Setidaknya sekarang Liana bisa sedikit bernapas lega. Tidak sia-sia ia menyeret Aidan ke rumah sakit dengan paksa. Karena kini kondisi Noah bisa tertolong.
Noah masih dalam kondisi kritis. Kini hanya doa lah yang bisa Liana lakukan. Mendoakan agar Noah segera sadar dan melewati masa-masa kritis nya dan kembali pulih seperti sedia kala.
Liana menoleh ke kanan saat mendengar derap langkah kaki. Ada tiga orang yang datang menghampirinya. Aidan, Simon, dan Bapak penolong kejadian kecelakaan mengerikan itu. Aidan dan Simon memilih duduk di bangku yang tersedia.
Simon berada di rumah sakit sejak Liana meminta bantuan Aidan. Kebetulan saat itu, Simon keluar dari kamarnya yang berada tak jauh dari kamar Aidan. Simon juga membantu Liana membawa paksa Aidan yang syukurnya tidak terlalu banyak protes. Sejak mengetahui pengakuan Liana di depan kamar, Aidan mendadak diam dan menurut saja saat tangannya ditarik ke rumah sakit.
Liana berdiri. Ia menghampiri bapak yang ia ketahui bernama Pak Santosa dengan sedikit senyuman. "Terima kasih sudah membantu saya, Pak."
Pak Santosa mengangguk. "Polisi akan mencari pelaku, yang sabar saja ya?"
"Oh iya, jenazah Nenek Hana harus segera di kebumikan. Sebagai tetangga, tadi saya sudah melapor ke RT dan warga lain. Cucu Nenek Hana sudah tiba di rumah. Saya akan pulang dengan membawa Nenek Hana."
Seketika Liana merasa bimbang, harusnya ia ikut dengan Pak Santosa untuk menguburkan jenazah dan memberitahu secara detail kejadian pada Cucu Nenek Hana. Bagaimanapun juga, Liana ikut andil dalam masalah ini.
"Kamu tidak usah ikut, jaga anakmu. Nanti saya yang akan membicarakan dengan Nak Arkana, anak Nenek Hana," ucap Pak Santosa seakan peka dengan ekspresi gelisah Liana.
Liana melirik ke arah Aidan dan Simon, Aidan terlihat memejamkan matanya dan bersandar pada sandaran kursi. Sedangkan Simon meliriknya juga, mencuri dengar ucapannya dengan Pak Santosa.
"Simon aku butuh bantuan mu," ucap Liana.
Simon berdiri dan menghampiri keduanya. "Ya, Nyonya?"
"Bisa kah kau ikut dengan Pak Santosa? Bantu pemakaman Nenek Hana, bagaimana pun juga aku merasa bersalah. Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja sekarang."
Simon mengangguk singkat. "Baik, Nyonya."
"Terima kasih."
Sekarang Liana kembali beralih menatap Pak Santosa. "Dia akan ikut, Pak. Membantu anda dan warga lain nantinya."
Pak Santosa mengangguk. "Baiklah, ayo kita pergi."
Simon mengikuti langkah Pak Santosa dan berlalu pergi, perlahan mereka sudah tak terlihat lagi. Liana menghela napas, lalu kembali duduk.
Dalam hati, Liana tak henti-hentinya merapalkan doa untuk kesadaran Noah.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aidan melirik ke arah kirinya, posisi duduk Liana yang tak jauh dengan dirinya. Di mana Liana sedang tertidur dengan posisi duduk. Mereka memang belum diperbolehkan masuk oleh dokter, Noah masih berada di ruangan ICU.
Aidan menarik napas, lalu membuangnya dengan kasar. Tenaganya sudah seakan sedikit terkuras. Darahnya lumayan banyak diambil oleh tim medis, dan kini ia merasa sangat lapar. Perawat hanya memberikannya biskuit dan dua bungkus camilan berbahan dasar cokelat.
Aidan berdiri, ia menghampiri Liana. Aidan ingin mengajak wanita itu makan. Sebenarnya Aidan sangat ingin mendengar penjelasan Liana tentang Noah, namun sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat.
"Ana..."
"Liana, bangun."
Aidan terus berusaha membangunkan Liana. Di panggilan ke empat barulah Liana bangun.
"Ada apa?" tanya Liana dengan suara yang serak khas orang bangun tidur.
"Ayo kita ke kantin rumah sakit. Aku sangat lapar lagi pula perutmu juga perlu diisi." Kini tak ada nada tajam, dingin, dan datar yang Aidan tunjukkan. Ia berbicara dengan nada pelan pada Liana.
Sebetulnya Liana juga merasa lapar namun ia tidak ingin meninggalkan Noah sendirian. Liana menggeleng. "Aku tidak ingin meninggalkan Noah sendirian."
Aidan memejamkan matanya saat mendengar nama Noah dari mulut Liana. Ia merasa dirinya terlalu j*****m telah menyangka Noah adalah selingkuhan Liana. Jelas, Noah itu bocah laki-laki yang pernah ia temui di pantai beberapa hari yang lalu.
"Dia akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat. Ada perawat juga yang memantau kondisinya di dalam."
Liana menatap Aidan ragu lalu mengangguk mengiyakan. Melihat wajah Aidan yang sedikit pucat membuatnya merasa iba. Akhirnya Liana dan Aidan berjalan ke lantai satu, menuju cafetaria.
Hening menyelimuti mereka berdua, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga makanan pesanan mereka tiba, mereka menyantap dengan diam. Aidan pun jadi enggan untuk mengajak Liana berbicara.
Aidan merasa semuanya masalah menjadi bertambah rumit. Terlebih dengan fakta ia memiliki seorang anak. Tanpa sadar Aidan menghela napas berat dan Liana mendengarnya.
"Kenapa menghela napas? Makanannya tidak enak?'" tanya Liana pelan.
Aidan menggeleng cepat, tak menyangka Liana mengajaknya bicara. "Bukan karena itu."
"Lalu?" Liana menatap Aidan dengan curiga, namun sedetik kemudian dia paham. "Tenang saja, jangan menganggap hal tadi serius, aku hanya meminta sedikit darahmu untuk anakku. Aku sangat berterima kasih, setelah ini kamu bisa pulang. Aku tidak membutuhkan apapun lagi darimu."
Rahang Aidan mengeras mendengar ucapan Liana, wanita itu seakan hanya memanfaatkan dirinya saja. Memanfaatkan darahnya, setelah itu di campakkan. Entah kenapa dadanya terasa sangat nyeri mendengarnya.
"Dia anakku, aku tidak akan mengabaikannya begitu saja," desis Aidan dengan tajam.
Liana tersenyum miring, "Bukan, dia bukan anakmu. Tapi selingkuhanku."
Aidan mendesah frustrasi. Ucapannya di resort kembali disinggung Liana. Aidan benar-benar menyesal telah mengatakan hal itu, emosinya langsung terpancing saat Liana menyebutkan nama seorang laki-laki, Aidan melupakan sosok anak kecil bernama Noah yang pernah berkenalan dengannya waktu itu.
Melihat tak ada respon dari Aidan, Liana kembali menyuapkan makanannya.
"Aku benar-benar menyesal telah mengatakan hal itu, aku minta maaf," ucap Aidan dengan kepala yang menunduk.
Kunyahan makanan dimulut Liana berhenti, ia menatap Aidan tak percaya. Ia tidak salah dengar bukan? Aidan meminta maaf?
Liana menghela napas pelan, "Aku serius, tidak usah terlalu memperhatikan anakku." Liana menatap Aidan dengan datar, "Lagi pula Noah tidak ingin melihat Papanya, dan yang ia tahu Papanya telah tiada."
Deg!
Rasanya Aidan ingin membalikkan meja makan untuk melampiaskan amarahnya. Kalimat terakhir yang Liana ucapkan sungguh membuat emosinya semakin terpancing dan ingin meledak-ledak. Kenapa Liana sejahat itu? Mengatakan dirinya telah tiada pada Noah?
Liana kembali diam dan memakan makanannya lagi, ia melihat emosi tertahan pada diri Aidan. Tapi, Liana mencoba tidak peduli.
"Aku sudah selesai." Liana membersihkan ujung bibirnya dengan tisu, dan bersiap-siap akan pergi. Tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan jadi ia harus segera kembali menemani Noah dari luar ICU.
"Tunggu," cegat Aidan.
Liana memutar bola matanya malas, "Apa lagi?"
"Noah pasti akan bahagia mengetahui Papanya masih hidup." Aidan berujar dengan nada yang lembut, secercah harapan masih ia miliki jika ia mengatakan semuanya pada Noah.
Liana memicingkan matanya, "Kamu berniat memberitahunya?" Lalu senyum remeh pun terbit di bibir Liana.
"Silakan beritahu jika kamu sanggup dikira orang gila. Manusia yang telah mati tidak akan kembali hidup, dan begitu pula dirimu. Kamu tidak akan hidup di sisi kami berdua." Liana menyahut dengan tajam. Tanpa menunggu balasan dari Aidan, Liana berlalu pergi meninggalkan Aidan.
Aidan menggeram kesal, ia memukul meja cafe dengan kesal. Aidan merasa sangat kesal dengan jawaban yang Liana berikan. Dan kenapa ucapan Liana mendadak menyakitkan untuk dirinya? Kata-kata Liana sungguh membuat ia geram sekaligus kesal setengah mati.
Liana yang ia tahu tidak pernah melontarkan kalimat-kalimat keji dan jahat, tapi sekarang, wanita itu sudah berani mengatakannya.