Sekuat apapun Emily berdoa agar ada keajaiban yang bisa membuatnya tidak harus berada di Vernon, nyatanya itu semua tidak terjadi. Hujan badai yang diharapkannya mengganggu penerbangan, atau letusan gunung Vernon yang ia harapkan, sama sekali tidak terjadi. Bahkan, cuaca tampak terlalu cerah dengan langit yang sangat biru tanpa tertutup satu awanpun, seakan ingin mengejek Emily.
Apa ini artinya Tuhan mendukung keputusan ayah dan ibunya untuk menghabiskan musim panas di tempat yang sangat Emily benci? Sebuah tempat di antah berantah yang mungkin saja tidak memiliki pusat perbelanjaan terlengkap dan fasilitas-fasilitas lain yang ada di tempat asalnya. Sebuah tempat yang hanya memiliki kuda dan sapi.
Ini semua juga tidak terlepas dari peran Papa Devandra dan aunt Abby-nya. Jika mereka tidak menahannya di rumah, Emily pasti bisa kabur. Sayangnya, mereka mengunci semua pintu dan jendela dan tidak mengijinkan siapapun keluar dari rumah sebelum orangtua Emily datang. Ia seperti seorang tahanan yang dijaga oleh sipir-sipir kecil para Alexander junior.
Papa bahkan dengan sigap menelepon pilotnya untuk segera bersiap-siap dan membawa mereka terbang ke Texas secepatnya. Mereka tiba di sini kemarin sore dan sejak itu, Emily belum keluar dari kamarnya satu kalipun. Tidak akan ada satu halpun yang bisa memaksanya keluar dari sini kecuali ia diajak pulang ke Ohio siang ini oleh orangtuanya.
Jika itu tidak terjadi, ia tidak keberatan menghabiskan tiga bulannya di kamar yang sempit ini. Emily mendesah dan menatap ‘kamar’ yang akan ia tempati selama berbulan-bulan ke depan itu. Ini tidak bisa disebut kamar karena ruangannya hanya sekitar seperempat dari luas kamar yang ia miliki di rumah. Tidak ada meja rias, apalagi televisi super besar.
Dan seakan itu belum cukup buruk, tempat ini berada di loteng sehingga setengah bagiannya beratap begitu rendah karena atap rumah. Lantai kayunya akan menimbulkan bunyi keriut mengerikan seperti di film horror setiap kali papannya diinjak. Ranjangnya juga sangat kecil dan berkaki pendek.
Jika ada satu hal yang bisa Emily syukuri, itu adalah ia memiliki kamar mandinya sendiri meskipun tempat itu juga sangat sempit dan tidak memiliki bak besar untuknya berendam.
Emily tidak bisa membayangkan jika ia harus berbagi kamar mandi dengan para pekerja neneknya yang semuanya adalah pria-pria yang menghabiskan waktunya di peternakan. Ia bergidik membayangkan akan sekotor apa kamar mandi yang mereka pakai.
Sayangnya, tidak ada lemari penyimpanan makanan di sini. Dan karena sejak semalam ia belum keluar dari kamar, Emily merasa sangat kelaparan sekarang. Ia hanya sempat ‘merampok’ persediaan snack dan cemilan di rumah keluarga Alexander sebagai upah atas penyanderaannya. Akan tetapi, makanan itu hanya berupa keripik kering, jus, s**u, dan beberapa potong roti kering. Dan semua roti sudah habis ia makan tadi malam.
Sekarang, perut Emily terasa sangat lapar. Namun, ia tidak akan turun atau itu berarti dirinya kalah dan menerima keputusan orangtuanya untuk tetap berada di sini. Ia bahkan mengabaikan ketukan neneknya yang menyuruhnya untuk turun dan sarapan. Tidak akan. Jika bukan Dad atau Mom yang mengetuk dan berkata jika ia akan diajak pulang, Emily tidak akan keluar.
Emily mendesah dan turun dari ranjang kecilnya, lalu membuka ransel tempatnya menyimpan makanan-makanan itu. Ia mengeluarkan semua makanan yang tersisa, dan mendesah lega saat menemukan satu bungkus roti yang akan membuatnya lumayan kenyang, dan beberapa kotak s**u. Setidaknya, makanan ini akan membuatnya bertahan sampai siang.
Dad bilang jika ia dan Mom akan pulang ke Ohio siang ini. Dan Emily bertekad tidak akan keluar sebelum Dad membujuknya. Biasanya, Dad tidak pernah sekejam ini padanya. Jika Emily menginginkan sesuatu, tetapi Dad menolak memberikannya, ia hanya perlu mengurung diri di kamarnya selama beberapa jam, atau kadang menit, dan ayahnya akan mengalah.
Ia sudah bilang jika dirinya adalah putri kesayangan sang ayah kan? Usianya yang terpaut lumayan jauh dengan adik-adiknya, membuat ia menjadi anak tunggal yang cukup dimanja selama beberapa tahun. Dan meskipun akhirnya ia memiliki dua orang adik, Emily selalu tetap menjadi favorit ayahnya.
Setelah menghabiskan roti dan satu kotak s**u, Emily kembali duduk di dekat jendela tempatnya bisa melihat hamparan rumput di luar sana. Di sini semua hijau. Padang rumput yang sangat luas, pohon-pohon tinggi, gunung di kejauhan yang tertutup banyak pepohonan, tidak ada warna lain atau pemandangan lain yang bisa Emily lihat selain warna hijau itu.
Seandainya Dad mengijinkannya membawa ponselnya, mungkin ia tidak akan sekesepian ini. Sayangnya, tidak ada benda elektronik apapun yang boleh Emily bawa. Tidak ponsel, tablet, laptop, apalagi kartu kredit. Tampaknya, Dad benar-benar ingin menjadikannya manusia primitif di sini.
Mata Emily beralih dari jendela ke pintu kamarnya. Sudah beberapa jam berlalu semenjak Gram menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya sarapan, tetapi semenjak itu tidak ada satu orang pun yang kembali mengetuknya. Matanya melirik jam di dinding yang menunjukkan jika sekarang sudah mendekati waktu makan siang. Itu berarti Mom dan Dad akan segera pulang. Kenapa mereka tidak juga mengetuk pintu kamarnya dan mengajaknya pulang?
Emily menunggu dan terus menunggu. Namun, tampaknya apa yang ia harapkan memang tidak akan pernah terjadi. Tempat pukul setengah dua siang, ketika Emily menatap jendelanya, ia melihat ayah dan ibunya memasuki mobil yang akan membawa mereka ke landasan pacu untuk kembali pulang ke Ohio.
Mata Emily memanas. Mereka pergi tanpa merasa perlu untuk pamit atau bicara padanya lebih dulu. Emily melihat ibunya melambai ke jendelanya, tetapi, dari jarak sejauh ini, Mom mungkin tidak tahu jika ia duduk di depan jendela dan menatap kepergian mereka dengan sakit hati yang besar.
Satu kesalahan dan hukuman yang ia terima begitu berat? Ini sama sekali tidak adil. Ketika keluarganya akan menghabiskan liburan mereka dengan bersenang-senang, ia dipaksa bekerja di sini bahkan tanpa mendapatkan upah. Semua ini hanya agar ponsel dan kartu kreditnya tidak dibekukan Dad. Dua benda yang bahkan tidak bisa ia bawa kemari. Menyedihkan bahwa ia memperjuangkan sesuatu yang baru bisa dinikmatinya tiga bulan lagi.
Itu jika dirinya masih bisa bertahan hidup selama tiga bulan. Jika tidak, mereka hanya akan menemukan sisa tengkoraknya saja di kamar ini.
Sialan! Ia benar-benar merasa seperti anak yang terbuang.
Pintu diketuk dengan pelan dan beberapa saat kemudian terdengar suara neneknya. “Emily, kau harus makan! Keluarlah! Belum ada apapun yang kau makan sejak tadi.”
Amarah Emily tersulut mendengar ucapan itu. Kenapa ia harus makan jika tidak diharapkan oleh orangtuanya lagi?
“Aku tidak mau!!!” jeritnya dengan marah. “Tidak usah pedulikan aku!! Aku benci kalian semua!!”
...
Malam itu, Emily tidur dengan gelisah. Pertama karena ia masih merasa emosi pada apa yang dilakukan orangtuanya, kedua, karena ia benar-benar kelaparan. Semua makanan yang ia miliki sudah habis tidak bersisa sehingga tidak ada apapun yang bisa Emily makan untuk mengganjal perutnya.
Seumur hidupnya, ia tidak pernah kelaparan. Ia selalu bisa memakan apapun yang ingin disantapnya, dan tidak perlu susah-susah untuk mendapatkannya. Sejak beberapa jam yang lalu, Emily mencoba untuk tidur, tetapi perutnya yang terus menerus berbunyi membuatnya tidak bisa berbaring dengan pulas.
Sudah berjam-jam ia berganti posisi tidur, sayangnya itu tidak bisa meredakan kelaparan yang dirasakannya. Hari masih sangat gelap di luar sana, tetapi ia tahu ini sudah menjelang pagi hari. Saat ini waktu sudah menunjuk pukul lima pagi dan ia semakin kelaparan. Apa dirinya masih bisa bertahan hidup satu hari lagi? Atau ia akan langsung mati?
Emily berbaring bergelung sambil memeluk perutnya seakan itu bisa membuatnya menahan laparnya lebih lama lagi. Ia hanya menatap jendela yang perlahan-lahan berwarna lebih terang karena matahari yang mulai muncul. Masih tidak terlihat apa-apa selain kabut tebal di luar sana dan Emily memiliki keinginan untuk berlari di luar, telanjang kaki di atas rumput yang masih basah.
Mungkin, jika ia bergerak atau berlari, ia akan melupakan rasa laparnya. Mungkin ia akan melupakan di mana dirinya berada. Mungkin juga, ia akan melupakan sakit hatinya karena diabaikan oleh Mom dan Dad.
Gedoran keras kembali terdengar, diikuti suara Gram yang berteriak melengking dari balik pintu. “Buka pintumu atau aku akan mendobraknya, anak nakal! Kau harus makan, demi Tuhan!”
Emily ingin tertawa. Mendobraknya? Oke, tubuh Gram memang gemuk, tetapi wanita itu hanya seorang wanita tua. Sedangkan, pintu kamarnya itu adalah jenis pintu kuno yang sangat kokoh. Dibutuhkan setidaknya dua orang pria dewasa yang berbadan sangat besar untuk mendobraknya.
Emily tidak menjawab panggilan Gram, tetapi ia mendengar percakapan di luar kamarnya. Emily ingin bangun dan menguping. Sayangnya, tenaganya terlalu lemah untuk turun dari tempat tidur. Makanan paling layak yang terakhir ia makan adalah tiga tumpuk pancake di rumah aunty-nya.
Pintu berderak pelan, tanda jika ada seseorang yang sedang mencoba mendobraknya. Astaga, apa Gram benar-benar akan mendobrak pintunya? Tidak mungkin wanita itu bisa melakukannya sendirian. Kecuali...
Pintu terbuka secara paksa dengan dua pria besar berada di baliknya. Satu orang adalah Jake, pamannya yang juga adalah sepupu ibunya, dan satu orang lagi kemungkinan adalah pegawai neneknya. Kate menerobos masuk sambil berkacak pinggang dan melotot pada Emily dengan marah.
“Sampai kapan kau akan terus berbaring di sana seperti jompo??” suara Kate yang melengking itu membuat Emily merengut.
“Aku tidak mau turun! Aku tidak mau makan! Aku tidak mau di sini!”
“Omong kosong!” ujar Kate. “Selama kau ada di rumahku, kau akan mengikuti semua peraturan yang ada di sini.”
“Sudah kubilang aku tidak mau! Aku tidak suka berada di sini!”
“Jake, bawa keponakanmu turun. Seret saja kalau tidak mau,” perintah Kate dengan kediktaroran penuh sebelum wanita itu keluar dari kamarnya.
“Paman, aku tidak mau turun!” Emily menggeleng saat Jake mendekat padanya.
Pria berambut coklat dan bermata biru itu tersenyum dan duduk di samping tempat tidur Emily. “Kau harus makan, Sayang. Sudah dua hari kau tidak makan.”
“Aku tidak mau!” tolak Emily sambil menggeleng. “Aku hanya ingin pulang ke Ohio. Please? Apa paman bisa membantuku?”
Jake menggeleng sambil tersenyum menyesal. “Suka atau tidak, kau harus tetap tinggal di sini.”
Selesai berkata seperti itu, Jake meraih tubuh Emily dan menggendongnya. Emily meronta dan memukuli d**a pamannya, tetapi pria itu bergeming dan tetap membawanya turun ke ruang makan. Ia didudukkan di kursi makan yang telah dikelilingi oleh banyak pria bertubuh besar.
Ketika Emily bangkit dan berusaha kabur, semua pria itu serempak berdiri dan mencoba menghalanginya.
“Kau mau kabur lagi? Coba saja,” kata Kate dengan santai. “Pintu kamarmu sudah tidak bisa dikunci. Dan aku ingin melihat apa kau bisa melawan delapan pria bertubuh besar ini saat mencoba kabur.”
Emily melotot dan kembali duduk. “Kau kejam! Aku membencimu!”
Kate terkekeh dan meletakkan sepiring sarapan untuk Emily yang kembali membuat perutnya berbunyi dengan sangat keras. Air liur Emily hampir menetes saat ia mencium aroma sosis goreng, bacon, dan telur mata sapi itu.
“Aku tidak peduli kau suka padaku atau tidak, gadis kecil. Tetapi sekarang kau di sini. Ibumu menitipkanmu padaku, dan kau harus mengikuti aturanku jika ingin tetap tinggal di sini.”
“Dan jika aku tidak mau? Apa kau akan memulangkanku ke Ohio?”
“Jangan harap!” cibir Kate sambil berdiri semakin dekat di samping Emily. Wanita itu membungkuk hingga matanya sejajar dengan mata Emily. “Jika kau tidak mau mengikuti aturanku, kau akan tidur di kandang kuda selama tiga bulan. Kau mau?”
Mata Emily membelalak. “Tidur di kandang kuda?”
Kate mengangguk. “Beralaskan jerami dan dikelilingi bau kotoran kuda. Apa itu lebih menyenangkan bagimu daripada kamar yang sekarang kau tempati?”
“Kita akan sarapan dan kau membicarakan kotoran kuda?”
Pertanyaan itu membuat pria-pria yang ada di sana tertawa.
“Kenapa? Kau jadi tidak berselera makan? Kami biasa membahas apa saja di meja makan. Jika kau tidak suka, kau bisa kembali ke kamarmu dan membereskan barang-barangmu.”
Mata Emily sedikit berbinar. “Dan kau akan memulangkanku ke Ohio?”
“Sudah kubilang aku akan membuatmu tidur di kandang kuda!”
Ia sudah bilang jika dirinya membenci wanita tua ini kan?
“Apa ada yang bilang padamu kalau kau wanita tua yang kejam dan menyebalkan?”
Kate terbahak. “Tenang saja, kau orang ke seratus yang mengatakan itu. Jadi, karena aku memang kejam dan menyebalkan, lebih baik kau makan sarapanmu sekarang. Setelah itu kau ikut Jake ke kandang.”
“Apa?? Ke kandang?”
Kate mengangguk dan tersenyum dengan jahat sebelum ia berkata, “kau akan memulai pekerjaanmu membersihkan kandang kuda, Sayang. Jadi habiskan sarapanmu sekarang. Kau akan membutuhkan banyak tenaga nantinya.”