Possesive Prince || 03

852 คำ
Arsen yang tak terima ditonjok balas menonjok pipi Prince. Tonjokannya tidak main-main sehingga sudut bibir Prince terluka. "Sialan! Beraninya kau meninjuku!!" Prince semakin marah. Siap melayangkan tinjunya ke arah Arsen lagi tapi matanya melotot kaget ketika gadis yang diclaimnya menahan tinjuannya dengan satu tangan. "Ada masalah apa sih dengan kembaranku sampai meninjunya?" Semakin melotot kaget ketika mendengar ucapan Roselyn. "Dia kembaranmu?" Tanyanya tidak percaya. Menatap Arsen dan Roselyn bergantian dengan tatapan menilai. Tidak ada yang serupa dari keduanya. "Iya. Kembar tapi tidak identik." Prince menghela nafas kasar. "Maaf." Tuturnya ke Arsen tapi tidak terlihat raut bersalah di wajah tampannya itu. "Hei, orang gila! Kenapa kau tiba-tiba meninjuku? Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya." Arsen sungguh kesal diserang secara tiba-tiba oleh Prince. "Aku pikir kau menyukai pacarku, tapi ternyata kau kembarannya." "HAH?!" Seisi kelas melongo mendengar jawaban blak-blakan Prince, terutama Roselyn dan Arsen. "Aku saja tidak mengenal pacarmu!! Dasar gila!!" Umpat Arsen tidak tahan sembari mengusap sudut bibirnya kasar. "Pacarku dia." Tunjuk Prince ke arah Roselyn yang mengerjap polos. Sejak kapan pula dia pacaran dengan murid baru ini? Bahkan bertemu saja baru kali ini. Benar-benar pria aneh, batinnya heran. "Sejak kapan kakak pacaran dengan dia?" Tanya Arsen begitu menuntut ke Roselyn yang masih melongo. Roselyn menggeleng cepat. "Jangankan pacaran, mengenalnya saja tidak." Arsen terkekeh mengejek. "Cih, ngaku-ngaku!" Amarah Prince kembali naik, tapi ditahannya karena pria di hadapannya adik kembaran gadis yang dicintainya. "Heh, anak baru! Kau tidak boleh mendekati kakakku!" Jonathan pun ikut memperingati Prince karena tidak suka dengan sifat kasar pria itu. Takutnya nanti kakak perempuannya menjadi korban kekerasan. Biar pun dia sering mencari masalah dengan kakaknya, Jonathan tidak ingin kakaknya dilukai orang lain. "Aku tidak butuh persetujuanmu karena mulai sekarang dia adalah milikku! Tidak ada siapa pun yang boleh merebutnya! Siapa pun yang berusaha merebutnya akan mati mengenaskan di tanganku! Ingat itu!!" Ucapan Prince terdengar begitu serius dan tidak main-main sehingga tanpa sadar membuat seisi kelas menahan nafas takut. Tampan sih tampan tapi psycho. "Huh, dasar orang gila. Kau tidak apa-apa 'kan, Sen?" Roselyn menuntun Arsen duduk dan memeriksa seluruh wajah Arsen teliti. Bibirnya melengkung ke bawah melihat sudut bibir kanan Arsen terluka. Air matanya mulai menetes. Tidak tega melihat darah yang keluar dari sudut bibir kembarannya. Dia memang secengeng itu jika sudah menyangkut kembarannya. "Kenapa kau meninju adikku? Lihat hasil perbuatanmu, dia berdarah." Tatapan tajam dilayangkannya ke Prince yang merasa sangat bersalah melihat air mata Roselyn. Hatinya terasa tertusuk ribuan jarum melihat air mata gadis itu. "Maaf, honey. Aku tidak tahu dia adikmu. Aku minta maaf." Dia bahkan menjatuhkan lututnya ke lantai seraya memegang kedua tangan Roselyn dengan wajah bersalah. Roselyn sampai tidak berkata-kata ketika mendapati pria itu berlutut di hadapannya. Dia dan Arsen saling bertukar pandangan. Pria aneh, pikir keduanya bersamaan. "Sudah, sudah. Jangan ribut lagi. Kita mulai pelajaran sekarang." Bu Lexa mengambil alih suasana. "Kembali ke tempatmu sana! Aku ingin mengobati adikku tanpa gangguan mu." Usir Roselyn sembari menarik kedua tangannya yang tenggelam dalam tangan besar dan hangat Prince. "Sekali lagi maaf, honey." Prince berdiri dan mengusap puncak kepala Roselyn sekilas. Tidak hanya Roselyn yang dibuat tercengang oleh perilaku Prince tapi juga seisi kelas. Rafael yang notabenya kembar identik Prince saja merasa sangat tercengang. Selama 18 tahun hidup, baru kali ini dia melihat kakaknya itu mau berdekatan dengan perempuan. Bahkan tanpa segan-segan menjatuhkan harga dirinya agar perempuan itu tidak menangis lagi. Di sekolah sebelumnya, Prince tidak pernah mau dekat dengan perempuan sampai-sampai ia curiga kakaknya itu gay. Tapi sekarang .... "Kau juga, duduk lah. Mau berdiri di sini sampai kelas selesai?!" Rafael tersentak kemudian memberikan cengiran termanisnya ke Bu Lexa. "Kalau boleh, aku ingin berdiri di sini saja, Bu. Menemani ibu cantik mengajar agar ibu tidak merasa kesepian." Goda Rafael sembari mengedipkan mata kanannya. Anehnya, Bu Lexa yang digoda, murid perempuan di kelas yang klepek-klepek. **** Para siswi menatap iri ke arah Roselyn yang dikelilingi cogan. Ada Arsen, Alvaro, William, Jonathan, Prince, dan Rafael. Mereka semua sangat tampan. Para siswi bahkan tidak bisa memilih salah satu di antara mereka saking tampannya. Para siswi ingin berada di kumpulan para cogan itu tapi tidak berani mendekat karena Arsen tipe orang yang tidak suka diganggu. Para siswi hanya bisa gigit jari iri melihat pemandangan indah itu. Hanya bisa mengagumi dari jauh layaknya mengagumi oppa Korea. "Mereka ribut sekali. Ingin sekali rasanya aku robek mulut mereka." Decakan Prince menghadirkan pelototan ngeri dari William. "Pria itu kayaknya psikopat deh, Sel. Jangan dekat-dekat dengannya." Bisik William ke Roselyn yang asik makan steak tanpa mempedulikan siapa pun. "Heh! Jangan mendekati pacarku!! Kau mau mulutmu ku robek juga hah?!" Nyali William seketika ciut mendengar ancaman Prince. Perlahan ia menggeser tubuhnya dari Roselyn dan melahap makanannya seolah tidak mendengar apa pun. "Jangan galak-galak! Nanti kakakku tidak mau denganmu tahu rasa." Ledek Jonathan namun pria satu itu pun ikutan ciut melihat tatapan membunuh Prince. Sangat menyeramkan! "Meski pun kakakmu tidak mau denganku, dia harus selalu berada di sisiku. Dia tidak akan bisa lepas dari genggamanku," kata Prince begitu tegas dan dingin. Roselyn yang sedari tadi menjadi pendengar mulai lelah. "Bisa diam gak sih?! Orang mau makan juga!!" Sentaknya kesal sehingga tidak ada lagi yang berbicara setelah itu. -Tbc-
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม