Beberapa menit kemudian Senja dipanggil oleh seorang staff divisi marketing. "Mbak sini deh." ujar Reni. Senja mendekati wanita berpostur gemuk itu.
"Saya nitip beliin mie ayam lima bungkus pakai saus dan sambal ya." ujar Reni, Senja mengangguk. Ia langsung menerima uang lima puluhan ribu yang diberikan Reni.
Senja pun meninggalkan Reni dan langsung keluar menuju tukang mie ayam yang mangkal di depan gerbang kantor.
Saat sedang menunggu mie ayam sembari duduk. Bapak tukang mie ayam yang sedang menyediakan mienya itu bertanya pada Senja. "Kerja di LC neng?" tanya Mang Karna.
"Iya pak." jawab Senja.
"Sebagai apa neng?" tanya mang Karna.
"Office girl pak." jawab Senja
"Oh, enak ya neng kerja disini?"
"Enak pak."
"Dengar dengar direktur disini pengertian banget ya sama karyawannya?"
"Iya saya juga ngedengernya begitu."
"Jarang ada direktur kayak gitu neng jaman sekarang."
"Iya ya pak. Bapak udah lama mangkal disini?"
"Udah tiga tahun neng."
"Oh gitu."
"Bapak sering mendengar curhatan banyak karyawan LC. Rata rata banyak yang memuji direktur Langit. Malah kebanyakan orang yang curhat itu perempuan, kayaknya mereka diem diem suka sama pak Langit."
"Oh hehe. Orangnya ganteng sih pak dan murah senyum." ujar Senja sambil membayangkan.
"Pantesan aja neng, pasti banyak yang ngantri buat jadi pacarnya. Katanya juga dia usianya masih muda ya?
"Iya pak usianya 25 tahun. Sama kayak saya."
"Di usia segitu sudah bisa menjadi direktur, hebat ya neng."
"Iya pak. Mungkin waktu kecilnya dia sudah diajari banyak hal sama orang tuanya."
"Bener neng. Orang mah masih pada meluk bantal, dia belajar."
"Hehe iya. Saya masih ileran dia udah bisa keluar negeri."
"Iya neng, ini dibungkus atau pakai mangkok sini?" tanya mang Karna.
"Pakai mangkok sini pak." jawab Senja.
Setelah mereka saling mengobrol lama, pangsit pun sudah selesai disediakan di lima mangkuk. Senja pun segera memberikan uang lima puluh ribu pada mang Karna dengan ditukar mie ayam itu.
"Satu sepuluh ribu ya pak? Ibu tadi ngasihnya lima puluh ribu pas." tanya Senja. "Iya neng harganya sepuluh ribu satu. Makasih ya neng. Ini mau saya bantu bawakan ke dalam?" tanya mang Karna.
"Iya pak. Tolong bantu bawain ya pak."
"Oke neng."
Senja dan mang Karna pun memasuki kantor, berjalan menuju ruangan divisi marketing lantai 1. Setelah memberikan mie ayam itu pada Reni, mang Karna pun kembali. Senja masih berada di dalam ruangan divisi marketing menaruh mangkuk mie ayam terakhir ke atas meja salah satu karyawan.
Manajer Heri yang beberapa jam lalu keluar kantor kini masuk kembali ke ruangan marketing. Heri melihat ada lima buah mangkuk di masing masing meja kerja karyawan. Ia langsung komentar.
"Loh kok cuma ada lima? Punya saya mana? Kalian makan enak enggak ngajakin saya ya." ucap Heri kesal. Semua karyawan terdiam, Reni langsung melotot pada Senja dan mendorongnya hingga terjatuh. "Kamu ini gimana sih! Saya bilang kan ada enam! Kenapa lima?"
Loh?
"Tapi Bu tadi, ibu bilang cuma lim--" belum selesai bicara, Reni sudah memotong.
"KAMU INI BISA KERJA ENGGAK SIH?!" potong Reni langsung mengejutkan semua orang disekitar termasuk Langit yang sedang berjalan melewati ruangan marketing. Ia terkejut saat melihat Senja dibuat terduduk di lantai.
"Tapi tadi. Tadi ibu--" Senja gelagapan saat ditatap tajam oleh banyak karyawan. Ia semakin menciut.
"Kenapa Senja, kenapa sangat sulit kamu mengungkapkan kejadian sebenarnya? Kenapa rasanya sulit untuk menghadapi orang berpangkat tinggi didepanmu?" ucap Senja dalam hati. Langit mendengarnya, ia langsung respek terhadap perasaannya.
Di satu sisi Langit mendengar suara pikiran Reni.
"Bodo amat gue jadi nyalahin dia, ogah banget gue traktir manajer sendiri. Ada juga manajer yang traktir karyawan." ucap Reni dalam hati. Langit berjalan mendekati mereka.
"Tadi- tadi kan ibu bilang sendiri pesan lima, saya jadinya pesan lima. " jelas Senja mencoba bangun dari duduknya.
"Halah kamu OG aja disini pinter ngeles. Asal kamu tahu, saya jabatannya lebih tinggi dibanding kamu. Jadi pembelaan kamu tidak akan mempan!" ujar Reni marah.
Senja ikutan kesal. "Saya tahu saya OG disini. Tapi enggak seharusnya ibu berlaku semena mena dengan menuduh tanpa alasan berdasar." bela Senja dengan mata berkaca kaca.
"Kurang ajar ya kamu, ngebantah lagi! Berani sama saya hah?!" Reni berniat menampar Senja. Namun Langit sudah menahan tangannya. Reni terkejut, begitupun Senja maupun para karyawan termasuk manajer Heri.
"Saya paling tidak suka dengan orang yang suka menuduh padahal yang menuduh itu adalah pelakunya." ujar Langit, ia membuang tangan Reni.
"Kamu." Langit menunjuk Heri. "Tolong edukasi karyawan kamu ini agar lebih terdidik dalam menghadapi karyawan dibawahnya. Kejadian seperti ini adalah hal paling memalukan yang pernah saya lihat." ujar Langit tegas. Heri menunduk. "B-baik pak."
Reni diam diam mencubit pinggang Senja kencang. Ia berbisik. "Cepat katakan ini semua salahmu. Cepat." bisiknya. Senja terkejut, cubitannya semakin kencang. Senja merasa sangat kesakitan, ia pun langsung angkat suara.
"S-saya baru ingat ini bukan salah dia pak, tapi salah saya. Ibu ini benar, tadi dia memesan enam mie ayam dan saya lupa. Ma-maafkan saya pak, tolong bapak jangan memarahi ibu ini, ini murni kesalahan saya." ujar Senja terbata. Langit mendengar suara pikiran Senja.
"Mas ganteng, makasih sudah membela saya. Tapi sepertinya setelah mendengar pernyataan saya ini, mas pasti akan menganggap saya teledor."
Langit melihat tangan Reni di belakang pinggang Senja. Ia coba mengaitkannya dengan suara pikiran Senja. Ia pun langsung membaca semua kehadian ini dengan cermat. Wanita bernama Reni ini benar benar membuatnya muak.
"Saya akan memesan kembali mie ayamnya. Maaf atas keteledoran saya." ujar Senja langsung pamit pergi keluar kantor.
Beberapa menit setelah Senja memesan kembali mie ayam dan memberikannya pada Heri. Senja dipanggil oleh Langit dan disuruh menghadap ke ruangannya.
"Ada apa pak?" tanya Senja pada Langit yang duduk didepannya.
"Kenapa tadi kamu berbohong?" tanya Langit.
"Eh? Berbohong soal apa ya pak?" tanya Senja.
"Saya bukan tipe orang yang suka membedakan profesi orang. Semua profesi menurut saya sama. Tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah, tidak ada perbedaan. Saya akan membela kamu jika apa yang kamu lakukan adalah benar, begitupun sebaliknya. Saya akan menyalahkan kamu jika apa yang kamu lakukan salah." ujar Langit.
"I-iya pak." Senja gugup
"Saya tahu kamu tadi berbohong. Perihal masalah makanan tadi." ujar Langit.
Senja terdiam. Ia tidak berniat menjawab pernyataannya selain menunduk.
"Kenapa tadi kamu berbohong? Tenang saja, saya tidak akan menyalahkan wanita tadi." ujar Langit.
"S-saya.. saya hanya tidak ingin masalah ini semakin rumit. Tapi saya sudah mengikhlaskan masalah ini kok pak."
"Kamu orang yang baik Senja." ujar Langit tersenyum.
Senja terkejut. Apakah ia bermimpi? Seorang direktur baru saja tersenyum dan mengatakan ia adalah orang yang baik? Bahkan ibunya yang melahirkannya saja tidak pernah mengatakan hal sebaik ini.
"Mas ganteng, kamu baik banget sih. Kawin yuk mas. Aku udah kebelet mau dinikahin kamu. Enggak perlu malu malu kambing mas." ujar Senja dalam hati. Langit mendengarnya dan tersenyum.
"Oh iya, saya ingin mengembalikan ini." ujar Langit seraya menyodorkan ponsel Xiaomi redmi 4A pada Senja.
"Hapeku! Kok- kok bisa sama bapak?" tanya Senja.
"Iya tadi saya menemukannya di atas bak mandi. Saya rasa kamu kelupaan saat sedang membersihkan kamar mandi." ujar Langit.
"Duh, maaf ya pak. Saya kelupaan tadi. Untung ditemuin sama bapak."
"Iya. Jangan sampai lupa lagi, nanti saya panggil nenek nenek kamu." ejek Langit tertawa.
"Hehehe bapak bisa aja. Makasih banyak ya pak."
"Iya sama sama."
Mereka saling melempar senyum setelahnya. "Kalau begitu saya pamit keluar ya pak." ujar Senja, Langit mengiyakannya.
Senja terus melihat ke arah Langit sembari tersenyum saat berjalan menuju pintu, hingga tak sadar tembok sudah ada didepannya dan wajahnya langsung mencium tembok itu, Langit tertawa. "Hati hati." ujar Langit cemas
"Temboknya pindah apa ya hehe perasaan masih jauh." gumam Senja heran. Langit terus tersenyum melihatnya, hingga gadis itu keluar dari ruangannya.