Curhat

1084 คำ
Beberapa saat kemudian Senja berada di kamarnya. Tiduran membekap bantal, sambil menulis diarynya. Ia cemberut. Aku tahu, kak Hana lebih punya segala galanya dibanding aku. Dia cantik, tinggi, pintar dan beruntung. Dia gadis yang sempurna, berbeda jauh denganku. Saat ibu lebih banyak membelanya karena dia yang lebih banyak menghasilkan uang pun aku merasa dianak tirikan. Rasanya benar benar tidak adil. Aku terbiasa dengan kegagalan, tidak lulus PTN, interview kerja hingga pelatihan kerja. Selalu merasa iri dengan keberhasilan orang lain. Sangat merasa diri ini tidak layak untuk dibanggakan. Ketika kupikir pekerjaan yang kudapat ini bagus dan menyenangkan, ternyata ada saja orang yang memandang rendah apa yang kubanggakan itu. Senja berhenti mengetik. Ia mengusap pelupuk matanya yang berair dan ia alihkan aplikasi diary ke aplikasi f*******:. Ia menulis status. "Saya hanya ingin menjadi batu, yang tidak memiliki perasaan dan tak pernah tersakiti ?" Ia mengunci ponselnya, mendiamkan hapenya sebentar. Ia usap dua ujung matanya. Ia merasa sangat sebal. Tiba tiba terdengar suara notifikasi diponselnya. Senja tersentak saat melihat notifikasi itu, ternyata dari William! Beberapa jam sebelumnya Langit selesai memarkirkan mobilnya di garasi, ia berjalan menuju rumahnya yang besar bak istana. Dibukanya pintu menjulang itu hingga muncul seorang pria beruban lebat yang bersih wajahnya, wajar ternyata kakek bule ini lahir di Amerika serikat. Langit terkejut, ia hampir lupa. "Opa." ucap Langit, ketika disambut oleh kakeknya dengan senyuman. Opa Hassel memeluknya. "Gimana kabarnya William?" tanya opa Hassel. "Baik opa. Opa sendiri gimana?" tanya William. "Tidak terlalu baik, biasalah penyakit tua. Sakit pinggang, lutut, sendi macam macam." ujar opa Hassel. "Kalo sakit tidak perlu kesini opa, opa tenang aja. Urusan perusahaan sudah Langit handle dengan baik." ujar Langit yakin. "Iya, sebenarnya opa kesini bukan untuk melihat perusahaan yang opa wariskan padamu. Tapi..." "Tapi apa?" "Kamu tidak berniat berkunjung ke rumah ayahmu?" tanya opa Hassel mengalihkan. Langit kesal. "Dia bukan lagi ayahku." ucap Langit "Sebenarnya tujuan opa kesini, ingin melihat kamu berbaikan dengan Richard." ujar opa Hassel langsung dilengosi oleh Langit. Seperti ada rasa benci yang teramat sangat dengan nama yang disebut itu. "Tidak mungkin aku berbaikan dengannya, setelah apa yang dia lakukan sebelumnya. Dia telah menorehkan luka pada hati kami. Permusuhan diantara kita tidak akan pernah selesai!" ujar Langit kesal. "Richard, sebulan yang lalu mampir ke Surabaya. Dia meminta maaf sambil menangis, dia terlihat menyesal." "Telah sejak lama dia menganggapku anak yang aneh, membuatku merasa terasingkan dan kemudian berselingkuh dengan enaknya hingga membuat ibu menderita sakit mental! Biarkan dia tenggelam dalam lumuran dosa yang tak pernah termaafkan!" kesal Langit langsung berlalu pergi menuju kamarnya. Langit menutup pintu kamarnya, ia rebahan diatas kasur dan melepas dasinya. Ia terdiam beberapa saat, menatap atap kamar dan memikirkan banyak perlakuan buruk ayahnya semasa kecil. Menguncinya di kamar seharian, membuatnya menangis karena pukulan dan perlakuan kasar tangannya serta rasa pilu yang tertanam ketika tahu ibunya menderita sakit mental. Ia benci dengan orang itu, dialah penyebab ibunya sakit seperti itu. Dialah penyebab rusaknya keluarga yang telah dibinanya! Benar benar menjengkelkan. Mengingat hal itu benar benar membuatnya semakin muak. Ia inisiatif mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Mudah mudahan saja kejengkelan ini bisa luruh disiram air. Ia menghabiskan beberapa menit didalam sana, mandi. Setelah selesai mandi dan memakai baju. Ia pun rebahan diatas kasur maxinya. Ia membuka kunci ponselnya dan lihat ada chat w******p dari ayahnya, Richard. Isi cuplikan chatnya adalah "Langit papah sudah pulang, bagaimana kabarmu?" Langit tidak membuka chatnya, hanya melihat isi cuplikannya saja. Langit mendiamkan chat itu dan tidak membalasnya. Ia tidak perduli. Dilihatnya aplikasi f*******:, ia melihat Senja membuat status yang tulisannya. "Saya hanya ingin menjadi batu, yang tidak memiliki perasaan dan tak pernah tersakiti ?" Langit merasa gadis itu sedang sedih sekarang, apa gerangan penyebabnya? Ia yang penasaran pun lantas mengomentari statusnya. "Kenapa?" komentar Langit di postingannya. Langit menunggu komentar balasan dari Senja. Ia meninggalkan hapenya sejenak, berpikir. Senja terlihat baik baik saja tadi, tapi kenapa saat ini ia merasa sedih? Mungkinkah dia bertengkar dengan kakak atau ibunya? Tiba tiba bunyi notifikasi di ponselnya. Ternyata ada messenger dari Senja di langit biru. "Enggak kenapa napa." chatnya di messenger. Langit merasa gadis itu menyembunyikan sesuatu. Ia pun mengetik balasan di ruang chatnya. "Cerita aja. Saya siap mendengar curhatan kamu." chat Langit lalu tak lama Senja mengetik dan mengechat dengan emoticon menangis. Senja kembali mengetik. Langit menunggu chatnya muncul. "Sudah lama aku merasa di anak tirikan oleh ibuku. Hanya karena kak Hana lebih hebat dan lebih bisa menghasilkan uang untuk mereka, aku selalu diremehkan. Kak Hana adalah kakak tertuaku, dia bekerja di perusahaan lion group sebagai manajer. Kamu pasti tahu kan lion group apa? Itu adalah perusahaan besar yang sering muncul di televisi. Bahkan ayam baru netes aja tahu nama perusahaan itu." Langit terdiam menyimak, kemudian ia mulai menggerakkan jarinya mengetik. "Oh gitu." ujar Langit. "Aku sebal sama dia. Rasanya sangat ingin melampaui dia, tapi enggak bisa." "Kamu pasti bisa melampaui dia. Percaya, kamu pasti bisa." "Dia terlalu tinggi untuk aku gapai, dia selalu bisa menunjukkan kehebatannya didepan aku, sedangkan aku tidak bisa, dia seperti ditakdirkan untuk menjadi seperti itu." "Kamu belum mencobanya aja." "Aku sudah mencoba, berkali kali malah. Tapi hasilnya selalu gagal. Aku emang ditakdirkan enggak bisa." "Kamu tahu Albert Einstein?" tanya Langit "Tahu, yang kepalanya botak separo itu kan? Yang jidat sama kepalanya nyatu." "Beliau pernah mengalami masa yang tidak mudah, saat kecil ia telat bicara, ia baru bisa bicara di usia 4 tahun dan baru bisa membaca saat usianya menginjak 7 tahun. Di masa itu ia diremehkan oleh orang sekitarnya tapi dia orang yang tidak mudah menyerah, lihat sekarang, bahkan ia menjadi orang paling pintar didunia." "Iya sih." "Kamu bisa kok melampaui kakakmu, banyak orang yang awalnya mengalami banyak kegagalan, diremehkan dan akhirnya sukses. Contoh saja Chris Gardner, Pengusaha sukses ini punya kesusahan tersendiri selama perjalanan hidupnya namun dirinya mampu untuk bangkit dan menjadi pimpinan perusahaan pialang besar." "Hmm iya. Tapi mungkin mereka lebih beruntung dibanding aku." "Semua orang sama. Tinggal bagaimana kita berusaha untuk menjemput kesuksesan itu." "Iya ya." "Kamu masih suka menulis kan?" tanya Langit "Masih." "Tetap tekuni hobi kamu itu, barangkali dari jalan itu kamu bisa mencapai kesuksesan." "Iya aku akan terus menulis! Hehe." "Semangat ya, jangan bersedih lagi dan merasa rendah diri. Kamu pasti bisa." "Makasih ya Will, aku benar benar jadi lebih lega curhat sama kamu. Coba kalo enggak ada kamu, pasti aku udah makanin beling sekarang." "Sama sama. Lain kali kalau kamu merasa sedih lagi jangan sungkan curhat ke saya." "William kamu baik banget sih, bicara sama kamu bikin lega, ibaratnya kayak lagi sakit perut terus kentut. Lega banget." Langit tertawa "Iya."
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม