Di dalam kamar, Aidan benar-benar merasa kesal. Usai mengambil nampan berisi seporsi spaghetti buatan Liana, Aidan kembali masuk ke dalam kamar dengan emosi yang bercampur aduk. Terlebih ucapan Liana yang mengatakan bahwa wanita itu telah bahagia tanpa dirinya. Ck, benar-benar kalimat yang menyebalkan.
Namun hatinya juga merasa lega saat mengetahui Liana belum menikah, dan Darian hanya mangada-ngada saja. Entah kenapa, ia senang mentahui itu. Perasaan Aidan benar-benar campur aduk sekarang. Ada perasaan senang namun ada juga yang menjanggal di hatinya.
Seperti ada yang tertinggal. Aidan memejamkan matanya sesaat, mengingat kembali ucapan Liana yang membuat hatinya sedikit terasa janggal.
"Sudah aku katakan, aku tidak pernah berselingkuh. Kamu memang bodoh karena sudah asal memutuskan sesuatu."
Ah itu dia kalimat Liana. Wanita itu mengatakan tidak pernah berselingkuh dan mengatakan dirinya bodoh.
Aidan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia juga ingat, pengakuan Liana yang tidak pernah berselingkuh sama persis seperti ucapan terakhir wanita itu sebelum Aidan usir dari rumah mereka empat tahun lalu.
Kenapa Liana sangat keukeuh dengan ucapannya? Padahal bukti sudah jelas. Aidan berdecak kesal, ia sangat membenci pembohong. Dan Liana kembali berbohong padanya.
Jika dulu ia mengabaikan pengakuan bohong Liana yang mengatakan tidak selingkuh, kini berbeda, ia jadi kepikiran. Satu pemikiran melintas di kepalanya, jika Liana benar-benar selingkuh, seharusnya Liana telah menikah dengan selingkuhannya. Tidak menjadi janda seperti sekarang.
Aidan melirik spaghetti di hadapannya dengan tidak nafsu. Keinginan makannya telah hilang dan tiba-tiba ia sudah merasa kenyang hanya dengan memikirkan Liana dan masalah yang terjadi pada mereka.
***
"Liana, hei!" Tari melambai-lambaikan tangannya di hadapan Liana.
Liana bergeming, masih larut dalam lamunannya. Tidak menyadari Tari yang sejak tadi memanggil dirinya.
"Liana ..."
"Kamu melamun?"
"Hei,"
Tari menggoyang-goyangkan tangan Liana. Setelah itu barulah Liana merespon dengan sedikit kaget. "Eh, iya? Ada apa?"
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Sebenarnya ada masalah apa?" tanya Tari dengan suara yang pelan. Tangan wanita itu berada di pundak Liana, mengusapnya sesekali.
"Cerita padaku, kalau sanggup aku akan membantumu dan mencarikan solusi," ucap Tari lagi.
Liana menggeleng pelan, "Tidak ada masalah." Liana memaksakan senyumnya.
Mata Tari memicing tidak percaya, "Yakin?"
Liana mengangguk cepat, "Yakin."
Tari menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, baru saja ia hendak meninggalkan Liana, ia kembali gemas bercampur geram pada Liana.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan sebungkus gula itu? Seharusnya kamu memasukkan sesendok garam, bukan gula." Tari melipat kedua tangannya di d**a dan menatap Liana dengan serius.
Liana menyingkirkan sebungkus gula di tangannya dan berusaha memasang tampang tidak ada masalah apapun.
"Pulanglah, masa cutimu masih ada. Kalau di sini, kamu tidak fokus dan hanya akan menghancurkan masakan. Aku tidak bermaksud mengusir, ya."
Liana menghela napas, dan mengangguk saja. Ia melepaskan apron lalu berjalan meninggalkan Tari tanpa mengucapkan sepatah kata.
Dengan langkah gontai ia berjalan keluar dari dapur. Liana melirik jam di tangannya, sudah pukul dua belas siang.
Liana berjalan cepat menuju rumah Nenek Hana untuk menjemput Noah. Hanya sepuluh menit berjalan kaki, Liana tiba di depan rumah nenek Hana.
"Masuk Nak Liana." Nenek Hana membuka pintu rumahnya dengan lebar.
"Nenek nggak ke cafe?" tanya Liana basa-basi.
Nenek Hana menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bukankah pagi tadi aku sudah bilang kalau tidak ke cafe?"
Liana menepuk jidatnya, "Ah iya, aku lupa, Nek." Liana nyengir kuda menatap Nenek Hana.
"Nenek sama Noah udah makan?" tanya Liana.
Nenek Hana menggeleng, "Kami hanya memakan buah. Noah menolak makan, ia ingin makanan buatanmu."
Liana mengangguk paham, "Noah nya mana, Nek?"
"Lagi nonton." Liana dan Nenek Hana pun berjalan menuju ruang tengah. Di mana Noah berada.
"Mama..."
Noah berhambur menuju Liana. "Ma, lapar. Mau mie buatan Mama."
"Nggak boleh makan Mie sayang," ucap Liana.
"Mie yang ada keju itu lho Ma."
Liana mengingat-ingat mie apa yang Noah maksud, sedetik kemudian ia paham. Noah menginginkan spaghetti carbonara buatannya.
Glek! Liana menelan saliva susah payah, makanan yang Noah inginkan persis seperti yang Aidan inginkan pagi tadi.
Liana menghela napas, "Ya udah kita pulang sekarang."
"Nenek Hana harus ikut, mie buatan Mama enak lho." Noah kini beralih menatap Hana.
"Iya." Hana memilih mengiyakan permintaan bocah yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri.
"Noah jalannya sama Nenek, Mama ngikut dari belakang aja, ya?"
Tanpa protes Liana mengangguk saja. Noah bangkit dan berjalan menghampiri Hana lalu menarik tangan wanita tua itu agar mengikuti dirinya. Mereka bertiga berjalan keluar rumah.
"Tunggu sayang, Nenek kunci rumah dulu."
"Biar Liana saja." Liana mengambil alih kunci rumah di tangan Hana.
Melihat Mamanya tengah mengunci rumah, Noah pun kembali menarik tangan Nenek Hana. Tidak kasar, Noah menarik dengan lembut dan pelan.
"Noah, tunggu Mama." Liana berdecak kesal saat merasa sangat susah mengunci pintu. Kuncinya seperti macet dan sangat sulit di putar.
Noah tidak mengindahkan ucapan Liana, ia tetap asik menarik tangan Hana agar mengikuti dirinya.
"Noah, tunggu dulu. Jangan sembarangan menyeberang," tegur Hana saat Noah sembarangan hendak menyeberang.
"Sepi, Nek!" Noah melepaskan tangan Hana dan berjalan menuju jalan raya dan berhenti di pertengahan jalan.
"Hei, mulai nakal, ya kamu." Hana melotot menatap Noah.
"Nenek nggak asik, masa mau nyeberang harus tunggu-tunggu dulu. Kalau sepi ya langsung nyeberang aja."
"Noah sini, itu ada mobil!" Hana sudah berteriak dan menunjuk ke arah kanan di mana sebuah mobil baru saja muncul dari persimpangan dan tengah melaju ke arah Noah.
Bukannya berlari menghampiri Hana, Noah malah terpaku dan menatap mobil sedan hitam itu dengan diam, tidak bergerak sama sekali, terlihat sangat syok. Hana berusaha berlari menggapai Noah namun pergerakannya sangat lambat mengingat usianya yang sudah tua dan sedikit sulit untuk berlari.
Baru saja ujung jari-jarinya menyentuh baju Noah, mobil itu telah lebih dulu menghantam tubuh mereka berdua.
BRAKK!
***
Liana mempercepat jalannya saat mendengar sesuatu dari arah depan. Posisi rumah Hana berada di belakang suatu rumah. Sosok Hana dan Noah pun tak lagi Nampak, membuatnya semakin mempercepat langkah kakinya.
Tubuh Liana bergetar melihat ke arah jalan raya. Tidak banyak orang berlalu membuat Liana dengan leluasa dapat melihat orang yang tergeletak tak sadarkan diri di aspal.
"Noah!"
Liana berlari, ia meraih tubuh Noah yang telah bersimbah darah dan tak sadarkan diri. Tak jauh dari posisinya, Hana pun dalam kondisi yang mengerikan, banyak darah yang mengalir dari kepalanya. Airmata Liana sudah mengalir deras, beberapa kali ia mencoba membangunkan Noah. Namun taka da respon yang berarti.
"Saya sudah hubungi ambulans."
Seorang pria paruh baya menghampirinya dengan ponsel di tangan.
Liana mengangguk, "Terima kasih, Pak."
Liana mengedarkan pandangan di sekitar, tak terdapat suatu kendaraan yang menyebabkan kejadian ini terjadi.
"Pelakunya udah kabur, Mbak. Tapi tadi saya sempat foto plat mobilnya, soalnya dia berhenti agak lama gitu. Saya tadi lagi ngopi di depan rumah." Pria paruh baya itu menjelaskan.
"Terima kasih, Pak."
Tepat saat Liana mengucapkan terima kasih, dua mobil ambulans datang dan langsung mengangkat tubuh Noah dan Hana.
"Saya ikut ya. Saya bakal jadi saksi buat ngelapor nanti." Liana hanya mengangguk.
Liana masuk ke dalam ambulans yang membawa Noah, sedangkan pria paruh baya yang baik itu masuk ke ambulans yang membawa Nenek Hana.
***
Liana menggigit jempolnya beberapa kali dan berjalan mondar-mandir di depan pintu IGD. Hatinya sangat risau menunggu Noah dan Hana yang sudah berada dalam IGD.
"Keluarga pasien?"
"Saya, dok!"
"Saya minta maaf sebesar-besarnya. Nyonya Hana tidak bisa di selamatkan, kepalanya mengalami pendarahan otak, dan sepertinya terjadi terlalu kuat menghantam aspal. Saya turut berduka cita Nyonya."
Liana tak bisa mengendalikan dirinya, airmata yang tadinya sempat terhenti kini kembali keluar dengan deras. Perasaan bersalah muncul di hati Liana. Hana telah pergi, untuk selamanya.
"Ba-bagaimana dengan Noah, dok?"
"Pasien Noah sangat membutuhkan darah segera. Golongan darah A positif, di rumah sakit hanya ada satu kantong darah. Kami membutuhkan pendonor segera."
Dada Liana terasa ditusuk oleh ribuan jarum. Liana merasa gagal, golongan darahnya berbeda dengan Noah, ia memiliki darah B.
Satu nama terlintas di benak Liana. Aidan. Golongan darah mereka sama. Liana tidak memikirkan rahasia lagi, sekarang yang penting Noah selamat.
"Saya akan pergi memanggil pendonornya. Apa masih sempat, dok?"
"Kembali secepatnya, tidak lebih dari satu jam."
Liana mengangguk paham. "Saya pergi sekarang, dok. Lakukan yang terbaik untuk anak saya."
Liana pamit undur diri, ia langsung berlari meninggalkan rumah sakit. Sepuluh menit, Liana akhirnya tiba di resort. Liana berlari menuju kamar Aidan.
Tok... tok... tok...
Liana mengetuk pintu kamar berkali-kali dengan tidak sabaran sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Cklek!
"Aku butuh bantuanmu." Liana mengatur napasnya dan berbicara dengan cepat. Ia menatap Aidan dengan memelas.
Alis Aidan terangkat naik heran melihat kondisi Liana yang kacau balau dan juga dengan mata yang sembab. "Apa?"
"Darahmu A positif, donorkan pada Noah. Aku mohon." Liana menyahut dengan cepat.
Dahi Aidan semakin mengerut mendengar nama laki-laki dari bibir Liana. "Noah? Apa b******n selingkuanmu itu?"
Tangis Liana kembali pecah, ia semakin kalut dengan Aidan yang malah membicarakan hal tidak penting. Noah membutuhkan darah itu secepatnya.
"Kenapa diam? Aku benar bukan?" senyum sinis terbit di bibir Aidan.
"b******n yang kamu bilang itu adalah anakmu, darah dagingmu. Noah anakmu, bukan selingkuhanku!" teriak Liana dengah emosi.