Penyesalan

1231 คำ
"Kamu biasa tidur jam berapa Will?" tanya Senja "Jam 22.00" "Masih ada satu jam lagi." Senja "Iya, masih ada waktu untuk mengobrol dengan kamu." "Oh iya Will, kamu tinggal dimana? Bukan di kandang kan?" tanya Senja. "Bukan. Saya di Bekasi." "Bekasi Utara, Barat atau Timur?" "Barat." "Kalau dari MM jauh gak?" "Dekat dari sana." "Oh hehe." "Kamu sendiri dimana tinggalnya?" tanya Langit. "Aku di Bekasi Utara." "Oh gitu. Bukan daerah banjir kan?" "Bukan, disini agak tinggi wilayahnya. Beruntung sih orang tuaku milih wilayah yang enggak kena banjir." "Oh syukur deh." "Kamu kerja Will?" "Saya kerja." "Dimana kerjanya?" "Di salah satu pabrik Jakarta." "Oh hehe. Jadi apa?" Langit terdiam sebentar, ia berpikir sesuatu. Ia beralih mengetik. "Office boy." "Serius? Aku juga OG loh. Wah kok bisa kebetulan gini sih." "Beneran? Wah bisa sama begini ya. Kamu kerja di perusahaan apa?" "Perusahaan Langit corporation." "Oh gitu, saya boleh memanggil kamu apa nih? Senja, di, langit atau biru? " tanya Langit sambil tersenyum. "Haha terserah kamu. Asal jangan panggil aku ayam atau kambing?" Langit tersenyum, ia kembali mengetik balasan. "Kalo angsa gimana?" tanyanya "Haha emang ketahuan ya kalo aku suka nyosor?" tanya Senja "Ketahuan." jawab Langit mengikik "Nama asli kamu apa?" tanya Langit "Senja Maharani." "Saya panggil Senja ya?" "Iya enggak apa apa, asal jangan mahar aja. Nanti disangka mau ngajakin kawin lagi." "Senja nama yang bagus. " "Nama asli kamu tetap William?" tanya Senja "Iya, panggil saya William." "Oh hehe okeh." "Will, hobi kamu apa?" tanya Senja. "Hobi saya berenang." "Aku rasa kamu pasti tinggi dan memiliki bahu yang lebar." Senja "Hehe iya sih. Tebakanmu tepat." Langit. "Kamu sendiri bisa berenang?" tanya Langit "Enggak bisa. Aku pernah belajar berenang dan itu hampir tenggelam. Orang yang melatihnya aja sampai bingung pas ngajarin aku. Soalnya enggak ngerti ngerti. Tapi aku belajarnya cuma beberapa hari sih, sesudahnya langsung berhenti." "Kok berhenti?" "Susah belajarnya." "Kalo rumah kita dekat aku mau ngajarin kamu ? " Langit. "Wah aku malu deh kalo diajarin kamu." "Kenapa malu? Memangnya kamu tidak punya hidung?" "Haha kayak voldemort dong." "Persis." "Siapa lagi yang enggak punya hidung?" tanya Senja "Patrick star. Temannya Spongebob." "Haha aku ketawa ngakak loh sekarang, kamu pasti suka nonton Spongebob ya hayo ngaku." "Iya tapi hanya sebentar aja nontonnya. Dan kamu sendiri suka nonton apa?" balas Langit. "Kebakaran." Langit tertawa. "Nonton banjir sama nonton topeng monyet juga ya?" tanyanya sembari mengikik saat menulisnya "Haha kamu bisa aja Will, aku chat sama kamu ketawa terus, gigiku kering, masih mending kalo giginya enggak ada cabe nyelip. Langit tertawa terpingkal saat itu. Ia langsung mengetik balasan lagi "Nah gitu dong, lebih baik tertawa dibanding sedih, kamu cantik kalau tertawa." "Tahu dari mana kamu aku cantik? Ngelihat aja belum pernah. Aku jelek tahu." "Kamu cantik, apalagi dilihat dari sedotan." "Hahaha ngakak lagi aku. Gombalanmu receh banget sumpah. " Langit senyam senyum sendiri saat membalas chat dari Senja. Namun tak terasa waktu sudah pukul 22.00 "Will, sudah jam sepuluh nih?" ujar Senja "Saya duluan tidur ya Senja. Terima kasih banyak sudah menemani chat." "Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu. Makasih banyak ya, chat dengan kamu benar benar membuat moodku membaik." "Selamat malam Senja, mimpi indah." "Kamu juga, mimpi indah ya." Langit mengunci ponselnya dan langsung meletakkan ponselnya diatas tempat tidur. Ia lupa barusan, semestinya ia mengatakan pada Senja kalau moodnya yang semula buruk, juga berhasil membaik karena berbicara dengannya. Ini semua berkat dirinya. Senja... entah sejak kapan gadis itu mulai menyedot perhatiannya dan menjadi satu satunya sosok yang ia incar isi pikirannya. Dua hari kemudian. Setelah ditunda dua hari karena festival olahraga. Meeting kembali dilaksanakan. Seorang karyawan pria menjelaskan sesuatu melalui layar yang dihasilkan oleh proyektor. Seorang pria tampan yang tak lain adalah Langit, duduk di kursi paling depan bersama Richard dari jejeran para karyawan yang duduk melingkar disebelahnya. Langit sesekali bertanya pada pria yang sedang menjelaskan itu banyak hal, ia berakhir dibeberkan penjelasan oleh pria itu. Selesai meeting, semua bergegas keluar dari ruang pertemuan. Tersisa Langit dan Richard saja disana. "Kamu sehat Langit?" tanya Richard. Langit mencoba tidak perduli namun rasanya tidak enak juga tidak menjawabnya. Ia pun mengangguk dengan menyunggingkan sedikit senyum meski sekilas. "Papah percaya kamu pasti bisa mengurus perusahaan ini, papa percaya sama kamu." ujar Richard sambil menepuk nepuk punggung Langit, namun hanya sebentar Langit keburu menghindar. Langit tidak suka dengan sikapnya yang mencoba bersikap dekat dengannya. "Gimana, kamu sudah punya pacar belum?" tanya Richard mencoba bercanda. Langit terdiam dan sibuk merapikan kabel laptopnya, memasukkannya ke dalam tas laptop "Hey, papa nanya. Kamu sudah punya pacar belum?" tegas Richard. "Belum pah." jawab Langit terpaksa. "Cari lah. Kamu sudah mau umur 26 kan? Masa masih belum kepikiran mau menikah sih?" tanya Richard sembari tertawa. Langit merasa malas berlama lama, ia berniat pergi namun Richard mencegahnya. "Hey. Papa serius membicarakan hal ini sama kamu. Apa papa perlu mencarikan kamu calon istri?" tanya Richard langsung ditatap oleh Langit kesal. "Sejak kapan anda mulai perduli dengan hidup saya? Puluhan tahun anda mengabaikan saya dan menganggap saya anak yang menyeramkan. Disaat saya tahu anda berselingkuh melalui kemampuan saya dalam membaca pikiran, anda menganggap saya orang mengerikan! Dan sekarang anda berniat untuk bertingkah menjadi ayah yang baik? Apakah anda bisa saya percaya?" tanya Langit kesal "Langit, kurang ajar kamu!" Richard mulai kesal, ia memegang dadanya yang terasa sakit. "Apa saya salah? Coba jelaskan dengan rinci dimana letak kesalahan ucapan saya?" Richard merasa amat kesal namun ia mencoba menahannya. "Saya ini ayah kamu! Tolong jaga bicara kamu Langit!" "Telah sejak lama saya menganggap anda tidak ada. Jadi jangan pernah ungkit lagi hubungan diantara kita yang sudah hancur!" Langit meninggalkan Richard yang terlihat sedih dan mulai berkaca kaca. Ia telah menjadi ayah yang buruk, ia bahkan sudah tak dianggap lagi sebagai sosok ayah oleh anaknya. Richard terlihat menyesal. Langit adalah anak dari mantan istrinya Kirana. Richard masih ingat, saat Langit masih berusia lima tahun. Dia telah menjadi anak yang pintar semasa sekolahnya, bahkan rangking 1 selalu diraihnya. Namun suatu ketika Langit pulang dalam keadaan kotor seluruh bajunya, ternyata ia dibully. Penyebabnya adalah karena hal tidak masuk di akal. Dia membaca pikiran teman sekelasnya. Langit membeberkan ucapan hati banyak orang dan resmi dicap sebagai anak yang aneh. Itulah hal yang membuatnya dimusuhi satu kelas. Richard yang mendengar cerita ini dari Kirana awalnya tidak percaya, namun akhirnya jadi percaya saat ia sedang memikirkan perempuan itu. Elena. Sekretarisnya yang manis, seksi dan menggoda, yang setiap hari selalu terngiang wajahnya di kepala. Diam diam ia berselingkuh dibelakang Kirana, dengan Elena. Langit kecil bertanya pada Richard siapa Elena. Sontak Richard yang kaget dengan kemampuan ajaib anaknya itu lantas marah dan kesal. Semenjak saat itu Richard sering ketahuan memikirkan Elena, bahkan sampai saat Langit membeberkan isi pikiran itu pada Kirana, Richard marah besar. Ia langsung memukul, mengurung Langit di kamar dan tidak memberinya makan. Kirana terus kepikiran dengan anak satu satunya itu, tidak tega karena Langit terus disiksa dan dimusuhi oleh suaminya. Ditambah lagi ketika Richard benar benar ketahuan berselingkuh saat Kirana memergoki chat mesranya. Kirana menangis semalaman, ia tidak mau makan dan minum. Ia telah kehilangan semangat hidup. Richard yang melihat Kirana sering tertawa sendiri dan kosong pikirannya langsung disadarkan, bahwa istrinya itu menderita sakit mental. Setelahnya Langit tinggal bersama kakeknya sedangkan Richard menikah lagi dengan sekretarisnya Elena. Kini Richard benar benar menyesali sikapnya yang dulu, apalagi saat ia menyadari waktunya sudah tidak lama lagi, ia menderita penyakit jantung kronis. Tapi sayangnya penyesalannya itu tidak berguna di mata Langit. Ia merasa amat menyesal.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม