin terpasang di sudut jendela. Mia masih menyimpan kincir angin pemberiannya. Langkah Arata berhenti untuk menyelipkan dua tangkai itu ke dalam lipatan baling-baling kincir angin. Menatapnya sesaat sebelum memutuskan untuk meninggalkan kamar. Arata berpapasan dengan Saito saat sang guru baru saja muncul dari dapur bersama guci berisi air. Ketika Arata mengangguk, kembali ke kamarnya, Saito mengintip kecil ke arah kamar Mia yang celahnya sedikit terbuka. Arata tidak menutupnya terlalu rapat. Melihat adanya kincir angin dan dua tangkai bunga terselip di depan sana, Saito kembali diam dan memutuskan untuk berpura tidak melihatnya lalu menjauh tanpa lagi berbalik.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม