15. Sadar Diri

1636 คำ
Setelah perdebatan dengan Liana kemarin di cafetaria, Aidan tak lagi menemui wanita itu. Ia akan membiarkan Liana menyendiri terlebih dahulu, ia merasa Liana masih shock atas kejadian yang menimpa Noah dan kesal melihat sikapnya yang seperti ini. Semalaman Aidan menginap di rumah sakit, namun tidak di dekat Liana. Ia menunggu di salah satu kursi tunggu di lantai lima, dua lantai di bawah lantai tujuh di mana ICU berada. Aidan menghela napas, lalu mengeluarkan ponsel di saku celananya. Sudah jam delapan pagi, Aidan bangkit dari posisi duduknya. Aidan mengayunkan kaki menuju lantai tujuh. Namun Aidan ingin menemui dokter terlebih dahulu, ingin menanyakan keadaan Noah yang terkini. "Apa ada perkembangan terhadap Noah, dok?" tanya Aidan. Matanya menatap serius pada dokter laki-laki di depannya. Dokter laki-laki yang bernama Edy itu mengangguk singkat lalu melepaskan kacamatanya, bersiap akan menjelaskan pada Aidan. "Tadi pagi, pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya. Hanya menunggunya sadar kembali seperti semula. Saat sadar nanti, kemungkinan pasien akan mengalami pusing dan mual. Itu terjadi karena benturan kepala di aspal yang menyebabkan geger otak ringan pada pasien." "Bla... bla... bla..." Dokter menjelaskan semua yang terkait dengan kondisi Noah. Aidan sedikit bernapas lega, sebab Noah telah berhasil melewati masa kritisnya. "Yes. Thank you." Aidan menjabat tangan sang dokter. Aidan pamit dan berjalan keluar ruangan dokter Edy. Drrttt... drrttt... Ponsel Aidan bergetar beberapa kali, dengan segera ia merogoh saku celananya. Nama Simon lah yang tertera. "Ada apa?" tanya Aidan to the point. Di seberang, Simon berdeham pelan. "Polisi setempat telah menemukan pelaku, Tuan. Hari ini akan di selidiki, apa Tuan ingin ikut ke kantor polisi?" ucap Simon. Aidan menghembuskan napas lega, ia memang menyerahkan segala urusan pelaku pada Simon. Namun, mendengar pelaku sudah di tangkap membuatnya penasaran akan rupa manusia yang telah membuat Noah celaka. "Jemput aku lima belas manit lagi," titah Aidan. "Baik, Tuan." Aidan memutuskan sambungan telepon lalu kembali berjalan menuju lift, ia akan ke lantai tujuh. Melihat Liana sejenak. Sesampainya di lantai tujuh, tepat di depan pintu ICU. Ada dua baris kursi tunggu, dan di salah satu kursi ada Liana yang masih memejamkan matanya dan juga ada Darian di sebelah wanita itu. Kedua tangan Aidan terkepal erat, rahangnya mengeras. Ia sungguh tidak menyukai pemandangan di depannya saat ini. Sesekali Darian melirik ke arah Liana yang masih tertidur. Aidan berdecak kesal, sejak kapan Darian datang ke rumah sakit? Kenapa ia tidak menyadarinya? Lagi, Aidan melengos. Sekuat tenaga ia menahan emosi yang sedang bergejolak di hatinya lalu ia berbalik melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Aidan menunggu Simon di lobi rumah sakit. Lima belas menit kemudian Simon tiba. Aidan berdecak dan melirik Simon tajam. Tatapan matanya terlihat membunuh dan siap menerkam mangsa. "Lama sekali, apa kau berdandan dulu huh?" dengus Aidan lalu berjalan memasuki taksi yang tadi datang bersama Simon. Simon menghela napas, biasanya jika emosi berlebihan seperti ini ada yang terjadi pada bosnya. Simon ikut masuk dan duduk di sebelah supir. Kepalanya tertoleh sedikit ke belakang menatap Aidan yang duduk di belakang. Perlahan taksi mereka berjalan membelah jalanan. "Maaf, Tuan. Pihak resort sedikit terlambat memesan taksi ini." Aidan mencibir, "Kenapa tidak menyewa mobil saja dan bawa sendiri? Bukankah satu black card ku ada padamu yang biasa digunakan untuk berjaga-jaga? Aku rasa itu cukup untuk menyewa satu mobil selama kita di sini." "Percuma, Tuan. Saya tidak hafal jalan di sini, dan saya tidak bisa mengendarai mobil di Negara yang cukup asing ini." "Halah, banyak sekali alasanmu." Aidan menyahut tidak mau kalah. Simon menghela napas lalu membalikkan tubuhnya menghadap jalan raya. Lebih baik ia diam daripada berdebat semakin jauh dengan bosnya, buang-buang kalimat. Sekitar sepuluh menit kemudian mereka tiba di kantor polisi. Simon langsung menanyakan perihal pelaku kecelakaan kemarin. Sedangkan Aidan memilih duduk di salah satu kursi yang tersedia. "Tuan, ayo!" Aidan berdiri dan mengikuti langkah Simon dan seorang Pria yang ia yakini adalah seorang polisi. Mereka tiba di sebuah ruangan gelap yang di batasi dengan kaca. Di seberang sudah ada seorang laki-laki yang Aidan yakini adalah sang pelaku. Aidan menilai penampilan orang itu, lalu berdecih dalam hati. Terlihat kacau, terlebih terdapat beberapa luka memar di bagian wajahnya. Aidan bertekad akan membuat orang itu menyesal karena telah mencelakai anaknya. Namun ia sedikit bersyukur atas insiden itu, sebab ia jadi tahu akan keberadaan sang anak yang selama ini Liana sembunyikan. "Lebih baik kita pergi mencari makanan, aku lapar. Lagi pula berada di sini tak akan mendapatkan hasil, semua dilakukan oleh polisi. Tunggu informasi dari polisi itu saja," ucap Aidan. Matanya beralih menatap Simon yang berada di sampingnya. Simon mengangguk menyetujui, walaupun pagi tadi ia berusaha keras membujuk agar polisi mengizinkan mereka masuk ke ruang interogasi. Lebih baik keluar karena selama menginterogasi, ruangan menjadi sangat membosankan. Simon berbicara sebentar pada polisi yang tak jauh dari mereka, lalu setelah itu Simon keluar terlebih dahulu dan diikuti Aidan kemudian. "Saya sempat melihat sebuah cafe tak jauh dari kantor polisi ini Tuan. Tuan mau makan di sana?" "Terserah." Keluarlah jawaban seorang perempuan di mulut Aidan, namun ia tidak peduli. "Lewat sini, Tuan." Simon menuntun Aidan. Setibanya di cafe yang menurut Aidan sangat klasik, Simon langsung memesan makanan untuk mereka. Sedangkan Aidan langsung duduk di salah satu tempat. "Apa terjadi sesuatu yang lebih parah pada Tuan Muda, Tuan?" tanya Simon saat sudah kembali, ia duduk di hadapan Aidan. Aidan terdiam, panggilan yang Simon layangkan untuk Noah terasa sangat asing di telinganya. Tentu saja, karena ini baru pertama kalinya. "Tidak ada. Dia sudah berhasil melewati masa-masa kritisnya." Aidan menyahut dengan singkat. "Lalu? Kenapa Tuan bersikap menyebalkan sejak tadi?" Aidan menatap Simon tajam, "Mulai berani padaku, heh?" Simon menggelengkan kepalanya cepat, "Bukan Tuan. Maksud saya bukan begitu." Simon bergidik ngeri merasakan aura hitam yang mengelilingi Aidan. "Lupakan saja, Tuan," lanjut Simon. *** Siang ini Aidan kembali ke resort. Ia akan membersihkan diri dan mengistirahatkan pikirannya sejenak dulu. Satu masalah mulai selesai, pelaku akan dipastikan dihukum seberat-beratnya. Aidan sempat geram mengetahui lelaki itu berkendara dengan mabuk, dan terjadilah kecelakaan naas yang menyebabkan tewasnya seorang wanita tua. Aidan menghela napas kasar, ia bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sekitar lima belas menit kemudian ia selesai dan langsung berpakaian dengan rapi. Aidan meraih ponselnya dan mendial nomor Simon. Tak butuh waktu yang lama, Simon langsung mengangkat panggilannya. "Pesankan satu taksi untukku, lima menit lagi harus tiba di depan." "Ba-" Bip! Aidan langsung mematikan sambungan teleponnya. aidan berjalan keluar kamar, ia menunggu taksi di halaman depan resort. Aidan mengembangkan senyumnya, melihat Simon berlarian menghampiri dirinya, di belakang Simon ada taksi yang berjalan. Simon terlihat bodoh, memilih berlari daripada masuk ke dalam taksi untuk menghampiri dirinya. Tanpa mengucap sepatah katapun lagi, Aidan langsung masuk ke dalam taksi, ia membuka jendela taksi sedikit dan melirik ke arah Simon. "Jika kau ingin ikut, masuk cepat." Simon masih mengatur napasnya, setelah itu ia ikut masuk. Taksi mulai melaju meninggalkan pekarangan resort. "Em, Tuan. Besok kita sudah harus kembali ke London, beberapa catatan tentang renovasi beberapa titik di resort sudah saya catat dan berikan pada Darian." Aidan tak menyahut, saat ini sangat sulit untuk kembali ke London mengingat situasi sedikit berubah dan membuatnya harus menetap lebih lama Negara ini. "Kita tidak kembali besok. Ada tugas baru untukmu, selidiki ulang masalah empat tahun yang lalu. Periksa kembali dokumen yang datang padaku saat itu dan periksa keaslian foto Liana bersama pria asing itu." Ya, Aidan memutuskan untuk mencari tahu ulang. Mencari siapa dalang yang mengirimkan foto itu dan tujuannya mengirimkan foto itu padanya. "Baik, Tuan." Sepuluh menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Aidan langsung mengayunkan kakinya menuju lantai tujuh, diikuti dengan Simon. Aidan meredam emosinya agar tak terpancing lagi saat melihat keberadaan Darian. Berarti sejak pagi tadi Darian tak meninggalkan rumah sakit. Aidan mendekati kedua manusia yang belum menyadari kehadirannya. "Anda tidak bekerja? Kenapa anda malah bersantai duduk di sini?" tanya Aidan dengan datar. Matanya menatap Darian dengan dingin. Darian berdiri, sedangkan Liana membuang muka menatap ke arah lain. "Anak saya sedang tak sadarkan diri di dalam sana, tentu saya harus menunggunya hingga sadar, Sir." Darian membalas. Liana yang berada di sebelah Darian refleks menatap pria itu. Tangan Liana menggapai tangan Darian lalu menggeleng pelan. Sayangnya Darian tak paham dengan isyarat yang Liana layangkan. Aidan terkekeh pelan, menertawai kebodohan Darian. Pria itu masih berani mengaku-ngaku. Menyedihkan! "Apa pantas bagi dirimu yang bukan siapa-siapa mengaku sebagai ayah dari anakku? Sungguh memalukan," cibir Aidan. Senyum sinis terbit di wajahnya saat melihat ekspresi kaget di wajah Darian. "Lebih baik kau pergi dari sini, sebelum aku memecatmu. Ingat, aku bosmu." Darian ingin sekali protes, namun ia urungkan saat melihat kode dari Simon yang menyuruhnya untuk mematuhi perintah Aidan. Darian mengumpat dalam hati, merasa kalah dengan pria arogan di depannya saat ini. "Baik, saya permisi Tuan." Darian melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit. "Kerjakan misi barumu, malam besok pagi aku tunggu laporan darimu," ucap Aidan tegas. Ia melirik ke belakang sedikit. Simon membelalakkan matanya mendengar deadline tugasnya, esok pagi? Cepat sekali! "Besok siang, Tuan." Aidan membalikkan tubuh sepenuhnya menatap Simon. "Hari ini kau terlalu berani padaku, Simon." "Baik. Tuan. Besok pagi." Simon membungkukkan badannya sedikit lalu mengayunkan kakinya meninggalkan rumah sakit. Kini hanya tersisa Aidan dan Liana. Aidan melirik ke arah Liana yang membuang muka. "Dia baik-baik saja, hanya menunggunya sadar," ucap Aidan lalu duduk di sebelah Liana. "Aku tahu." Liana menyahut singkat. Lalu keheningan menyelimuti mereka berdua. Dua menit kemudian seorang perawat keluar dari ICU dengan tergesa-gesa, membuat Aidan dan Liana kompak berdiri dan hendak menanyakan apakah terjadi sesuatu. Namun, perawat itu malah berlari tanpa mengindahkan mereka berdua. Liana menggigit bibir bawahnya, dalam hati ia tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk Noah. Mereka kembali dibuat penasaran saat perawat perempuan tadi datang bersama seorang dokter. "Tenanglah, jangan kalut seperti itu, Liana." Ingin rasanya Aidan mendekat pada Liana dan mengusap bahu wanita itu lalu membisikkan kata-kata menenangkan untuk Liana. Namun, Aidan cukup tahu diri untuk tidak melakukan hal itu pada Liana.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม