Aidan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja kamar resort nya, dari posisi duduknya yang de sebelah jendela, membuat dirinya bisa melihat ke arah pantai yang membentang luas. Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, pikirannya masih berpusat pada pertemuannya dengan Liana beberapa jam yang lalu.
Entah kenapa mengetahui Liana benar-benar sudah menikah membuatnya kesal. Wanita itu tidak boleh bahagia karena telah membuatnya menderita beberapa tahun belakangan ini. Tidak boleh.
Terlebih mengetahui siapa suami baru Liana, semakin membuat Aidan kesal. Kalau ia tidak profesional, mungkin ia telah mengeluarkan Darian dan membuat pria itu berhenti dari pekerjaannya sekarang. Akibat telah berhubungan dengan Liana.
Ck!
Aidan berdecak pelan, ia bangkit dan merebahkan diri ke ranjang. Tiba-tiba wajah anak kecil di gendongan Darian muncul ke dalam benak Aidan.
Entah kenapa, Aidan merasa mengenal bocah itu. Seperti pernah melihat anak itu, tapi ia lupa dan tidak tahu kapan.
Aidan memukul kepalanya pelan.
"Enyahlah kalian dari kepalaku!" rutuk Aidan dengan emosi. Lalu mulutnya misuh-misuh tidak jelas dan mengeluarkan beberapa kata-kata mutiara untuk kejadian sore tadi yang sangat membekas di ingatannya.
Aidan memejamkan matanya sejenak. Mendengkus kasar lalu ia bangkit. Aidan meraih ponselnya dan mendial nomor Simon.
"Ke kamarku, sekarang!"
Bip! Aidan mematikan sambungan begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Simon.
Lima menit berlalu, Simon tak kunjung datang. Membuatnya geregetan, Simon sangat lama. Aidan sudah tidak bisa menahan pertanyaannya yang sudah diujung tenggorokan. Aidan mondar-mandir tidak jelas di depan pintu kamar sambil menggigiti jari jempolnya.
Tok... Tok... Tok...
Mendengar itu, Aidan dengan cepat berjalan ke pintu dan membuka pintu.
"Masuk!" titahnya. Simon melangkahkan kakinya memasuki kamar Aidan.
Mereka duduk di sofa yang ada di sudut kamar itu.
"Ada apa, Tuan?"
"Apa kau pernah bertemu Liana? Ah, maksudku apa kau pernah melihat Liana di sekitar wilayah ini?" tanya Aidan to the point.
Simon membeliakkan matanya lebar, namun buru-buru ia menguasai ekspresinya.
"Tidak pernah, Tuan. Kenapa?" Simon menatap Aidan ingin tahu. Simon sedikit khawatir sebenarnya apa Tuannya ini sudah bertemu dengan Liana?
"Aku melihatnya hari ini. Di pantai," ucap Aidan. Mengingat pertemuannya tadi sore dengan Liana kembali membuat Aidan keki sendiri. Terlebih dengan sosok Darian manager sialan!
Simon tak bisa menghilangkan raut wajah kaget bercampur paniknya. "Apa saja yang Tuan lihat?" tanyanya.
"Aku melihatnya bersama seorang anak kecil." Sontak ucapan Aidan tersebut mengundang tatapan ngeri dari Simon.
Apa Tuan-nya tahu?
"Namun ada Darian juga. Kau tahu? Ternyata Liana telah menikah dengan manager itu," ujar Aidan. Di akhir kalimat, Simon mendengar nada tidak suka dalam suara Aidan.
"Tapi bukankah Darian belum menikah?" ceplos Simon. Sekarang Simon benar-benar ingin mengubur dirinya. Mulutnya benar-benar ember bocor!
Alis Aidan tertaut. Ia terperangah sejenak, perasaan curiga tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ada yang anehㅡbatin Aidan.
"Bawakan profil Darian padaku. Aku tunggu dua puluh menit."
Mendengar perintah itu, Simon mengumpat dalam hati. Tidak ada yang bisa Simon lakukan lagi selain menuruti perintah Aidan.
"Baik, Tuan." Simon pamit undur diri.
Setelah kepergian Simon, Aidan kembali tepekur dalam diam. Ucapan Simon tentang Darian belum menikah benar-benar mengganggunya. Kalau benar belum menikah, kenapa ngaku-ngaku menjadi suami Liana?
Cih! Aidan berdecih pelan.
Kalau pun mereka tadi sore hanya berakting telah menikah. Harus Aidan akui, akting mereka sangat buruk. Terlebih Liana hanya diam dan menerima saja apa perkataan Darian.
***
Setelah pertemuannya dengan Aidan sore tadi, Liana langsung meminta pulang pada Darian. Lelaki itu tidak menolak dan langsung mengantarkan Liana dan Noah pulang.
Noah melihat raut wajah sedih dari Liana pun bungkam dan memilih mengiyakan untuk pulang lebih cepat walau hatinya masih ingin bermain dengan pasir-pasir yang belum sempurna membentuk sebuah istana.
Kini hanya tersisa Noah dan Liana, sebab Darian telah Liana usir pulang tanpa membiarkan lelaki itu masuk. Ia perlu sendiri.
"Ma, tadi itu siapa?" Noah berangsur mendekati Liana dan duduk di hadapan Mamanya yang tengah melamun.
Noah mengerucutkan bibirnya kesal karena diabaikan.
"Ma..." rengek Noah. Anak itu menggoyang-goyangkan tangan Liana, ingin menarik perhatian Liana.
"Eh iya? Kenapa sayang?" Liana tersentak dan langsung memusatkan perhatiannya pada Noah.
"Mama kenapa?" tanya Noah, mengubah pertanyaannya tadi.
"Gak kenapa-kenapa kok. Tidur yuk, kamu pasti lelah. Udah mau jam sembilan tuh." Liana mengabaikan pertanyaan Noah dan memilih membaringkan tubuhnya.
Noah menurut, ia berbaring di sebelah Liana. Namun mata anak itu tidak lepas dari wajah Mamanya yang menatap ke langit-langit kamar.
"Om tadi jahatin Mama, ya? Kata Om Darian dia orang jahat," ujar Noah polos. Noah beringsut mendekati Liana dan memeluk sang Ibu.
Liana terhenyak. Tidak, dia bukan orang jahat. Dia Papamu, Nak.ㅡbatin Liana dalam hati. Tidak mungkin Liana mengatakan hal itu pada Noah, ia tidak akan bisa. Sebab, yang Noah tahu Aidan telah tiada.
Tanpa Liana sadari, ia kembali melamun, mengabaikan Noah yang cemberut di sebelahnya.
"Ish Mama, jawab dong." Noah memberenggut sebal karena kembali diacuhkan Liana.
"Nggak, sayang. Om tadi nggak jahat," ucap Liana seraya mengelus puncak kepala Noah.
Dahi Noah mengernyit dalam, Darian bilang orang tadi adalah orang jahat, tapi Liana mengatakan hal yang sebaliknya. "Tapi kata Om Darian jahat. Om Darian bohong?"
Kini Liana tidak tahu harus menjawab apa. Salah jawab sedikit bisa bahaya. Liana menghela napas.
"Om Darian salah kira mungkin, buktinya aja tadi dia bilang bos om Darian kan?"
Noah mengangguk kecil dan percaya saja.
"Mama..."
"Hm?"
Anak itu memandang Liana ragu-ragu, takut akan salah topik nantinya. Liana yang menangkap gelagat aneh pun memusatkan perhatiannya pada putranya. "Kenapa, hm?"
"Noah pengin punya Papa, pas Om Darian bilang dia bakal jadi Papa Noah. Noah senang," ucapnya.
Liana bungkam. Jemarinya memainkan rambut kecokelatan milik Noah dengan lembut.
"Mama marah gak? Kalau Noah manggil Om Darian Papa?" tanya anak itu. Wajahnya benar-benar memelas menatap Liana.
"Nggak marah. Terserah kamu." Setidaknya hanya itu yang bisa Liana katakan pada Noah saat ini.
Bibir Noah tertarik membentuk senyuman lebar dan manis. Ia memeluk Liana dan menyembunyikan wajahnya di celuk leher sang ibu.
"Tidur, ya?"
Noah mengangguk dan memejamkan matanya. Tak lama dengkuran halus terdengar, menandakan Noah telah tidur. Liana merubah posisi tidur Noah agar anak itu merasa lebih nyaman.
***
Satu jam kemudian Simon baru kembali. Keterlambatan itu cukup membuat Aidan emosi. Ia memberi waktu dua puluh menit, namun sekretarisnya itu datang satu jam kemudian.
"Sekarang kau boleh pergi," ucap Aidan ketus. Tanpa diinterupsi dua kali, Simon beranjak meninggalkan kamar Tuannya dan kembali ke kamarnya.
Aidan menatap berkas di tangannya. Satu persatu lembar penuh dengan tulisan ia baca dengan seksama.
Dahi Aidan mengerut melihat deretan kalimat di kertas itu, tentang data pribadi milik Darian.
Darian Pratama. Single. 27 tahun.
"Ck, sudah tua ternyata." Aidan berdecih pelan.
Aidan tidak tahu umur. Mengatakan Darian tua, padahal usianya jauh lebih tua satu tahun di atas Darian.
"Single, eh? Jadi dia benaran hanya ngaku-ngaku? Ck, memalukan!" Aidan kembali mencemooh Darian. Jiwa-jiwa julid Aidan keluar, membuatnya terus melontarkan kalimat-kalimat yang menjengkelkan.
Aidan mengambil keputusan, esok ia akan mewawancarai Darian. Hingga ia mendapatkan jawaban yang puas dan tidak membuat dirinya uring-uringan lagi.