10. Milik Darian

1318 คำ
Dua hari kemudian... Ini adalah hari ke tiga Liana cuti, Liana Sudah berjanji pada Noah bermain ke pantai. Tiga hari yang lalu, mereka tidak jadi pergi karena anak itu sibuk bermain bersama Keanu. Jam kini sudah menunjukkan pukul empat sore. Liana sedang memasangkan baju Noah. Noah terlihat anteng dan menurut saja ketika Liana memasangkan baju untuknya. Anak itu sesekali menggoda Liana dengan meniup-niup wajah Liana yang sejajar dengan dirinya. "Jangan ditiup lagi, mata Mama jadi perih Noah," tegur Liana seraya mengedipkan matanya. Noah mengatupkan bibirnya dan kembali diam. Tidak mengganggu aktivitas Liana yang memasangkan baju untuknya. "Udah rapi, sekarang kamu tunggu dulu luar. Mama mandi dulu," ucap Liana kemudian berdiri tegak. Noah mengangguk dan berlari keluar kamar. Ia akan menonton televisi selagi menunggu Liana siap. Tok... Tok... Tok... Noah mengalihkan perhatiannya dari televisi. Ia mendengar suara pintu diketuk. Noah berdiri dan berlari menuju pintu, sebelum membuka pintu ia terlebih dahulu mengecek lewat jendela. "Om Darian!" seru Noah antusias lalu membuka pintu rumah dengan lebar. "Hai, jagoan. Wahh, rapi banget, mau kemana nih?" Darian mengangkat tubuh Noah lalu menutup pintu. Noah melingkari tangannya di leher Darian. "Mau main di pantai, sama Mama." "Om boleh ikut nggak?" Darian tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia juga ingin bermain bersama keluarga kecil ini. Noah mengangguk senang, "Om boleh ikut. Nggak ada yang larang," ujarnya. Darian tersenyum lalu mengacak rambut Noah dengan sayang. "Om ada beli es krim tadi. Mau nggak?" "Maauuu." Noah mengulurkan tangannya, meminta es krim di plastik yang Darian pegang. Darian mendudukkan Noah di sofa lalu membukakan cup es yang ia beli. "Makannya hati-hati, jangan sampai tumpah-tumpah. Bisa-bisa Mama kamu marah nanti," pesan Darian. Noah mengangguk singkat. Ia menyuapkan sesendok kecil es krim ke dalam mulutnya. Perhatian bocah itu kembali ke televisi, menampilkan kartun kesukaannya, Spongebob Squarepants. Noah menonton sambil menyuapkan es krim kotak di tangannya. "Om, kalau om ada di sana. Om mau jadi siapa?" celetuk Noah, mengalihkan tatapannya dari televisi. Darian menatap televisi dan Noah bergantian. "Jadi tuan crab," jawabnya. "Ih, Om Darian mata duitan." Darian tergelak. "Dari pada jadi Patrick, dia bodoh. Om kan pinter," kekehnya. "Nggak ada niatan jadi Squidward Om?" tanya Noah. Ia tersenyum jahil menatap Darian. Tiba-tiba ide jahil timbul di kepala anak itu. "Squidward hidupnya nggak berwarna. Nggak enak," sahut Darian acuh tak acuh. Tawa Noah pecah. "Sekarang kan hidup Om Darian juga nggak berwarna. Kerja terus, nggak ada manis-manisnya kalau kata Kean." Darian mengelus d**a. Tahan, tahan, nggak boleh hujat anak kecil. Darian menahan dirinya untuk tidak menghujat atau membuat anak itu nangis karenanya balasannya. Darian tersenyum dengan manis, seolah ucapan pedas Noah tidak mempengaruhi dirinya. "Siapa bilang? Hidup Om udah berwarna kok. Lain kali kamu jangan bergaul sama Kean lagi, ya." "Bergaul itu apa Om?" Noah menatap Darian bingung. "Temanan." "Jadi Noah nggak boleh temanan sama Kean lagi?" Darian mengangguk. "Ih nggak dong. Kean kan nggak nakal, tetap jadi teman Noah. Titik!" Darian menghela napas. Dalam hati ia berdoa supaya Kean tidak lagi memberi pengaruh buruk pada Noah. "Lho, kamu ngapain di sini?" Liana tiba-tiba muncul. Membuat perhatian kedua menusia berbeda generasi itu teralihkan. "Rencananya mau main sama Noah, udah kelar semua kerjaan, bosan kalau di rumah." Darian menyahut dengan santai. Liana menganggukkan kepalanya. "Makanya, cepet-cepet nikah! Biar ada yang ngurus," kekehnya. "Nikahnya sama kamu, ya?" goda Darian. Ia bermaksud serius, namun sengaja ia selipkan nada menggoda dan bercanda. Agar Liana tidak memberi respon seperti sebelum-sebelumnya. "Kita pergi sekarang aja yuk! Kamu mau ikut?" Liana mengalihkan topik. Samar-samar Darian tersenyum kecut. "Iya aku ikut. Yuk!" Darian menggendong Noah dan berjalan keluar rumah lebih dulu. Lalu diikuti oleh Liana dari belakang. *** Liana, Darian dan Noah sudah berada di pantai yang tak jauh dari resort. Mereka memilih tempat yang ramai pengunjung pantai. Noah sejak tadi tidak henti-hentinya bermain pasir dengan Darian tentu saja. Sedangkan Liana hanya memantau kegiatan mereka yang tampak asik dengan dunia baru yang mereka ciptakan sendiri. Noah berdiri dan menghampiri Liana. "Ma, hauss!" keluh Noah sambil meneguk salivanya susah payah. Liana mengangguk, "Ya udah Mama beli minum dulu. Kamu di sini aja sama Om Darian." Noah mengacungkan jempolnya lalu kembali membuat rumah-rumah pasir bersama Darian yang membantunya. Liana berjalan menjauh, ia mencari minuman segar di sekitar wilayah pantai. Pandangannya jatuh pada sebuah tenda yang menyediakan es kelapa dan makanan ringan. Tempat tenda itu tak jauh dari posisi Noah dan Darian yang masih bermain. Liana mengayunkan kakinya menuju tenda tersebut. "Bu, es kelapanya dua, ya," pinta Liana. Ibu-ibu itu mengangguk singkat dan membuatkan pesanan Liana. Lima menit kemudian, di tangan Liana sudah ada dua buah es kelapa yang segar tentunya. Liana membayar dan segera meninggalkan tempat itu. "Ana..." Langkah Liana berhenti, tubuhnya menegang. Ia tidak berani berbalik saat mendengar suara itu. Liana memilih melanjutkan langkahnya kembali dengan cepat. "Aku tahu kamu mendengar ku," ujar suara itu lagi. Liana menarik napas. Perlahan ia berbalik dan menatap datar pada sosok itu. Harusnya ia sudah menduga akan bertemu dengan lelaki itu lagi walaupun ia cuti, terlebih ia sempat berbicara dengan Simon beberapa hari lalu. "Lama tidak berjumpa, Aidan," sapa Liana. Mencoba tenang. Sebisa mungkin ia menatap Aidan dengan datar dan menghilangkan gejolak kerinduan di hatinya pada Aidan. Aidan tersenyum miring, "Pindah ke Bali, eh? Apa karena tidak ada lagi yang menyewamu di London makanya pindah?" tanya Aidan dengan mencemooh. Liana mengeratkan pegangan tangannya pada dua buah kelapa di tangannya, sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak melempar buah kelapa ini ke kepala mantan suaminya. Liana hanya tersenyum dengan samar. "Aku rasa aku tidak memiliki urusan lagi denganmu. Jangan berbicara denganku lagi." Liana berbalik dan kembali melangkah. Namun sialnya, Aidan menahan tangannya. Mata Liana menajam melihat tangan Aidan yang mencekalnya. "Lepas!" *** "Noah, sini dulu," panggil Darian. Noah menurut, ia mendekati Darian. "Kenapa, Om?" "Mama kamu lagi di dekati orang jahat," ucap Darian sambil menunjuk ke arah Liana yang bertemu dengan Aidan. Wajah Noah memucat. "Ayo, Om! Ke tempat Mama!" serunya. "Nanti dulu, kita susun rencana." Darian menahan tubuh Noah. "Nanti Noah bilang gini ya, ayo Ma kita main lagi sama Papa." Darian mencontohkan sebuah kalimat. Noah mengernyit bingung, "Noah nggak punya Papa." "Om Darian sekarang jadi Papa kamu. Jadi panggil Papa, oke?" Karena tidak mau Liana dalam masalah, Noah pun mengangguk. "Iya, Papa." Darian tersenyum, ia mengangkat tubuh Noah dan berjalan menghampiri Liana. Tangan kiri Darian yang bebas, kini terkepal kuat melihat Aidan yang mencekal tangan Liana. "Ayo bilang sekarang, sayang," bisik Darian saat mereka sudah dekat dengan posisi Liana dan Aidan. "Mama lama banget, ayo Ma kita main lagi sama, Papa!" seru Noah dengan suara keras. Darian tersenyum puas melihat tubuh Aidan yang menegang kala melihatnya dengan Noah. Bagus, Noah. ㅡbatin Darian puas atas kerja Noah. Kini giliran Darian yang beraksi. Dengan santainya Darian melepas cekalan tangan Aidan di tangan Liana dan menarik Liana ke sisinya. Liana terperangah. Ia menatap Noah dan Darian bergantian. "Halo, Pak Aidan. Saya tidak menyangka bertemu anda di sini," sapa Darian ramah. "..." Aidan membisu, ia menatap Liana, Darian dan seorang bocah laki-laki di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Istri saya tadi lagi membeli minum, tampaknya anda menegurnya," ucap Darian sambil menekankan kata istri. Liana diam, ia memilih tidak merespon dan mengikuti permainan Darian. Sejenak, ia menangkap raut wajah Aidan yang terlihat emosi, namun itu hanya terlihat sesaat olehnya. "Ah iya, Noah beri salam pada Paman Aidan. Dia Bos Papa," ujar Darian. Kini beralih menatap Noah dan memberi kode agar segera melakukan yang ia suruh. Noah sempat bingung, bukankah tadi Darian mengatakan Om-om di depan mereka orang jahat? "Ayo Noah, beri salam." Kini giliran Liana yang bersuara. "Hai, Paman." Noah menyapa singkat. "Ah iya, halo Noah." "Kalau gitu saya pamit dulu, Pak. Anak saya masih mau main, sampai jumpa di kantor besok Pak." Tidak ada yang bisa Aidan lakukan selain mengangguk singkat dan membiarkan keluarga kecil itu berlalu dari hadapannya. Aidan mengeram kecil melihat tangan Darian memeluk pinggang Liana. Ia sangat tidak suka melihat itu.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม