Setelah selesai mandi dan berpakaian, Roselyn duduk di depan cermin. Memoles wajahnya dengan make up natural. Setelah itu memakai softlen warna coklat ke matanya karena tidak suka mengumbar warna mata aslinya ke orang lain.
Rambut pirang lurusnya dibiarkan tergerai begitu saja. Hanya penjepit rambut yang menjadi hiasannya.
Menyemprotkan parfum beraroma strawberry ke tubuhnya dan berdiri. Meraih tas sekolah dan keluar dari kamar.
Menuruni tangga dengan langkah cepat karena telah melihat semua anggota keluarganya berkumpul di pintu utama.
"Kakak ini luluran dulu ya di dalam kamar mandi?!" Kesal Jonathan.
Roselyn memutar bola mata malas tanpa berniat menanggapi.
"Mommy membuatkan roti selai strawberry untukmu, sayang. Jangan lupa di makan dalam mobil ya." Tutur Aurora yang tiba-tiba datang.
Jonathan mengangguk senang dan mengecup pipi Aurora sekilas. "Terimakasih, mom."
"Untuk aku tidak ada, mom?" Tanya Roselyn merenggut tidak terima diperlakukan seperti anak tiri.
"Berhubung kau tidak terbiasa sarapan, jadi untukmu tidak ada. Kalau untuk makan siang beli saja di kantin sekolah. Sudah ya, mommy dan daddy pergi kerja dulu."
Aurora bergegas memasuki mobil Goumin, meninggalkan anak perempuannya yang masih merenggut di depan pintu.
"Ckck, kakak kasihan banget deh. Jangan-jangan selama ini kakak anak pungut mommy?"
Roselyn menjambak rambut Jonathan yang sudah tertata rapi akibat terlampau kesal. "Kau yang anak pungut. Jika aku tidak melihatmu waktu itu dan meminta mommy membawamu ke rumah, sudah pasti sekarang kau tinggal di jalanan."
"Kakak yang anak pungut!"
"Kau!!"
"Kakak!!"
"Kau!!"
"Kakak!!!"
"Berisik." Sentak Arsen datar.
Roselyn dan Jonathan sama-sama membuang pandangan.
"Aku tidak ingin berangkat bersama dia ke sekolah. Aku akan membawa mobil sendiri." Putus Roselyn final. Berhubung kunci mobil ada di dalam genggamannya, ia segera berlari ke dalam mobil dan mengebut. Meninggalkan kedua adiknya yang cemas melihat bagaimana caranya mengendarai mobil.
Sementara itu, Roselyn mengendarai mobilnya bak pembalap profesional hingga sampai di sekolah dalam sekejap.
Gadis itu tidak langsung keluar dari mobil. Ia merapikan penampilannya dulu agar selalu terlihat Perfect di mata para murid. Maklum, ia adalah primadona sekolah.
Ketika sudah merasa penampilannya Perfect baru lah Roselyn keluar dari mobil dan berjalan layaknya seorang model.
Anehnya, para kaum Adam di sekolah ini selalu saja terpesona meski sering melihat wajah cantik Roselyn.
Ya, siapa yang tidak akan terpesona melihat gadis berwajah cantik dan chubby itu. Manis, imut, dan menggemaskan. Periang, friendly, dan baik.
Termasuk Prince Caroleo Abraham yang tidak sengaja mengamati Roselyn dari lantai dua sekolah. Sekali tatap, ia langsung terjatuh ke dalam pesona gadis itu. Benar-benar kuat pesona seorang Roselyn.
"Hei, ayo ke ruang kepala sekolah. Kita belum tahu kelas kita." Rafael, kembaran Prince menarik lengannya kuat sehingga mau tidak mau menuruti langkah adiknya.
Mereka pindah sekolah ke sini karena sebelumnya dikeluarkan akibat membunuh seorang siswa. Tidak, tidak. Maksudnya Prince yang membunuh siswa itu.
Prince tidak di penjara karena punya kekayaan yang berlimpah. Siapa yang tidak mengenal daddynya. Adelard Abraham. Salah satu billioner terkaya di dunia. Dengan uang, semuanya akan lebih mudah.
Sementara itu, Roselyn tersenyum cerah melihat sahabatnya -Alvaro- sibuk dengan hp sambil berjalan di koridor sekolah. Berlari kecil ke arah Alvaro dan memeluk lengan Alvaro manja. "Pagiiii!!"
Alvaro menurunkan dan memasukkan hpnya ke dalam saku celana lalu mengelus kepala Roselyn lembut. "Pagi juga, Sel."
"Ba--"
"SELY! ALVARO!!"
Kedua orang itu memutar bola mata malas mendengar nama mereka dipanggil dengan keras. Mereka mendesah malas ketika tubuh mereka dipisahkan oleh orang yang tiba-tiba merusuh itu. Bahu mereka dirangkul secara bersamaan. "Ayo ke kelas, para sahabatku."
"Lepaskan tanganmu dari bahuku! Berat!" Protes Roselyn.
Kebersamaan dan keharmonisan mereka menjadi pusat perhatian para murid. Tak sedikit dari mereka yang merasa iri melihat pemandangan akrab tersebut.
"Ya udah, kalau begitu si cantik Sely peluk lenganku saja kalau begitu." Ujar William dengan nada menggoda.
"Ogah."
"Eh, Si dingin dan Jonathan mana? Tumben tidak bersamamu, Sel?" Alvaro bertanya kala teringat dengan kedua sahabatnya itu.
"Mana saya tahu, saya kan ikan."
Pletak!
Jitakan mendarat dua kali di kepala gadis itu lantaran kedua sahabatnya merasa sangat gemas.
"Kalian jahat. Kalian tidak sayang Roselyn lagi." Drama Roselyn sok tersakiti.
"Sepulang sekolah, mau aku temani ke perusahaan hiburan, Sel? Kata pamanku, perusahaannya sedang mencari artis yang berbakat dalam akting." Sarkas William.
"Wah, boleh dicoba tuh. Siapa tahu aku akan menjadi artis terkenal di dunia."
"Heh, jangan jadi artis! Lebih baik kau bekerja di perusahaan saja. Lebih jelas." Larang Alvaro.
"Tapi aku tidak akan pernah bekerja di perusahaan."
"Memangnya kenapa?" Kepo William.
"Malas!"
"Lalu, ingin jadi apa?" Tanya William lagi.
"Jadi istrimu. Boleh?" Roselyn tersenyum manis sehingga William tertegun di tempat.
****
"Kami di masukkan ke dalam kelas mana?" Tanya Rafael tanpa ada sopan santun ke sang kepala sekolah.
Kepala sekolah itu mengelus d**a sabar karena tahu siapa anak kembar identik di hadapannya. Menjawabnya dengan cepat dan tidak bertele-tele karena takut kena amuk keduanya.
Keduanya ditemani oleh Bu guru ke kelas baru yang kebetulan akan menjadi wali kelas mereka.
Prince terlihat tak acuh di tatap penuh memuja oleh para siswi. Berbeda terbalik dengan Rafael yang malah tebar pesona.
"Perhatian semuanya. Kalian kedatangan murid baru." Tutur wali kelas kala sampai di kelas.
Seisi kelas terdiam melihat murid baru itu kembar identik. Belum lagi keduanya sangat tampan! Membuat seisi kelas gaduh.
Bu Lexa mengetuk papan tulis berkali-kali agar semuanya diam dan hening. Tapi, pada dasarnya saja mulut para siswi di kelas baru Prince tidak ada remnya.
Prince mulai kesal. Semakin merasa kesal ketika matanya tidak sengaja menangkap keberadaan sosok yang diclaimnya sedang dimanjakan oleh seseorang.
Dadanya bergemuruh hebat melihat bagaimana sentuhan pria itu di pipi gadisnya. Amarahnya kian memuncak ketika melihat gadisnya mencium pria itu.
Seolah lupa diri, Prince berjalan ke arah gadisnya dan menarik kerah pakaian si pria yang tak lain Arsen.
Semuanya mendadak bungkam ketika melihat pangeran kelas mereka ditinju dengan keras oleh anak baru.
-Tbc-