Alihkan!

1106 คำ
"Ini ada dimana pak?" "Di pinggir jalan." "Ini bukan di dunia novel pak??" Langit tertawa. "Bukan." Pak Langit bilang ini bukan di dunia novel, tapi kenapa mas ganteng tujuh turunan delapan tanjakan dan sembilan belokan ini mencoba mengenal aku? Enggak enggak, tenang Senja. Pasti ada hal yang dia inginkan darimu. Mungkinkah dia menyangka kalau aku keturunan ningrat dan ingin menikahiku karena harta? Eh? Emang aku keturunan ningrat ya? Atau mungkin aja pak Langit seorang CEO psikopat yang berniat mencincang aku setelah mendekati aku. Lalu dia akan mengambil organku lalu mengoleksinya? Hwaaa Langit yang mendengar pikirannya langsung mengangkat sebelah alisnya. "Jangan memikirkan yang aneh aneh." ujar Langit langsung disenyumi oleh Senja. "Jadi apa nama judulnya?" tanya Langit langsung membuat Senja berpikir. Enggak, pak Langit enggak boleh tahu tulisanku yang hancur dan amburadul bin blangsak itu. Bisa bisa dia sesak nafas saat membacanya. Alihkan pembicaraannya Senja! Alihkan! "Pak, lihat! Ada banyak bintang!" ucap Senja mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk ke atas langit. Langit tahu sekali ini rencana Senja untuk mengalihkan pembicaraan. Langit mendongak ke atas. "Cuma beberapa bintang." "Eh? Hehe masa ya?" Mereka saling terdiam setelahnya. Canggung. Langit kembali berkata setelah sekian lama terdiam. "Nama judulnya apa?" tanya Langit kembali menagih Senja merasa gawat, ia langsung berceloteh asal. "Pak jasnya keren banget, itu pasti jas bermerk ya pak?" "Kurang tahu ya, saya jarang tahu pakaian yang saya pakai bermerk atau tidak. Saya membelinya di sebuah butik." "Berapa harganya pak?" "Apa saya harus sebutkan nominalnya?" Senja mengangguk. "Tiga puluh." "Ribu pak? Murah ya hehe." "Juta." "Hah?!" Senja melotot. Langit tertawa melihat ekspresi terkejut Senja. "Itu duit pak?" "Daun." "Hehehe hebat bener dibayar pakai daun." gumam Senja. Hidangan ayam goreng lengkap dengan nasi, sambal dan selada sudah tersaji diatas meja mereka. Senja dan Langit pun mulai memakannya setelah sebelumnya berdoa dan mencuci tangan terlebih dahulu. "Maaf ya pak, bapak jadi ikutan makan pecel ayam sama saya." ujar Senja. "Enggak apa apa, saya juga suka makanan seperti ini. Apalagi..." Langit mendadak terdiam sambil menatap gadis dihadapannya seraya tersenyum. Apalagi bersama dengan kamu... Senja menunggu kata kata yang terhenti dari mulut Langit. "Apalagi apa pak?" tanya Senja penasaran. "Apalagi outdoor seperti ini." ujar Langit sembari mengalihkan wajahnya ke arah lain. "Oh. Iya pak, saya juga suka outdoor kayak gini. Saya kira bapak sukanya yang tertutup dan lebih higienis. Ternyata saya salah." ujar Senja seraya memakan pecel ayamnya. "Kamu masih enggak mau kasih tahu judul novel kamu?" tanya Langit. "I-iya pak saya malu." ujar Senja mengekeh. "Yasudah." Pasti pak Langit enggak enak sama aku jadinya enggak nanya lebih jauh. Dia orangnya menghargai apa yang jadi privasi orang lain. Dia benar benar baik. Duh, pak Langit tahu enggak? saya udah kebelet nih. Kebelet mau nikahin bapak. Kapan pak rencananya ngelamar saya? Saat makan, Senja berkali kali melihat wajah Langit, lelaki itu yang sejak tadi senyam senyum mendengar isi pikiran Senja langsung menatapnya balik. "Kamu kenapa liatin saya?" tanya Langit. "E-enggak pak." Senja langsung menunduk. Saya terpesona sama ketamvanan mas ganteng. Kapan sih pak, gantengnya ilang? Bapak sering mandi tapi gantengnya enggak luntur saya heran. Langit menatap Senja balik. Tidak, jangan! Dia melakukan serangan balik! Senja kamu perlu helm! Radiasi ketampanannya sangat menyilaukan mata, bahkan bisa menyebabkan kebutaan! Senja tenang, tenang kamu harus berani menatap matanya. Satu, dua .. tiga Senja memberanikan diri menatap mata Langit. Lelaki itu tampak mempesona, hidung mancungnya yang tegak, alis mata yang tebal dan wajahnya yang seputih s**u beruang membuat Senja tidak kuat. Ia meleleh detik itu juga. Sorot matanya yang teduh dan sedikit senyuman yang tersungging di wajahnya membuat Senja tidak sadar dengan apa yang akan lelaki ini lakukan. Langit tiba tiba menggerakkan tangan kanannya ke depan wajah Senja. Ia ambil sisa nasi di ujung bibir Senja. Saat itu, tak ada yang Senja lihat selain wajah rupawan lelaki dihadapannya. Jantungnya berpacu kencang, bahkan ia hampir tidak sanggup untuk bernafas karena d**a yang dibuat berguncang saat itu. Namun Senja terkejut saat melihat ujung jas bagian lengan Langit terkena sambal. "Bapak, jasnya!" Senja langsung menaikkan lengan jas Langit. Jas tiga puluh jutanya kotor! "Oh ini, enggak apa apa." ujar Langit enteng. "Tapi pak, ini tiga puluh.. tiga puluh." "Iya enggak apa apa." "Coba bapak lepas jasnya pak. Biar nanti saya cuci." ujar Senja. "Eh? Enggak apa apa beneran." "Enggak pak, enggak bisa. Kalo saja bapak enggak ngambil nasi di mulut saya, jas bapak enggak bakal kena sambel. Bapak harus serahin jasnya sama saya, biar saya yang cuci. Tenang aja pak, cucian saya bersih kok pak, dijamin kinclong, wangi dan bersih persis kayak dilaundry." "Y-yaudah. Jadi ngerepotin kamu." Langit segera melepas jasnya dan memberikannya pada Senja. "Enggak pak, enggak ngerepotin kok hehe." "Makasih ya." "Sama sama pak." Mobil fortuner itu akhirnya sampai di depan rumah Senja. Gadis itu segera keluar dari dalam mobilnya dengan membawa jas Langit. "Makasih banyak ya pak. Saya enggak tahu harus membalas bapak dengan cara apa." ujar Senja merasa tidak enak. "Cara kamu membalasnya, dengan menjadi teman saya. Bisa kan?" tanya Langit Senja tersentak. "Eh? M-masa sih pak bapak mau berteman dengan saya? Saya kan OGnya bapak?" tanya Senja. "Memangnya kenapa kalau kamu OG?" Langit balik tanya. "Ya aneh aja pak." "Itu menurut kamu, tapi menurut saya enggak." Senja terdiam didepan mobil. Diam diam ia merasa amat senang. Ternyata mimpinya masih belum berakhir, atau mungkin itu sebuah kenyataan yang sangat ia tunggu tunggu? "Makasih banyak ya pak. Saya senang bisa makan sama bapak." "Begitupun saya." Senja tersenyum, sama halnya Langit. Dari kejauhan, seorang wanita berambut cepol dan gadis tinggi berambut gerai mengintip dari celah pintu. Mereka adalah Riska dan Hana, ibu dan kakak perempuan Senja. "Bu, itu enggak salah? Senja pulang sama cowok terus pakai mobil mewah? Aku enggak salah lihat kan Bu?" tanya Hana. "Enggak Han, apa jangan jangan dia pacarnya Senja? Kok bisa sih ya, office girl ngegaet orang kaya?" tanya Riska tidak yakin. Mobil perlahan mundur dan pergi menjauh dari rumah Senja hingga akhirnya mobil itu menghilang. Senja pun segera masuk ke dalam rumahnya namun saat membuka pintu, didepan sudah ada Hana dan Riska. "Ibu? Kak Hana?" "Pasti orang yang nganterin kamu barusan bukan pacar kamu kan?" tanya Hana meremehkan. Senja yang merasa diremehkan pun langsung menjawab. "Pacar aku! Kenapa? Kakak iri?" Senja balik tanya. "Enggak, siapa yang iri. Palingan jabatannya kalo enggak karyawan biasa ya HRD, ya kan?" cetus Hana. "Kakak bakal jantungan kalau tahu siapa dia sebenarnya. Tapi untuk menghindari itu baiknya aku enggak ceritain. Karena nanti jatuhnya RIA!" ketus Senja langsung masuk ke dalam kamar. Hana merasa sebal. "Tsk, ngeselin banget sih lo. Pacar punya mobil bagus aja udah belagu." Riska menegurnya. "Heh, Hana kamu apa apaan sih. Teriak teriak, udah malem begini juga." tegur ibunya. Hana langsung menyangkal. "Senja duluan Bu."
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม